
Mendengar suara langkah kaki, Fero mengalihkan pandangannya, begitupun Intan yang sudah terpaku melihat tamu yang duduk di sofa sedang menatap dirinya, tatapan mereka bertemu, Fero melihat Intan yang sudah sangat berubah, penampilan, wajah, dan juga sikap sungguh sangat berbeda.
"Apa kalian akan pergi bersama?"
Tanya mama Intan dari belakang Intan.
"Tidak ma"
"Iya tante"
Jawab Intan bersamaan dengan Fero, namun jawaban mereka berbeda. Fero langsung menggenggam tangan Intan sedikit keras, atau sebagai kode supaya Intan mau menurut, sedangkan Intan langsung melotot atas perlakuan Fero dia ingin protes tapi lagi lagi Fero memotong ucapan nya.
"Mah Intan mau,,,,"
"Kami pergi dulu Tante"
Fero langsung menyalami mama nya Intan, dan itu hal baru yang di lakukan, dia pun sedikit mendorong punggung Intan supaya ikut bersalaman tanpa memberi celah buat Intan bicara.
"Ya sudah hati hati ya kalian, jaga anak Tante ya nak Fero"
"Pasti Tante"
Fero langsung menarik Intan dengan cara halus agar mamanya Intan tidak tau.
Mamanya Intan sempat aneh melihat tingkah mereka yang tidak kompak, namun dia tidak ingin ambil pusing, dia pun melangkah ke dapur.
...----------------...
"Lepaskan aku Tuan"
Ucap Intan seraya melepaskan tangan nya dari Fero, dia merasa sangat marah rasa sakit yang telah Fero toreh kan di lubuk hatinya masih terasa begitu sakit, luka yang baru di berikan Fero bahkan belum mengering.
Fero tidak banyak bicara, dia bingung ingin minta maaf namun dia tidak ingin martabat nya runtuh, saat ini dia hanya ingin berdua dengan Intan namun tidak tau bagaimana cara mengatakan nya
Fero memang tidak terlalu tau cara memperlakukan wanita, dia kembali menarik tangan Intan masuk ke dalam mobil nya lagi.
Tapi Intan memberontak, sekuat tenaga dia melepaskan tangan nya yang di tarik Fero.
"Tuan ada apa dengan anda, saya bukan sapi yang bisa anda tarik tarik seperti ini, untuk apa anda ke sini, apa belum puas anda menghina saya, apa anda menemui saya hanya ingin menghina saya lagi"
Bentak Intan, dia sudah tidak tau lagi harus menghadapi sikap Fero, dia memang cinta tapi mengingat orang yang di cintai nya tidak pernah sedikitpun menghargai dirinya, bahkan Fero terkesan kejam dan kasar.
"Ikut dengan ku"
Ucap Fero datar, dia melihat wajah Intan sudah merah padam, Fero benar-benar bingung harus berbuat apa, mungkin dia harus belajar dulu supaya dia tau cara memperlakukan wanita.
"Jangan harap"
Intan menghentakkan kakinya ingin melangkah, namun dengan kasar Fero menarik tangan Intan, sedangkan Intan yang baru ingin melangkah pun badan nya langsung berbalik dan menghantam dada yang begitu kekar dengan keras.
Intan kini terjebak dalam pelukan Fero, karna tangan kekar milik Fero sama sekali tidak melepaskan Intan.
Intan terus berusaha melepaskan dirinya, bersamaan dengan Bagas yang menjemput Intan.
Dia melihat jika wanita yang ingin di incar nya kini berada dalam pelukan tubuh berotot.
Fero yang melihat Bagas sudah turun daru mobil pun melepaskan Intan dari pelukan nya namun dia sama sekali tidak melepaskan tangan Intan.
"Jadi kamu janjian sama semut ini"
__ADS_1
Tanya Fero yang menatap Intan tangan nya menunjuk bagas.
"Cepat sekali kalian dekat ya, memang tidak salah dengan apa yang aku ucapkan semalam"
Ujar Fero dingin, dia tidak sadar jika dia kembali mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Intan kecewa.
"Jaga ucapan anda tuan, apa anda tidak lihat jika wanita di sebelah anda terlihat begitu terpaksa"
Jawab Bagas dengan lantang, dia sungguh tidak rela karna Fero mengatai dirinya semut kecil.
"Jadi apa ada urusan dengan mu?"
"Tentu tuan, karna kami sudah janji untuk pergi bersama"
Mendengar itu hati Fero kembali memanas, tanpa sadar dia menggenggam tangan Intan dengan begitu kuat, hingga membuat Intan meringis.
"Ssshhhhtt tuan, lepaskan tangan ku atau tangan ku akan remuk"
"Kau tidak tau dia meminta mu melepaskan nya, dia kesakitan"
Ucap Bagas ingin menarik tangan Intan, namun dengan sigap Davvien memundurkan Intan lalu menendang Bagas tepat di perut nya.
"Aku yang lebih dulu menjemput nya, jadi aku yang berhak membawa nya"
"Aku bukan barang yang bisa kalian bawa bawa"
Teriak Intan, namun Fero langsung menyeret Intan masuk ke dalam mobil.
Bagas bangun dan meringis sambil memegang perutnya yang terasa sakit, apa lagi melihat mobil Fero sudah pergi membawa wanita target Bagas.
