Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Lagi lagi pingsan.


__ADS_3

Davvien begitu panik, dia membopong tubuh lemas istrinya tanpa menghiraukan tatapan aneh, marah, juga tatapan yang tidak merelakan karna sang raja bisnis yang tampan juga dingin sedang menggendong seorang wanita yang tidak sadarkan diri.


"Sayang, bertahan lah"


Setelah memasukkan Vera ke dalam mobil Davvien merogoh saku nya.


"Fero, cepat hubungi Hendri, beritahu dia kalau aku akan ke sana, persiap kan sebaik mungkin untuk menyambut istri ku"


Fero dapat menangkap suara panik dari Davvien.


"Baik"


Tanpa bertanya Fero langsung meng-iya kan perintah Davvien, dia tau pasti terjadi apa apa dengan Vera, Fero langsung menelpon Dokter Hendri.


Davvien melajukan mobilnya, tangan Davvien tanpa henti memegang tangan Vera sesekali memegang pipi istrinya, dia benar benar khawatir.


"Sayang, ayo bangun kenapa kamu jadi begini maaf kan aku karna membuat mu lelah"


Davvien mencium tangan Vera, dengan sebelah tangan nya memegang setir mobil.


Saat Davvien fokus melihat kedepan, tiba tiba tangan yang di dalam genggaman nya mulai bergerak.


Davvien langsung mengalih kan pandangan nya pada Vera.


"Sayang, kamu sudah sadar"


Davvien langsung. menepikan mobilnya, saat melihat sang istri sudah memegang kepala nya.


"Sayang, mau minum?"


Davvien menyerah kan minum yang telah di buka nya untuk istrinya, Vera pun mengambil air yang di berikan Davvien lalu meminum nya.


"Sayang gimana, apa yang kamu rasakan"


Davvien mengusap kepala Vera, lalu mencium nya, Vera hanya diam merasakan kepala nya yang masih berdenyut.


"Kita ke rumah sakit ya"


Tanya lembut pada istrinya, Vera menggeleng, tanda dia tidak mau.


"Aku sudah tidak apa apa"


"Tapi wajah mu terlihat sangat pucat sayang"


"Aku hanya butuh istirahat, kita pulang saja"


"Baik lah, tapi jangan begini lagi aku sangat khawatir"


Davvien langsung membawa Vera ka dalam pelukan nya, mencium istrinya tanpa henti, Vera memejamkan matanya, menikmati hangat nya pelukan sang suami.


"Sayang, kamu kenapa lagi please janga pingsan lagi"


Davvien langsung menepu-nepuk pelan pipi Vera, dia kembali panik takut kalau istrinya kembali pingsan.


"Aku cuman ingin tidur sayang"


Jawab Vera lemas melihat pada Davvein.


"Hufff syukur kalau tidak apa apa, tidur lah sayang ku"


Davvien langsung membawa pulang Vera, dia tidak memberi tahu kan pada Fero kalau dirinya tidak jadi membawa Vera ke rumah sakit.


Sedangkan di rumah sakit sudah sangat heboh, Fero langsung bergegas ke rumah sakit, memberi tahukan pada Dokter Hendri untuk mempersiapkan semuanya, Dokter Hendri, Fero dan beberapa suster sudah berjajar rapi di lobby rumah sakit, dengan brankar dan kursi roda sudah siap semuanya.


Mobil Davvien telah sampai di rumah, dia mengangkat Vera dengan begitu pelan, Davvien membawa masuk istri tercinta nya.

__ADS_1


"Bi,,,,"


Teriak Davvien memanggil pelayan rumah.


"I-iya tuan. Ya ampun kenapa dengan nak Vera?"


"Dia cuman sedikit pusing bi, buatkan dia bubur"


Tanpa menunggu Bi Aini menjawab, Davvien langsung membawa Vera menuju lift, guna untuk sampai ke kamarnya.


"Sayang, ada yang kamu inginkan?"


"Jangan tinggal kan aku"


Pinta Vera yang tidak melepaskan genggaman suaminya.


"Tidak akan sayang"


Cup


"Tidur lah"


Davvien mengelus kepala Vera dengan sabar, tatapan nya tidak pernah dia palingkan dari wajah pucat istrinya.


Tak berselang pun ponsel Davvien berbunyi, saat melihat nama penelpon Davvien menepuk keningnya, dia lupa kalau dia belum memberitahu Fero bahwa dirinya tidak jadi membawa istrinya ke rumah sakit.


