Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Sadar diri


__ADS_3

Selesai mengurus para semut yang telah mengusik nya, kini Davvien dan Fero kembali ke rumah sakit, Davvien sudah tidak memikirkan masalah pekerjaan nya, yang dia pikirkan hanya satu yaitu istri dan anak nya.


Davvien turun dari mobil saat sudah sampai di rumah sakit, dia berjalan masuk langsung menuju ke ruangan sang istri.


Sedangkan Fero memilih melihat keadaan pak Toni dulu sebelum dia juga ikut ke ruangan Vera.


Davvien mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan yang terdiri beberapa orang.


Ada mama mertua, mommy dan ketiga sahabat Vera, Aldi dan Riki juga ada di sana, satu lagi yang tidak ingin Davvien lihat yaitu kakak iparnya.


"Darimana aja loe, bukan nya jagain istri yang lagi sakit"


Cibir Frans yang sedang duduk di sofa, yang juga di duduki Mommy Andin dan Mama Rina.


Sedangkan para sahabat duduk di sebelah kanan kiri Vera dengan Aldi dan Riki juga berdiri sana.


Davvien tampak cuek, enggan menyahuti perkataan Frans, dia melanjutkan mendekati sang istri.


Para sahabat Vera langsung bangun dan memberi ruang untuk Davvien.


"Sabar ya Vien"


Cuma itu kata yang bisa di ucapkan kedua sahabat nya, Davvien hanya mengangguk dia langsung mencium kening, mata, pipi dan bibir Vera, terakhir dia mencium perut Vera.


"Apa kabar anak papa?"


Davvien bertanya yang dia tau tidak akan ada jawaban, Aldi dan Riki sedikit terkesiap melihat perlakuan Davvien yang begitu hangat pada Vera.


Intan mencari sesuatu, dia takut jika orang yang dia hindari selama ini akan muncul di hadapan nya, tapi melihat Davvien sendiri membuat Intan merasa tentang.


"Vien, apa kamu sudah makan?"


Tanya Mommy Andin pada anak semata wayangnya, Davvien menggeleng sejak kemarin dia memang belum memakan apapun.


"Kamu nggak boleh begitu, kamu harus makan"


Bujuk Mama Rina lagi, namun Davvien masih diam menatap Vera, hati nya selalu merasa sakit melihat keadaan sang istri.


"Iya nak, kalau kamu tidak makan nanti kamu juga ikutan sakit, nanti kalau kamu sakit siapa yang ngejagain Vera, kamu tau kan Vera pasti sangat marah jika melihat mu seperti ini"


Mommy Andin kembali menimpali ucapan besannya itu.


"Nanti kalau dia sakit, nak Frans saja yang menjaga Vera"


Lanjut nya lagi.


"Tentu tante, Kia eh maksud ku Vera kan adik Frans tentu aku akan menjaga nya"


Mendengar itu Davvien langsung bangkit dan mendekati sang Mommy.


"Jangan harap, aku masih sanggup menjaga istri ku"


Celetuk Davvien dengan wajah garang nya.


Ny.Andin langsung memberi kan makanan pada Davvein.


Setelah beberapa saat, Tania, Aldi,.Riki dan Rani pamit pulang.


"Tan, loe mau pulang sekarang?"


Tanya Rani pada Intan.


"Gw nanti aja balik nya, nanti gw jadi obat nyamuk jika aku pulang sama kalian, tadi saja aku di anggap patung"


Jawab Intan dengan muka masam, dia mengingat saat pergi, Rani menjemput Intan, eh ternyata mereka barengan sama Riki, Intan hanya bisa menelan ludah nya saat melihat keromantisan di depan nya, dan dia rasa jika Fero tidak akan ke sana, jadi lebih baik dia menemani Vera sebentar lagi, bagaimana pun Intan merasa menyesal karna telah meninggalkan Vera kemaren.


Semua tertawa mendengar perkataan Intan, tapi tidak dengan Frans, dia begitu gemesh melihat muka jutek Intan, ntah sejak kapan dia memperhatikan Intan.

__ADS_1


"Ya sudah kami pulang dulu, Tante"


"Iya nak hati-hati ya, terimakasih sudah menjenguk Vera"


"Iya Tante, Vera kan sahabat kita... Tan kami duluan ya"


"Oke, hati hati kalian"


Intan menatap kepergian sahabat nya yang menghilang di balik pintu, belum sempat mengalihkan tatapan nya, mata Intan sudah menangkap seseorang yang masuk bergantian dengan para sahabat nya yang keluar.


Orang yang baru masuk juga langsung menangkap tatapan Intan, akhirnya terjadi lah tatap-tatapan, sebelum akhirnya jantung keduanya lari maraton.


Sadar dengan tatapan orang tersebut, Intan langsung mengalihkan pandangannya, Intan duduk di samping Mommy Andin, karna sofa di sana berukuran besar.


"Nak, kenal kan ini Frans kakak nya Vera"


Ucap Ny.Andin memperkenalkan Intan dan Frans, Intan hanya tersenyum dan menerima uluran tangan Frans yang sudah ada di depannya.


"Frans..."


"Intan"


Intan tersenyum manis pada Frans, dia sudah tau jika Vera mempunyai kakak saat baru sampai, mama Rina menceritakan semuanya, baru setelah itu Frans datang.


Frans melihat Intan dengan tatapan lain, dia seperti tertarik dengan gadis lucu di hadapan nya, apa lagi melihat senyuman manis Intan.


Mereka tidak tau, seseorang yang baru masuk langsung terbakar melihat siaran langsung antara Frans dan Intan.


