Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Tidak menarik


__ADS_3

Detik berlalu, menit berganti, jam terus berputar di sebuah kamar terdapat dua manusi beda jenis sedang memadu kasih, keduanya menikmati permainan mereka tanpa menghiraukan orang yang sudah menunggu mereka.


Davvien terus menggempur Vera, sampai akhirnya suara lengguhan panjang keduanya menggema di dalam ruangan tersebut.


"Terima kasih sayang"


Cup...


Davvien mencium kepala Vera.


"Sayang ayo kita mandi, kasihan yang lain sedang menunggu kita"


Vera yang tak berdaya pun langsung terbelalak dia langsung terduduk.


"Astaghfirullah aku sampai melupakan mereka"


Vera langsung berlari ke dalam kamar mandi, sedangkan Davvien hanya tersenyum melihat tingkah Vera.


"Sayang, kita mandi bareng saja biar lebih cepat"


"Tidak tidak! nanti yang ada bukan hanya mandi, tapi malah mandi mandian"


"Eh tidak, aku janji hanya mandi"


Tidak ada jawaban lagi, itu tanda nya Vera mau mandi bersama, Davvien pun langsung melangkah masuk dan mereka mandi bersama, ya meski tidak melanjutkan adegan yang tadi, tapi tangan dan bibir Davvien tak tinggal diam, selalu bermain di atas tubuh Vera.


Di meja makan.....


"Duh Vera mana ya?"


Tanya Intan, Ny.Andin dan Fero juga sudah di sana, Intan sudah tidak sabar menunggu karna cacing dalam perut nya sudah meronta ronta saat melihat makanan lezat di hadapannya.


"Iya, dia apakan menantu ku" Geram Ny.Andin karna Davvien membawa Vera.


"Paling mereka sedang enak enakkan tuh orang" jawab Fero ketus.


Tak lama pun yang di tunggu datang, karna buru buru mungkin Vera belum selesai mengeringkan rambut sampai rambut nya masih lembab, dan itu tidak lepas dari pandangan ke tiga orang di meja makan.


"Maaf semuanya, apa kalian sudah selesai"


Kruk,,,,kruk,,,kruk,,


Blus,,,


Baru Vera bertanya, tapi perut Intan sudah menjawab nya, pipi Intan langsung berubah merah, dia sangat malu karna perutnya bunyi menandakan kalau dia sudah sangat lapar.


Ny.Andin tersenyum sedangkan Vera merasa sangat bersalah karna membuat mereka menunggu, Davvien dan Fero hanya cuek, Fero bahkan tambah ilfil pada Intan karna di anggap tidak tahu malu.


"Maaf kan Vera ya semuanya"


"Sayang apa kamu di paksa perang tadi sama anak kurang aj*r ini heum?"


Tanya Ny.Andin yang melirik ke arah Davvien, sedangkan yang di lirik hanya santai dia bahkan tanpa rasa bersalah langsung meminta Vera untuk memberikan nya makanan.


Vera gelagapan mau menjawab apa, dia mengambil piring Davvien lalu mengisi makanan di atas nya.


"Kamu Vien, Mommy lagi bicara kenapa kamu malah ingin makan"


"Apa Mommy sayang! Mommy kan tau kami pengantin baru, jadi tidak salah dong jika kami menikmati nya, apa Mommy tidak ingin cepat cepat gendong cucu"


Tanpa malu dia menjawab sembari memasukkan makanan ke dalam mulut nya.


"Iya kan sayang?" lanjut nya lagi mengiyakan pertanyaan pada Vera, Davvien tidak paham kalau istrinya sudah sangat malu.


"Apa, mereka melakukan apa?. kita di sini sudah sangat kelaparan mereka malah enak enakan" umpat Intan dalam hati, karna gara gara mereka Intan jadi malu karna perutnya sudah berdemo.


Fero cuek, karna dia sudah tau apa yang dilakukan oleh bos dan istrinya.


Ny.Andin yang tadi nya kesal langsung tersenyum mendengar kata kata cucu, dia memang sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan Malaika kecil dari anak dan menantunya.


