Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Koma


__ADS_3

Sinar matahari mulai terang, menerangi bumi yang semula gelap, burung berkicau bersuka ria untuk menyambut pagi yang telah berganti.


Sinar tersebut masuk ke setiap celah, dia sukses membangun kan manusia yang sedang terlelap dengan keadaan duduk.


Davvien tidur di atas kursi samping ranjang sang istri, sia meletakkan kepalanya di atas tangan nya sebelah, sedangkan sebelahnya lagi memegang erat tangan sang istri.


Mata nya sayup-sayup mulai bergerak saat sinar matahari menyentuh wajah nya.


Davvien langsung terjaga dari tidurnya, dia pun melihat Vera masih terbaring lemah di samping dengan mata masih terpejam.


"Sayang, kamu masih betah tidur... sejak kapan kamu jadi pemalas seperti ini"


Ujar Davvien lembut sembari mengusap kepala Vera, lalu mendaratkan ciuman di sana.


"Jangan buat ku menunggu lama sayang, aku benar-benar tidak akan sanggup'


Tanpa rasa lelah atau pun bosan, Davvien terus mengajak Vera untuk berinteraksi, sampai suara pintu terbuka.


"Selamat pagi Tuan Wilmar, boleh kami memeriksa Nona Vera?"


Tanya Dokter Hendri yang di ikuti oleh Dokter Hana dan juga perawat.


"Kenapa harus bertanya, bukan kah tugas kalian memang memeriksa pasien?"


Tanya Davvien dengan nada dingin, mendadak kedua Dokter dan perawat itu terdiam, mereka tidak berani untuk menjawab, Dokter Hendri hanya mengangguk karna sudah tau sifat tuan nya, dia pun langsung memeriksa Vera, begitu pun dengan Dokter Hana, dia juga bergantian menunjukkan keahlian nya sebagai dokter kandungan.


Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Vera, kedua dokter tersebut kembali menatap Davvien.


"Bagaimana, kapan istri ku akan terbangun dari tidurnya?"


Raut wajah Dokter Hendri terlihat suram, namun dia tetap memberanikan dirinya untuk mengatakan pada Davvien.


"Begini Tuan, sampai saat ini Nona Vera masih belum sadar kan diri karna kinerja otak nya yang semakin melemah"


"Apa, aku merawat nya di sini bukan untuk membuat nya semakin drop, kapan istri ku akan sadar"


Bentak Davvien pada Dokter di hadapan nya itu, Davvien merasa begitu takut karna perkataan Dokter Hendri.


"Maaf kan saya tuan, saya sudah melakukan yang terbaik untuk untuk Nona Vera, namun untuk dia tersadar saya tidak tau pasti tuan, dan jika sampai nanti Nona Vera masih belum sadar maka kami nyatakan Nona Vera koma"


Deg,,,,deg,,,deg,,,deg,,,


Hati Davvien langsung tercabik-cabik mendengar jika sang istri mengalami koma, perasaan nya semakin kalut.


"Ko-koma, kamu jangan macam-macam... kamu tidak bisa menangani istri ku, biar ku bawa dia berobat luar negeri"


Davvien membentak Dokter Hendri semakin emosi, hingga Tn.Diwan dan Rina masuk mereka mendengar teriakkan Davvien yang sedang membentak Dokter, mereka bisa mendengar perkataan Davvien, jika putri mereka koma. Air mata Mama Rina langsung terjatuh saat itu juga.


"Nak, kamu tenang, kamu yang sabar doa kan saja supaya dia cepat sadar, ingat nak dia wanita yang kuat, dia pasti sanggup bertahan dan akan segera sadar"


Mama Rina langsung menenangkan Davvien, Tn.Diwan pun tidak dapat membendung air mata melihat putri kesayangannya terbaring tak berdaya.


"Lalu bagaimana dengan anak-anak ku"

__ADS_1


"Untuk saat ini kedua anak Tuan masih aktif dan sehat, mereka cukup kuat namun, jika terlalu lama Nona koma, saya tidak tau apa kedua bayi tersebut akan bisa bertahan"


"Jangan katakan apapun, sekarang keluar lah aku yakin istri dan anak ku kuat, mereka bisa melalui ini semua"


Tidak bisa membantah atau hanya memberi usulan, mereka langsung keluar dari ruangan yang begitu terasa mencengkeram.


Davvien kembali melangkah duduk di samping sang istri, tidak perduli jika di sana sudah ada mama dan Daddy mertua nya, yang dia pikirkan keadaan anak dan istrinya.


Sedangkan Tn.Diwan membawakan Rina kedalam pelukan nya, mencoba menenangkan Rina yang menangis sesenggukan.


"Sayang... kenapa kamu bercanda seperti ini, aku tau kamu orang yang pandai dan juga banyak akal, ini pasti sandiwara kamu untuk mengerjai aku kan, sudah sayang aku tidak ingin bermain-main lagi, sekarang buka lah mata mu"


Lirih Davvien sambil menggenggam tangan Vera dan memberi ciuman di sana.


