
"Jika kau tidak ingin aku menyakiti istri tercinta mu ini, cepat tanda tangani surat ini!" Roy langsung menyodorkan sebuah berkas yang di berikan oleh anak buahnya ke hadapan Diwan.
Tn.Diwan langsung tercekat, rasanya dia susah menelan ludahnya sendiri, bukan karna takut mati, atau takut kehilangan harta, tapi karna saat ini ada orang lain yang harus terlibat karna keputusan nya dulu.
POV Diwan.
Saat aku tau bahwa kecelakaan yang kami alami adalah karna ulah kakak ku yang iri dan ingin menguasai perusahaan termasuk semua harta yang papa kami tinggalkan, aku tidak tinggal diam.
Segera ku urus surat wasiat, bahwa yang memegang kendali di kantor untuk sementara adalah Tomi, asisten pribadi juga orang kepercayaan ku. Tapi, ada selembar surat lagi yang hanya aku dan Tomi yang mengetahui nya.
Aku mengubah pemilik harta dan perusahaan atas nama putri ku Kia Anggara, kenapa aku melakukan nya, apa aku ingin menyelamatkan diri jika nanti hal seperti ini terjadi?
Tentu saja bukan, aku yang kala itu mengira jika anak sulung beserta istri ku sudah meninggal dalam kecelakaan tragis itu, aku begitu terpukul, saat itu juga aku menjadi ayah yang posesif kepada Kia, tentu saja karna tidak mau kehilangan nya lagi. karna hanya Kia lah harta yang aku punya juga paling berharga.
Aku mengubah surat wasiat papa atas nama Kia hanya ingin menjaga-jaga, karna aku tau, hal yang seperti ini pasti terjadi sebab dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia mau.
Aku berfikir jika dalam surat wasiat masih atas nama ku, yang menjadi ancaman nya adalah Vera, kakak bejat ku yang tidak berperasaan ini pasti akan mengancam menggunakan kelemahan ku, yaitu Kia.
__ADS_1
Maka dari itu, jika aku mengubah nya, maka yang menjadi ancaman nya adalah aku sendiri, dan itu tidak masalah bagi ku, meski aku harus mempertaruhkan nyawa untuk putri kecilku kala itu.
Tapi... Setelah 15 tahun, aku mendapatkan kabar bahagia, istri dan anak lelaki ku ternyata masih hidup, dan mereka kembali.
Namun, yang mengganjal saat ini adalah, saat semua yang aku bayangkan menjadi kenyataan, tapi tidak sesuai dengan ekspektasi ku, andai saja aku tidak mengubah nama pemilik perusahaan atas nama putri ku, mungkin saat ini aku sudah menandatangani berkas ini dan mungkin saja kami akan mati, sebab aku tau, lelaki yang tidak pantas di sebut kakak ini masih memiliki dendam yang besar pada kami, yaitu karena Rina lebih memilih ku dari pada dirinya, dan itu wajar, karna kami lebih dulu menjalin hubungan sebelum dia masuk di tengah hubungan kami.
Aku bisa saja menanda tangani berkas di hadapan ku saat ini juga, tapi aku yakin sebentar lagi dia akan mengetahui jika bukan aku lagi pemilik perusahaan itu, melainkan putri kandung ku. Kia Anggara.
Dari mana dia bisa tau, tentu saja dari mata-mata yang dia suruh untuk menyelidiki tentang ku, karna dia tau, kalau adiknya ini belum mati, meski media dan semua orang mengatakan jika Reyan mati dalam sebuah kecelakaan.
Dan saat itu dia pasti akan murka, dan akan ku pastikan, dia langsungĀ menyuruh anak buah nya untuk menangkap Vera, meski aku sudah menitipkan anak perempuan ku kepada seorang lelaki yang akan bisa melindungi nya, namun rasa takut dan khawatir tetap menjalar dalam hati ku.
Sungguh, pikiran ku menjadi kalut, dulu aku tidak memikirkan imbas nya kepada putri dan cucu ku, bagaimana ini, ingin rasanya aku memberi pesan meski lewat angin kepada menantu dan anak ku untuk kabur dari sini, tapi apalah daya ku, hanya doa dan harapan yang bisa aku utarakan, semoga anak dan cucuku tidak akan mengalami seperti yang aku bayangkan.
Lamunan ku buyar saat berkas di hadapan ku dengan kasar nya mendarat di pipiku, tapi itu tidak membuat ku kesakitan, sebab ada rasa yang lebih membuat ku sakit jika mereka sampai menyakiti cucu dan anak ku, tentu saja juga istriku.
"Cepat tanda tangani berkas ini, brengs*k!" pekik nya memecah gendang telinga ku.
__ADS_1
Aku masih diam, pria tidak punya hati ini kembali mendekati istriku, dia ingin kembali melayang kan satu tamparan lagi, hati ku nyeri, rasanya tercabik saat wajah putih dan mulus istriku kini berubah merah karna bekas tangan menjijikkan nya itu.
"Stop! jangan sentuh istri ku lagi!" sergah ku dengan cepat. Ah, andai aku tidak mengubah nya, aku pasti akan menandatangani nya segera, agar bisa ku hentikan kekejaman nya pada istri ku.
"Cepat, coret kertas itu!" teriak nya lagi dengan wajah merah padam.
Namun, seorang lelaki dengan pakaian serba hitam datang, dan membisikkan sesuatu kepada nya.
Aku tidak tau apa yang lelaki itu katakan pada iblis ini, tapi aku dapat melihat raut kemarahan dari matanya, hingga aku pun mendengar.
"Cepat, tangkap anak itu, aku tidak ingin kali ini usaha ku sia-sia lagi!"
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung.