
Setelah memutuskan besok dirinya akan kembali ke kota nya, pagi ini Frans berniat akan menemui adik tersayang nya, tapi sebelum itu Frans berniat menemui Intan.
Sejak pertama kali melihat Intan, Frans memang sudah merasa tertarik dengan Intan, terlebih selama ini mereka terbilang dekat, Frans semakin menyimpan rasa untuk sahabat adiknya itu.
Hari ini dia akan mengungkapkan perasaan nya, namun Frans hanya mengutarakan saja, jika di terima maka dia sangat bahagia, tapi jika Intan menolak Frans juga tidak akan memaksa.
Dia hanya memastikan perasaan Intan sebelum sebuah penyesalan datang di akhir ceritanya.
Frans sudah tau rumah Intan, karna pernah mengantar Intan saat Intan main ke rumah Vera.
Saat itu Intan memang membawa mobil nya sendiri, tapi Frans tetap bersikeras mengantar Intan, al hasil Frans mengikuti mobil Intan dari belakang.
Frans sudah sampai di rumah Intan, dia pun bergegas turun lalu mendekati pintu dan mengetuk nya
Tok,,,tok,,,tok,,,
Pintu pun langsung terbuka saat pertama Frans mengetuk.
Ceklek...
Bibi yang melihat Frans hanya tersenyum, karna tidak mengenali sosok pria yang berdiri di depannya saat ini.
"Maaf tuan, anda cari siapa ya?" Tanya Bibi dengan menundukkan kepalanya.
"Apa ini rumahnya Intan?" Tanya Frans balik.
"Iya Tuan, ini rumah nya Non Intan"
"Apa Intan nya ada?" Tanya Frans lagi.
"Maaf, anda siapanya Non Intan?"
"Saya temannya"
"Oh... mari tuan masuk dulu, biar saya panggilkan Non Intan dulu"
Frans mengangguk, lalu dia pun masuk, duduk di sofa, Frans melihat setiap isi rumah Intan.
Tidak menunggu lama, orang yang di tunggu pun muncul sedang turun dari tangga.
Frans melihat Intan yang sedang berjalan ke arah nya dengan tatapan heran.
"Loh kak Frans" Tukas Intan saat sudah berdiri di depan Frans.
"Kenapa kamu kaget?"
"Iya kak... kenapa kakak ke sini?" Tanya Intan yang jujur.
Frans tersenyum karna mendengar ucapan Intan yang begitu jujur.
"Apa aku tidak boleh bermain ke rumah mu?" Tanya Frans menata ke arah Intan.
"Bu-bukan seperti itu kak, aku cuma heran kakak tumben nongol ke sini pagi-pagi"
Intan spontan menjawab merasa tidak enak karna bertanya seperti itu pada kakak sahabat nya itu.
"Aku ingin mengajak kamu keluar sebentar, itung-itung kita jalan jalan"
"Jalan-jalan, kemana kak?"
"Nanti kamu akan tau, tapi kamu harus mau dulu"
Baru ingin menjawab Mama Intan pun keluar dari kamarnya.
"Eh ada tamu" Ucap mama Intan.
Frans yang melihat nya pun ikut bangun lalu menyalami tangan Mama nya Intan.
"Mah, kenalin ini Kak Frans kakak nya Vera yang aku ceritakan" Intan memberi tau kepada sang mama.
"Oh kamu kakak nya Vera, Tante baru lihat, mama kamu kemana?"
Tanya nya langsung antusias, Intan memang sempat memberi tau jika Vera sahabatnya sudah bersama keluarga nya lagi.
"Mama di rumah Tante"
"Loh kenapa nggak di ajak ke sini, Tante mau kenal juga dengan mama sahabat nya Intan, apa lagi Vera juga udah Tante anggap seperti anak Tante sendiri" Mamanya Intan tersenyum, begitu pun dengan Frans.
"Lain waktu Frans perkenalkan mama, atau Tante bisa datang ke rumah bersama Intan" Frans memberi usulan.
"Insya Allah kalau sudah tidak sibuk kami kesana"
Frans kembali tersenyum, pelayan pun tiba membawa kan kopi untuk Frans.
