
Di sebuah Apartemen, seorang perempuan duduk dengan wajah dongkol, dia sedang melihat tajam pada seorang pria yang sedang memasak.
Dia terus saja mengumpat, pasalnya lelaki tersebut tidak membiarkan dia keluar bahkan lelaki itu hanya menyuruh nya duduk manis di sofa dan menunggu lelaki itu selesai masak.
Intan sudah sangat geram dengan tingkah Fero tangan nya udah greget mau mengambil alih masak, tapi Fero melarang nya.
(Padahal kan Fero bisa ngajak Intan masak bareng supaya terkesan romantis, ini malah Intan nya di abaikan, siapa yang tau caranya romantis tolong ajarin babang Fero dong)
Saat tadi Fero bingung harus membawa Intan kemana, akhirnya dia memutuskan untuk membawa Intan ke Apartemen nya, Intan sempat menolak, namun dengan sigap Fero menggendong Intan bagaikan karung beras, dengan wajah dingin nya Fero terus menggendong Intan yang terus memukul punggung kekar nya, Fero ingat saat Davvien menjemput Vera Davvien juga menggendong Vera seperti yang dia lakukan saat ini.
Kini ... ya di sini, Intan bagaikan orang yang di culik, kan Fero sudah minta izin, ya mungkin culik sudah ada izin kali ya.
Intan tidak ingin terus bersama Fero, dia takut rasa yang ingin dia buang untuk Fero malah semakin besar, beda hal nya dengan Fero, dia tidak ingin Intan menjauhi nya apa lagi melupakan nya, dia ingin Intan selalu berada di sisinya. Tapi ya itu, dia bingung harus bersikap bagaimana, bagi nya dengan cara diam dan tidak mengatai Intan itu sudah sangat baik memperlakukan Intan.
Fero tidak sadar, dengan dia bersikap dingin seperti itu, Intan semakin membenci Fero karna Intan beranggapan jika Fero hanya mempermainkan dirinya.
Hari sudah mulai malam, setelah memasak, Fero langsung meninggalkan Intan sendiri, sedangkan dirinya melangkah menaiki tangga.
"Apa, jadi untuk apa juga dia mengajak ku ke sini jika dia tidak menganggap ku ada"
Intan bangun, dia hendak melangkah keluar tapi suara langkah menuruni tangga kembali terdengar.
"Jangan coba-coba untuk keluar tanpa izin ku"
"Memang nya anda siapa hah"
"Aku yang meminta izin pada mama mu, aku juga yang akan mengantar mu, sekarang duduk dan makan dulu"
"Aku mau pulang, mama pasti sudah mengkhawatirkan ku"
"Jangan pikirkan itu, aku sudah memberi tahu pada mama mu jika kamu di rumah Vera"
"Apa, kau membohongi mama ku"
"Tidak apa-apa aku membohongi demi kebaikan"
Fero sudah duduk di meja makan minimalis di apartemen nya, meja makan yang hanya tersedia dua kursi tersebut sudah terhidang nasi goreng telur di atas nya, ya hanya itu yang bisa di masak Fero.
"Kebaikan apa hah?"
Intan masih berdiri, rasanya dia ingin meledakkan tempat itu beserta Fero sekarang juga saat melihat Fero begitu santai.
"Dari pada aku jujur dan memberi tau kalau anak gadisnya sekarang berada di apartemen pria, nanti dia syok dan sakit jantung kan lebih baik aku berbohong".
Intan semakin geram, kalian pasti tau bagaimana rasanya jadi Intan.
"Kau mendoakan mama ku sakit hah"
"Hei, kau tidak dengar, aku kan bilang takut bukan nya mendoakan, sekarang makan lah"
"Aku mau solat, ini sudah magrib"
Sreeeeett
Hati Fero langsung ter iris mendengar perkataan Intan, dia sudah sangat lama tidak melakukan solat lima waktu, bahkan dia tidak yakin masih ingat tata cara sholat.
"Tapi di sini aku tidak mempunyai mukena, aku kan pria"
"Makanya cepat antarkan aku pulang"
"Makan dulu, baru setelah itu aku akan mengantar mu pulang"
Fero bangkit dari duduk nya, lalu dia pun mengambil gawai miliknya, ntah apa yang di lakukan pada benda pipih itu, sedangkan Intan langsung melahap makanan nya karna dia ingin cepat cepat pulang.
Fero yang melihat Intan makan hanya menggeleng kepala.
"Uhuk,,, uhuk,,,"
Fero hanya diam, bukan nya memberikan air untuk Intan yang tersedak dia malah asik menyantap makanan nya.
