
Tn.Diwan dan Frans pun mengikuti Dokter Hendri, tapi saat ingin melangkah.
"Berhenti, saya saja dok dia putri saya"
Semua mata tertuju pada suara seseorang yang datang dengan tiba-tiba, mereka begitu terkejut melihat seseorang itu tepat berada di depan mereka.
"Mama"
Ucap Frans tidak percaya, bagaimana bisa mamanya datang dengan begitu cepat.
Rina maju mendekati para manusia yang berdiri dengan tatapan tidak percaya melihat dirinya.
"Nanti aku akan ceritakan semuanya, sekarang yang lebih penting adalah kesempatan putri dan cucu ku, ayo dok ambil darah ku saja"
"Baik, tapi kami memerlukan dua kantong darah, jika kami ambil dua nya dari Nyonya maka itu akan tidak baik bagi tubuh Nyonya, apa lagi Nyonya baru saja dalam perjalanan"
"Ambil punya ku satu dok"
Dokter Hendri pun mengangguk saat Tn.Diwan juga menawarkan diri nya, mereka langsung melangkah untuk transfusi darah.
Mommy Andin, Tn.Andre Davvien dan Frans masih menunggu di depan ruangan Vera.
"Itu benar Rani Dad, dia masih hidup Dad"
Ucap Ny.Andin merasa bahagia orang yang telah menyelamatkan hidup dan rumah tangga nya masih selamat.
Di balik rasa sedih yang menimpa sang menantu, ada rasa bahagia karna keluarga Vera kembali utuh.
Memang di setiap duka ada hal bahagia yang sedang menanti.
"Iya Mom, dan kamu anak nya Diwan kakak nya Vera?"
Tanya Tn.Andre pada Frans, dan Frans pun mengangguk, mencoba tersenyum.
"Iya Om, saya dan Mama saya masih di berikan keselamatan"
"Alhamdulillah kalau seperti itu"
"Tante saya berterima kasih karna dulu pernah menjaga Kia, dan sampai sekarang Tante masih memperdulikan nya"
"Kamu jangan bicara seperti itu, Tante sangat sayang sama Vera, dia anak yang baik, apalagi sekarang dia sudah menjadi menantu tante"
Davvien hanya diam, dia masih berdiri memandang ke dalam ruangan tempat istrinya di baringakan.
"Bertahan lah sayang, aku tau kamu wanita yang kuat, berjuang lah demi aku, demi anak kita"
Tes,,,,
Davvien membatin dengan air mata terus saja menetes, sungguh Davvien tidak tahan melihat istrinya tak berdaya, ingin rasanya Davvien menggantikan posisi istri nya sekarang.
"Ya tuhan, selama ini hamba tidak pernah meminta apapun karna hamba adalah orang yang sombong, tapi untuk kali ini hamba mohon selamatkan anak dan juga istri hamba"
__ADS_1
Davvien mengingat kembali kebersamaan mereka, baru tadi pagi dia mencoba menjadi imam yang sempurna untuk sang istri, yang berharap dirinya menjadi imam dalam solat nya, tapi sekarang Vera malah mengalami kejadian seperti ini, Davvien masih merasa syukur karna dia bisa memenuhi keinginan Vera, jika tidak mungkin dia akan merasa menyesal.
Davvien menghapus air matanya, dia pun menjauh dari ruangan Vera, lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Halo Fero, bagaimana keadaan pak Toni apa pelakunya sudah tertangkap?"
Tanya Davvien pada Fero di seberang, dengan suara dingin, mata nya juga sudah memerah menahan amarah.
"Keadaan pak Toni sangat memprihatinkan, dia sedang di tangani dokter, dan soal pelaku nya anak buah kita sudah berpencar mencari mereka, Irfan sudah mengerahkan semua anak buah nya, kamu tidak usah memikirkan itu dulu, fokuskan saja dengan kesembuhan Vera, apa dia sudah sadar bagaimana dengan kandungan nya?"
Fero juga sangat mengkhawatirkan Vera, namun dia yang sudah tau tugas, kini sedang menunggu pak Toni yang juga sedang dalam ruangan operasi.
"Heum, kalau mereka sudah tertangkap, bawa mereka ke markas, dan cari tau apa tujuan mereka mencelakai istriku, untuk pak Toni lakukan sebaik mungkin, istri dan anak ku masih di dalam ruangan operasi, dia membutuhkan darah, dan bersyukur mama dan Daddy nya ada di sini"
Davvien langsung mematikan sambungan nya, Fero menjadi penasaran karna Davvien mengatakan Daddy dan Mama Vera.
Davvien kembali pada ruangan sang istri, dia melihat sudah ada Mama Rina dan juga Tn.Diwan di sana.
Davvien langsung bergabung, dia mendengar jika Mama Rina sedang menceritakan dirinya yang bisa sampai tepat waktu di sana.
