Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Jangan tinggal kan aku.


__ADS_3

Saat Vera dan Davvien menikmati minuman mereka masing masing, tiba tiba Davvien menggenggam tangan istri nya, mencium lalu menarik sang istri ke dalam pelukan nya.


Vera dapat menangkap raut kecemasan dari diri suami nya, namun dia tidak mau bertanya, dia membiarkan Davvien sedikit melepaskan beban nya, namun Vera merasa heran, pasalnya tadi saat dia tinggal Davvien masih baik baik saja.


"Jangan tinggalkan aku"


Pinta Davvien dengan lirih, dia takut kalau telpon dari seseorang akan menjadi ancaman untuk hubungan nya dengan sang istri.


"Ada apa heum"


Tanya Vera yang mengelus lengan suaminya.


"Jangan tinggalkan aku apapun alasannya, jika kita punya masalah bicarakan baik baik, aku tidak bisa hidup tanpa mu"


Vera semakin heran dengan arah bicara sang suami, mana mungkin dia meninggal kan ayah dari calon anak nya.


"Hei, ada apa dengan mu"


Vera melepaskan diri dari pelukan sang suami, dia memegang pipi Davvien lalu mendekatkan wajah nya, dicium nya kening sang suami agar Davvien merasa tenang kalau Vera tidak akan meninggalkan, Davvien memejamkan matanya merasakan ciuman lembut sang istri di kening nya yang begitu menenangkan.


"Kenapa kau jadi orang yang lemah seperti ini heum, mana tuan Davvien yang ku kenal dulu"


Ucap Vera tersenyum manis pada suaminya, Davvien menatap Vera dengan penuh harap.


"Dengar kan aku, sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan mu, tidak akan pernah sayang, kau tau aku bukan orang yang plin plan, aku juga tau menjalani bahtera rumah tangga tidak akan selalu mudah, tapi jika kita saling percaya dan berjuang bersama apapun yang menimpa kita pasti akan terasa mudah"


Vera membawa tangan suaminya pada perut nya.


"Kamu tahukan, disini sudah ada malaikat kecil, itu karna perbuatan mu, mana mungkin aku akan meninggalkan orang yang telah menanamkan benih dalam perut ku ini, bagaimana pun kau harus bertanggung jawab"


Ucapan Vera sedikit membuat Davvien terkekeh.


"Dengar sayang, Aku Verania Wilmar tidak akan meninggalkan suami manja ku kecuali dengan dua alasan"


Davvien mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang istri.


"Alasan apa sayang"


"Yang pertama jika kau yang menginginkan nya dan yang ke dua jika maut yang menjemput ku"


Davvien langsung menutup mulut Vera dengan telunjuk nya, mendengar itu Davvien meneteskan air matanya, dia pun menggeleng kepala pada istrinya, Davvien pun kembali menarik sang istri ke dalam pelukan.


"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, aku juga akan tiada jika kau meninggalkan ku"


"Sayang kenapa kau sangat cengeng, aku baru tau sisi lain mu, selain orang yang tegas dan kejam kau juga sangat cengeng dan manja"


Goda Vera yang sedikit merubah keadaan.


"Jangan tunjukan kelemahan mu, jika kau jadikan aku kelemahan mu maka seluruh musuh mu akan mudah menghancurkan mu, tapi jadilah aku kekuatan mu"


Vera tidak tau apa yang di khawatir kan suami nya, namun Vera tau kalau pengusaha sukses seperti Davvien mempunyai banyak musuh, sedikit tidak nya dia bisa memberi semangat pada suaminya.


Davvien melepaskan pelukan nya, dia menatap dalam dalam netra sang istri begitu pun Vera, pandangan mereka bersatu, Davvien mendekatkan wajah nya pada wajah sang istri.


Cup,,


Davvien mencium lembut bibir sang istri, dia memberi sensasi yang sangat nyaman bagi Vera, Vera memejamkan matanya dia pun membalas ciuman sang suami.


Ciuman Davvien mulai menuntut, dia ******* bibir istrinya sedikit rakus, memasukkan lidah nya ke dalam rongga mulut Vera mengobrak-abrik seisi mulut istri nya.


Permainan semakin panas, ciuman Davvien sudah turun di leher sang istri.


Saat mereka menikmati adegan panas nya tiba tiba pintu ruangan di ketuk.


"Ck"


Davvien berdecak kesal saat sang istri melepaskan diri dan berjalan membuka pintu.


"Ada apa Bi?"


"Maaf nak Vera, di luar ada den Riki dan den Aldi"


"Oh ya bi, suruh mereka masuk dan buat kan mereka minum. Kami akan turun"


"Baik nak Vera, bibi permisi dulu"

__ADS_1


Vera mengangguk tersenyum, dia pun kembali pada Davvien.


"Ayo kita turun, kak Riki dan kak Aldi di bawah"


"Ck, biarkan mereka di sana, kita terus kan"


"Ya ampun sayang, baru tadi kita selesai mandi karna ulah mu, dan kamu ingin lagi"


"Tapi,,,,"


"Kalau tidak mau turun, biar kan aku saja yang turun menemani mereka"


Vera memutar badan nya baru satu melangkah tiba tiba Vera merasa kalau dirinya terbang ke udara.


"Aaaaaa"


Refleks Vera mengalungkan tangannya di leher Davvien, karna Davvien menggendong Vera.


