
"Sayang, kau berbicara apa aku tidak akan meninggalkan mu, aku sangat mencintaimu jadi jangan khawatirkan itu"
"Kamu yakin?"
Vera mencoba mengangguk.
"Iya sayang, katakanlah ada apa?"
"Tapi kamu harus janji"
"Iya aku janji"
"Apapun"
"Iya sayang apapun"
"Apa kau akan tetap menerima ku setelah tau jika diriku ini adalah seorang mafia"
Degggggg
Vera mematung mendengar perkataan suaminya, bibirnya kelu antara bingung mau berkata apa.
"Sayang... jangan diam, aku mohon kamu jangan marah, jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku"
"Apa ini alasan Daddy menikahkan aku dengan mu"
Vera menatap ke depan, enggan melihat pada suaminya yang sedang berjongkok di hadapan nya, akhirnya dia tau alasan sang Daddy menikahkan Vera dengan Davvien, itu karna Davvien seorang Mafia, pantas dulu Davvien mengatai dian hanya titipan.
Sedangkan Davvien masih dengan keadaan nya, ada rasa takut dalam dirinya, dia takut jika Vera akan benar-benar meninggalkan nya.
"Dengar sayang, kamu sudah berjanji untuk tidak meninggalkan ku, aku tidak bisa bila kau jauh dari ku"
Vera masih kalut dengan pikiran nya sendiri, bagaimana bisa baru rasanya dia mengatakan jika dirinya tidak ingin suaminya seorang pembunuh, tapi sekarang dia malah mengetahui bahwa suami yang sekarang di cintai nya seorang yang bekerja di dunia gelap.
"Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku"
Cup
Cup
Davvien mencium punggung tangan Vera berulang kali, sungguh dia tidak akan rela bila Vera pergi dari hidup nya, ntah seperti apa Davvien jika itu sampai terjadi mungkin dia akan kembali menjadi lelaki dingin bahkan menjadi orang yang lebih kejam dari sebelumnya.
"Sejak kapan kamu menjadi Mafia?"
Akhirnya Vera mengeluarkan suaranya, Davvien menatap Vera.
"Sejak aku pulang dari luar negri"
"Semenjak hubungan mu dengan Elsa putus?"
Pertanyaan Vera kembali membuat Davvien takut, dia tidak ingin hanya karna masa lalu nya menghancurkan masa kini dan masa depan nya.
"Maafkan aku sayang, waktu itu aku benar-benar hancur, aku tidak tau harus bagaimana, hanya itu yang membuat aku lupa akan rasa sakit yang aku rasakan"
Vera meradang mendengar pengakuan suaminya, sebegitu cinta nya Davvien pada Elsa hingga dia menjadi lelaki kejam tak berperasaan.
"Sebegitu cinta nya dirimu pada nya?"
Vera masih tetap melihat ke depan.
"Sayang, waktu itu kamu belum hadir dalam hidup ku, sekarang aku hanya mencintai mu, bukan dia"
"Lalu mana buktinya jika kau mencintaiku?"
Davvien menatap manik mata Vera, dia melihat kemarahan dari mata indah sang istri.
"Katakan, apa yang kamu inginkan"
"Dulu kamu jadi mafia karna melupakan nya, bukan kah sekarang kamu sudah melupakan nya, dan mencintai ku kenapa kamu belum berhenti dari pekerjaan gelap mu itu"
Jedarrrrrrr
Lagi lagi hati Davvien tertampar, bagaimana dia bisa meninggalkan dunia gelap nya itu, dengan susah payah dia berjuang hingga membentuk sebuah kelompok mafia terbesar dan di takuti seluruh negeri.
"Sayang, aku memang sudah melupakan nya, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku"
"Berarti jangan salah kan aku jika aku yang akan pergi"
Duarrr
"Sayang, jangan pernah tinggalkan aku"
__ADS_1
"Pilihan hanya dua, kau tinggalkan pekerjaan mu atau aku yang akan pergi menjauhi mu"
"Sayang, baik lah aku akan berhenti dari pekerjaan ku, tapi aku meminta waktu padamu untuk mengurus semua nya"
"Sekarang bangun lah"
Davvien bangkit langsung mencium puncak kepala Vera, setidaknya dia merasa lega karna Vera masih mau menerima nya meski dia harus melepaskan pekerjaannya.
