
...Semua nya tentang kalian, aku tidak memikirkan diriku, hanya dirimu dan kedua calon malaikat yang akan menjadi prioritas ku, kebahagiaan kalian keutamaan untuk ku....
...Verania Prasetyo....
...----------------...
Jam berputar, detik berjalan, menit berlalu, jam, hari, bahkan bulan pun telah berganti.
Tak terasa kehamilan Vera sudah memasuki bulan ke sembilan, semua sudah di siapkan, kamar yang sengaja di buat terpisah, namun masih bersebelahan dengan kamar mereka.
Kamar si kembar sudah begitu rapi, dengan corak kombinasi abu-abu yang netral, dua box warna putih sudah di letakkan bersebelahan, dua lemari pakaian yang sudah penuh dengan baju si kembar, satu sofa ukuran panjang, dan satu tempat tidur kecil yang penuh dengan boneka.
Karna tidak ingin membuat orang mereka merasa sedih, calon papa dan mama si kembar ini akhirnya memilih menggunakan yang di berikan oleh orang tua mereka.
Box bayi mereka pilih secara adil, satu yang di berikan Ny.Andin, dan satu lagi yang di hadiahkan oleh mama Rina, sofa di ambilĀ dari Ny.Andin, dan tempat tidur yang di belikan mama Rina, sedangkan pakaian dan yang lain nya, semua mereka terima, karna itu akan berguna untuk si kembar.
Sedangkan barang yang lain, mereka sumbangkan kepada yang lebih membutuhkan.
Di malam hari, Davvien dan Vera sedang tidur bersama dengan kepala Vera di letakkan di atas lengan Davvien.
Lelaki yang hampir 29 ini terus mencium tangan sang istri, ada rasa takut menggoroti relung hatinya.
"Sayang, gimana pinggang mu, apa udah nggak sakit lagi?" tanya Davvien yang sekarang mengelus perut Vera.
"Udah agak mendingan sayang!" jawab Vera mencoba tersenyum.
Belakangan ini Vera memang sering merasakan sakit di bagian pinggang nya, dan suaminya lah yang selalu ada saat Vera membutuhkan.
"Ya sudah kalau begitu, tidurlah sayang!" Davvien mencium puncak kepala sang istri.
Anak bungsu dari Tn.Diwan dan mama Rina ini langsung mengangguk dan berusaha memejamkan matanya.
__ADS_1
Davvien tidak bisa tidur, dia hanya memandang wajah Vera yang terlihat sedikit pucat.
"Semoga kalian baik-baik saja kesayangan ku!"
Cup...
Semenjak kandungan Vera memasuki umur 9 bulan, Davvien memang sudah tidak lagi meminta jatah nya, dia khawatir dengan keadaan istri kesayangan nya, apa lagi perut Vera terlihat sangat besar, mungkin karna dia mengandung bayi kembar.
Davvien mencoba bersabar, jika dia ingin pun, istrinya itu punya cara agar dirinya tidak sampai frustasi.
Berbeda dengan Davvien dan Vera, pasangan yang sudah sebulan lalu halal ini sedang beradu dan berlomba mengeluarkan suara-suara angker di dalam kamar yang kedap suara itu.
Siapa lagi kalau bukan Intan dan Fero, mereka bahkan tidak nganggur satu malam pun.
Seperti nya Fero mendengar saran Davvien supaya terus berusaha agar cepat mencetak gol.
Fero merebahkan tubuhnya di sebelah Intan, tidak lupa mencium kening sang istri.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu!" ucap Fero masih dengan nada parau nya.
"Tidurlah my wife, semoga benih ku cepat hinggap di sini dan segera tumbuh!" lanjut Fero dengan mengelus lembut perut Intan.
Keesokan harinya, semuanya sudah melaksanakan solat subuh, Intan yang kala itu masih menggunakan mukena langsung dengan cepat membuka nya dan berlari ke dalam kamar mandi.
"Hueeekkkkkk......huekkkkk...huekkkk...!" Intan yang ternyata merasa mual langsung berusaha mengeluarkan isi perut nya.
"Hueeeekkkk....!" Intan mencoba mengeluarkan sesuatu lagi, namun hanya air liur putih yang keluar.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Fero yang begitu terlihat panik, tanpa di suruh, asisten dan sahabat Davvien ini langsung memijat tengkuk leher sang istri.
"Aku tidak tau, tiba-tiba saja aku merasa mual, mungkin aku masuk angin karna semalam tidur tanpa menggunakan pakaian!" jawab Intan sambil sesekali menutup mulutnya.
__ADS_1
"Hueeeekkkk....!" lagi-lagi Intan berusaha untuk muntah, namun hasil nya tetap sama.
Fero terlihat sangat cemas apa lagi dia menangkap raut wajah Intan yang terlihat pucat dan lemah.
"Kita kembali ke dalam kamar ya!" ucap Fero dengan begitu lembut.
Intan mengangguk, dengan perlahan Fero memapah tubuh Intan, dia pun membaringkan tubuh lemah sang istri di atas tempat tidur.
"Minum dulu ya!"
Lagi-lagi Intan hanya mengangguk, dia benar-benar kehabisan tenaga.
"Aku panggilkan dokter ya!" usul Fero yang kali ini dapat gelengan dari Intan.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Fero dengan wajah keheranan.
"Aku hanya masuk angin, sebentar lagi akan sembuh!" tolak Intan dengan suara lemah.
"Ya sudah, kita tunggu 10 menit lagi, jika belum juga sembuh, maka aku akan memanggil Hendri ke sini!" ucap Fero lagi, dia benar-benar merasa khawatir terhadap istri nya itu.
"Terserah dia saja lah, mana ada penyakit smbuh dengan sendirinya dalam waktu 10 menit!" batin Intan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung