
Keesokan paginya, Vera dan Davvien baru selesai menunaikan ibadah solat subuh, Vera benar-benar susah berjalan karna ulah dirinya sendiri.
Sedangkan Davvien merasa sangat bahagia, dia merasa bagaikan mengulang malam pengantin mereka. Sifat agresif Vera masih terbayang-bayang dalam ingatan nya, bagaimana lincah nya Vera saat memimpin permainan.
Selesai solat, Vera melangkah keluar ingin memasak, sedangkan Davvien pergi ke kamar si kembar untuk melihat anak-anak nya.
"Selamat pagi anak-anak Papa!" gumam Davvien saat membuka pintu kamar si kembar.
Namun, kedua anaknya memang raja tidur, mereka bahkan tidak terganggu saat Davvien menowel-nowel hidung mereka.
Sudut bibir Davvien terangkat ke atas saat melihat keduanya menggeliat, lalu kembali tertidur.
Karna tidak ingin anak nya menangis sebab ulah nya, Davvien berencana ikut turun ke dapur.
Sampai si sana dia melihat Vera sedang memasak, meski kesusahan berjalan, karna harus berjalan secara ngangkang.
Greeebbb....
Davvien langsung memeluk tubuh Vera dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera.
"Kalo masih sangat kenapa maksain masak?" tanya Davvien begitu lembut di telinga Vera.
"Kalau bukan aku, siapa yang akan memasak untuk mu? bukan kah mas tidak mau makan jika bukan aku uang memasaknya!" sarkas Vera, tangan nya terus mengaduk makanan yang sedang dia masak.
"Tapi kan kamu lagi sakit!" timpal Davvien.
"Aku tidak apa-apa kok!" sargah Vera menyangkal ucapan sang suami.
Para maid di mansion Davvien, jika melihat Vera dan Davvien sedang bermesraan, tentu saja mereka tidakĀ akan mengganggu, termasuk saat ini. Para payan tidak ada yang berani datang ke dapur, karna mereka tau ada tuan yang sangat mereka hormati di sana.
"Sudah selesai, ayo sekarang mas mandi dulu, nanti terlambat kekantor!" ucap Vera mengajak Davvien untuk bersiap-siap.
Vera ingin melangkah, tapi Davvien dengan sigap menggendong sang istri ala bridal style "Setelah ini tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, termasuk menyiram bunga, melukis, dan keluar rumah!" ucap Davvien.
"Kenapa seperti itu?" tanya Vera penasaran
"Sembuhkan goa ku dulu, baru setelah itu kamu bebas!" lanjut Davvien.
Vera tersenyum "Iya tuan suami ku yang tersayang, tercerwet!" ucap Vera mengiyakan.
__ADS_1
"Tuan suami, heh!" ulang Davvien mengulang panggilan Vera kepada nya.
"Kenapa, Tuan suamiku?" tanya Vera yang masih anteng dalam gendongan sang suami.
"Jika kamu memanggil ku dengan sebutan tuan suami, pikiran ku langsung teringat saat dulu pertama kali kamu menguapi aku, itupun dengan cara kasar!" ujar Davvien sambil tersenyum geli mengingat betapa konyol nya mereka dulu, setiap hari hanya bertengkar. Dia masih terus menaiki tangga satu persatu dengan istri berada dalam gendongan nya.
"Habisnya dulu mas tu nyebelin, udah nyuruh aku ngambil makanan dengan cepat, pas sudah aku ambil malah bilang nya nggak mau lagi. Siapa coba yang tidak kesal!" gerutu Vera, dia benar-benar kesal jika mengingat kejadian waktu itu.
"Heheh ... sudah lah jangan di bahas lagi!" elak Davvien, karna dulu dia memang orang yang licik dan angkuh, bahkan dia sengaja mengerjai Vera.
"Tunggu sebentar, sayang!" pinta Vera, dan Davvien menghentikan langkahnya.
"Turunkan aku dulu!" lanjut Vera.
"Kenapa memangnya?" tanya Davvien.