Makan malam yang di persiapkan dengan begitu indah kini hanya makan secara diam dengar pikiran yang kalang kabut.
...----------------...
Beberapa hari telah berlalu, hubungan yang sempat renggang telah membaik, kini tidak ada rasa takut atau khawatir di antara Vera dan Davvien, karna mereka telah terbuka satu sama lain, Davvien merasa lega setelah mengakui segala nya, tidak ada yang di rahasiakan lagi.
Kelompok mafia nya tidak di bubarkan, akan tetapi kini di alihkan ke pada Irfan, sebelum nya di tawarkan pada Fero, tapi Fero menolak dengan beralasan pekerjaan yang banyak.
Subuh ini terasa sangat berbeda bagi pasangan suami istri tersebut, dimana pagi ini Davvien lah yang membangunkan Vera.
"Sayang, ayo bangun"
Ucap Davvien lembut dengan menowoel-nowel hidung Vera.
"Ayo bangun, nanti waktu subuh nya habis loh"
Tangan Davvien turun pada perut Vera, keadaan mereka sama sama polos, seperti biasanya setiap malam mereka melakukan ritual suami istri.
Vera masih di alam mimpi, namun dia dapat merasakan sentuhan Davvien dan juga suara Davvien memanggil dirinya.
"Sayang, apa kau tidak ingin menjadi makmum ku dalam solat"
Vera langsung membuka matanya.
"Kenapa mimpiku begitu nyata, bahkan dia menatap ku saat ini"
Vera masih mengira jika yang barusan dia dengar hanya mimpi nya saja.
"Kenapa kau malah menatap ku?"
Davvien ikutan bingung karna Vera menatapnya tanpa berkedip.
"Bahkan dia bicara pada ku, dia hadir dalam mimpiku, dia benar-benar mengawasi ku bahkan sampai dalam mimpi"
"Apa kau mengira kau sedang bermimpi heum"
Vera tersadar, dia pun langsung memegang pipi Davvien lalu mencubit nya.
"Aw... sakit yang"
"Jadi aku tidak bermimpi?"
"Menurut mu"
"Tadi kamu mengatakan apa?"
Tanya Vera yang memastikan kembali.
"Apa kau ingin menjadi makmum ku?"
Tanya Davvien dengan ragu, dia merasa belum pantas, tapi akan sampai kapan, bukan kah mendekati diri kepada Allah justru akan mengurangi dosa nya.
"Maksud mu kita solat subuh berjamaah?"
Tanya Vera yang sedikit tidak percaya, dan Davvien mengangguk nya.
Karna senang Vera langsung naik di atas tubuh Davvien, memeluk nya dengan sangat erat, Davvien sampai tercekik di buat Vera, belum tuan J yang juga sudah ikutan bangun.
"Ya Allah... aku sangat bahagia mendengar nya"
Cup
Cup
Cup
Setelah mencium seluruh wajah Davvien, Vera langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Kini keduanya sedang melakukan solat subuh setelah ke dua nya selesai mandi wajib.
Meski subuh pertama bagi Davvien, tapi dia mampu menjadi imam untuk Vera, selama beberapa hari ini Davvien mempelajari ilmu agama, dia juga belajar beberapa surah, karna tekad yang kuat, kini dia sudah berhasil menjadi seorang imam yang sempurna untuk makmum nya.
Hati Davvein menghangat saat Vera mencium telapak tangan Davvien setelah mereka solat, dia pun mencium kepala Vera, Davvien merasa begitu tentram, damai, rasanya sudah di ada beban sedikit pun di hatinya.
__ADS_1
"Sayang, terima kasih, kau telah mengubah hidup ku, dari yang dulu aku hanya seorang hina dan pendosa, dan sekarang aku kembali ke jalan yang lurus karna dirimu"
Ucap Davvien menyandarkan kepala Vera pada dada bidang nya.
