Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Perhatian Davvien


__ADS_3

Davvien masih setia membelai kepala Vera, mungkin karna tidak tidur semalaman Vera dengan cepat terlelap.


Davvien melihat Vera sudah tertidur dia pun bangkit dan keluar kamar hendak menemui dokter Hendri dan Fero.


Saat di luar Davvien memanggil mereka ke atas karna tidak ingin meninggalkan istrinya.


"Bagaimana keadaan nya"


Tanya Davvien pada dokter Hendri.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya, Nona hanya kurang istirahat dan sepertinya dia mengalami trauma di masa lalu, ntah apa yang baru saja terjadi tapi itu mengguncang jiwanya kembali, dia merasa ketakutan, dan sekarang dia mengingat kejadian dulu seolah dia sedang berada di masa lalu"


"Apa kah itu akan berbahaya"


"Tidak terlalu tuan, nanti akan ku tuliskan resep obat penambah vitamin, untuk masalah trauma nya tuan hanya perlu menjaga nya usahakan jangan meninggalkan nya sendiri, karna aku melihat dia begitu syok dan takut, dan satu lagi jangan membuat nya tertekan, kalau anda selalu bisa memberi perhatian dan selalu berada di sisinya dia akan merasa ada yang melindungi dan rasa takutnya perlahan akan sembuh"


Jelas dokter Hendri panjang lebar, sedangkan Davvien yang mendengar belum sepenuh nya paham tentang apa yang menimpa Vera sampai begitu ketakutan.


"Fero, periksa CCTV semalam dari lantai bawah sampai di kamar nya"


Davvien ingin tau apa yang telah terjadi pada istrinya itu.


"Baik"


Fero hendak melangkah, tapi suara Davvien menghentikan langkah nya.


"Tapi ingat CCTV dalam kamar nya langsung kau kirim kan ke dalam ponsel ku, kau tidak boleh melihat nya"


Pikiran Davvien sudah jauh, mungkin saja Vera sedang ganti pakaian di dalam kamar, jelas dia tidak ingin jika tubuh istrinya dilihat oleh pria lain, sedangkan dia saja belum pernah melihat nya.


"Baik Tuan"


Dokter Hendri terkekeh melihat sika posesif sudah mulai muncul pada tuan yang di dulunya dingin plus karatan itu.


"Kalau begitu saya permisi tuan"


Dokter Hendri meminta izin untuk kembali ke rumah sakit, dan Davvien hanya berdehem saja.


Davvien kembali masuk ke dalam kamar Vera, dilihat nya Vera tidur dengan begitu pulas terdengar dengkuran halus keluar dari bibi yang masih pucat, Davvien duduk di sebelah nya dia meneliti setiap inci wajah Vera, ntah karna sudah cinta baru sekarang Davvien mengakui kalau istrinya itu sangat cantik.


Davvien menyingkirkan secara pelan anak rambut Vera yang mengganggu pemandangan nya, tatapan Davvien turun di bibir Vera meski pun terlihat pucat namun itu bisa membangkitkan J nya yang sudah lama tertidur, ingin rasanya Davvien menggapai bibir mungil itu, ntah seperti apa rasanya Davvien sudah sangat lama tidak pernah melakukan nya.


Saat masih asik memandang kecantikan sang istri suara notifikasi pesan masuk di ponsel Davvien mengalih kan perhatian nya.


Dia membuka notifikasi pesan yang ternyata rekaman CCTV semalam yang dikirim kan Fero.


Davvien melangkah duduk di sofa kamar, dia mulai melihat dari Vera memasak, menunggunya di sofa lalu sampai di dalam kamar Vera, Davvien terus memperhatikan layar petak di tangan nya itu.


Sedangkan Fero setelah keluar dari ruangan CCTV dia melangkah kembali menuju kamar Davvien.


Saat melewati kamar Vera Fero mendengar suara ponsel Vera, kebetulan pintu kamar Vera sedikit terbuka saat Davvien mencari Vera tadi.


Fero mengabaikan suara dering ponsel Vera, saat melewati ponsel Vera kembali berdering, akhirnya Fero mecoba melangkah ke dalam kamar Vera, dia berpikir yang menelpon Vera orang penting.


Saat melihat kamar Vera mata nya langsung menangkap benda yang sedang berdering hebat di atas meja, Fero pun melangkah dan mengambil ponsel Vera.