Dadanya sudah sangat sesak, ingin dia menarik tangan Intan dan membawa Intan sejauh mungkin dari hadapan Frans, namun dia hanya bisa menahan nya, dan sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.


"Bagaimana keadaan Pak Toni Frans?"


Tanya Davvien, dia sudah kembali duduk di sebelah istri nya, setelah selesai makan.


"Dia sudah melewati masa kritis nya, tapi pak Toni masih dalam keadaan koma"


Para ibuk-ibuk juga mengungkapkan rasa syukur karna orang yang menolong anak mereka selamat, meski sekarang masih koma.


Intan merasa tidak nyaman karna kehadiran Fero, akhirnya dia pamit untuk pulang.


"Tante, Intan pamit pulang dulu ya"


Ujar Intan pada kedua wanita paruh baya itu.


"Eh kok buru-buru?" Tanya Mama Rani.


"Saya lupa Tante, saya ada janji dengan mama saya" Alsan Intan.


"Oh ya sudah... Fero bisa anterin Intan?"


Tanya Mommy Andin. Intan langsung membulatkan matanya, bagaimana bisa dia pulang sama orang yang sengaja dia hindari, Fero langsung kegirangan tapi dia tetap berusaha bersikap cuek.


"Tidak usah Tante, Intan bisa pulang pakek taksi ini Intan sudah memesan taksi online tante"


"Kamu cancel saja, kalau Vera sadar dia juga akan menyuruh Fero untuk mengantar kan mu"


Imbun Ny.Andin lagi, mengingat kebiasaan menantunya itu.


"Tidak usah Tante, Intan tidak ingin merepotkan tuan Fero"


Ucapan Intan membuat Fero ngilu, bahkan sebanyak itu alasan Intan untuk menolak bersama dengan nya.


"Jika kamu tidak mau pulang dengan dia, aku saja yang mengantarkan kamu"


Tawar Frans yang melihat penolakan Intan, melihat gelagat Intan, Frans tau jika ada sesuatu di antara mereka berdua.


"Tidak perlu, Fero kau segera ke kantor... dan kau, pulang lah bersama Fero, dia bisa sekalian mengantar mu"

__ADS_1


Bukan Intan yang menjawab, melain kan Davvien, Intan lagi-lagi membulatkan matanya, namun dia hanya menurut tidak ada yang bisa membantah perintah paduka raja Davvien.


Davvien sengaja menyuruh Fero mengantar Intan, dia ingin mereka kembali dekat, karna Davvien melihat Fero sudah menaruh simpati pada Intan.


Frans berdecak kesal, dia pun pamit keluar ingin mengecek pekerjaan nya yang dia berikan pada Fino.


Frans sudah menyuruh Fino untuk kembali ke kota nya untuk mengurus kantor selama Frans menemani sang adik.


...----------------...


Fero dan Intan kini sudah berada di dalam mobil, mereka sama sama diam, Fero sedari tadi ingin berbicara, namun Fero tetap lah Fero dia tidak tau harus mengatakan apa, apa lagi mereka sudah sangat lama tidak bertemu, mereka hanya bisa menahan rindu yang terpisah waktu.


Fero melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit dan membelah jalan raya, bergabung dengan pengendara lainnya.


"Apa kau sekarang sudah pandai berbohong?"


Akhirnya Fero berhasil memecah keheningan diantara merekam, perkataan nya sontak membuat Intan melihat ke arah Fero.


"Maksud Tuan?"


"Tadi kamu bilang jika kamu ada janji dengan mama dan kamu juga bilang jika kamu sudah memesan taksi online, apa sebegitu benci nya kamu pada ku hingga bisa membuat alasan sebanyak itu?"


Tanya Fero yang tau jika Intan berbohong.


"A-aku..." Intan mengigit kuku jarinya, tidak tau harus mengatakan apa, karna apa yang di katakan Fero memang benar adanya.


Keadaan kembali hening karna Intan tidak menjawab pertanyaan Fero, dan Fero kembali bingung untuk mengatakan apa lagi.


Akhirnya mereka sampai, tanpa menunggu Intan bergegas turun setelah Fero menghentikan mobilnya.


Saat ingin membuka pintu mobil, tangan nya di tahan oleh Fero. Intan kembali gugup dia mencoba menarik tangan dari genggaman Fero... Namun, Fero menahan nya.


"Kenapa kamu begitu menghindari saya?" Fero bertanya dengan nada serius.


"Kenapa jika dengan ku kamu begitu ketakutan, tapi jika dengan pria itu kamu bisa tersenyum manis"


Lagi-lagi pertanyaan Fero membuat Intan bingung.


"Tuan, lepaskan saya"


"Saya akan melepaskan mu, tapi setelah kamu menjawab pertanyaan saya"


Fero semakin kencang memegang pergelangan tangan Intan, dia bahkan menarik Intan supaya lebih dekat lagi dengan nya.


"Saya bukan menghindari tuan, tapi saya hanya sadar diri"


Kata-kata itu bagaikan sebilah pisau menusuk hati Fero, perlahan pegangan tangan nya mengendur dari tangan Intan.


Intan langsung turun, saat tangan nya terlepas.


"Terima kasih tuan"


Fero hanya terdiam, melihat kepergian Intan sebelum akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi dari halaman rumah Intan.


.


.


.


.


.


~Bersambung


Jangan lupa ya Like, komen dan juga Vote, dukungan kalian sangat berarti bagiku 😘😘😘😘.

__ADS_1


__ADS_2