"Aku juga sangat bersyukur karna Allah telah membukakan pintu hati mu, dan aku juga berterima kasih pada mu sudah menjadi imam yang sempurna dalam hidup ku"
Mereka sama sama tenggelam dalam perasaan haru dan bahagia.
...----------------...
Tepat pukul 08:00 pagi, di sebuah hotel terlihat seseorang yang sedang bersiap-siap.
Ya dia adalah Frans, dia sudah di beri tau kan oleh Fino bahwa mereka akan meeting bersama Tn.Diwan tentang pengajuan kerja sama yang mereka kirimkan tempo hari lalu.
Setelah menunggu beberapa hari, barulah sekarang mereka mendapatkan kesempatan.
Ada rasa gugup dalam diri Frans, karna tujuan nya hanya satu yaitu memastikan jika Tn.Diwan yang di temuin nya hari ini ayah nya atau memang orang lain.
Frans dan Fino sudah di jalan, setelah mereka sarapan keduanya langsung berangkat, Frans sudah sangat tidak sabar melihat Tn.Diwan ayah dari orang yang mirip dengan sang adik.
...----------------...
Sedangkan di kampus, Davvien dan Vera baru sampai tepat di gerbang kampus, dengan Fero yang mengendarai mobilnya.
"Sayang, apa hari ini kalian jadi menyerahkan skripsi kalian?"
"Heum, kami akan menyerahkan nya hari ini, doakan ya semoga di terima"
''Pasti sayang"
Davvien mencium kepala dan seluruh wajah Vera.
"Oh ya, nanti aku akan telat ke kantor mu, karna hari ini Tania, Rani dan Intan mengajak ku untuk nongkrong sebentar di cafe, itung-itung refreshing kepala setelah membuat skripsi"
Pinta Vera pada Davvien, namun ntah kenapa hari ini Davvien merasa tidak ingin jauh dengan Vera, perasaan nya sungguh tidak tenang, namun Davvien menepisnya karna dirinya memang berlebihan jika menyangkut sang istri.
"Heum baik lah, tapi jangan lama-lama, jaga dirimu dengan baik-baik, dan hari ini aku akan mengirim mu beberapa penjaga, dan kamu jangan menolak nya"
"Iya sayang, aku turun dulu ya"
Vera langsung turun dan berlalu dari pandangan Davvien.
Davvien menatap Fero yang terdiam dan termenung, Davvien memiringkan kepalanya merasa aneh dengan Fero, biasanya setelah Vera berlalu Fero langsung menancap gas, tapi sekarang dia hanya diam.
"Hey kutu kupret, apa yang kau pikirkan hah?"
Mendengar teriakan Davvien, barulah Fero sadar.
"I iya Vien, sekarang Kita berangkat.
Fero menyetir mobil nya dengan pikiran nya masih melayang pada gadis yang salah satu namanya di sebut kan Vera barusan.
Yap saat mendengar nama Intan, Fero langsung teringat pada gadis yang sudah hampir dua Minggu tidak bertemu. Rasa rindu kembali menerpa dirinya.
...----------------...
Di lain tempat....
Frans beserta Fino sudah sampai di kantor Tn.Diwan, Fino langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Frans.
Mereka pun berjalan masuk, setelah menemui resepsionis, mereka kembali melangkah, menuju pada ruangan meeting setelah di beritahu oleh resepsionis yang mereka temui.
Kini Frans dan juga Fino sudah duduk di dalam ruangan meeting, tak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Frans kembali gugup, hati nya bergemuruh hebat.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka, muncul lah dua orang dari balik pintu, saat melihat orang yang pertama masuk Frans sudah beranggapan jika yang dia pikir memang salah, tapi saat seseorang muncul dari balik orang yang membuka pintu Frans menatap nya, begitupun orang tersebut, dia juga melihat pada Frans, tatapan mereka bertemu.
Deggggg
Deggggg
Deggggg
~Bersambung
Halo para Reader, pada deg degan nggak nih, tunggu kelanjutannya para Reader, aku tetap mengharap dukungan dari kalian.
Komentar, Vote, like dan bunga atau kopi juga boleh 🤭🤭🤭
__ADS_1