
...Ingin ku tinta kan secarik kertas......
...menuangkan emosi yang terabaikan. Seraya menyiratkan sebuah pesan yang tidak mampu di lisan kan....
...Tapi......
...Apalah daya, saat lidah juga tidak kuasa mematik pena, dan pada akhirnya... kertas dan tinta sama halnya tidak berguna....
...🌷 HAPPY READING 🌷...
...----------------...
Apa ada yang masih ingat Riko...?
Di sebuah perusahaan, tepar di dalam ruangan. Seorang yang begitu terlihat berantakan duduk dengan bersandar pada kursi kebesaran nya.
Pria itu sedang meratapi hidupnya yang sangat menyedih kan, dari semenjak di tinggal oleh orang yang begitu dia cintai, kerja sama dengan perusahaan di batalkan, hingga akhirnya dia merenggut kesucian seorang wanita yang selalu berada di sisinya.
Pria yang sedang di liputi rasa penyesalan dan juga rasa bersalah, dia adalah Riko... pria mantan kekasih Vera, saat ini benar-benar kehilangan arah.
Tangisan Lisa pada pagi itu selalu berputar di kepalanya, bahkan setelah itu dia tidak pernah melihat bayangan Elsa.
Yang membuat dirinya merasa bersalah karna belum sempat meminta maaf pada Lisa atas perbuatannya.
Selesai dengan merenungi segala nya, Riko bangun... tanpa merapikan jas nya dia berjalan keluar ruangan.
Sampai di parkiran, langsung saja dia masuk ke dalam mobil lalu melajukan nya. Saat fokus menyetir, tanpa sengaja matanya menangkap sosok seorang wanita yang di kenali nya.
Riko menepikan mobilnya, dia pun meneliti wanita dengan perut membuncit menggunakan dress berwarna biru muda sedang berdiri di pinggir jalan.
Riko yakin, setelah mengucek matanya, Riko yakin jika wanita itu adalah Lisa, sekertaris nya dulu.
Riko bergegas ingin keluar dari dalam mobil, tapi baru hendak membuka pintu, Lisa sudah masuk ke dalam taksi.
"Sial..." Riko memukul stir mobilnya, tanpa ragu dia pun langsung mengikuti taksi yang membawa Lisa.
"Aku harus mengejarnya, aku harus bisa mendapatkan maaf nya, supaya aku bisa tenang" Gumam Riko yang mengikuti kemanapun taksi itu mengarah, hingga pada persimpangan dan lampu merah pun menyala, sedangkan taksi ya membawa Lisa sudah lewat ke depan.
"Sssssttttt kenapa begitu lama sih menyala lampu hijaunya" Gerutu Riko, tak berselang lama lampu hijau menyala, Riko langsung tancap gas untuk mengikuti mobil yang di tumpangi Lisa.
Tapi malangnya Riko kehilangan jejak Lisa, taksi yang di tumpangi Lisa sudah pergi ntah kemana.
"Ahhhkkk kemana tadi mereka pergi... tapi tunggu, tadi aku melihat Lisa seperti sedang mengandung, apa dia sudah menikah" Riko terus bergumam, dia pun melajukan mobilnya kembali.
...----------------...
Di lain tempat....
Tepat nya di sebuah apartemen, dua manusia yang sedang berbunga bunga nampak sedang menghabiskan waktu bersama, Fero benar-benar menggunakan kesempatan yang di berikan Davvien untuk bersama sang kekasih.
Saat ini Intan sedang memasak, dia begitu fokus berjuta dengan alat-alat masaknya di dapur.
__ADS_1
Fero yang sedari tadi memperhatikan sang kekasih akhirnya ikut bangun, mendekati Intan lalu.
Grebb..
Fero memeluk sang kekasih dari belakang lalu meletakkan kepalanya di bahu Intan.
"Masak apa?" Tanya Fero.
"Makanan lah, memang nya apa?" Intan menjawab pun sedikit ketus.
"Iya maksudnya kamu masak makanan apa?" Lanjut Fero lagi.
"Ini aku membuat sandwich, apa Tuan menyukai nya?" Intan balik bertanya pada Fero.
Fero membalikkan tubuh Intan hingga menghadap ke arah dirinya.
"Apapun yang kamu masak, aku pasti akan suka dan memakannya" Jawab Fero dengan pasti.
"Meskipun aku memberikan tuan racun?"
"Ya jika itu membuat mu senang, maka aku akan memakan nya"
"Oh ya sudah, aku masukkan racun saja ke dalam makanan ini, setelah itu aku bebas melihat siapapun dan berbicara dengan siapapun" Intan sengaja memancing Fero, karna setelah mereka berhubungan, Fero berubah menjadi lelaki yang posesif.
