Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Tidur lah di kamarku


__ADS_3

"Tuan sudah makan?"


Tanya Vera dan mendapat gelengan dari Davvein.


"Kenapa begitu, tuan juga harus makan"


"Bagaimana aku bisa makan, saat aku turun sudah melihat mu tidur di bawah tangga"


Goda Davvien, rencana ingin membuat lelucon tapi Vera menanggapi serius.


"Siapa yang tidur, aku hanya...."


"Hanya apa"


"Maaf bila merepotkan anda tuan"


Mendengar perkataan maaf dari Vera Davvien kembali mendekati Vera, lalu dia duduk di samping Vera.


"Harus nya aku yang minta maaf karna telah meninggal kan mu sendiri, aku janji tidak akan meninggalkan mu sendiri lagi"


Ucap Davvien tulus menatap Vera dengan begitu lekat, sambil tangannya memegang lembut tangan Vera.


Kali ini bukan hanya Davvien, tapi jantung Vera sudah mulai bereaksi juga, debaran nya sangat kencang, Vera merasa gugup mendapat tatapan dari laki laki yang selalu mengatainya.


Saat aksi tatap tatapan jantung yang sedang berlomba berdetak, tiba tiba suara pintu kamar di ketuk.


Davvien beranjak dari duduk nya lalu berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek....


"Ini obat nya Tuan"


Fero menyerahkan obat pada Davvien, dilihat nya pelayan yang di jemput Fero juga berdiri di belakang Fero dengan membungkuk memberi hormat.


"Bi Rahmi dan bi Ainun kalian bisa langsung bekerja"


''Baik Tuan"


Mereka pun pamit dari hadapan Davvien, begitu pun dengan Fero, dia pamit untuk pergi ke kantor.


"Siapa?"


Tanya Vera saat Davvien kembali masuk ke dalam kamar.


"Pelayan rumah, kamu tidak akan sendirian lagi saat aku pergi ke kantor"


Mendengar itu Vera langsung kegirangan, dia sangat senang akhirnya dia mempunyai kawan di rumah sebesar itu.


Vera hendak bangun ingin bertemu dengan pelayan itu, tapi Davvien langsung mencegah nya.


"Hey mau kemana, kamu harus minum obat dulu"


"Aku mau bertemu mereka, aku sangat senang akhirnya aku mempunyai teman di rumah sebesar ini"


Davvien heran melihat tingkah Vera, biasanya orang tidak akan perduli sama pelayan tapi Vera, dia malah ingin menghampiri mereka.


"Tidak perlu, nanti aku yang akan memanggil mereka ke mari, tapi sebelum itu kau harus minum obat dulu"


Davvien memberikan obat yang di belikan Fero tadi pada Vera, lalu memberi air untuk Vera.


"Sudah Tuan, aku akan kembali ke kamar ku tuan"


Ujar Vera, dia hendak bangun karna di rasa kepada nya sudah agak membaik tapi lagi-lagi Davvien menghentikan Vera.


"Sekarang ini kamar mu"


Kata kata Davvien sukses membuat Vera kembali terkejut.


"Apa, lalu tuan pindah ke kamar yang mana, tidak tidak tuan tidak pantas anda keluar dari kamar anda, saya bisa tidur di kamar saya sendiri"

__ADS_1


Tolak Vera, dia benar-benar merasa tidak enak kalau sampai Davvien keluar dari kamar utama dan malah menyuruh nya menempati kamar itu.


"Hey aku juga di sini, memang aku akan kemana, aku juga tidur di kamar ini"


Lagi-lagi perkataan Davvien membuat Vera gugup, dia ingat saat tidur satu kamar dengan Davvien dia harus tidur di lantai, apa kah sekarang juga sama.


Seakan tau isi pikiran Vera, Davvien pun kembali bersuara mencoba menjelaskan pada Vera.


"Kau akan tidur di kamar ini di atas kasur ini, kamar ini sepenuh nya sekarang milik mu bahkan semua yang ada di dalam kamar ini milik mu"


Jelas Davvien, dan Vera hanya melongo mendengar ucapan Davvien.


"Ta tapi...."


"Shiiitt jangan membantah"


Vera tidak bisa berkata apapun lagi saat telunjuk Davvien mendarat di bibir mungil nya.


Davvien lalu memencet tombol, ntah apa itu. namun tak lama setelah tombol itu di pencet suara pintu kamar kembali di ketuk, saat di perintahkan masuk oleh Davvien pintu langsung di buka menampil kan dua wanita paruh baya sedang tersenyum ke arah nya.


"Bi Ainun Bi Rahmi ini istriku, kalian layani dia dengan baik dia sedang kurang sehat, jangan biarkan dia mengerjakan apapun yang menyangkut dengan rumah ini"


Kalian bisa bayangkan bagaimana reaksi Vera, dia kembali di buat kaget dengan perkataan Davvien, sedangkan Davvien sengaja mengatakan di depan Vera karna dia juga ingin Vera mendengar bahwa Davvien sudah melarang dirinya untuk melakukan pekerjaan rumah.


"Salam Nyonya"


Lamunan Vera teralihkan saat mendengar kedua pelayan menyapa nya dan membungkuk memberi hormat pada nya.


"Eh bi tidak usah sungkan begitu, panggil aku Vera saja bi"


Ucap Vera dengan senyuman manis nya, Davvien yang melihat itupun terpana, meski masih terlihat pucat namun senyuman Vera terlihat sangat manis.


