
Davvien begitu panik saat melihat sang istri begitu lemas tak berdaya, untung nya dengan sigap Davvien menangkap tubuh lemas Vera.
Dengan keadaan lemas namun Vera tetap ingin mengeluarkan sesuatu dari perut nya.
"Uuuuuueeeekkk,,uueekkk,,uuueeekkk"
"Sayang, kamu kenapa jangan bikin aku panik"
Davvien tanpa sengaja meneteskan air mata nya, dia sungguh tidak tega melihat sang istri begitu tidak berdaya.
Davvien yang di kenal kejam dan juga dingin, dia tidak berdaya saat melihat orang yang sangat dicintainya begitu menderita.
"Perut ku sangat mual"
"Kita kekamar ya"
Davvien menggendong Vera lalu membaringkan istrinya di tempat tidur, dia pun mengambil ponsel menghubungi seseorang.
"Halo Hendri kamu harus kesini secepat nya"
"Ada apa tuan"
"Kalau aku suruh kamu ke sini berarti di sini sedang ada yang sakit, cepat Hendri jika kamu tidak ingin jadi pengangguran"
Tut,,,tut,,,tut,,,
"Ck, selalu saja begitu. Ancaman nya bagaikan sarapan pagi untuk ku"
Umpat Dokter Hendri kesal.
Sedangkan Davvien setelah mematikan sambungan dengan Hendri, dia langsung menghubungi Fero.
"Kau saja yang ke kantor"
"Memang nya ada apa?"
"Istriku sakit lagi, dia mual mual badan nya juga sangat lemas"
"Satu lagi, beritahu sahabat istriku untuk memberi tahu pada dosen kalau istri ku sedang sakit, buat kan izin untuk nya dan jika ada tugas jangan lupa untuk memberi tahu"
"Ba..."
Tut,,tut,,,tut,,,,,
"Orang itu, selalu saja. Apa aku beritahu Mommy saja, nanti kalau tau menantu kesayangan sakit dan tidak di beritahu sama dia bisa berabe jadi nya"
Fero langsung menghubungi Mommy Andin.
"Halo Mom"
"Iya nak, ada apa pagi pagi sudah menelepon?"
"Tadi Davvien memberitahu ku kalau Vera sakit Mom, kemaren dia juga sempat bilang kalau Vera pingsan"
"APA..."
Ny.Andin berteriak begitu panik, dia langsung saja pergi tanpa perduli dengan suaminya yang sedang sarapan.
Kembali pada Davvien,,,,
Dia telah memencet tombol di dalam kamar yang langsung terhubung dengan pelayan di dapur.
"Ada apa tuan?"
Bi Aini melihat aneh pada Davvien, mata yang merah menandakan kalau tuan nya habis menangis.
"Buat kan sesuatu untuk istriku Bi, biar dia tidak muntah muntah lagi, buat kan juga dia bubur, badan nya begitu lemas, cepat bi aku tidak ingin terjadi apapun pada nya"
Davvien meminta dengan begitu lirih, seolah bukan Davvien yang Bi Aini kenal saat melihat tuan nya begitu tidak berdaya.
"Maaf tuan, apa Nona Vera kemaren juga pingsan?"
"Iya Bi, aku sungguh takut dia sudah dua kali seperti ini. Hari ini dia mengalami hal yang lain lagi, muntah muntah sedari bangun tidur"
"Maaf Tuan, bukan Bibi lancang. Tapi kalau di lihat dari gejala yang di alami Nona seperti nya Nona sedang berbadan dua"
__ADS_1
"Apa Bi, jangan bicara macam macam, dia masih seperti dulu bagaimana bisa berbadan dua, dia masih tidak gemuk, bagaimana bisa seorang bisa menjadi dua badan penyakit macam apa itu, Bibi jangan sembarang bilang istri ku berbadan dua"
Davvien langsung heboh, dia tidak rela karna istrinya di katai berbadan dua.
"Maksud bibi bukan penyakit Tuan, tapi sepertinya Nona sedang hamil Tuan"
"Apa,,,,"
Davvien lagi lagi kaget mendengar perkataan Bi Aini.