"Silah kan di minum kopinya" Ucap Bibi dengan memeluk nampan dan membungkuk kan badan nya.
"Baik terima kasih Bi"
"Iya Tuan, saya permisi Non, Nyah..."
Setelah pelayan pamit, Mama Intan menyuruh Frans meminum kopi nya, Frans pun tampa membantah langsung menyeruput kopi tersebut.
Mereka terlihat akrab, meski ini yang pertama, nmun Frans dan Mamanya Intan sudah terlihat akur.
Keduanya tampak bercerita, sebelum akhirnya Frans meminta izin mengajak Intan keluar.
"Tante, saya boleh mengajak Intan keluar sebentar, besok saya akan kembali ke sana, hari ini saya ingin jalan-jalan dan saya meminta Intan menemani saya sebentar, boleh kan Tan?"
"Ya tergantung Intan nya, kalau dia mau Tante izinin kok, asal jangan pulang terlalu malam"
Frans tersenyum, kini dia pun melihat pada Intan.
"Kamu mau kan, temenin kakak"
"I-iya kak, aku siap-siap dulu ya kak"
__ADS_1
Frans mengangguk, Intan bergegas berdiri dan melangkah meninggalkan Frans dan juga mama nya.
"Nak Frans, Tante mau keluar sebentar, kamu nggak apa apa kan jika menunggu Intan di sini?"
"Oh baiklah Tante"
"Ya sudah, jaga anak Tante"
"Baik Tante"
Mamanya Intan pun bangun, lalu dia pun keluar dari dalam rumah.
Frans duduk memainkan gawai miliknya sambil menunggu Intan selesai bersiap-siap.
"Sudah, yuk"
Ajak Intan yang berdiri di hadapan Frans, sedangkan Frans menatap takjub pada Intan.
Frans merasa jika Intan tambah cantik, mereka pun keluar.
"Eh, tapi aku ingin pamit sama Mama dulu"
"Tante sudah keluar, baru saja"
"Loh, memang nya kemana?"
"Nggak tau, soalnya Tante nggak ngasih tau"
"Heum... ya sudah lah kalau begitu"
Mereka pun keluar dari dalam rumah, Frans membuka kan pintu mobil untuk Intan.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, dan Frans sudah melaju kan mobilnya.
Dalam perjalanan mereka hanya diam, Intan tidak menyadari Handphone nya yang sedang bergetar karna ponsel nya di aktifkan mode diam.
Hingga mereka tiba di sebuah taman, Intan melihat sekeliling dengan heran.
"Kita ngapain ke sini kak?" Tnya Intan pada Frans.
"Yuk kita keluar dulu"
Dengan patuh pun Intan ikut keluar, Frans langsung mengajak Intan untuk masuk ke dalam taman, mereka pun memilih bangku panyang yang di kelilingi oleh bunga mawar berbagai macam jenis.
"Kita duduk sebentar di sini"
"Intan menurut, dia pun mendudukkan dirinya di atas kursi tersebut"
"Kakak kenapa mengajak Intan kesini?" Tanya Intan pada Frans.
"E... sebenarnya" Frans tampak gugup, tidak tau harus memulai dari mana.
"Sebenarnya apa kak?"
Frans langsung memegang tangan Intan dan menggenggam nya begitu erat.
"Ada apa kak?" Tanya Intan lagi yang merasa kaget karna Frans memegang tangan nya.
"Kakak mau jujur sama kamu, besok kakak akan kembali ke sana karna beberapa pekerjaan, tolong setelah ini kamu berikan jawaban untuk kakak" Ujar Fero yang semakin kuat menggenggam tangan Intan.
"Iya kak, tapi apa?" Intan masih belum paham.
"Dari sejal kita bertemu, kakak sudah tertarik sama kamu Intan, dan semakin hari kakak semakin menyukai kamu, dan sekarang kakak sadar jika kakak mencintai kamu, jadi apa kamu mau menerima kakak?" Tanya Frans penuh harap pada Intan yang begitu tampak terkejut.