"Dasar tidak peka"
Batin Intan, bagi Intan saat ini Fero adalah orang ter-nyebelin di dunia ini.
"Makanya kalau makan itu pelan-pelan saja, nggak usah serakus itu, aku jadi tidak berselera melihat cara mu makan"
Cukup sudah ... Intan bangun, dia membanting sendok di piring nya sambil bangun langsung melangkah menuju pintu.
Saat membuka pintu, dia pun di kejutkan dengan salah satu kurir yang sudah mengangkat tangan nya ingin mengetuk pintu apartemen Fero.
Hampir saja tangan sang kurir mengetuk dahi Intan.
"Ini mbak pesanan nya"
Intan masih bingung, dia tidak memesan apapun, namun suara cool di belakang Intan mengagetkan nya.
"Terima saja, itu untuk mu"
__ADS_1
Fero langsung membayar dan menandatangani sebagai tanda penerima.
"Apa ini, aku tidak ingin apapun"
"Buka lah"
Fero kembali menutup pintu setelah kurir itu pamit.
"Aku hanya ingin pulang, anda tidak bisa menyogok saya dengan barang barang seperti ini"
"Katanya tadi mau solat, jika harus pulang dulu nanti sudah masuk waktu insya kan"
Intan terdiam, dia pun membuka paket tersebut, ternyata isinya mukena dan sajadah.
Ternyata Fero tadi langsung memesan sajadah dan mukena di aplikasi online.
"Solat lah di kamar ku"
Intan menatap Fero, mana mungkin dia berani masuk ke dalam kamar pria.
"Jangan berfikir negatif, aku tidak akan macam macam dengan mu"
Mendengar itu Intan pun merasa lega, dia pun melangkah menaiki tangga untuk menunaikan kewajiban yang waktunya hanya tinggal sebentar lagi.
...----------------...
Sedangkan di kediaman Davvien,,,
Saat ini mereka sedang duduk di sofa ruang tamu, sedari tadi Vera tidak berhenti makan, malam ini Vera terlihat begitu rakus.
"Sayang, tunggu ya aku mau ambil lagi buah nya"
"Suruh bibi saja"
"Tidak usah sayang, aku bisa sendiri"
"Duduk, diam dan makan lah sepuas mu"
"Tapi kasian pelayan sudah capek mondar-mandir mengambil makanan untuk ku"
Bi Aini datang dengan membawa buah segar yang telah dia cuci bersih dan di potong potong.
"Kami tidak merasa di direpotkan nak Vera, bibi malah senang bisa melayani nak Vera, apa lagi sekarang nak Vera sedang berbadan dua"
"Eh bi, belum juga Vera minta udah di bawa aja nih"
"Hehe iya bi makasih"
Bi Aini pun pamit dari hadapan Vera dan Davvien.
"Gara gara kamu sih"
Celetuk Vera dengan sewot pada Davvien.
"Loh kok aku yang"
"Ya kamu, coba saja kamu bisa masak aku pasti tidak serakus ini makan buahnya"
"Ya maaf, kamu sih kenapa nggak mau makan masakan bibi, dan kenapa nggak mau aku pesan makanan"
"Ya aku ingin kamu yang memasak, ini permintaan anak mu ini, iya kan nak"
Vera bertanya pada perutnya, seolah anak nya sudah ada di hadapan nya.
"Kasian kamu nak, belum lahir saja sudah di bawa-bawa"
Batin Davvien, dia merasa gemes melihat tingkah Vera.
"Iya iya aku minta maaf, nanti aku akan belajar lebih baik lagi supaya kamu dan anak kita bisa makan masakan ku".
"Benar ya"
"Iya sayang, apa sih yang nggak buat kamu, jika kamu minta nyawa pun aku kasih".
Vera tersenyum, dia pun langsung masuk.ke dalam pelukan suami tercinta.
🌷 Flashback on
Davvien sedang berkutat dia dapur, dia sedang berusaha membuat sesuatu makanan yang bisa di makan.
Vera yang tidak mau masakan orang lain hanya menunggu sang suami menyelesaikan acara memasak nya, malam ini dia hanya ingin memakan masakan sang suami, dia pun menyuruh Davvien untuk memasak.
Davvien sudah sangat kewalahan, jangan kan membuat makanan, barang barang di dapur saja dia tidak tau namanya apa.
namun demi sang istri, dia rela bersusah payah, keringat sudah membasahi keningnya Davvien terus membuat makanan yang tidak bisa kita gambar kan bentuknya.
Dengan hanya berpedoman pada Vidio di YouTube, Davvien sudah selesai dengan acara memasak nya.
__ADS_1
Kini masakan nya sudah terhidang di di atas meja.
