
...**Kebahagiaan ku terasa sempurna saat ini, kala kau yang ku cintai telah berada di sisi ku, akan ku jaga segenap jiwa dan ragaku....
...Akan ku genggam selalu tangan indah mu dan tidak akan pernah ku lepas, karna memiliki mu adalah sesuatu anugerah yang terindah untuk ku, dan melepaskan mu adalah hal yang paling mustahil untuk ku lakukan**....
...----------------...
Beberapa hari sudah berlalu, semua kembali seperti dulu, hanya saja ada beberapa status yang berbeda.
Frans telah kembali ke kota nya, Fero dan Intan sedang di runding kebahagiaan, mereka sama sama masih sedang berbunga-bunga karna cinta mereka telah terangkai, hati mereka telah bersatu.
Mereka bahkan selalu menempel beberapa hari setelah mereka jadian, bahkan Fero meminta izin pada Davvien untuk mengambil cuti, Davvien sebenarnya tidak setuju namun Vera yang bersikeras merayu sang suami agar memberi izin untuk Fero membagi waktu nya dengan Intan.
Vera mengerti, jika perempuan juga membutuhkan perhatian dari sang kekasih, Vera belajar dari pengalaman nya, karna Riko yang selalu mengutamakan pekerjaan hingga membuat hubungan mereka jadi renggang bahkan sampai tandas.
Fero benar benar menghabiskan waktu bersama Intan, dari mulai mengajak Intan jalan-jalan, bahkan dia tidak jarang membawa wanita yang berstatus pacarnya ke apartemen nya.
Beda dengan Fero yang sedang merasakan kebahagiaan, karna bos dari Fero sedang berkeluh kesah karna harus mengerjakan pekerjaan dari pagi sampai malam.
Davvien jadi jarang bersama sang istri, meskipun saat bekerja di rumah Vera selalu menemani nya.
Seperti malam ini, pulang dari kantor tepat jam enam, Davvien bergegas mandi dan melaksanakan solat magrib bersama sang istri dan kedua calon anak nya.
Saat ini kandungan Vera sudah memasuki enam bulan, perutnya jelas semakin membuncit.
Selesai makan malam, Davvien masuk ke dalam ruangan kerja.
"Sialan si kutu kupret, dia enak-enakan bersama marmut nya, sedangkan aku bos nya harus bekerja sendirian, awas saja kau, jika waktu libur mu sudah habis, aku akan memberikan pekerjaan yang banyak untuk mu".
Davvien bergumam, sambil tangan nya menari-nari di atas keyboard laptop di hadapannya.
Tiba-tiba pun ponsel milik nya berdering, setelah melihat nama si penelpon, Davvien langsung menjawab.
"Katakan"
"Bos, apa yang harus kami lakukan pada wanita ini, dia sudah tidak tahan lagi, dia meminta agar kami mengakhiri hidupnya" Jelas orang seberang.
"Coba aku lihat"
Mereka pun melakukan panggilan Vidio, Davvien dapat melihat wanita yang dulu sangat di cintai nya, wanita yang sangat polos, cantik dan juga seksi, tapi kini keadaan nya begitu menyedihkan, rambut yang sudah usang, wajah sudah tidak terawat, badan sudah kurus dan juga sangat kusam.
Davvien pun kembali berbicara, setelah melihat wanita yang telah mencelakakan sang Istri sudah sangat tersiksa.
"Tunggu saja kabar dari ku, tetap beri dia makan"
Sambungan pun terputus, di balik pintu masuk lah seorang perempuan penyemangat untuk nya, wanita tangguh yang telah mengubah kehidupan nya, wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Sayang...." Vera mendekat.
"Sayang, seperi biasa aku membawa kan mu kopi hangat" Vera langsung berjalan ke belakang Davvien.
Di pegang nya kedua bahu Davvien, lalu dengan lembut dia memijatnya.
"Sayang, nanti kamu pegel lo" Ucap Davvien yang menikmati pijatan sang istri.
"Tidak apa apa, aku tau kamu pasti lelah... jangan terlalu di paksa, masih ada hari esok" Vera pun sudah tidak tega melihat sang suami yang bekerja hari dan malam.
Ini semua karna nya, sebab Vera yang menyuruh Davvien memberikan cuti untuk Fero.
"Tanggung sayang, ini masih banyak"
Vera tau jika Davvien bukanlah orang yang mudah mendengarkan kan perkataan orang lain.
Vera pun punya ide untuk membuat Davvien berhenti, dia maju kedepan, Vera langsung duduk di pangkuan Davvien di atas kursi.
Dengan senang hati Davvien menerima nya, dia mengelus lembut punggung sang istri dengan sebelah tangan masih di laptopnya.
__ADS_1
Vera sudah mulai menggoda iman Davvien yang hanya setipis kulit bawang jika bersama Vera.
Dia mulai mencium leher Davvien, Vera bahkan merebahkan wajahnya di leher Davvien sambil menggigit nya kecil.
Davvien mengerang saat merasakan gigitan dari Vera.
Kalian tau kan selama hamil Vera sangat lah agresif.
"Sayang, jangan menggoda ku" Ucap Davvien yang sedang menahan suara dan gairah nya.
Vera tidak perduli, dia bahkan dengan nakal memainkan jari lentiknya di dada kekar Davvien, Vera bahkan mencium telinga Davvien dan menggigit kecil daun telinga suaminya.
"Sssttttt... Sayang" Keluh Davvien, karna begitu sulit mengontrol pikiran nya.