Fero menerapkan beberapa hal yang harus di patuhi Intan, Intan tidak pergi bersama lelaki, tidak boleh berbicara pada lelaki bahkan Intan tidak boleh melihat pada laki-laki lain.
"Apa kau merasa keberatan dengan peraturan yang aku berikan heum?" Tanya Fero yang mulai mendekati wajah mereka.
"Bukan keberatan aku han" Ucapan Intan terhenti saat Fero terus mendekati wajah Intan.
Intan membuka matanya, karna dia mengira jika Fero akan mencium nya, dia jadi gelagapan sendiri.
"Aku tidak akan menyentuh mu lebih, aku menyayangimu dengan tulus, jadi aku akan menjaga mu sampai kita terikat dalam hubungan yang sah" bisik Fero di telinga Intan.
"Terima kasih karna tuan sudah menjaga dan memberi cinta yang tulus untuk ku"
Keduanya saat ini benar-benar sedang di mabuk cinta, namun meskipun begitu, mereka tidak melakukan lebih, Fero dan Intan sangat menjaga, Fero menyayangi Intan dengan sepenuh hati, dia tidak akan menyentuh Intan melebihi batas, sampai mereka menikah.
Intan begitu bahagia karna mendapatkan lelaki sebaik Fero, rasa sakit yang Fero berikan dulu serasa sudah lenyap tak tersisa.
"Boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Fero masih dengan keadaan berpelukan.
"Apa?"
"Jangan panggil aku Tuan, aku risih mendengar nya"
"Lalu aku harus memanggil mu apa?"
"Panggil aku sayang"
Blus...
__ADS_1
Pipi Intan langsung merah, mendengar ucapan Fero, namun belum sempat menjawab, tiba-tiba keduanya mencium bau yang tak sedap.
"Apa Tuan mencium sesuatu" tanya Intan sambil mendengus hidung nya.
"Iya, aku mencium seperti ada sesuatu yang terbakar" mata Fero pun melihat di balik punggung Intan, dia pun membelalakkan matanya melihat sandwich yang Intan buat sudah gosong.
"Se-sepertinya bukan terbakar, tapi lebih tepat go-gosong" ucap Fero terbata-bata.
Intan yang mengingat masakan nya langsung membulat kan mata, dia langsung membalikkan badannya melihat sandwich yang sudah hitam karna gosong.
Intan langsung mematikan kompor nya, dia pun mengambil spatula membalikkan sandwich tersebut, dan mereka pun saling menatap saat melihat masakan Intan sudah Hitam dan keras.
"Ini semua salah Tuan, coba Tuan duduk di sana nggak usah gangguin aku, makanan ini pasti tidak akan gosong" Intan langsung nyolot pada Fero.
"Ya maaf, kan kamu juga menikmati nya sampai lupa dengan makanan yang sedang kamu masak" Jawab Fero dengan senyuman di bibir nya.
"Ya itu karna Tuan yang mengganggu konsentrasi ku memasak, coba Tuan tidak kesini, kan nggak akan seperti ini" Lanjut Intan.
"Ya maaf, ya sudah aku duduk di sana deh" Fero membuat mimik wajahnya cemberut, persis seperti anak yang baru kena marah oleh sang ibu.
"Itu lebih bagus" Intan mengembangkan senyumnya saat melihat Fero melangkah pergi.
...----------------...
Sedangkan di mansion yang berada di dalam hutan, Vera dan Davvien sedang menikmati makan siang mereka.
Keduanya memang tampak begitu lengket, mulai dari memasak, hingga saat makan Davvien bahkan tidak membiarkan Vera duduk di atas kursi yang lain, dia mendudukkan Vera di atas pangkuan nya.
"Sayang aku sudah kenyang" Rengek Vera saat Davvien terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Sedikit lagi"
"Tapi aku sudah kenyang, kamu saja yang makan ya... aku yang suapi"
Vera mengambil sendok di tangan Davvien dan menyuapi sang suami.
"Sayang, kita pulang hari ini ya" Ucap Davvien dengan menyibakkan rambut Vera di belakang telinga sang istri.
"Heum, padahal aku ingin lebih lama di sini, tapi kan kamu harus kerja"
"Iya dan kamu harus kuliah" sambung Davvien dan di angguki oleh Vera.
Mereka tampak selalu akur, tidak ada pertengkaran dalam rumah tangga mereka, terkecuali pertengkaran kecil karna sifat posesif Davvien, namun Vera yang mengerti dengan sifat sang suami selalu mengalah dan menuruti semua perkataan Davvien.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.~Bersambung