Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Bayi yang menggemaskan.


__ADS_3

Suasana pagi di kediaman Wilmar kembali seperti semula, dimana Vera menjadi seorang istri yang memang selalu melayani suaminya dengan begitu baik.


Vera bangun, matanya menelisik jam yang berada di atas nakas di sebelahnya saat ini menunjukkan pukul 05:00 pagi, langsung saja ibu dua anak ini merenggang kan pelukan tangan sang suami yang selalu memeluk erat tubuh mungil nya, lalu menyibakkan selimut yang menutupi keduanya.


"Jangan lupa solat subuh, sayang!" bisik Vera tepat di telinga sang suami, kemudian kakinya turun dari ranjang king size, lalu melangkah pada box tidur dua bayi gembul nya itu.


Vera sangat gemes melihat cara tidur keduanya, yang hampir menyerupai tidur orang dewasa. Syakir tidur secara menyamping dan memeluk erat guling di sebelahnya, begitupun Syakira, bayi perempuan ini tidur dengan memasukkan jemari jempol nya ke dalam mulut mungil nya itu.


Sudut bibirnya terangkat ke atas, meski masih pagi, tapi kedua anaknya sudah membuat nya tersenyum.


Selesai mencuci muka, Vera keluar dari dalam kamar. Langkahnya menuju ke dapur, guna untuk membuat sarapan untuk sang suami yang akan berangkat ke kantor, luka di lengan Davvien juga sudah sembuh, tentu saja Vera dengan penuh kasih sayang merawat ayah dari anak-anak nya ini.


"Bibi sudah bangun?" tanya Vera pada bi Aini yang sedang berkutat di dapur, di dampingi oleh beberapa maid lainnya.


"Eh Nak, Vera!" pekik bi Aini sedikit tersentak karna terkejut.


"Hehe iya Bi, maaf membuat Bibi terkejut!" ujar Vera sambil terkekeh.


"Iya, Nak tidak apa-apa!"


"Eh Bibi masak apa, biar Vera saja, Bibi bisa kerjakan yang lain saja!" tukas Vera, dia langsung ingin ambil alih.


"Tidak apa-apa, Nak! kan di sini para pelayan nya banyak, jadi semua tugas sudah ada yang ngerjain!" tolak bi Aini.


"Kalau begitu, bibi sama Vera saja di sini, yang lain boleh bantu yang lain saja!" celetuk Vera, para maid itupun mengangguk paham.


"Baik Nona!" mereka membungkuk kan sedikit badannya, lalu melangkah keluar dari dapur.


Bi Aini dan Vera pun melanjutkan acara memasaknya, keduanya tampak bahagia, sesekali keduanya tertawa bersama, saat Vera menceritakan perihal anak kembarnya, Syakir dan Syakira yang terlihat lucu dan menggemaskan.


...----------------...


Satu jam berkutat di dapur, tiba-tiba suara Davvien memanggil dirinya terdengar menggema dari lantai dua.


"Sayang! kamu dimana?" panggil Davvien.


Vera langsung keluar dari dapur, dengan sedikit berlari dia sampai di bawah tangga "Ada apa, kenapa pagi-pagi sudah berteriak?" tanya Vera, hampir seisi rumah keluar dan berdiri di bawah tangga. Karna mendengar teriakan Davvien memanggil Vera.


"Syakir sayang!" ucap Davvien tergesa-gesa.

__ADS_1


"Kenapa dengan Syakir?" tiba-tiba saja Vera langsung panik.


"Syakir PUP, sayang!" jawab Davvien, membuat semua orang menghela nafas mereka, termasuk Vera "Huf ... aku kira ada apa, kenapa kamu malah memanggil ku, gantikan saja pempers nya, kamu kan juga bisa!" ujar Vera sedikit berteriak. Sebenarnya dia sengaja mengerjai suaminya itu.


