Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Bayi lelaki Fero dan Intan.


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu ... Dalam sebuah ruangan rumah sakit, suara tangisan bayi begitu menggema, membuat orang yang sedang menanti kehadiran nya tersenyum bahagia.


"Oek ... Oek ... Oek ...!" bayi itu menangis begitu histeris, ayah dari bayi itu langsung mendarat kan ciuman pada dahi penuh peluh sang istri.


"Terimakasih, sayang! kamu telah memberikan kebahagiaan yang berlipat ganda untuk ku, terimakasih juga sudah berjuang melahirkan anak kita!" bisik lelaki dengan air mata yang tumpah dari matanya.


"you are the best, thank you very much. I really love you!" lanjut lelaki itu lagu.


Sedangkan si wanita hanya tersenyum, rasa sakit yang tadi teramat sangat menyiksa seketika hilang begitu saja saat melihat putra nya lahir dengan selamat.


"Selamat datang anak Bunda, semoga kamu jadi anak yang baik, Nak!" batin wanita sudah berstatus ibu itu, air mata bahagia seketika keluar tanpa permisi.


"Tuan Fero, silahkan di azan dulu bayi nya!" ucap dokter Hana memberikan anak lelaki dengan berat badan hampir tiga kilo itu.


Ya, bayi itu adalah anak dari Fero dan juga Intan. Dengan tangan bergetar Fero mengambil bayi mungil yang memejamkan mata itu.


Diapun mengadzani anak nya dengan berdiri di samping sang istri, air mata Intan kembali tumpah saat mendengar suara sang suami saat melantunkan kalimat dalam azan.


"Selamat datang anak Ayah dan Bunda!" Ujar Fero setelah mengadzani anak lelaki nya lalu memberikan nya kepada sang istri untuk di susui.


Fero dan Intan dapat melihat betapa lincah nya baby boy mencari asupan nya itu.


Selesai menyusui, Fero keluar membawa anak yang baru lahir bersamaan dengan Intan juga di pindahkan ke dalam ruangan rawat inap.


"Wah ... cucu nenek, tampan sekali!" ucap Mama nya Intan seraya menggendong cucu pertama nya itu.


"Iya, Ma! akhirnya kita memiliki cucu!" celetuk papa nya Intan yang tampak begitu bahagia.


"Selamat datang ke dunia ini, sayang!" ujar Ny.Andin pun sudah sangat ingin menggendong cucu ke tiga nya itu. Tapi, dia membiarkan nenek nya terlebih dahulu menggendong bayi lelaki Fero dan Intan.


"Bayi nya mirip, Kakak!" timpal Vera yang juga ikut serta ke rumah sakit.


Si kembar Syakir dan Syakira tampak begitu riang, tangan keduanya terus saja bergerak ke depan menyentuh apapun yang dapat dia raih.

__ADS_1


"Bababa aih ...!" celoteh Syakir yang berada dalam gendongan sang mama.


Syakira hanya sesekali tertawa dalam gendongan sang Papa, sama seperti sang Papa yang selalu kaku dan juga dingin jika di luar rumah.


"Bicara apa, Nak? Syakir senang ya, karna nanti ada teman nya!" tanya Vera pada anak sulungnya itu.


"Bababa ... khek khek khek!" sahut Syakir sambil sesekali tertawaan khas bayi, yang mengundang tawa mereka  semua yang berada di sana.


Kaki merekapun melangkah masuk ke dalam ruangan Intan, semuanya mendekati brangkar tempat Intan di baringakan.


"Selamat ya, Nak! kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang!" ujar Mama Intan sambil memeluk anak tunggal nya itu.


Bayi Intan sudah di berikan kepada papa Intan yang sedari juga tidak sabar untuk menggendong nya.


"Terimakasih, Ma! dan maaf kan Intan, jika Intan punya salah sama Mama-mama. Intan sudah merasakan perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anak nya sangat luar biasa!" jawab Intan dengan deraian air mata dia meminta maaf kepada wanita yang telah melahirkan dirinya.


"Kamu adalah kebanggaan kami, Nak! tidak pernah membantah dan melukai hati Mama dan Papa!" sarkas wanita paruh baya yang juga ikut menangis.


"Fero, apa kamu sudah mempunya nama untuk anak mu?" tanya Tn.Andre kepada putra nya itu.


"Sudah, Dad!" jawab Fero begitu yakin.


"Kamu mau kasih apa, Nak?" tanya Ny.Andin.


"Aidan Gael!" ucap Fero sambil melihat pada bayi mungil nya.


"Aidan Gael Wilmar!" timpal Tn.Andre dengan cepat.


"Kenapa kamu tidak memakai nama keluarga kita di belakang namanya?" tanya Tn.Andre dengan nada protes.


"Bukan kah dia juga bagian keluarga kita!" lanjut Tn.Andre lagi.


"Hehe maaf Dad, lupa!" elak Fero, sebenarnya dia merasa tidak enak jika dia sendiri yang harus memakai keluarga Wilmar di belakang nama anak nya, tapi jika Tuan besar sudah angkat bicara, dia sudah tidak bisa berkata apapun lagi.

__ADS_1


"Nama yang bagus!" puji Intan atas nama yang di berikan sang suami untuk anak pertama mereka.


Setelah semuanya sudah bergilir menggendong bayi Aidan, para keluarga pun pamit untuk pulang, hanya menyisakan Intan, Fero dan malaikat kecil mereka yang baru hadir di tengah-tengah ke-dua.


"Sayang! terimakasih atas kebahagiaan yang telah kau berikan untuk ku! aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini, saat bekerja aku sering memenangkan tender, tapi tidak pernah merasa bangga seperti sekarang yang aku alami! Kamu tau sayang. Menjadi seorang ayah adalah kebanggaan tersendiri bagi ku, dan aku sangat bahagia!" ungkap Fero sambil mencium tangan sang istri.


"Aku juga berterimakasih pada mu, kamu telah menjadi suami yang sangat baik, tidak pernah membiarkan aku bersedih, hari-hari ku lewati dengan kebahagiaan yang berlimpah!" timpal Intan, juga mengutarakan isi hati mereka masing-masing.


"Dan aku janji, sampai kapanpun aku akan selalu membuat mu bahagia, kau tidak akan pernah mengeluarkan air mata mu, melainkan karna kebahagiaan!" sarkas Fero lagi menjawab ucapan sang istri.


"Sekarang kamu tidur ya, biar aku yang jaga baby Aidan!" lanjut Fero.


Tangan nya pun terangkat untuk mengelus puncak kepala sang istri, hingga Intan tertidur.


Fero melihat pada wajah sang istri yang tetap cantik meski terlihat pucat, matanya pun teralih pada bayi di samping nya.


"Terimakasih, Tuhan! engkau sudah menghadirkan mereka dalam hidup ku, kalian lah harta yang paling berharga!" batin Fero.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Hai ... Hai ... Hai ... Mafia karatan udah di penghujung ya, mungkin sebentar lagi cerita ini akan END.


Jadi jika kalian berkenan mari dukung karya ini hany untuk beberapa episode lagi😁🙏.

__ADS_1


__ADS_2