Davvien mengalihkan tangannya nya pada perut Vera, dia pun mengusapnya.
"Sayang, katakan kenapa mama selalu saja nakal saat papa sedang bekerja" Tanya Davvien pada baby twins yang ada dalam perut Vera.
"Kami kangen Papa" Jawab Vera yang membuat suaranya seperti akan kecil.
Davvien mengembangkan senyumnya, istrinya memang selalu bisa membuat dirinya senang.
Namun akal jahil timbul di pikiran Davvien, dia berpura-pura tidak ingin, dan bersikap cuek.
"Kalian kangen sama Papa, tapi papa lagi banyak pekerjaan"
Vera yang bersandar di dada Davvien langsung bangun dan menatap Davvien, dia sedikit terkejut dengan penolakan halus Davvien, biasanya Vera hanya cukup mencium suaminya langsung membalas dengan begitu agresif.
"Apa kamu tidak kangen dengan mereka sayang?" Tanya Vera lagi kembali membawa tangan Davvien pada perutnya.
"Sayang, Papa lagi kerja kalian mengerti ya"
Namun Vera tidak kehilangan akal, dia kembali memainkan jemarinya di roti sobek milik suaminya.
"Sayang, jangan seperti ini... aku lagi kerja"
"Apa kamu juga tidak kangen sama aku?" Tanya Vera sambil menggigit telinga Davvien.
"Kan malam kemarin kita melakukan nya" Davvien menarik kepala Vera, dia bisa melihat wajah Vera langsung cemberut.
Tapi itu membuat nya begitu gemes saat bibir di hadapan nya di majukan persis seperti bebek.
Vera yang mendengar penolakan Davvien langsung turun dari pangkuan Davvien.
Namun, baru sempat berdiri Davvien kembali menarik Vera dalam pangkuan nya.
"Mau kemana?"
"Mau ti.."
Ucapan Vera langsung terpotong karna Davvien langsung menyambar bibir Vera, dia puas karna bisa mengerjai sang istri.
"Katanya kamu lagi banyak pekerjaan, tidak ingin di ganggu" Ujar Vera yang masih merasa kesal.
"Mana mungkin aku tidak mau kau ganggu sayang, aku juga sangat kangen sama kamu dan anak-anak papa juga"
"Kenapa kangen, kan malam kemaren sudah"
balas Vera dengan nada mengejek.
"Uuu istri ku ngambek ini... dengar aku sangat kangen sama kalian, aku menginginkan mu dan aku ingin menjenguk anak kita" Bisik Davvien di telinga Vera.
Sedangkan Vera yang mendengar nya, pipi nya langsung bersumbu merah dia pun menenggelamkan wajahnya di dada Davvien.
Davvien bangun, dia pun melangkah keluar dari ruangan dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar, Davvien meletakkan Vera dengan begitu lembut, dia pun kembali memagut bibir Vera dengan begitu buas.
Setelah membuat bibir Vera bengkak, Davvien turun menulusuri leher jenjang Vera, membuat beberapa stempel di sana.
Karna sudah tidak sabar, Davvien merobek pakaian Vera, diapun memberi ciuman lembut di perut sang istri.
"Halo anak-anak Papa, apa kalian siap, Papa akan menjenguk kalian!"
Tanpa menunggu lama, saat melihat mesin Vera sudah panas, Davvien langsung tancap gas.
Ntah berapa ronde Davvien menggempur Vera, dia pun merebahkan tubuhnya di samping sang istri dengan nafas tersengal-sengal.
Davvien menarik tubuh Vera ke dalam dekapan nya, lalu mencium kepala Vera, Davvien menyelimuti tubuh polos yang berada dalam pelukan nya itu.
Vera belum tidur, dia kembali memainkan dada Davvien, membuat putaran bulat di sana.
"Sayang, ada yang ingin aku katakan" Ucap Davvien.
"Apa, kamu mau bilang jika kamu mencintai aku, aku juga kok" Jawab Vera.
"Sayang dengar dulu ini serius"
Vera masih sibuk dengan dada Davvien dan melukis dengan jari lentiknya.
"Katakan lah"
"Tapi kamu tidak boleh berfikiran" Peringat Davvien dan Vera hanya mengangguk saja.
"Sebenarnya kecelakaan yang kamu alami bukan murni kecelakaan, melainkan ada yang sengaja mencelakai dirimu"
Vera langsung mendongak kepala nya menatap Davvien.
Davvien harus berkata jujur pada Vera, karna bukan dirinya yang berhak menghukum Elsa, melainkan Vera sang korban.
"Darimana kamu tau, apa orang nya sudah tertangkap?"
Davvien hanya mengangguk pada Vera, membuat Vera semakin penasaran.
"Siapa?" Tanya Vera, dia ingin tau orang yang menginginkan dirinya mati, Vera sudah menebak dalam hati tapi dirinya tidak ingin suzon.
"Besok aku akan mengajak mu bertemu dengan orang itu, sekarang tidur lah jangan pikirkan lagi"
Vera semakin penasaran di buat Davvien, namun dia tidak ingin membantah, Vera akan bersabar sampai hari esok.
Vera juga harus menyiapkan mentalnya menghadapi seorang yang telah mencelakai dirinya.
Akhirnya pasangan yang baru melakukan olah raga ranjang tertidur begitu pulas dengan keadaan polos yang berbalut satu selimut tebal.
.
.
.
.
.
.
~BERSAMBUNG
...Seperti biasa, sambil menunggu aku up lagi, mampir yuk di cerita kakak ku ini...
__ADS_1