Sedangkan kedua pelayan tampak ragu dengan permintaan Vera.


"Tidak apa-apa Nyonya"


Vera cengengesan, hendak bangun tapi Davvien sudah duduk di samping nya lagi.


"Baik lah, saya Bi Ainun"


"Saya Bi Rahmi"


"Oh ya udah bi, salam kenal ya aku sangat senang kalian datang ke rumah ini, jadi hari hari ku tidak akan sepi lagi"


Vera terlihat begitu senang, Davvien yang memperhatikan istrinya itu nampak berfikir, bagaimana bisa Vera senang dengan hal sesepele itu.


"Bi bereskan kamar sebelah, bawa semua pakaian kesini"


Perintah Davvien yang langsung di angguki oleh mereka berdua.


"Istirahat lah"


"Tapi"


"Kenapa kau suka sekali menjawab, aku tidak suka di bantah"


Vera mulai resah dengan tingkah Davvien pagi ini, kalau bisa dia ingin menjawab kalau dirinya juga tidak suka diperintah.


Tapi kata kata itu hanya di simpan di dalam benak nya, karna tidak ingin membuat Davvien marah, dia kembali berbaring.


"Tuan, maaf ponsel nona Vera berbunyi"


Ucap Bi Ainun yang melihat ponsel Vera sedang berdering saat membereskan kamar Vera.


Davvien mengambil nya langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Ra, kami di depan rumah loe ni"


Ucap Intan di balik sambungan karna yang menelpon adalah Intan.

__ADS_1


"Masuk, dia di kamar atas kalian langsung kesini dia tidak bisa turun"


Davvien berbicara dengan nada dingin, maklum kalau dengan orang lain Davvien masih sama, dingin dan sangat cuek.


Intan yang mendengar suara Davvien pun terasa merinding, tapi karna sudah sangat khawatir pada Vera dia mengajak Tania dan Rani langsung masuk dan berjalan menuju tangga.


"Siapa?"


Tanya Vera yang penasaran akan orang yang menelpon nya.


"Teman kamu"


Suara pintu pun di ketuk, Davvien langsung menyuruh mereka masuk, mereka langsung bertanya tentang keadaan sahabat nya itu.


Karna Vera sudah ada yang menemani dia keluar untuk mengisi perutnya yang masih kosong.


...----------------...


Waktu berlalu malam pun telah tiba, mereka sekarang sudah berencana untuk tidur setelah tadi Davvien menyuapi makan malam untuk Vera dan memberi obat untuk nya Davvien sungguh tidak membiarkan Vera keluar dari kamar nya.


Kini Vera mulai gelisah dia membayangkan bagaimana bisa dia tidur satu ranjang dengan Davvien, meski Davvien adalah suaminya tapi dia tetap merasa gugup.


Mengerti dengan ketakutan Vera Davvien pun berbicara.


"Kau tidur lah aku akan tidur di sofa"


Setelah memastikan Vera berbaring Davvien melangkah ke arah sofa, dia pun membaring kan tubuhnya di sofa kamar.


Vera yang melihat itu pun merasa kasihan, dia tau keadaan tidur di sofa tidak akan nyaman, sedang kan Davvien seharian sudah lelah mengurus dirinya, dengan ragu Vera menyuruh Davvien tidur di sebelah nya.


"Tuan tidur lah di sini"


Ucap Vera kini dia telah membuat pembatas di tengah-tengah mereka dengan bantal.


"Tidak apa-apa aku tidur disini saja"


"Tidak tuan tidur saja di sini"


Karna mendapat persetujuan Vera, Davvien pun bangun dan berjalan lalu dia menaiki tempat tidur.


"Sekarang tidur lah"


Ucap Davvien, Vera langsung berbaring karna dosis obat yang diminum nya Vera langsung terlelap, sedangkan Davvien memandang wajah Vera, rasa nya jantung nya bergemuruh hebat, karna ini kali pertama nya tidur dengan seorang wanita yang sekarang sudah di cintai nya, tapi setelah sejenak memandang wajah istrinya mata Davvien terasa berat, dia pun tertidur, malam kemaren Davvien tidak tidur dan hari ini pun dia merasa sangat lelah, meski tidak terlalu banyak kegiatan tapi dengan keadaan Vera tadi pagi sangat menguras emosi nya.


...----------------...


Sinar mentari pagi hari ini sangat cerah, tanpa malu malu dia menyeruak masuk ke dalam ruangan dimana sepasang anak manusia masih terlelap.


Dengan perlahan sinar matahari tersebut menyentuh lembut mata yang masih terpejam itu.


Vera yang merasa silau akhirnya mengerjap kan matanya, mencoba mengumpulkan kesadaran nya.


Tapi sebelum itu terjadi Vera lebih dulu merasakan badannya seperti tertimpa sesuatu yang berat, Vera memegang dan meraba namun tidak dapat menebak, akhirnya dia membuka matanya dan mencari tau benda apa yang sedang menimpanya.


Saat dia membuka mata, mata nya benar benar terbuka lebar saat menyadari benda yang sedang menimpanya adalah tangan berotot yang melingkar sempurna di pinggang kecilnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa"


Teriak Vera langsung melepaskan diri dari Davvien dan


Bhuk..


~Bersambung


Maaf jika alur cerita nya tidak sesuai, Maaf juga bila terdapat banyak kesalahan kata.


Makasih buat semua pembaca, salam syang ku untuk kalian semoga sehat selalu 😘😘.


Oya jangan lupa tinggalkan jejak ya ,like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2