''Ya sudah ayok kita makan"


Mereka pun langsung menyantap makan siang yang hampir dingin, dari tadi Fero sudah ingin makan tapi Ny.Andin menahan karna ingin makan bersama-sama dengan anak dan menantu.


...----------------...


Makan siang pun sudah selesai,,,,,


Mereka kembali melakukan kegiatan masing-masing, setelah melaksanakan solat zuhur, ketiga wanita itu kini membuat kue, sedangkan Davvien dan Fero kembali ke ruangan kerja, meski hari libur mereka tetap melihat data data yang sudah menumpuk.


karna ke asikan dengan bahan kue tanpa terasa sore pun sudah menyapa, Ny.Andin berniat pamit untuk pulang.


Vera yang baru mengantarkan kue pada suami dan kakak nya di ruangan kerja langsung mendekati mertua nya.


"Sayang Mommy pulang dulu ya"


"Nggak nginap Mom?"

__ADS_1


"Nggak sayang, kan Daddy di rumah"


"Ya sekalian saja sama Daddy, aku juga kangen sama Daddy"


"Lain kali sayang, kan Minggu depan kalian mau pulang ke rumah"


"Heum baik lah, Aku panggil Mas Davvien dulu mah"


"Tidak usah sayang, dia pasti lagi ada pekerjaan"


"Ya sudah Mom, aku bungkusin kue yang tadi kita buat dulu ya Mom"


Vera pun melangkah ke dapur untuk membungkus kue yang mereka buat untuk mertuanya.


"Nak Intan kamu main ya kerumah Tante, nanti kalau Vera nginap di sana kamu juga ikut, Tante mau kalian masak dan bikin kue lagi"


"Insya Allah Tante, masakan Tante juga sangat lezat, benar apa kata Vera".


"Kamu berlebihan sekali nak"


Mereka pun tertawa, tak berselang lama, Vera datang membawa kan kotak makanan persegi empat yang sudah di isi dengan kue tadi.


"Nih Mom, kasih untuk Daddy"


"Makasih ya sayang, kamu memang menantu pengertian"


Vera tersenyum, mereka pun melangkah keluar.


"Pak Toni"


"Iya Nona"


"Antar Mommy dengan selamat, bawa beberapa penjaga untuk mengikuti dari belakang, pasti kan Mommy sampai tanpa lecet sedikit pun, kalau sampai terjadi apa apa dengan Mommy saya maka kalian akan berhadapan dengan saya"


Perintah Vera dengan tegas, Ny.Andin tersenyum. menantu nya sangat mirip dengan anaknya yang sangat memperdulikan keselamatan nya dan juga suka mengancam.


"Ba-baik Nona"


Pak Toni merasa ketakutan melihat raut wajah Vera yang begitu serius, meski pun yang mengancam adalah wanita namun nyali pak Toni langsung menciut.


''Sayang, kamu sangat berlebihan, kalau begitu Mommy pulang dulu ya"


Mereka pun berpelukan, Ny.Andin juga memberikan pelukan hangat nya untuk Intan.


"Mommy hati hati ya, kabarin Vera kalau sudah sampai di rumah"


"Intan, Tante pulang dulu ya"


"Iya Tan, hati hati"


Ny.Andin pun berlalu meninggalkan rumah anak nya, di ikuti satu mobil yang penuh dengan pengawal di dalam nya, sesuai yang di perintahkan Vera.


Intan dan Vera kembali masuk ke dalam rumah.


"Eh Ra, gw mau pulang juga udah keburu sore"


"Nginap aja Tan"


"Lain kali saja Ra"


"Ya sudah tunggu sebentar ya, gw panggil kak Fero dulu"


"Eh jangan Ra, gw bis pulang pakek taksi online kok"


Udah jangan ngebantah, baru saja Vera mau memanggil Fero, tapi Fero sudah turun bersama Davvien.


"Eh kak, baru saja mau manggil kakak"


"Ada apa Ver?"


Davvien langsung memeluk istrinya.


"Itu kak, kakak anterin Intan ya"


"Udah Ra, gw pulang sendiri saja"


"Udah diam deh kamu"


"Mau ya kak"


Pinta Vera lagi, dia sedikit susah bicara karna Davvien tidak melepaskan pelukan mereka.


"Mommy mana sayang?"


"Mommy barusan pulang"


"Kenapa nggak panggilin aku?"

__ADS_1


"Mommy bilang tidak usah, jadi Mommy langsung pulang, tenang aku sudah menyuruh supir sama beberapa pengawal buat nganterin Mommy"


"Heumm makasih sayang, kamu sangat pengertian sama Mommy"


"Dia kan juga Mommy ku"


Ucap Vera judes, dia kembali melihat pada Fero.


"Kak, mau ya"


"Dia aja bilang bisa pulang sendiri"


Jawab Fero cuek, dia ingin melangkah karna dia juga ingin pulang.


"Pkok nya kakak harus anterin Intan"


Vera menekan setiap katanya, membuat Fero menyetujui perkataan Vera.


"Sayang, tunggu dulu aku mau ambil kue buat Tante Ratna sebentar"


"Heumm iya sayang"


Cup...


Davvien melepaskan pelukan nya dan memberi ciuman di kening sang istri.


"Tan, ini kue buat Tante Ratna"


"Loh kenapa di kasih lagi, kan tadi gw udah makan di sini"


"Ini buat Mama dan Papa loe bukan buat loe, lagian di sini masih banyak kok"


"Heum baik lah, gw pulang dulu ya"


"Iya, hati hati ya, kak titip Intan hati hati tuh"


Fero tidak menjawab dia pun keluar, dan di ikuti oleh Intan di belakang.


"Semoga mereka cepat akur ya sayang"


"Iya, ayo kita kekamar, kita lanjutkan yang tadi"


"Apa, aku mau solat asar dulu"


Vera melepaskan dirinya langsung berlari menuju lift tanpa menunggu Davvien dia langsung menutup pintu liftnya.


Davvien langsung berlari melalui tangga.


Vera sampai Davvien pun sampai.


"Kau sungguh tega sayang meninggalkan aku sendiri"


Davvien ngos-ngosan, Vera hanya tercengir melihat suaminya sudah di hadapan nya.


"Aku mau solat asar dulu ya sayang, kamu juga harus solat"


Kini giliran Davvien tercengir.


"Hehe kamu saja lah yang solat sayang, aku mau menyelesaikan pekerjaan sedikit lagi".


Vera menggeleng kepala nya, dia tidak bisa memaksa, Vera hanya bisa berharap dan berdoa kalau suaminya akan segera mendapatkan hidayah.


Dia pun masuk ke dalam kamar guna untuk menunaikan ibadah solat asarnya.


...----------------...


Sedangkan di dalam mobil...


Mereka sama sama diam, hanya Intan sesekali menawarkan kue yang di berikan Vera namun tidak di tanggapin oleh Fero.


"Tuan, apa anda mau?"


"Sudah berapa kali kamu menawarkan nya pada saya, bukan kah Vera memberikan itu buat Mama dan Papa mu"


Intan terdiam, sesekali melihat ke arah Fero yang sama sekali tidak melirik nya.


Mereka pun sampai.


"Tuan, terimakasih apa anda ingin mampir?"


Tidak ada jawaban, Intan pun hanya acuh, dia ingin membuka pintu mobil tapi suara Fero mengurungkan niatnya.


"Dengar kan aku, aku tau kau menyukai ku, tapi ku harap kamu tidak melukai hatimu sendiri dengan menyukai pria sesempurna diriku, kau bisa lihat dirimu sendiri bahkan tidak menarik sama sekali, jika aku ingin aku bisa mendapatkan puluhan wanita dalam sehari tapi aku tidak berminat, mereka bahkan jauh lebih menarik dari mu, maka dari itu jangan pernah bermimpi untuk bisa bersama ku"


Duar,,,,,,,,,,,


~Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2