"Jangan pernah berfikir bisa menemui lelaki lain tanpa ada aku disisi mu"


Ucap Davvien datar, dia pun melangkah, Vera tersenyum melihat suaminya yang sangat posesif, ingin rasanya mencubit pipi sang suami.


Davvien dan Vera sudah berada di lantai dasar, Riki dan Aldi mengadahkan pandangan nya kepada suara kaki yang berjalan mendekati mereka.


Keduanya saling melirik, pasalnya mereka sudah lama tidak bertemu dengan Davvien, dan mereka juga tidak tau kalau Davvien dingin yang mereka kenal sudah menjadi sangat bucin.


"Ngapain kalian kesini, ganggu saja"


Ucap Davvien sambil meletakkan istri nya dengan hati hati, Vera memukul lengan Davvien saat mendengar perkataan suaminya yang tidak ada santun nya menyambut tamu.


"Tidak boleh seperi itu"


Davvien pun menurut dan dia duduk di samping Vera.


Aldi dan Riki lagi lagi sama sama pandang melihat Davvien yang begitu patuh pada sang istri.


"Apa kakak sudah lama sampai?"


"Baru saja Ver"


"Sudah jangan perlihatkan kan senyum jelek mu itu, aku ingin muntah melihat nya"


"Ck, kenapa dengan mu Vien, kita cuman senyum bukan merayu"


Ucap Aldi yang menangkap raut cemburu dari sahabat nya itu.


"Cepat katakan kalian mau apa kesini?"


Tanya Davvien lagi dengan ketus, lagi lagi Vera memukul Davvien.


"Aw sayang kenapa kau memukul ku terus?


"Makanya bicara nya sedikit sopan"


Davvien hanya diam, pelayan pun membawakan minuman untuk Aldi dan Riki.


Setelah meletakkan minuman pelayanan pun pamit.


"Kedatangan kami kesini untuk memberikan undangan pada mu Vien, malam lusa aku akan mengadakan pesta ulang tahun papa, papa menyuruh ku mengantarkan undangan untuk mu, sekalian papa nitip salam katanya dia udah lama tidak bertemu dengan mu"


Riki meletakkan undangan di atas meja dan menyodorkan ke hadapan Vera dan Davvien.


"Aku tidak janji akan datang"


"Loh kenapa?"


"Istriku sedang hamil, aku tidak bisa meninggalkan nya sendiri"


"Kamu kan bisa mengajak nya, lagian papa juga mau melihat istrimu yang cantik ini"


Goda Riki, dan itu membuat Davvien mendidih, dia menatap tajam pada Riki.


"Aku hanya bercanda"


Riki tersenyum canggung melihat tatapan maut dari sang sahabat.

__ADS_1


"Dia tidak bisa kemana-mana"


Ucap Davvien dengan nada datar.


"Kenapa?"


Kali ini Vera yang bertanya.


"Kan kamu sakit aku tidak ingin terjadi apa apa dengan mu di sana"


Davvien langsung mengubah nada bicaranya pada Vera, dan itu tidak luput dari Aldi dan Riki.


"Kan di sana ada kamu yang ngejagain aku, tidak baik menolak permintaan orang tua"


"Heumm kita lihat nanti"


"Oh ya, selamat buat kamu Vien sebentar lagi loe akan jadi ayah, selamat juga buat mu Vera"


Ucap Aldi, dia merasa bahagia karna melihat Davvien seperti nya sangat bahagia.


"Iya Vien selamat, kamu juga harus menjaga ponakan ku"


Sambung Riki, dia pun sama dengan Aldi merasa bahagia atas kebahagiaan Davvien.


"Heummmm"


Ucap Davvien cuek, Vera menggeleng kepala dengan tingkah suaminya.


"Terima kasih kak, maaf ya kak, dia memang sangat hemat bicara"


"Tidak apa apa Vera kami sudah terbiasa, tapi dia tidak cuek dengan mu kan?"


Goda Aldi, Vera pun tersenyum.


"Kalau tidak ada keperluan lagi kalian lebih baik pulang saja"


Vera membulatkan mata mendengar ucapan Davvien yang mengusir teman nya sendiri.


"Kenapa mengusir mereka"


"Ah tak apa Vera, kami pun juga ingin pulang"


"Baguslah"


"Hehe maaf ya kak"


"Tidak apa apa"


"Hati hati ya kak"


Aldi dan Riki pun pamit untuk pulang.


Sepeninggal nya Aldi dan Riki, Vera bangun dia langsung berdiri di depan Davvien dengan memasang wajar garang.


"Kenapa kau berbicara seperti itu pada tamu, apalagi mereka adalah teman-teman mu sendiri, kenapa tidak pernah baik jika bicara dengan orang lain"


Davvien menelan ludah nya, matanya linglung melihat kesana kemari, dia tidak berani untuk menatap sang istri yang sedang memarahi nya, persis seperti ibu memarahi anak nya.


"Kan aku selalu baik jika bicara padamu"


Davvien ingin menggoda Vera, tapi kelihatannya Vera semakin marah.


"Dengan orang lain kita juga harus bicara sopan"


Jawab Vera lagi, Davvien menciut tidak dapat berkutik hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan untuk mereda kemarahan sang istri.


"Maaf"


Mendengar itu Vera kembali luluh, dia pun melangkah meninggalkan sang suami yang masih terduduk di sofa.


"Sayang mau kemana?"


~Bersambung


Tak henti henti nya aku meminta dukungan kalian para reader, like, komentar dan vote juga sekuntum mawar aku tunggu.

__ADS_1


__ADS_2