
Langsung saja ya.....
...🌷 HAPPY READING 🌷...
Davvien melangkah menuju ruang ganti untuk memakai pakaian nya sendiri setelah memakaikan pakaian untuk Vera.
Sedangkan Vera, dia tidak ingin bermanja manja dengan Davvien, dia tidak mau seperti memanfaatkan keadaan dengan selalu di gendong Davvien.
Vera pun bangun berencana untuk berbaring, baru beberapa saat duduk dia susah merasa ingin rebahan lagi, Tubuh nya merasa lemas, perutnya juga bertambah keram, saat dia bangun pun.
"Brakkkkk"
"Sayang,,,"
Davvien langsung berlari menghampiri Vera yang sudah terkulai lemas di atas lantai dengan memegang perut nya.
"Sayang kamu kenapa, jangan bikin aku panik"
Davvien langsung membopong tubuh lemas Vera, dia meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur dengan hati hati.
"Sayang, kamu kenapa"
"Shhhhhhttttttt perut ku"
"Kenapa dengan perut mu"
Davvien mengelus dengan lembut perut Vera.
Karna perut yang semakin keram, badan nya juga terasa lemas akhirnya Vera memejam kan mata.
"Sa-sayang jangan seperti ini buka mata mu"
Davvien langsung panik, menepuk-nepuk pelan pipi Vera.
"Sayang"
"Sayang ayo bangun"
"Perut ku terasa keram, badan ku juga terasa lemas"
"Oehh aku kira kamu pingsan sayang, tunggu sebentar aku akan memanggil Hendri"
Davvien langsung menghubungi dokter pribadi nya, yaitu dokter Hendri.
"Hendri, dalam 10 menit kau harus berada di sini, kalau tidak kau tidak usah datang lagi ke rumah sakit, aku akan mencari kan dokter yang lain"
Davvien langsung mematikan sambungan nya dengan dokter Hendri.
Davvien memencet sebuah tombol di dalam kamar nya.
"Bi, bawakan makan untuk istriku, cepat"
"I iya tuan"
Davvien kembali mendekati Vera saat pelayan sudah kembali untuk mengambil makan untuk Vera.
"Sayang, gimana apa sudah mendingan"
Dia kembali mengelus perut Vera, tak henti henti mencium tangan dan kening istrinya.
Kegundahan terlihat jelas di wajah Davvien, dia benar benar takut akan keadaan istrinya itu.
Tok tok tok,,,,
Terdengar suara ketukan pintu dari luar Davvien langsung menyuruh nya masuk.
"Tuan, siapa yang sakit"
Dokter Hendri tiba, bersamaan dengan pelayan yang datang membawa makanan untuk Vera.
"Kau masih bertanya meski sudah lihat istriku yang tertidur lemah hah?"
"Oh baik lah"
Dokter hendri langsung mendekati Vera, tidak lupa Davvien yang selalu mengawasi mereka.
"Nona, apa gejala yang anda rasakan?"
__ADS_1
"Hei kenapa tanya sama istriku, dia lemah tidak bisa menjawab"
Dokter Hendri tidak merespon ucapan Davvien.
"Nona, bisa anda beritahu saya sakit yang anda rasakan"
"Apa kau tidak mendengar kan ku, tanya kan pada ku saja"
"Ini yang sakit siapa, tuan apa nona?"
Tanpa sengaja Dokter Hendri langsung menaikkan nada bicaranya karna kesal, lebih tidak sengaja lagi mata nya melihat tanda merah di leher Davvien.
"Apa apaan ini, kenapa mata ku di suguh kan pemandangan seperti ini, ternyata nona agresif juga"
Dokter Hendri membatin melihat stempel di leher Davvien, sedang kan leher Vera tidak kelihatan karena di tutupi seluruh tubuh nya oleh selimut.
Bugh,,,
"Kau berani membentak ku Hendri"
Dokter Hendri memegang wajah nya yang terasa nyeri.
"Tu tuan sudah maaf kan saya, saya tidak bermaksud membentak tuan, saya hanya khawatir"
Dokter Hendri mencari alasan supaya Davvien tidak memukul nya lagi.
"Kau tidak usah mengkhawatirkan istri ku, cukup aku yang mengkhawatirkan nya"
"Aaaaaa au shhhhhhht"
Vera kembali meringis menahan sakit, dalam hati Vera sudah mengumpat kepada Davvien.
"Sayang kamu kenapa"
"Udah tau sakit masih bertanya, dari tadi dia sibuk bertengkar dengan dokter Hendri"
Batin Vera.
Davvien langsung mencium kening Vera.
Ucap Vera dengan nada lemah.
"Ya ampun sayang maaf kan aku"
"Periksa sekarang, dia mengalami keram di bagian perut nya, badan nya juga lemah"
Dokter Hendri mengangguk, dia pun langsung duduk di dekat Vera.
"Boleh saya buka selimut nya biar saya periksa"
"Apa, kau berani menyuruh membuka kan selimut istri ku"
Davvien langsung haredang mendengar perkataan perkataan Hendri.