"Maksud kakak, kakak menyukai Intan?"
"Iya Intan, dan kakak harap kamu bisa menerima kakak, tapi jika tidak pun bukan masalah bagi kakak" Lanjut Frans.
"E... Maaf kak, Intan nggak bisa, Intan hanya menganggap kakak sama seperti Vera, kakak sendiri tidak lebih, jadi Intan minta maaf kak" Bagaimana pun Intan harus tegas, tidak ingin di bilang memberi harapan palsu, lebih baik Intan berterus terang.
Frans tersenyum, dia mengahargai keputusan Intan, dia sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan memaksa Intan, meski sakit karna cinta nya harus di tolak, namun Frans mencoba menerima nya.
"Iya Intan, kakak paham... dan kakak terima keputusan kamu, dia memang lebih cocok bersama mu" Pembicaraan kepada Intan tentang Intan dan Fero.
Belum sempat melepaskan tangan nya, tiba-tiba Intan mendengar suara kertas terjatuh, dia pun menangkap dengan ekor matanya seseorang melangkah pergi.
Intan langsung melepaskan tangan nya dari Frans, dia pun melihat orang tersebut jika itu memang benar orang yang di harapkan Intan.
Intan bangun dari duduknya ingin mengikuti orang tersebut.
"Kak, Intan boleh kesana dulu nggak?"
"Silahkan, kejar lah dia... jangan sia-siakan orang yang benar-benar mencintai mu"
Setelah mendengar kata-kata Frans, Intan langsung berlari meninggalkan Frans yang tertawa getir melihat Intan yang begitu bersemangat mengejar lelaki yang di yakini Frans adalah Fero.
Setelah berlari beberapa langkah Intan dapat melihat punggung seseorang yang begitu familiar di matanya.
Intan pun tersenyum dan mendekati orang tersebut yang masih terus berjalan.
"Tunggu" Hanya itu yang di ucapkan Intan.
Saat melihat orang tersebut sudah berhenti, Intan langsung mendekat, dia pun memeluk lelaki tersebut dari belakang.
"Kenapa pergi?" Tanya Intan dengan memejamkan mata di balik punggung Fero.
Sedangkan Fero yang mendengar suara perempuan, dia langsung menghentikan langkah nya.
Hatinya yang sedang begitu sakit seketika menghangat saat Intan menenggelamkan wajahnya di punggung kekarnya.
Namun, Fero masih memastikan, jika Intan benar-benar menahan nya untuk tidak pergi, dan dia ingin tau tentang pertemuan Intan dan Frans.
"Kenapa kamu ke sini, oh ya selamat ya"
Itulah kata-kata yang di ucapkan Fero, membuat Intan sontak mengangkat wajahnya namun masih memeluk pinggang Fero, ntah keberanian dari mana hingga dirinya sudah menempel pada Fero.
__ADS_1
"Selamat untuk apa?"
"Untuk mu dan dirinya"
Intan semakin heran di buat Fero.
"Untuk mu dan Frans, kalian sudah jadian, kenapa kamu kemari"
Mendengar itu Intan baru paham, jika Fero salah paham.
"Jadi kamu ingin aku menerima kak Frans?" Tanya Intan yang kembali menempelkan pipinya di punggung Fero.
Fero terdiam, mana mungkin dia menyuruh Intan bersama Frans.
"Bukan kah kalian sudah..."
"Makanya cari tau dulu sebelum akhirnya pergi, salah paham kan jadinya"
Sontak Fero langsung membalikkan badannya, membawa Intan tepat di hadapan nya, dia pun memegang kedua bahu Intan, membuat Intan merasa malu karna Fero menatap nya.
"Apa maksud nya..." Ucapan Fero terpotong oleh Intan.
"Itu maksudnya aku tidak menerima dirinya"
Mendengar hal itu membuat Fero senang, dia pun langsung memeluk Intan.
"Tapi kenapa anda kesini tuan?"
Tanya Intan, kali ini dia benar-benar berani, dia sudah tidak tahan dengan rasa di hatinya saat Fero menjauhi dirinya, padahal bukan kah itu yang di inginkan Intan, tapi ntah lah Intan pun tidak tau kenapa.