"Apa benar istri ku hamil, bagaimana bibi tau?"
"Bibi hanya menduga Tuan, lebih jelasnya anda bawakan dokter kandungan untuk memeriksa nona Vera"
"Iya bi, sekarang buat kan dia bubur"
"Baik tuan"
Davvien kembali mengambil ponselnya, hatinya bercampur aduk antara rasa bahagia juga takut. Bahagia jika memang istrinya hamil dia akan menjadi seorang ayah, takut jika istri nya mengalami penyakit yang membahayakan.
Dia kembali menelpon Dokter Hendri.
"Iya Tuan, aku hampir sampai dari sini sudah terlihat rumah mu"
Dokter Hendri yang tau kalau Davvien akan marah langsung angkat bicara.
"Putar balik Hendri, bawakan dokter kandungan yang terbaik ke sini, ingat bawakan dokter yang perempuan, CEPAT"
"Apa, baiklah"
"Haduh kenapa bos sinting selalu saja menyuruh seenak jidat nya, untung aku masih butuh pekerjaan"
Dokter Hendri langsung putar balik, dia pun menghubungi dokter kandungan untuk segera bersiap-siap.
...----------------------...
Fero kini berada di parkiran kampus, kalian tidak tau bagaimana perasaan kesal nya karna telah berpuluh-puluhan kali menghubungi Intan namun tidak di angkat oleh Intan, dia pun menuju rumah Intan, tapi Mama-nya Intan bilang kalau putrinya sudah berangkat ke kampus.
Dan sekarang dia sedang menunggu Intan, karna tadi Fero sudah menyuruh seseorang memanggil Intan.
Intan yang penasaran pun buru-buru berjalan pada parkiran saat seseorang memberitahu kan pada Intan bahwa seseorang memanggil nya.
Dengan ragu Intan mendekati Fero, rasa sakit yang telah Fero berikan seakan kembali tergores saat melihat Fero di hadapannya.
"Buat kan izin pada dosen, kalau Vera sakit, jangan lupa kalau ada tugas beritahu pada nya ataupun pada saya"
Intan tidak menjawab, setelah di kira nya sudah tidak ada yang penting lagi, Intan langsung membalikkan badan nya, meninggalkan Fero yang mematung menatap punggung Intan yang melangkah pergi.
Sebenarnya Intan sangat penasaran karna sahabat nya sakit, tapi dia tidak akan menanyakan pada Fero, dia akan menemui Vera langsung sepulang kuliah.
"Kenapa dengan gadis itu"
Fero sedikit kesal karena Intan tidak menghiraukan kan nya bahkan langsung meninggalkan dirinya tanpa menjawab apapun, dia pun langsung meninggalkan parkiran kampus.
...------------------------...
Davvien sedang berusaha memaksakan istri nya untuk sarapan, namun lagi lagi Vera menolak, Davvien kembali menetes kan airmata nya, fikiran buruk sudah hinggap di kepalanya.
Melihat itu, Vera sebenarnya tidak tega, tapi dia juga tidak bisa memaksa dirinya untuk makan, karna saat melihat bubur atau nasi saja sudah membuat nya mual.
Brakkkkkk
"Sayang, kamu kenapa?"
Ny.Andin sampai, dia langsung mendekati menantu kesayangan nya.
"Mommy, ke kenapa Mommy tau kalau istri ku sakit"
Davvien menghapus air mata di pipinya dengan lengan nya, terlihat seperti tingkah anak kecil.
"Dasar kamu anak durhaka, istri sakit kamu malah tidak memberi tau sama Mommy, kamu anggap apa aku ini hah?"
__ADS_1
Ny.Andin langsung menjewer telinga anak nya, tak berselang pun Dokter Hendri tiba dengan seorang dokter muda juga cantik, di dampingi dengan beberapa perawat.
"Maaf tuan, tadi jalanan nya macet"
Davvien langsung melepaskan telinga nya dari tangan sang Mommy, dengan telinga memerah Davvien merubah ekspresi nya menjadi kembali dingin, sebenarnya dia sungguh malu karna para dokter melihat saat sang ibu menarik telinga nya, karna Davvien selalu menjaga image nya di hadapan orang lain.