"Iya ada apa?"


Tanya Davvien tanpa rasa bersalah dia berbicara dengan nada dingin setelah mengangkat telpon dari Fero.


"Apa, tadi dia terdengar begitu khawatir dan menyuruh kami bersiap siap dan sekarang dia berbicara seolah tidak mengatakan apapun"


Fero sudah menggerutu di dalam hati mendengar bos yang tadi sudah menyuruh nya tapi sekarang berlagak seolah tidak terjadi apa-apa.


"Oeh dia, tidak jadi karna istri ku ingin pulang ke rumah"


"Apa?"


Teriak Fero di seberang.


"Kau berani meninggikan nada bicara mu pada ku hah?"


Davvien lebih meninggikan suaranya, sampai Vera terbangun.


"Sayang!!"


Davvien langsung mematikan ponsel nya mendekati Vera.


"Iya sayang, cup cup tidur lagi ya"


Pintu kamar pun di ketuk, Davvien menyuruh orang di balik pintu masuk.


"Tuan, ini buburnya sudah siap"


Davvien pun mengambil bubur di tangan bi Aini.


"Sayang, makan dulu ya"


"Aku tidak mau sayang" Rengek Vera.


"Kamu harus makan sedikit saja ya"


Davvien menyuapi Vera, tapi hanya dua suap namun Vera sudah tidak berselera lagi.


Sedangkan di rumah sakit, Fero membubarkan semua orang yang berdiri rapi menunggu istri dari pemilik rumah sakit.

__ADS_1


"Apa, setelah dia menyuruh kita mempersiapkan semuanya dia malah bilang tidak jadi, haduhhh kenapa kita punya bos se sinting dia"


Umpat Dokter Hendri, sedangkan Fero langsung melangkah untuk pergi meninggalkan rumah sakit.


...----------------...


Malam pun tiba,,,


Setelah makan malam, Davvien dan Vera langsung masuk ke dalam kamar.


Sifat sensitif dan manja sudah sangat melekat pada diri Davvien.


"Sayang, duduk di sini"


Vera menuruti suaminya untuk duduk di sofa, langsung saja Davvien merebahkan kepalanya di atas pangkuan Vera.


"Sayang, apa kamu masih merasa pusing?"


Vera menggeleng, dia mengelus lembut kepala Davvien, menyisir rambut itu dengan jari jarinya.


"Kenapa berbalik sayang, harus nya kan kamu yang memanjakan ku"


"Tapi aku paling suka berada di posisi begini sayang, apa lagi ini"


Davvien mencium, menjilat bahkan menggigit perut Vera.


"Sayang, aku geli nanti aku takut tanpa sengaja menendang kamu lagi"


"Iya iya, jangan lagi sayang. Oh ya kamu kenapa bisa sekuat itu sayang, seharusnya tenaga itu bukan untuk mu yang terlihat begitu lembut sayang"


"Ntah lah, aku pun tidak paham"


Vera tidak memberi tahu pada Davvien kalau dia sebenarnya jago dalam bidang bela diri.


Tanpa ada kata lagi, Davvien langsung mengangkat tubuh Vera untuk tidur, malam ini tidak ada pergulatan karna Davvien tidak ingin Vera akan sakit lagi.


...----------------...


Malam berlalu, pagi menyapa, bulan menghilang matahari pun tiba.


Saat baru membuka mata Vera langsung merasakan kalau perutnya di aduk-aduk, kepala nya juga terasa pusing, yang dia ingin kan hanya mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.


Dia pun langsung berlari ke dalam kamar mandi.


"Uuuueeeekkk uuueekkk uueekkk"


Vera terus berusaha mengeluarkan sesuatu yang terus mengganggu perut nya, tapi yang keluar hanya air liur yang putih.


Davvien mengerjapkan matanya, sayup sayup mendengar kan suara istrinya yang sedang muntah.


Setelah sadar dia pun langsung bergegas bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa"


"Aku, aku..."


Brukkk


~Bersambung


Maaf para Reading, cerita nya agak berputar putar, dan juga rumit sedang down kepalanya 🥺.


Jika kalian suka like, komen, dan vote, hadiah nya, jika tidak suka pun saya pasrah.


Soalnya hari ini banyak kerjaan, ini dalam keadaan ngantuk ngusahain buat up, besok insya Allah besok aku up doble dan lebih seru lagi, jadi curhat aku ini🤭.

__ADS_1


__ADS_2