
Masih dalam ruangan rumah sakit, seorang wanita sedang berjuang untuk melahirkan kedua buah cinta nya, di dampingi oleh suami yang selalu setia menemani nya tanpa rasa mengeluh ataupun lelah.
Vera yang sudah hampir empat jam mengalami kontraksi yang semakin berjalan waktu semakin dia merasakan kesakitan.
Davvien jangan di tanya lagi bagaimana perasaan dan hati nya, rasanya berdiri empat jam tiada bandingan nya dengan kegelisahan hatinya.
"Sayang! kita operasi saja ya!" ujar Davvien sambil mengelap dahi Vera.
Vera hanya menggeleng, dia yakin jika dirinya akan sanggup melahirkan bayi kembar nya. Meski rasa sakit yang luar biasa, tidak menggoyahkan keputusan nya untuk melahirkan kedua bayinya secara normal.
Jam hampir menunjukkan pukul 04 pagi, Dok.Hana kembali mengecek kontraksi dan juga pembukaan Vera.
"Pembukaan sudah sempurna, Nona Vera bantu dorong bayinya!" ucap Dok.Hana.
Vera mulai menarik nafasnya, lalu dengan sekuat tenaga di mendorong sesuatu yang ingin keluar dari dalam.
Tangan Vera tak tinggal diam, dia menggenggam dan meremas tangan Davvien dengan sekuat tenaga, hingga tangan pria berkulit putih itu memerah.
Namun Davvien pasrah dan membiarkan nya, dia tau betapa sakit nya yang di alami Vera saat ini.
"Ayo bu, dorong lebih kuat!" ucap Dok.Hana.
"Euhhhhhhhhgggggg!" jerit Vera.
"Huf...huf...huf... euhhhhhhhhgggggg!" Vera mencoba mengatur nafas nya dan kembali mendorong dari dalam.
"Sedikit lagi Nona!" perintah Dok.Hana lagi.
"Eeeuhhhhhhhhgggggg!"
Bersamaan dengan azan subuh yang di kumandangkan di mesjid, tangisan bayi pertama Vera dan Davvien puh pecah.
"Ooek...ooek...oek...!"
__ADS_1
Bayi yang baru keluar ke alam dunia itu menangis dengan begitu keras, tanpa terasa Vera mengeluarkan air mata begitu pun dengan Davvien.
Davvien yang merasa bahagia bertubi tubi mencium wajah Vera.
"Terimakasih sayang!" bisik Davvien pada sang istri.
Para keluarga yang yang mendengar nya pun merasa bahagia dan bersyukur.
"Dia laki-laki Tuan, Nona!" ucap Dok.Hana sambil tersenyum dan membawa Davvien junior itu mendekati ke pada ibunya.
Namun, Belum Dok.Hana meletakkan baby boy, tiba-tiba perut Vera kembali merasakan mulas, dia pun mulai merasa kontraksi yang begitu luar biasa pada perutnya.
"Aw...!" pekik Vera kembali memegang perutnya.
"Seperti nya yang kedua juga sudah tidak sabar untuk keluar!" ujar Dok.Hana kembali pada posisinya.
"Ini akan lebih mudah Nona, dia hanya membutuhkan sedikit dorongan lagi dari mu!" Dok.Hana melihat terus melakukan tugasnya, dia juga sudah sangat kasihan melihat keadaan Vera yang sudah sangat lemah.
"Eeeuuuhhhhggggg" dalam sekali dorongan, anak kedua nya sudah keluar.
"Oek...oek...oek...!" suara tangisan yang kedua lebih nyaring memecah kepanikan semua orang.
"Dia perempuan Tuan, Nona!" Dok.Hana tersenyum bahagia, berhasil dalam pekerjaan nya adalah sesuatu hal yang paling membanggakan bagi dokter kandungan muda ini.
Lagi-lagi keluarga mereka yang setia menunggu di luar mengucapkan syukur.
"Alhamdulillah Ya Allah... kedua cucu ku sudah lahir!" gumam mama Rina.
"Cucu ku juga!" sahut Ny.Andin yang tidak mau kalah.
"Iya, cucu kita semua!" mereka pun tertawa karna merasa diri mereka seperti anak kecil yang merebut kan sesuatu.
Frans yang sedari tadi merasa tegang pun mengusap wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah...!" pemuda ini merasa lega saat mendengar tangisan dari kedua keponakan nya.
Sebagaimana dia menyayangi adik perempuan nya, begitupun dia akan sangat menyayangi kedua keponakan nya itu.
Davvien tersenyum kepada Vera, begitu pun sebaliknya, dengan sayup-sayup dia membalas senyuman ayah dari anak-anak nya, tapi tak berapa lama, matanya langsung terpejam.
Rasa sakit yang sedari tadi dia rasakan semakin membuat nya tidak sanggup lagi bertahan.
"Sayang, kamu kenapa!" panggil Davvien saat melihat Vera memejamkan matanya, begitupun genggaman yang di rasanya sudah terlepas.
Tidak ada sahutan dan juga gerakan, Vera diam dengan mata tertutup, Davvien semakin merasa ketakutan.
"Sayang, jangan seperti ini, dok ada apa dengan istriku!" ucap Davvien sedikit berteriak.
Dok.Hana yang melihat pun merasa khawatir, dia pun menyerahkan baby girls di tangan ke kepada suster yang membatu dirinya dalam ruangan tersebut.
Dok.Hana langsung memeriksa keadaan Vera.
"Katakan kenapa dengan istriku!" tanya Davvien saat Dok.Hana selesai memeriksa keadaan Vera.
"Nona....!"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1