"Ak-aku, yank?" tanya Davvien sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Ya iyalah, kan mereka juga anak mu, jadi kamu juga berhak mengurus mereka!" sergah Vera dengan cepat. Wajah Davvien langsung terlihat masam, Fero yang menyaksikan nya pun langsung menertawai bos sinting nya itu.


"Siapa yang mengizinkan mu tertawa, kutu kupret?" pekik Davvien menatap horor ke arah Fero.


"Iya, kenapa malah tertawa. Nanti kamu juga akan mengurus bayi kita!" timpal Intan langsung membuat Fero mendadak mengehentikan tawanya.


Davvien kembali melangkah masuk ke dalam kamar, dengan ragu dia mendekati box tidur Syakir.


"Duh ... sayang, kenapa kamu harus PUP sih!" gumam Davvien, tangan nya terulur untuk membuka celana bayi Syakir.


"Ooeekkkk .... oek ....!" baru selesai membuka celana, Davvien sudah merasa mual, tangan nya langsung menutup hidungnya.


Vera yang mengintip dari luar sedikit tertawa dan menggelengkan kepalanya. Karna merasa kasihan, diapun masuk dan menggantikan posisi Davvien.


"Mandilah sayang, biar aku yang menggantikan popok Syakir!" ujar Vera di balik punggung sang suami.


"Tidak apa-apa, sayang! aku bisa kok!" tolak Davvien, padahal dalam hatinya sudah bersorak gembira.


"Hem ... baiklah!" Davvien mencium puncak kepala Vera lalu masuk ke dalam kamar ma mandi.


...----------------...


Selesai sarapan, keduanya langsung pamit untuk berangkat ke kantor.


"Sayang, aku berangkat dulu ya! kamu hati-hati di rumah, jangan capek-capek, jika si kembar rewel, langsung hubungi aku!" ujar Davvien saat Vera mencium punggung tangan nya, lalu gantian dia yang mencium kening sang istri.


"Iya, sayang! nanti siang aku akan memasak dan mengantarkan nya untuk mu!" sahut Vera, membuat senyuman manis terbit dari bibir Davvien.


"My Wife, aku berangkat dulu ya, kamu jangan capek-capek ya. Jaga anak kita!" tukas Fero pada Intan, dia juga tidak mau kalah.


"Siap my husband, nanti aku juga akan mengantar makan siang untuk mu bersama, Vera!" imbuh Intan menjawab ucapan sang suami.


Fero tersenyum lalu menjawab "Iya, hati-hati ya. Papa berangkat dulu ya sayang!"

__ADS_1


Cup...


Setelah keduanya berpamitan, merekapun masuk ke dalam mobil, kemudian berlalu membelah jalan raya yang mulai di padati oleh kendaraan.


...----------------...


Sampai di kantor, Davvien dan Fero langsung memasuki lobby kantor, banyak karyawan yang menyapa, tapi keduanya hanya memasang wajah dingin, dengan sesekali mengangguk atau hanya sekedar mengedipkan mata.


"Katakan Fero, apa jadwal ku hari ini!" ujar Davvien dengan suara datar.


"Untuk hari ini tidak ada, anda hanya perlu mengecek semua laporan yang ada di atas meja kerja anda, Tuan!" celetuk Fero menerangkan.


"Hem ... baiklah!"


"Tapi, besok kita harus melakukan perjalanan bisnis!" lanjut Fero lagi, membuat Davvien langsung melihat ke arah nya.


"Perjalanan bisnis! kenapa tiba-tiba?" tanya Davvien, menimpali ucapan Fero.


"Karna saya baru dapatkan informasi semalam, jika ada masalah di proyek pembangunan vila di kota B, dan kita di suruh ke sana untuk mengeceknya!" imbuh Fero kembali menjelaskan.


"Baiklah!"


.


.


.


.


.


~Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Like


Komen dan

__ADS_1


Vote


Terimakasih para Reader ku ter❤️.


__ADS_2