"Mama sudah ada di bandara saat kau mengatakan jika adik mu masuk rumah sakit, setelah telpon kamu matikan tadi pagi, mama sudah tidak sabar untuk melihat adik mu, jadi mama putuskan langsung berangkat saat itu juga, tapi perasaan mama menjadi tidak tenang, saat mama di dalam pesawat mama semakin gelisah dan tidak tenang, pikiran mama antara senang dan juga khawatir, senang karna akan bertemu dengan anak perempuan mama, dan khawatir tanpa tau sebabnya hingga foto adik mu terjatuh"
Rina mengehentikan ucapan nya sejenak, menghirup nafas, lalu dengan sesugukan Rina melanjutkan perkataannya.
"Mama menghubungi mu juga sebenarnya ingin mengatakan jika mama sudah sampai di bandara dan meminta mu untuk membawa adik mu menjemput mama, tapi yang mama dapat malah kejutan yang membuat mama hampir kehabisan nafas, tanpa berfikir panjang mama langsung pergi ke rumah sakit, mama sempat bingung rumah sakit mana Kia di rawat, namun mama mengatakan pada supir taksi untuk mengantar kan mama ke rumah sakit terbesar di kota ini, dan dia mengantar mama ke sini, karna aku yakin suami nya atau ayah mu pasti akan membawa putriku pada rumah sakit terbaik di kota ini"
Mama Rina menceritakan semuanya pada putra yang duduk di samping nya.
Mendengar itu, Tn.Andre membawa sang istri yang sudah lama tidak di lihat nya ke dalam pelukan nya, meski masih sedikit canggung, namun mereka sama sama menikmati.
"Cerita nya panjang ma, di sini dia bukan Kia lagi, tapi Vera"
Mama Rina sempat kaget, namun untuk sekarang dia tidak ingin menanyakan lebih lagi, kini perasaan haru dan takut bercampur aduk dalam hati mereka.
Davvien melangkah mendekati Mama Rani.
"Kamu pasti suami nya anak tante ya?"
Tanya Mama Rina yang melihat Davvien duduk di hadapan nya.
"Iya Ma, dan maafkan aku, aku lalai menjaga istri ku"
"Sudah nak, ayo bangun ini bukan kesalahan mu, ini adalah musibah, jangan lemah seperti ini, Kia pasti tidak akan suka melihat mu seperti ini"
Kata-kata Mama langsung mengingat kan Davvien pada perkataan Vera kala itu.
"Jangan tunjukan kelemahan mu, dan jangan jadikan aku kelemahan mu, tapi jadikan aku sebagai kekuatan mu"
Davvien mencium tangan Mama Rani, dia akan berusaha untuk tegar.
Ceklek....
__ADS_1
Pintu ruangan operasi Vera terbuka, keluar lah Dokter Hendri yang sedang membuka masker nya.
"Bagaimana keadaan istri saya?"
Tanya Davvien dan semua ikut bangun dan mendekati Dokter Hendri.
"Untuk saat ini Nona Vera masih dalam keadaan belum sadarkan diri, luka di kepalanya tidak terlalu besar namun hantaman yang keras membuat nya pingsan"
Jelas Dokter Hendri secara pelan.
"Lalu kapan istri ku akan sadar?"
"Kami belum bisa memastikan nya, karna benturan keras membuat otak Nona Vera melambat, berdoa saja supaya Nona Vera segera sadar"
Davvien mundur beberapa langkah, kaki nya kembali terasa melemah, sungguh sangat sulit menerima kenyataan yang di hadap kan untuk dirinya.
"Lalu bagaimana dengan cucu kami dok?"
Tanya Ny.Andin yang juga merasa begitu syok mendengar keadaan menantunya.
"Syukur ke dua bayi dalam perut Ny.Vera tidak kenapa-kenapa, saat terjatuh mungkin Nona Vera masih bisa menjaga perutnya dari benturan, hingga kepalanya lah yang terkena"
Mereka terkejut mendengar perkataan Dokter Hendri.
"Apa dok, ke-kedua bayi?"
Tanya Davvien memastikan lagi.
"Iya Tuan Davvien, Nona Vera mengandung anak kembar"
Sambung Dokter Hana di balik punggung Dokter Hendri, dia keluar lalu mengucapkan selamat pada Davvien.
Dokter Hana juga turut andil dalam menangani Vera.
"Apa kau sedang bercanda?"
Tanya Davvien tak percaya.
"Benar Tuan Davvien, kemaren saat check up bayi nya hanya terlihat satu, tapi saat saya memeriksa nya tadi saya melihat ada dua janin dalam perut Nona Vera dan keduanya sehat"
"Alhamdulillah ya Allah"
Ucap Mama Rina yang merasa senang.
Mereka bersyukur mendengar jika anak dalam kandungan Vera baik-baik saja, meski rasa khawatir masih mereka rasakan, namun mendengar Vera mengandung anak kembar menyisakan sebuah kebahagiaan bagi mereka.
"Boleh saya menemui istri saya"
"Boleh tuan, Nona Vera akan di pindahkan di ruangan rawat, dan tuan bisa menemui Nona Vera di sana"
~Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa berikan semangat nya untuk author ya para Reader, Like, koemen dan Vote.