Saat di lihat nya tertera nama Intan yang sedang menghubungi Vera, Fero ragu untuk menjawab, tapi karna di pikir Teman Vera juga harus tau kalau Vera sedang sakit dan bisa memberi tahu kan Vera kalau dosen memberikan tugas.


"Halo Ra, loe dimana sih kuliah nggak hari ini loe kok belum masuk sih"


Fero mengernyit kan dahinya mendengar pertanyaan beruntun dari Intan.


"Vera sedan sakit, dia tidak kuliah hari ini"


"Apa, Vera sakit"


Fero langsung menjauh kan ponsel dari telinga nya mendengar teriakan Intan di seberang.


"Nggak usah teriak teriak"


Fero langsung mematikan sambungan nya, Intan yang hendak bicara lagi menjadi kesal.


"Itu pasti si tuan sombong, dasar"


Gerutu Intan merasa kesal dengan Fero yang sangat tidak sopan menurut nya.


"Vera sakit apa ya, nanti ku ajak Rani sama Tania untuk menjenguk Vera lah"

__ADS_1


Dosen pun datang, Intan mengutuki mata pelajaran dengan keadaan lesu, tidak ada Vera di sebelah nya membuat nya tidak semangat.


...----------------...


Kembali ke kamar Davvien....


Dia sudah melihat semua rekaman CCTV sampai pada saat Vera terdiam setelah petir, Davvien melihat pada tempat tidur, rasa kasian menyeruak di hatinya, sungguh dia merasa bersalah karna telah meninggal kan Vera sendiri di malam hari, dia merutuki kebodohan nya harus nya dia pulang semalam, betapa bodohnya dia lebih mementingkan gengsi nya padahal dia juga tidak bisa tidur karna kepikiran Vera, bearti kerinduan nya beralasan karna Vera sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.


Sebenarnya hujan hanya alasan kecil nya untuk tidak pulang, Davvien memilih egonya menepis kan rasa rindunya pada Vera, dan sekarang dia menyesali nya.


Fero datang lalu mengetuk pintu kamar Davvien, sesaat pintu kamar terbuka langsung menampilkan raut wajah Davvien yang sedih, Fero tidak berani bertanya, saat ini dia tau kalau Davvien sedang mencemaskan Vera.


"Fero kamu jemput kembali pelayan di rumah ini, setelah itu kamu beli obat ini, setelah mengantar kan pelayanan dan obat kesini kamu carikan beberapa pelayan lagi, setelah itu kamu pergi ke kantor karna aku akan menemani istriku hari ini"


Fero menganga mendengar perintah yang di berikan Davvien, mau protes tapi tidak berani akhirnya dia hanya mengangguk pasrah.


"Oh begini saja, setelah mengantar pelayan dan obat kesini kamu ke kantor terlebih dahulu baru setelah itu cari kan pelayan baru, cari sekitar tiga orang, dan satu lagi jangan pakek lama aku ingin saat dia bangun langsung bisa minum obat"


Perintah Davvien lagi lagi Fero hanya mengangguk pasrah, dia pun berjalan meninggalkan Davvien.


Dulu di rumah Davvien memang terdapat dua pelayan, tapi karna ingin membuat Vera kesusahan akhirnya Davvien memberhentikan pelayan tersebut.


Davvien berjalan lalu duduk lagi di dekat Vera, di genggam tangan Vera lalu di mengecup tangan yang masih terasa dingin itu.


"Maaf..."


Pertama kali nya Davvien mengucap kan maaf begitu tulus pada seseorang, orang yang selalu di katakan gila yang sekarang sudah menempat kan hatinya.


Vera yang merasakan tangan nya selalu di mainkan dan sperti menempel benda kenyal di punggung tangan nya pun mulai membuka matanya, pertama yang dia lihat langsung wajah tampan suaminya.


Davvien yang melihat Vera sudah membuka matanya langsung menghujani nya dengan pertanyaan.


"Sayang kamu sudah bangun, dimana yang sakit apa kau mau sesuatu"


Vera yang melihat itu merasa aneh, kondisi emosinya sudah sedkit terkontrol dia sudah sadar apa yang terjadi sekarang.


"Kenapa kau malah diam, apa kau ingin sesuatu, jangan takut lagi aku tidak akan meninggalkan mu sendiri lagi"


Lanjut Davvien merasa bersalah karna Vera masih diam.