Davvien memanggil Vera, dan pun memanggil seluruh pelayan untuk segera membereskan dapur.
Pelayan semua terbelalak melihat keadaan dapur sudah seperti habis terjadi gempa, alat alat memasak terbengkalai di atas kompor, air berceceran di lantai begitupun minyak goreng, sayuran juga di mana-mana, bau amis dari telor yang pecah jatuh ke lantai begitu menyeruak masuk dalam indra penciuman, pelayan harus memakai masker untuk membersihkan dapur yang sudah sangat kacau.
Sedangkan Vera hanya menatap aneh pada makanan yang di buat suaminya itu.
Nasi goreng berwarna coklat degan gumpalan-gumpalan hitam, Ayam goreng yang sudah menghitam, sayuran yang juga berwarna gelap, bahkan telor pun juga berwarna yang sama dengan ayam goreng dan sayuran.
"Makan lah sayang, ini khusus untuk istri ku tercinta"
Dengan berat hati Vera mengambil sedikit nasi, dia pun mengambil telur, karna hanya telur yang terlihat masih sedikit layak untuk di makan.
Vera menyendok nasi beserta telurnya lalu memasukkan ke dalam mulut, saat itu pun Vera langsung membelalakkan matanya, dia berusaha menelan semua rasa yang sangat mengganjal di lidah nya.
"Bagaimana sayang"
Tanya Davvien penuh harap, Vera melihat pada Davvein dan berusaha tersenyum.
"Coba lah sayang hasil kerja kerasmu"
"Aku tidak lapar, yang penting kamu kenyang dulu, baru setelah itu aku makan"
"Aku ingin kamu juga ikut memakan nya sayang"
"Baik lah"
Dengan semangat Davvien memasukkan masakan nya ke dalam mulut nya.
Ekspresi nya pun sama seperti Vera, mata Davvien membulat dia langsung memuntahkan makanan nya.
Davvien berlari pada wastafel lalau mencuci mulutnya.
"Sayang, kenapa kau makan makanan asin dan pahit ini"
"Ya karna itu hasil kerja keras mu dan aku mengahargai nya"
"Tapi itu tidak baik untuk kesehatan mu, sekarang aku akan menyuruh pelayan untuk membuat mu makanan"
"Tidak perlu sayang, aku sudah tidak berselera lagi"
"Kalau begitu aku pesan kan makanan saja"
"Tidak perlu, aku hanya ingin makan buah, dan minum susu hamil itu sudah membuat ku kenyang"
Davvien pun menyuruh para pelayan untuk memberikan potongan buah untuk istri yang gagal makan karna masakan aneh yang di buatnya.
🌷 Flashback off
...----------------...
Setelah selesai solat, Intan langsung turun, dia ingin segera pulang, rasanya sudah sangat risih berlama lama dengan manusia es seperti Fero.
"Tuan, aku sudah siap antar kan aku atau aku pulang sendiri saja"
Fero yang duduk di sofa langsung melihat wajah Intan, tanpa aba-aba dia pun langsung menarik tangan Intan, hingga Intan terduduk tepat di pangkuan Fero.
"Kenapa buru-buru sekali, duduk dulu"
"Le-lepasin saya, anda jangan macam-macam tuan"
"Kalau saya tidak mau bagaimana?"
"Saya mohon tuan, jangan apa-apa kan saya"
Intan sudah memejamkan mata saat Fero mendekati wajah nya, dia merasa sangat ketakutan.
Melihat itu Fero sedikit mengembang kan senyuman, dia pun melepaskan Intan lalu bangun dari duduk nya.
"Saya bukan orang yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan"
Fero melangkah, menuju tangga.
"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana, saya akan mengantar kamu pulang"
Fero pun menaiki tangga meninggalkan Intan dengan rasa marah juga malu.
Karna merasa di permainan kan oleh Fero, tanpa menunggu lagi Intan langsung melangkah keluar.
Intan terus saja berjalan, dia tidak terlalu tau jalanan di sekitar apartemen Fero, sambil terus berjalan matanya melihat ke belakang dan ke depan, mengharapkan kan taksi akan lewat, namun tidak ada. Karna jalanan di sekitar apartemen tempat tinggal Fero itu memang sedikit sepi.
Saat dilihat nya tidak ada kendaraan yang lewat, Intan mengambil ponsel nya lalu memesan taksi online, setelah selesai pun Intan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas lalu berjalan lagi, dari pada berdiri di pinggir jalan.
Tiba-tiba saat Intan fokus berjalan, sebuah mobil berhenti tepat di samping nya.
"Hei, kamu sini?"
__ADS_1
~Bersambung