"Eh tidak tuan, kalau ada selimut saya susah untuk memeriksa nona"
Jelas Dokter Hendri, karna tidak tega melihat istrinya kesakitan Davvien pun mencoba mengalah, dia tahan rasa marahnya pada Dokter Hendri.
Davvien menurun kan selimut Vera, Dokter Hendri langsung terbelalak melihat leher Vera penuh dengan stempel tidak ada celah sedikitpun.
"Kau melihat apa Hendri, apa kau sudah tidak menyayangi mata mu lagi?"
Glekkkkk
"E e tidak tuan, ahaha saya periksa nona dulu"
Dokter Hendri langsung memulai pekerjaan nya, dia memeriksa detak jantung, langsung turun pada bagian yang sakit.
"Aneh, kenapa tidak ku temukan penyakit"
Berulang Dokter Hendri memeriksa Vera.
"Tuan, apa nona melakukan aktivitas berlebihan?"
"Tidak, dia tidak melakukan apapun, semalam kami hanya keluar makan malam terus kami langsung bertarung dari mulai pulang dari makan malam sampai tadi pagi"
Davvien menjelaskan dengan santai tanpa rasa malu sedikit pun, Dokter Hendri langsung melebarkan matanya mendengar Davvien yang sudah menggempur istrinya sampai pagi, sedangkan Vera wajah nya yang tadi pucat sekarang sudah berubah menjadi merah semerah menahan malu karna ulah suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa mereka melakukan nya sampai pagi, dan nona kau sungguh hebat karna kau bisa mengimbangi tuan, tapi kenapa dia menceritakan semuanya pada ku, sudah tau aku belum pernah merasakan nya, apa aku juga akan seperti mereka"
Dokter Hendri membatin setelah mendengar semua penjelasan Davvien.
"Aduh kenapa dia pakek jujur sih, kan aku jadi malu, oeh leher ku kan penuh dengan stempel nya aduhhh malunya diri ini"
"Hendri, kenapa kau diam hah, apa kau membayangkan nya"
"Eh tidak tuan, saya hanya kaget mendengar kenapa anda sanggup sampai pagi"
"Apa kau iri, itu karna aku memang kuat"
"Tidak tuan, karna kekuatan tuan berimbas pada nona"
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Karna aktivitas kalian, nona mengalami keram karna melakukan secara berlebihan, ada bagian dalam nona yang terluka, dan kalau masalah lemas nona hanya kurang tidur dan capek, seperti nya nona juga belum makan"
Mendengar itu Davvien merasa sangat bersalah, dia langsung mencium tangan dan kening Vera secara bergantian.
"Maaf kan aku sayang, maaf aku janji tidak akan kelewat batas"
Vera hanya coba tersenyum pada Davvien melihat raut wajah khawatir suaminya.
"Apa itu akan berbahaya?"
"Tidak tuan, anda hanya perlu meliburkan pertarungan kalian selama seminggu, aku juga akan memberikan resep obat untuk nona"
"Apa, seminggu?"
"Iya tuan, anda harus benar benar menjaga nona dengan baik"
"Baru kemaren aku buka segel, udah di suruh puasa"
Davvien langsung merasa frustasi mendengar penjelasan Dokter Hendri, rasanya tidka rela membiarkan tuan J nya puasa, tapi dia tidak ingin istri nya itu kenapa napa.
Davvien hanya mengangguk pasrah, Dokter Hendri meminta izin untuk pulang setelah memberikan resep obat Vera pada Davvien.
Davvien mengambil ponsel nya, baru dia teringat kantor dan juga Fero, Davvien menghubungi Fero berencana menanyakan apa asisten nya itu sudah berangkat ke kantor.
"Halo Fero, apa kau sudah ke kantor"
"Iya, aku sudah dari tadi ke kantor, aku sempat
mampir ke rumah mu, tapi aku lihat kamar mu masih tertutup dan Vera juga belum kelihatan, jadi aku tidak ingin mengganggu"
Jelas Fero di seberang.
"Heumm semalam aku,,,,"
"Iya aku tau, jangan di jelaskan kalian pasti bertarung luar biasa semalam kan?"
Davvien tertegun mendengar Fero tapi dia cuma beranggapan Fero menebak nya.
"Iya, dan sekarang Ver,,,,,"
"Sudah jangan di teruskan lagi apa benda yang aku siapkan masih memberikan efek, kamu harus berterima kasih pada ku, seperti nya benda itu cukup berguna, Vera pasti pasrah padamu"
Deggg
Mendengar itu Davvien merasa ada yang aneh dari perkataan Fero.
"Benda, benda apa Fero.
Davvien masih bersikap santai, padahal dia sudah marah karna Fero selalu memotong pembicaraan nya.
Fero terkekeh, dia pun menjelaskan nya.
"Iya benda, kamu kan menyuruh ku menghiasi kamar kalian dan kamar mandi, dan aku sengaja memesan lilin yang aroma nya bisa membangkitkan gairah, dan itu berhasil selamat kamu sudah membuka segel Vera"
"Apa?"
~Bersambung
Halo para Reading aku udah up lagi nih, kok aku lihat makin sepi ya,, kok aku sedih ya...
Like ya temen temen, komen juga tambah vote satu lagi.
__ADS_1