Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Permintaan Maaf Aldi


__ADS_3

Sudah beberapa menit Tania menunggu kedua sahabatnya, tapi belum ada tanda-tanda mereka kembali.


Wanita berkulit putih bersih itu celingak-celinguk mencari keberadaan Vera dan juga Intan.


Karna bosan menunggu, diapun mengambil ponselnya ingin menghubungi Vera atau Intan.


Tapi baru ingin membuka ponsel nya, tiba-tiba suara yang sangat di kenalinya tepat berada di belakang punggungnya.


"Nia...!"


Deggggg...


Nafas nya tercekat, kala mendengar suara seseorang di balik punggung nya, tangan nya bergetar, rasanya tidak sanggup membalikkan tubuhnya lagi, karna dia kenal betul dengan suara yang memanggil namanya, siapa lagi kalau bukan orang yang masih di cintai nya, Aldi.


"Tania...!" panggil lelaki itu lagi melirih, membuat Tania akhirnya membalikkan badannya.


Degggggg.....


Rasanya jantung Tania berhenti berdetak kala melihat sang kekasih berdiri dengan seorang wanita di samping nya, yang tak lain adalah Mona, wanita yang sudah membuat dirinya malu di depan khalayak umum.


Berbagai pikiran hadir dalam benak wanita cantik ini "Ada apa ini, kenapa dia datang bersama perempuan ini, apa dia ingin mengatakan bahwa dia memang mempunyai hubungan dengan wanita ini, atau sengaja memamerkan nya padaku!" batin Tania menjerit, sungguh dia tidak akan sanggup jika itu benar terjadi.


"Kemana Vera dan Intan, kenapa mereka hilang bersamaan, apa ini rencana mereka!" lanjutnya membatin.


Saat kalut dengan pikirannya pun sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel miliknya.


Tania sama sekali tidak menghiraukan Aldi dan Mona yang berdiri di hadapannya, dia segera membuka pesan yang ternyata dari, Vera. langsung saja Tania membaca isi pesan singkat tersebut.


VerašŸ’Œ: "Nia, maaf ya ... ini memang rencana kami, sekarang dengar kan penjelasan Kak Aldi, ku harap kalian bisa menyelesaikan permasalahan kalian"


Tania tersenyum sinis membaca pesan dari, Vera. Dalam hatinya berkata "Ya, Ra. Kami memang akan menyelesaikan masalah kami, karna sebentar lagi dia akan memutuskan hubungan dengan ku dan memilih wanita ini menjadi pendamping hidupnya.

__ADS_1


Lagi-lagi lamunan Tania buyar saat Aldi kembali memanggil namanya nya, karna sedari tadi sama sekali tidak di tanggapi oleh dirinya.


"Kenapa kamu kesini?" tukas nya bertanya, wanita 21 tahun ini bangkit, dan menatap tajam dua orang di hadapannya.


Dia sudah pasrah, apapun yang akan menjadi keputusan lelaki yang masih berstatus pacar nya itu akan dia terima dengan lapang dada.


Bruuukkkkkk....


Di luar dugaan, tubuh berisi Mona di dorong oleh Aldi dengan begitu kasar, hingga bersimpuh tepat di depan kaki Tania, membuat Tania yang tadi nya sedang marah menjadi terkejut, refleks Tania memundurkan kakinya ke belakang beberapa langkah.


"Sekarang, katakan yang sebenarnya!"Ā  Pekik Aldi pada Mona, suaranya begitu lantang, hingga membuat orang dalam restoran tersebut menatap ke arah mereka.


"Hiks ... hiks ...,! maafkan aku!" hanya itu yang di ucapkan Mona, hingga membuat Tania mengerutkan dahinya.


"Katakan dengan benar! jelaskan padanya, apa hubungan kita yang sebenarnya!" Hardik Aldi lagi, dia berjongkok tepat di hadapan Mona yang sudah mengangis karna menahan malu.


"Maaf kan saya, masalah beberapa hari lalu, itu tidak benar. Saya mengarang cerita ke kamu supaya kamu putus dengan, Aldi. Hiks ... hiks...!" ungkap Mona dengan tangisan yang semakin pecah.