"Air, tunggu"


Vera langsung berlari mengambil air di meja sofa, Vera lagi lagi di buat tercengang dengan tingkah Davvien.


"Ini minum lah"


Vera menerima air yang di sodorkan Davvien, Davvien tidak mengizinkan Vera memegang gelas nya, Davvien yang membantu Vera minum.


"Kamu istiraht lah dulu, aku akan mengambil kan makanan untuk mu"


Saat melangkah Vera meraih tangan nya lalu berkata dengan lirih.


"Jangan tinggalkan aku, aku takut"


Dengan memasang wajah memohon, Davvien tersenyum melihat tingkah Vera, dia kembali mengelus kepala Vera.


"Aku tidak akan meninggalkan mu aku hanya akan mengambil mu makanan, kau belum sarapan"


Vera pun melepaskan tangan Davvien.


"Jangan lama"


"Tidak akan"


Davvien berjalan sangat cepat, bahkan dia berlari saat keluar dari kamar.


Karna Fero belum pulang menjemput pelayan jadi harus dirinya yang mengambil sarapan untuk Vera.


Sesampainya di meja makan, Davvien kebingungan dengan makanan yang di sukai Vera.


Karna tidak ingin membuat Vera menunggu lama akhirnya Davvien mengambil beberapa jenis makanan yang telah di masak Vera.


Dengan tergesa gesa Davvien kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat Vera masih terduduk diam di tempat tidur.


"Makanan datang"


Vera melihat Davvien lalu matanya melihat piring yang di bawakan Davvien, dia pun membulatkan mata melihat isi piring yang penuh dengan berbagai jenis makanan di gabungkan ke dalam satu piring, rasanya selera makan nya hilang melihat isi piring itu.

__ADS_1


"Kenapa banyak sekali tuan"


"Hehe aku tidak tau apa yang kau sukai jadi aku menambahkan semuanya"


"Aku tidak akan sanggup menghabiskan semua nya"


"Aku kan tidak meminta mu menghabiskan nya"


"Tapi tidak perlu sebanyak itu"


Davvien sudah diam, dia duduk di samping Vera.


"Aku akan gemuk kalau porsi makan segitu"


"Tuan ini niat nggak sih" Vera mulai cerewet.


"Isshhhtt kenapa kau cerewet sekali heum, sekarang makan ya kalau tidak sanggup menghabiskan nya jangan di paksa"


"Iya iya, sini"


"Sudah, buka mulut mu"


Vera melotot mendengar perkataan Davvien, dalam otak Vera terus berfikir benar kah yang di depan nya ini tuan Davvien wilmar yang arogan dan juga sombong.


"Hey kenapa kau malah membuka matamu, aku menyuruh mu membuka mulutmu"


Davvien sudah menyodorkan sendok di depan mulut Vera.


"Tuan, biar saya sendiri"


Tolak Vera merasa tidak enak.


"Jangan membantah, buka mulut mu"


Vera pun menurut perintah Davvien, karna Davvien sudah memasang wajah buasnya.


Dengan telaten Davvien menyuapi Vera, sebenarnya dia adalah sosok yang sangat romantis kepada wanita yang di cintainya, tapi karna insiden beberapa tahun lalu membuatnya dingin hingga menutupi sifat romantis nya.


"Aku sudah kenyang tuan"


"Hey kau harus makan banyak biar tenaga mu cepat kembali"


"Aku sudah kenyang tadi bilang nya jangan di paksa kalau sudah kenyang"


Vera mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan Davvien.


Davvien yang melihat pun menjadi gemas.


"Ya sudah minum dulu"


Setelah memberikan Vera minum Davvien meletakkan piring di meja.


"Tuan sudah makan?"


Tanya Vera dan mendapat gelengan dari Davvein.


"Kenapa begitu, tuan juga harus makan"


"Bagaimana aku bisa makan, saat aku turun sudah melihat mu tidur di bawah tangga"


"Siapa yang tidur, aku hanya...."


"Hanya apa"


"Maaf bila merepotkan anda tuan"


Mendengar perkataan maaf dari Vera Davvien kembali mendekati Vera.


~Bersambung


Aku up dua bab, like dan komen nya dong, vote juga.


Maaf bila alur cerita nya tidak sesuai.


Aku mau tanya nih, apa terlalu cepat ya Davvien menerima Vera menjadi istrinya..tapi ini sudah bab 50.


Berikan kritikan ya.

__ADS_1


__ADS_2