"Sial, lihat saja aku akan mendapatkan wanita itu, dan akan ku buat kau menyesali perbuatan mu kepada ku"
...----------------...
Setelah makan siang yang sudah terlambat, kini Davvien sedang berada di dalam ruangan kerjanya, karna pulang awal Davvien terpaksa mengerjakan pekerjaan di rumah, setelah tadi dia menemani Vera hingga tertidur. Dia juga berusaha menghubungi Fero, namun nomor yang di tuju tidak menghiraukan panggilan nya.
Davvien merasa sangat lelah, dia pun merenggangkan otot-otot tangan nya yang terasa kaku.
Ceklek,,,,
Suara pintu ruangan Davvien terbuka, dia melihat sang istri sudah membawakan kopi untuk nya.
"Sayang, sudah bangun?"
"Belum, aku hanya tidur sambil berjalan"
Ucap Vera mengolok pertanyaan Davvien, dia pun meletakkan cangkir kopi di depan Davvien, lalu dia langsung menduduki dirinya di pangkuan sang suami.
Mood Vera berubah-ubah, yang tadi nya marah sekarang sudah ingin bermanja-manja lagi.
"Ada apa heum"
Davvien langsung menyambut sang istri di pangkuan nya, dia memeluk pinggang Vera laly mencium kepala istrinya itu.
"Tidak ada, aku hanya ingin dekat dengan mu saja, apa tidak boleh?"
Tanya Vera dengan suara yang begitu manja, tangan nya dengan lembut menyentuh wajah sang suami, menyentuh dari mulai kening hingga turun pada bibir sang suami dengan telunjuk nya.
"Tentu boleh sayang, bahkan jika kamu selalu begini saat aku bekerja, sungguh aku sangat bersemangat"
__ADS_1
Ujar Davvien, memegang tangan nakal istrinya lalu mencium nya, Vera merebahkan kepalanya bersandar di pundak Davvien, dengan wajah nya si sembunyikan di ceruk leher Davvien.
Davvien menahan sesuatu saat sang istri dengan sengaja menggigit leher Davvien, namun Vera dapat merasakan jika Tuan J sudah bangun dan minta jatah, karna Tuan J sudah sangat menusuk-nusuk bokong Vera.
"Heummm,,, sayang apa kamu merasa kan sesuatu"
Tanya Davvien dengan suara berat yang sesekali melenguh, Vera tersenyum dia pun kembali mencium leher sang suami dan menggigit telinga Davvien.
Davvien yang sudah tidak tahan lagi langsung mengangkat Vera duduk pada meja di hadapannya.
"Jangan salahkan aku sayang, karna kamu telah memulainya"
Ucap Davvien langsung melumaat bibir ranum Vera.
"Aku tidak akan menyalah kan mu, karna ini bukan kesalahan"
Celetuk Vera di sela sela ciuman panas mereka.
Davvien semakin ganas, dia sudah membuka pakaian Vera setengah badan, bermain di area atas.
Saat puas dengan permainan di atas dia langsung turun pada tempat favorit nya, setelah memberi rangsangan pada sang istri, Davvien mengangkat tubuh Vera lalu membaringkan nya di sofa, dia tidak ingin istrinya merasa tidak nyaman bila melakukannya di meja.
Ruangan kerja Davvien pun sudah di penuhi dengan suara Vera mendes*h, yang membuat Davvien semakin bergairah.
...----------------...
Sedangkan di dalam sebuah mobil yang masih berputar-putar di jalan tanpa tau arah Fero masih terus mendengar Intan yang terus protes.
"Kita mau kemana, kenapa anda hanya berputar-putar tanpa arah seperti ini"
Kesal Intan, karna sedari tadi Fero hanya membawa dirinya mengelilingi kota tanpa arah.
Sedangkan Fero yang tidak tau harus membawa Intan kemana hanya fokus membawa mobil tanpa arah, Fero bingung ingin mengajak makan dia berfikir jika Intan past sudah makan.
Mau dia ajak kemana lagi, dia benar-benar bingung, setelah tadi memaksa Intan untuk ikut dengan nya kan nggak lucu jika dia kembali kan lagi Intan ke rumahnya setelah berkeliling tidak jelas seperti ini. Pikir Fero.
"Tuan, turunkan saya anda sudah menculik saya, padahal saya sudah ada janji dengan Bagas"
Intan merasa tidak enak karna tadi sudah janji akan pergi bersama Bagas.
Mendengar itu Fero langsung menatap Intan dengan tajam, dia tidak suka jika Intan menyebutkan nama pria lain apa lagi tepat di samping nya.
"Jangan pernah sebut lelaki mana pun saat kamu berada dengan ku"
Glekkk
Intan meneguk salivanya dengan begitu kasar, dia merasa tatapan Fero begitu tajam ke arah nya.
"I iya tuan, tapi aku mau di bawa kemana?"
Sesaat berfikir pun Fero mendapatkan ide, dia sudah tau ingin membawa Intan kemana.
~Bersambung.
Udah sampai di sini dulu ya para reader, pada penasaran nggak nih kenapa Intan bisa sampai dekat sama Bagas.
Aku up besok pagi lanjutin lagi ya Reader semuanya.
Oh ya, jika kalian berminat silahkan follow akun saya, atau masuk ke dalam grup chat saya, biar kita saling kenal, aku ingin lebih dekat sama kalian, semua pembaca ku yang telah mendukung novel receh saya sampai sekarang.
__ADS_1