Fero melepas kan pelukan nya, kesempatan saat ini tidak di sia-sia kan Fero, dia ingin segera menyatakan perasaannya terhadap Intan untuk yang kedua kalinya.
"Aku kesini mengikuti mu, sebelumnya aku sudah ke rumah mu, tapi kata Bibi kamu pergi dengan teman-teman mu, aku bahkan menelpon mu puluhan kali tapi tak sekalipun kamu menjawab nya, akhirnya aku melacak posisi mu, dan aku menemukan mu bersama lelaki itu" Fero pun menceritakan semuanya.
"Untuk apa kakak mencari ku" Intan berharap jika Fero akan menembak dirinya lagi, maka dia akan menerima nya.
Sedangkan Fero kembali gugup saat ingin menyatakan perasaannya.
"Itu... aku, aku"
"Duhh kenapa gugup begini sih" Batin Fero.
"Tuan, aku apa?" Tanya Intan yang menunggu Kalimat selanjutnya dari mulut Fero.
"Aku... huffff"
Fero menghela nafas panjang, lalu dia meraih kedua tangan Intan.
"Intan, aku tidak tau kapan rasa ini ada... aku tidak tau kapan dia hadir, aku juga tidak tau kenapa dia datang, tapi yang aku tau saat ini aku benar-benar sangat mencintai mu, aku tidak ingin kehilangan mu, kehadiran mu sungguh berarti dalam hidupku" Fero menjada ucapan nya.
"Aku tau, aku bukan lelaki yang baik, aku hanya seorang pria brengs*k yang telah mengatai wanita sebaik dirimu, aku tau kamu melupakan ku karna kesalahan ku, tapi aku benar-benar sangat mencintai mu sekarang Intan, sekiranya bisa tolong maafkan aku, dan berikan satu kesempatan untuk ku, akan ku buktikan jika aku mampu membahagiakan mu, aku aka...."
Kata-kata Fero terhenti saat Intan menutup mulut Fero dengan telunjuk nya.
"Jangan katakan apapun lagi, aku mau... aku juga sangat mencintai mu" Jawab Intan dengan mata berkaca-kaca.
"Benar kah?" Tanya Fero tak percaya, dan Intan mengangguk dengan begitu antusias.
Sontak Fero langsung merengkuh tubuh mungil wanita nya, dia sangat bahagia karna cinta nya di terima.
Cukup lama mereka berpelukan, Fero melepas Intan, lalu dia memajukan wajahnya, membuat kening nya menempel tepat di kening Intan, dia tersenyum melihat pipi Intan yang sudah seperti tomat matang.
"Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan untuk ku" Ujar Fero dengan suara lembut.
Intan hanya mengangguk dan tersenyum, lalu dia pun menjawab.
"Jangan sakiti aku lagi"
"Tidak akan pernah sayang, aku berjanji akan selalu membahagiakan mu"
Fero memiringkan wajahnya, diapun menempel kan bibirnya di bibir Intan saat melihat Intan sudah memejamkan mata.
Setelah menempelkan akhirnya Fero mencium dan ******* bibir Intan, dengan Intan yang hanya menerima tanpa membalas.
Kebahagiaan mereka di saksikan oleh Frans, dia kembali tersenyum getir melihat pemandangan tersebut.
Meski hatinya sakit, namun Frans akan coba merelakan, karna sejatinya mereka lebih dulu saling mengenal sebelum akhirnya dirinya datang.
Frans pun melangkah meninggalkan tempat itu, dia membiarkan Intan pulang dengan kekasih nya itu.
.
.
.
.
.
.
~BERSAMBUNG
Reader, aku up hampir 2000 kata loh, mana nih dukungan nya.
Kalian mau ya bantu lindungi karya ku, caranya kalian klik di sini.
Terus seperti di bawah ini.
Kalian klik Aula kehormatan, setelah itu... kalian cari deh judul novel receh ku ini dan kalian bisa bantu lindungi karya ku ini.
__ADS_1