"Apa pun alasan nya kamu tetap terlambat Hendri, sekarang cepat periksa istri ku"
Dokter Hendri Langsung mendekati Vera, dia memeriksa detak jantung, juga nadi Vera tapi tidak ada yang mengkhawatirkan.
"Dokter Hana, seperti nya ini memang tugas mu"
Tanpa membantah Dokter Hana yang bertugas sebagai dokter kandungan langsung mendekati Vera.
Ny.Andin begitu setia menemani sang menantu dia duduk di samping Vera sambil tangan sebelah nya memegang tangan menantu sebelah nya lagi mengelus-elus kepala Vera.
Vera tidak berkutik, dia benar benar sangat lemas.
Dokter Hana selesai melakukan tugas nya, dia pun tersenyum.
"Selamat Tuan Wilmar, anda akan menjadi seorang ayah, Nona Vera sekarang sedang mengandung"
"Apa?"
Teriak Davvien dan Ny.Andin mereka begitu bahagia mendengar kabar kalau Wilmar junior akan segera hadir.
"Istri ku hamil dok"
Davvien langsung memeluk sang istri, dia mencium seluruh wajah istrinya, dia tidak bisa menggambarkan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.
"Tapi kenapa istriku begitu menderita dok, dia sudah dua kali pingsan dan juga mual kalau pagi, aku sangat mengkhawatirkan nya"
"Anda tidak perlu khawatir tuan, itu hal yang wajar pada seorang ibu hamil, apa lagi kandungan nona masih sangat awal, anda hanya perlu menjaga nya dan memperhatikan pola makan nona Vera supaya nona memakan makanan yang bergizi, dan satu lagi jangan buat Nona Vera capek dan tertekan"
"Apa tidak ada obat untuk mengurangi rasa mual nya dok?"
"Ada tuan, nanti saya akan menulis resep nya"
"Baik lah"
"Kalau begitu saya permisi tuan"
Davvien mengangguk, Dokter Hendri mendekati Davvien.
"Selamat tuan, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah"
"Kau cepat cepat menyusul Hendri, jangan jadi lajang lapuk, nanti tidak akan ada yang mau dengan mu"
"Aku memberikan selamat untuk nya, tapi dia malah menghina ku"
Batin Dokter Hendri, dia dan para rombongan nya sudah meninggal rumah Davvien.
Kini tinggal lah Davvien, Vera dan Ny.Andin.
"Sayang, terima kasih kamu sudah hadir di tengah-tengah kami dan menjadi alasan kebahagiaan kami, terimakasih selama ini sudah bersabar dengan sikap putra Mommy yang dulu selalu menyakiti mu"
Ny.Andin mengusap wajah menantu nya, Vera tersenyum lalu memegang tangan Ny.Andin di kecup dengan lembut tangan yang hampir keriput itu, posisi Vera kini di tengah tengah antara suami dan mertua nya.
"Aku yang berterima kasih, Mommy sudah sangat menyayangi vera, aku merasakan kasih sayang seorang ibu dari Mommy, dan satu lagi Mommy jangan meminta maaf, dulu aku pun tidak sepenuhnya menerima mas Davvien, wajar kalau mas Davvien tidak bisa dengan cepat menerima kehadiran Vera"
"Sayang, terima kasih kamu memang sangat baik"
Cup,,
Cup,,,
Cup,,
Dalam keadaan haru mertua, anak, dan menantu tiba tiba ponsel Ny.Andin berbunyi, dia pun langsung melihat nama pemanggil yang menampilkan nama suami nya.
"Ya ampun Mommy lupa memberi tau Daddy kalau Mommy ke sini, Mommy meninggalkan Daddy sedang sarapan".
Ny.Andin menepuk kening nya, karna dia telah meninggal kan sang suami sedang sarapan.
~Bersambung
__ADS_1
Sekarang sudah bingung mau bikin kalian penasaran.
Kalau kalian berminat kasih dukungan komen, like dan vote.