"Mungkin si kembar sudah bangun, aku mau meminta tolong bi Aini dan juga bi Ainun untuk memandikan mereka pagi ini. Karna aku harus mengurus bayi besar ku terlebih dulu!" ucap Vera dengan nada mengejek.
"Hehe ... Nanti dalam kamar saja memanggil mereka!" tukas Davvien tidak menuruti permintaan Vera.
"Ih ... kan kasian mereka harus naik ke atas lagi!" protes Vera.
Vera hanya berdecak "Cih, dasar posesif!" ledek Vera, dan Davvien hanya cuek bebek.
Sampai di dalam kamar, Davvien langsung memencet tombol pada dinding kamarnya, untuk memanggil para maid di rumah nya.
Tidak berapa lama, beberapa pelayan pun datang.
"Bi Aini dan Bi Ainun, tolong mandiin si kembar sebentar bisa nggak, soalnya mereka sudah bangun!" ucap Vera dengan begitu sopan.
"Ya bisa lah, Nak Vera!" sahut bi Aini.
"Iya, Nak! ya sudah, kami pamit dulu!" timpal bi Ainun.
Mereka pun keluar dari dalam kamar Davvien dan melangkah masuk dalam kamar si kembar.
Vera sudah menyiapkan air untuk Davvien mandi, setelah itupun dia langsung menyiapkan pakaian untuk ayah dari Syakir dan Syakira itu.
"Sudah selesai?" tanya Vera saat melihat Davvien keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya.
__ADS_1
"Sudah, sayang!" jawab Davvien, dia melangkah dengan memegang handuk kecil di tangan nya sambil mengibas-ngibas rambutnya.
Vera langsung ambil alih, dengan begitu telaten dia mengeringkan rambut Davvien, setelah itupun menyerahkan pakaian pada suami manjanya itu.
"Sayang, aku baru melihat kemeja dan juga jas ini!" ucap Davvien yang memang lain dari model jas yang biasanya dia pakai.
"Apa kamu suka?" tanya Vera, tangan nya langsung mengancing kemeja suaminya itu.
"Sangat suka, apa ini hasil jemari ajaib istriku?" tanya Davvien lagi, dia menggenggam tangan Vera lalu mencium nya.
"Aku hanya menggambar modelnya saja, setelah itu aku kasih sama tante Lena untuk di jahit, karna waktu ku habis bersama si kembar! ini adalah hadiah kecil di hari ulang tahun mu" jawab Vera, yang kini sedang memakaikan dasi pada leher Davvien.
"Ini sangat bagus, sayang! terimakasih banyak. Hadiah semalam saja sudah sangat membuatku senang!" ungkap Davvien, jujur dia memang sangat kagum dengan sosok istri nya. Dia wanita yang bisa mengurus segala nya.
Selesai memakaikan jas dan menyisir rambut sang suami, Vera lalu membawakan lima kotak jam tangan baru yang harganya rata-rata miliaran semuanya.
"Pilihlah yang mana kamu suka, mas! aku membelikan nya untuk mu, aku tau kamu sudah memiliki segalanya, tapi aku juga ingin kamu memakai barang yang aku beli!" tukas Vera lagi-lagi membuat Davvien meleleh.
"Sayang, ini terlihat bagus semuanya! pakaikan yang mana saja yang, apapun pilihan mu aku pasti akan menyukainya!"
Vera pun mengambil satu dan memakai kan pada tangan sang suami.
"Pilihan yang tepat!" ujar Davvien, diapun langsung mencium kening Vera, tak lupa juga bibir ranum milik sang istri.
"Katakan, kapan kamu membeli ini semua? apa kamu sering keluar tanpa izin ku?" tanya Davvien mengintimidasi.
"Aku meminta Mommy mengantar kan desain yang aku lukis pada Tante Lena untuk membuat baju untuk mu, kalau jam tangan ini, aku sengaja meminta tolong pada pemilik toko untuk membawa beberapa pilihan ke rumah!" sergah Vera, menyangkal ucapan dan pemikiran Davvien.
"Satu kata untuk mu, sayang! Kamu yang terbaik!" puji Davvien kembali ******* bibir Vera.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~Bersambung