"Tidak, dia memang bukan pacar saya, kami hanya pernah dekat sebelum dia mengenal mu. Tapi setelah itu, dia tidak pernah menghubungi atau menemui saya, karna itulah saya merasa marah dan kesal, karna saya mencintai nya!"lanjut Mona lagi menjelaskan.


"Aku sama sekali tidak mencintai mu Mona, bagiku kita hanya berteman, tidak lebih!" jawab telak Aldi membuat Mona langsung bungkam.


Tania terdiam mendengar ungkapan Mona, dia melihat sekeliling sudah menatap tak bersahabat ke arah Mona. Tania merasa iba, meski Mona sudah mempermalukan dirinya dengan mengatakan dirinya pelakor, tapi bukan berarti dia akan senang saat melihat wanita yang masih bersimpuh di hadapan nya itu di tatap penuh kebencian oleh orang banyak.


"Bangun lah!" ucap Tania, dia memegang kedua lengan Mona, lalu matanya menatap dalam pada dua manik bola mata Mona yang sudah sembab, mencari kebohongan di sana, karena dia belum cukup yakin dengan apa yang di katakan nya barusan.


Tapi, dia tidak dapat melihat kebohongan di sana, membuat hatinya sedikit tenang dan percaya kepada sang kekasih.


"Sekarang pergi lah!" ujar Tania dengan lembut.


"Saya juga minta maaf, saya tidak tau dia lelaki yang kamu sukai!" lanjut nya lagi.

__ADS_1


"Tidak, dia sangat mencintai mu, jangan tinggalkan dia hanya karna masalah yang aku ciptakan!" ucap Mona cepat menyangkal apa yang di katakan Tania.


Sedangkan Tania hanya tersenyum simpul, Mona pun segera pergi, berlama-lama di sana hanya akan lebih membuat dirinya tambah malu.


Setelah kepergian Mona, Aldi berjongkok tepat di hadapan Tania, dia meraih tangan sang kekasih, dan mencium nya.


"Sayang ... maaf kan aku, karna telah melukai hatimu. Iya memang dulu aku seorang lelaki yang tidak tau artinya setia, karna apa!" ujar lirih Aldi, dia menghentikan ucapannya.


"Itu karna aku tidak tau seperti apa itu cinta, dulu aku tidak pernah jatuh cinta, hanya ada rasa suka. Tapi, sejak aku mengenalmu, semuanya berubah.Ā Kemanapun aku pergi hanya dirimu yang selalu ku lihat, jika kamu tertawa maka aku juga bahagia, tapi jika kamu sedih, aku pun ikut sakit, dan aku baru tau, kalau ternyata itu adalah cinta. Maka dari itu, aku berusaha mendapatkan dirimu, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku tidak akan menyakiti dirimu, apalagi meninggalkan mu!" lanjut Aldi begitu panjang lebar.


Tania yang mendengar nya pun tak terasa air matanya tumpah dari pelupuk mata indah nya.


"Ku mohon, jangan pernah tinggalkan aku, Sayang! atau aku akan hancur!" imbuh Aldi lagi.


Tania mengangguk, kemudian diapun membantu kekasih nya untuk kembali berdiri. Aldi yang sudah sangat rindu kepada Tania, langsung menarik pinggang kecil Tania ke dalam pelukan nya.


Suara tepukan tangan dari para pengunjung restoran itu mengingat kan ke duanya, jika saat ini mereka berada di hadapan orang banyak, bukan lah di dunia mereka sendiri. Tania langsung melepaskan pelukan nya, wajah nya sudah memerah bak kepiting rebus.


"Sayang, kenapa kamu melepaskan pelukannya?" tanya Aldi berbisik di telinga Tania.


"Aku mau pulang!" jawab Tania kembali cuek, dia menyambar tas di atas meja, lalu melangkah keluar.


"Lah! marah lagi kah, bukan kah tadi sudah kembali jinak!" gumam Aldi bingung, kemudian diapun segera mengikuti sang kekasih.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2