Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Vera akan melahirkan.


__ADS_3

Halo sahabat mafia Karatan, sebelum nya aku ingin berterima kasih pada kalian semua atas dukungan nya, baik itu berupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


Terimakasih juga masih setia mengikuti cerita receh ku sampai ke tahap ini, meski novel ku ini tidak lah sehebat yang lain nya, karya yang masih sangat jauh dari kata sempurna, kadang juga alurnya tidak sesuai dengan ekspektasi kalian, maklum aku nulis cuman modal nekad.


Dan maaf, bila cerita nya membosankan, karna membuat sesuatu yang di sukai oleh orang-orang sangat lah susah apa lagi keinginan dan pemikiran orang berbeda-beda.


Maaf juga, novel receh ini sering membuat kalian menunggu, up yang tidak menentu, aku harap kalian tetap setia menunggu dan memberi kan dukungan.


Karna jujur! saat putus asa dan menyerah, dukungan kalian lah yang membuat ku bersemangat untuk terus berjuang.


Udah, intinya cuma ingin mengucapkan makasih dan permintaan maaf. Jadi curhat ku heheh.


...----------------...


...🌷Happy Reading🌷...


Jam di dinding terus berdentin hingga saat ini tepat pukul 01:00 malam.


Vera yang tadi sudah merasa sedikit mendingan kini kembali terbangun, karna rasa mulas dan pinggangnya semakin sakit.


Vera mencoba melepaskan diri dari tangan kekar yang selalu melingkar di tubuh nya, wanita 21 tahun ini ingin duduk.


Sedangkan Davvien yang baru saja terlelap merasa pergerakan di sebelah nya, membuat anak tunggal keluarga Wilmar ini ikut terjaga.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Davvien kepada Vera yang sedang berusaha menahan sakit.


"Perut ku terasa mulas, pinggang ku juga semakin sakit!" akhirnya Vera berkeluh kepada sang suami.


"Apa kamu ingin ke kamar mandi?" tanya suami nya langsung merasa panik.


Vera hanya mengangguk, tapi baru Davvien hendak mengangkat sang istri, tiba-tiba sesuatu keluar dari area private Vera hingga membasahi baju dan juga seprei di bawah nya.


"Sayang, kamu sudah tidak tahan hingga pipis di atas kasur?" tanya Davvien, bukan ingin memarahi tapi dia merasa iba, Davvien berfikir jika Vera sedari tadi menahan hajatnya.


"Ini bukan pipis sayang!" jawab Vera dengan mata merem melek menahan rasa sakit yang semakin berputar di dalam perut nya.


"Lalu...!" ujar Davvien yang tidak paham dengan yang di alami sang istri.

__ADS_1


Belum sempat Vera menjawab, Davvien yang sudah di liputi rasa khawatir langsung mengambil ponsel miliknya.


Davvien memanggil kontak sang mommy, sambil tangan nya terus mengusap perut Vera.


Vera ingin mengatakan sesuatu, namun Davvien tidak memberikan kesempatan untuk nya berbicara.


"Halo Mom!" Panggil Davvien saat panggilan nya tersambung.


"Ada apa kamu menelpon Mommy malam-malam seperti ini?" tanya Ny.Andin dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mom Vera Mom!" Davvien berusaha agar tidak menangis membayangkan yang tidak-tidak terhadap istri tercinta nya itu.


"Katakan ada apa dengan menantu ku!" ny.Andin pun langsung panik saat mendengar menantu nya di sebutkan.


"Vera Mom, ntah apa yang keluar, saat ku tanya dia pipis, tapi Vera bilang dia tidak pipis Mom, perutnya juga sangat sakit dan mulas Mom, apa lagi pinggang nya sudah beberapa hai ini dia sakit!" jelas Davvien membuat Ny.Andin langsung bangun.


"Bodoh, itu air ketuban yang sudah pecah, istri mu sudah mau melahirkan!" hardik Ny.Andin yang langsung melangkah ke dalam kamar mandi.


"Apa Mom, istri Davvien ingin melahirkan? terus apa yang harus Davvien lakukan?" tanya Davvien terus menerus.


"Bawa dia ke rumah sakit, Mommy dan Daddy akan menyusul!"


"Sayang, kata Mommy kamu sudah ingin melahirkan!" tanpa A O lagi, Davvien langsung membopong tubuh Vera.


"Aku juga mau mengatakan hal itu tadi, tapi dia tidak membiarkan ku berbicara!" batin Vera masih sempat menggerutu kepada suaminya itu.


Davvien menekan alarm tepat dinding kamarnya, agar semua orang terbangun. Setelah itu dia pun keluar.


Fero dan Intan yang sedang tertidur pulas langsung terkejut mendengar alarm yang berbunyi begitu nyaring.


"Suara apa itu!" tanya Intan dengan mata yang masih terpejam.


"Suara alarm, biasa Davvien membunyikan nya saat ingin mengumpulkan semua orang, tapi untuk apa mengumpulkan kita di waktu sepagi ini!" jelas Fero yang melihat jam di atas nakas masih menunjukkan pukul 01:30.


"Mungkin saja penting, ayo!" Intan mengambil kimono dan memakai nya, tau sendiri semenjak menikah Intan belum di biarkan tidur dengan pakaian, jika iya pun, tentu Fero akan membukanya.


Keduanya berlari, para maid yang bekerja di mansion Davvien pun sudah berkumpul di ruangan tengah.

__ADS_1


Davvien keluar dari dalam lift, bertepatan dengan Intan dan Fero yang baru turun dari tangga.


"Fero ayo berangkat, Istri ku ingin melahirkan, Bi Aini, siapkan semua keperluan nya!" ucap Davvien dengan begitu tegas.


"Baik Tuan!" orang di sana begitu iba melihat Vera yang berada dalam gendongan Davvien, terlihat jelas raut wajah Vera yang menunjukkan betapa sakit nya yang di rasakan Vera.


"Aku bantu bi!" Intan pun berantusias ingin membantu menyiapkan semua keperluan Vera dan si kembar.


"Intan, kamu hubungi Dad Diwan dan Mama Rina!" lanjut Davvien.


Untuk kali pertama Davvien memanggil Intan dengan sebutan namanya. Ya begitu lah, saat kepanikan melanda otak waras pun berbicara.


"Baik!" Intan langsung berlari ke Dalam kamar, guna untuk memberitahu orang tua dari sahabat nya, jika cucu-cucu mereka akan segera lahir.


Davvien dan Fero langsung berangkat duluan membawa Vera ke rumah sakit, sedangkan Intan menyusul dengan membawa perlengkapan persalinan Vera.


Di dalam mobil Davvien terus mengusap perut sang istri, dia tau jika saat ini wanita hebatnya itu sedang merasakan sakit yang luar biasa, karna merasakan remasan dari tangan Vera pada lengan nya semakin kencang.


"Sayang, kamu yang kuat ya, aku tau kamu wanita yang tangguh!" puluhan kali Davvien mencium kening sang istri, ingin membantu mengurangi beban ibu dari calon anak nya.


"Fero, kenapa mobil ini seperti siput, apa kamu tidak membawanya untuk di servis?"  bentak Davvien, dia sungguh tidak bisa melihat Vera terus merasakan sakit.


"Iya Tuan, ini sudah sangat cepat, kita juga harus memikirkan keselamatan!" jawab Fero dengan bijak.


Asisten setia ini tau jika Davvien sedang sangat mengkhawatirkan istri nya, namun dia juga tidak bisa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi saat pikiran nya tidak menentu,  demi keselamatan Vera dan juga kedua bayi yang ada dalam kandungan nya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~ Bersambung.


__ADS_2