"Sayang, cepat lah bangun banyak kebahagiaan yang sedang menanti mu, mama mu, kakak mu dan juga anak kita kembar sayang, apa kamu tidak ingin melihat nya. Bangun cepat ya sayang, aku juga tau jika kamu orang yang tidak gampang menyerah"


Air mata Davvien terus keluar, sambil di elus-elusnya kepala Vera yang sudah di perban.


Cukup lama Davvien menatap sang istri, hingga seorang suster masuk dan meminta izin pada Davvien untuk memberi Vera asupan melalui selang makanan yang di pasang kan ke dalam mulut Vera.


Davvien, Tn.Diwan dan Rina tentu sangat sedih melihat nya.


Setelah selesai, sister itu keluar, Rina pun menghampiri Davvien.


"Nak, kamu makan dulu ya... mama sudah membawakan makanan untuk mu"


Rina menepuk pundak menantu yang kembali menatap putri bungsunya.


"Tapi nak, apa kamu semalam sudah makan?"


Tanya Rina lembut, dan Davvien menggeleng.


"Bagaimana Davvien bisa makan Ma, sedangkan istri ku saja makan harus menggunakan benda aneh ini, aku tau dia pasti sangat kesakitan Ma"


"Mama ngerti nak, tapi kamu harus jaga kesehatan kamu, jangan siksa dirimu sendiri"


Davvien bangun, dia menghadap pada mertuanya.


"Aku akan pergi sebentar Ma, ku menitip istri ku sebentar Ma, ada urusan yang harus aku selesaikan"


"Tapi kamu belum sarapan nak"


Davvien mendekati Vera lalu memberi ciuman di seluruh wajah vera tanpa malu pada ke dua orang paruh baya yang sedang menatap dirinya.


"Aku akan makan nanti, aku pamit Ma, Dad"


Davvien berlalu meninggalkan ruangan Vera, meski berat hati meninggalkan Vera, namun dia juga harus tau siapa yang telah berencana melukai istrinya, hingga sekarang Vera mengalami koma.


"Fero, kita ke markas sekarang"


"Baik"


Setelah menghubungi Fero, Davvien langsung keluar dari rumah sakit, dia pun melihat Fero yang sedang berjalan menuju dirinya.

__ADS_1


Fero menatap iba pada Davvien, dia melihat dari atas sampai bawah, Davvien seperti bukan bos nya yang angkuh dan sombong yang dia kenal.


Dulu Davvien sangat menjaga penampilan, kerapian, tapi sekarang, rambut acak-acakan, dasi miring, kemeja sudah keluar sebelah, sungguh menyedihkan.


"Maaf kan aku Vien, tidak sempat membawakan mu pakaian ganti"


Fero merasa bersalah karna lalai dalam memperhatikan kebutuhan bos sekaligus sahabat yang sudah di anggap adik oleh nya.


Davvien melihat penampilan nya sendiri, dia baru menyadari jika pakaian nya itu sudah dari kemaren.


"Nanti kita bisa membelinya sambil ke sana, katakan bagaimana keadaan pak Toni?"


"Dia kritis, dan sekarang dia koma"


"Terus pantau dan lakukan yang terbaik"


"Baik"


Fero membuka pintu untuk Davvien.


"Suruh Irfan mengirimkan anak buah nya untuk menjaga ruangan istri ku dan ruang pak Toni"


"Baik"


Setelah itupun mereka langsung meninggalkan pekarangan rumah sakit.


Seperti yang di katakan Davvien, mereka berhenti di sebuah Mall untuk membeli pakaian ganti, dia tidak ingin jika orang yang telah mencelakai istri nya mengira jika dirinya sangat terpuruk dan hancur, Davvien tidak mau dia terlihat lemah di depan musuh nya, meskipun yang terjadi memang begitu adanya.


Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, kini mereka tiba di markas yang sudah sangat lama tidak pernah dia datangi lagi, terakhir Davvien mengunjungi tempat itu adalah ketika menyerahkan kelompok mafia nya kepada Irfan.


Davvien dan Fero melangkah masuk, mereka di sambut hormat oleh para anak buah di sana, Irfan juga datang menemui mantan bos nya itu.


"Dimana mereka?"


Tanya Davvien dingin sedingin kawasan kutub Utara sehingga mereka yang mendengar bergidik ngeri, bahkan mereka tidak berani melihat pada Davvein.


"Ada di dalam tuan"


Davvien langsung melangkah ke dalam ruangan yang di maksud oleh Irfan"


Saat sampai dia melihat orang-orang yang telah berani mengusik ketenangan nya, di tatapnya satu persatu wajah yang sudah memar, bahkan ada yang sudah berdarah, mereka terlihat begitu lemah, dengan di ikat pada kursi secara berjauhan antara satu dengan yang lainnya.


Saat matanya menyapu satu persatu dari selir yang telah membangunkan tidur nya, hingga kedua manik hitam nya berhenti pada satu orang, Davvien sedikit melotot.


"Dia...."


~Bersambung


Maaf ya para Reader, baru bisa up sekarang, semoga kalian masih setia menunggu kelanjutan dari cerita ini.


Oh ya aku mau rekomendasi novel nya kawan aku nih, cerita nya juga sangat menarik loh, kuy intip.


__ADS_1


__ADS_2