Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Tiket hanymoon


__ADS_3

...Yang cuek belum tentu jahat, yang ramah belum tentu baik, intinya kita tidak bisa menilai seseorang dari sikap yang di tunjukkan nya....


...----------------...


Setelah melihat isi dari kotak dalam paper bag yang di kirimkan bos nya itu, Fero langsung menghidupkan kembali ponsel yang semalam telah dia nonaktifkan.


Saat ponsel nya sudah di hidupkan, Fero melihat begitu banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Davvien.


Namun, karna rasa senang nya, tanpa ragu dia langsung menghubungi Davvien.


"Katakan!" suara dingin di seberang setelah panggilan terhubung.


"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas hadiah yang Tuan kirimkan!" jawab Fero sambil tersenyum dan melihat ke arah Intan yang juga tersenyum pada nya.


"Heumm, apa kamu juga suka dengan hadiah yang ke dua?" tanya Davvien.


"Tapi kalau boleh tau, yang kedua itu apa ya? kok seperti jamu!" tanya Fero yang keheranan, dia sama sekali tidak paham dengan barang yang di kirim kan Davvien.


"Itu obat biar kalian tidak mudah sakit di sana, waktu aku liburan dengan istri ku, kami juga meminum nya!" jawab Davvien panjang lebar meski dengan nada datar.


"Tapi ingat, harus minum saat sampai di sana, saat kalian sampai, baru kalian meminum nya!" lanjut Davvien.


"Kenapa harus minum di sana, seharusnya jika obat untuk menjaga kesehatan tubuh kan minum nya dari sini!" tanya Fero yang merasa aneh dengan ucapan Davvien.

__ADS_1


"Jangan banyak bertanya, lakukan saja apa yang aku katakan jika kalian tidak mau menyesal!" Sudah jadi kebiasaan bagi Davvien mematikan sambungan nya sebelah pihak.


Setelah Davvien mematikan sambungan nya, Fero kembali melihat botol yang beraroma jamu saat di cium, namun dia tidak memikirkan itu karna dia terlebih senang, karna Davvien memberikan hadiah yang tidak terpikir oleh Fero.


Dua tiket untuk hanymoon ke negara Davvien dan Vera kunjungi dulu, dia juga menyewa kamar untuk Fero dan Intan, tepat di hotel yang dia tempati bersama Vera.


Namun, selain tiket, Davvien juga menyelipkan sebuah botol yang berbau jamu saat Intan mencium nya.


Keduanya tidak paham kegunaan jamu tersebut, mereka hanya di suruh untuk meminum nya, Fero dan Intan tampak yakin, karna Davvien sudah memberikan tiket, mungkin kali ini Davvien memang sedang berbaik hati dengan memberikan jamu agar mereka tidak mudah terkena penyakit di negeri orang. Pikir keduanya.


Sedangkan di lain sisi, Vera sedang enteng duduk di pangkuan suami, dia mendengar saat Davvien berbicara dengan Fero.


"Sayang, apa itu tidak berlebihan?" tanya Vera sambil memainkan kancing kemeja Davvien.


"Itu hadiah yang cocok sayang, biar mereka si kutu kupret cepat mencetak gol, kamu tidak tau betapa polosnya dia, aku kira mungkin dia belum buka segel dengan marmut nya itu"! jawab Davvien dengan tangan nya menari di atas keyboard laptop di hadapannya.


"Sok tau!! seposlos-polos nya orang, kalau masalah buka segel pasti tidak perlu di ajarkan!" jawab Vera memukul dada bidang sang suami.


"Memang nya kamu dulu sudah pengalaman apa?" lanjut Vera kini dengan bertanya.


"Hei, pertanyaan macam apa itu, kamu tau sendiri, hanya kamu wanita pertama yang aku sentuh, kamu goa pertama yang Tuan J masuki" jawab Davvien yang kini melihat ke arah sang istri.


"Percaya lah, hanya kamu pemilik nya, dan hanya kamu yang bisa mengendalikan Tuan J!" lanjut Davvien langsung membuat Vera malu.

__ADS_1


"Sudah, lanjut kan lagi pekerjaan mu, kalau kita bahas ini terus nanti Tuan J akan minta jatah, dan kita berakhir di ranjang!" ucap Vera, diapun bangun dari pangkuan Davvien, kemudian di melangkah ke sofa, untuk menyiapkan makan siang ayah dari calon kedua anaknya itu.


Vera meletakkan nasi dan lauk yang memang sengaja di bawa dari rumah ke dalam piring, kemudian Davvien pun menyusul nya dan menduduki dirinya di sebelah sang istri.


Saat dia memberikan piring berisi nasi kepada Davvien, lelaki itu malan menatap ke pada Vera.


Vera sudah sangat paham dengan tatapan yang di berikan suami kepada nya.


"Dia pasti ingin jadi bagi besar, apa lagi kalau bukan minta di suapin!" batin Vera, dia pun langsung menyuapi Davvien tanpa rasa keluhan sedikit pun.


Dan dengan senang hati Davvien menerima setiap suapan yang di berikan Vera dengan begitu lahap.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2