
Setelah selesai mandi dan bersiap Davvien keluar, perasaan nya tidak enak sikap Vera sungguh beda pagi ini, biasa Vera akan berceloteh panjang lebar tapi hari ini dia hanya diam dengan tatapan kosong nya.
Davvien melangkah menuju kamar Vera tapi dia tidak menemukan apapun, dia pun berjalan ke arah tangga.
Setelah menuruni tiga anak tangga Davvien langsung melebarkan matanya melihat Vera yang tergeletak di atas lantai.
"Ya ampun Vera"
Kali kedua nya Davvien menyebut nama Vera setelah di ucap kan yang pertama waktu ijab qobul.
Davvien buru buru turun langsung menghampiri Vera tanpa ragu Davvien mengangkat kepala Vera di lihat nya wajah itu sudah pucat pasi.
Ya, Davvien merasa sangat khawatir kali ini Davvien tidak gengsi lagi karna perasaan khawatir nya lebih besar.
Davvien langsung menggendong tubuh yang lemah itu ala bridal style, langsung di bawa ke dalam kamar nya, bukan dalam kamar Vera.
Saat sampai di atas Davvien berteriak memanggil Fero, sedangkan Fero yang baru selesai berpakaian langsung keluar Mendengar teriakan Davvien.
Fero langsung membulatkan mata melihat Davvien menggendong Vera yang sudah masuk ke dalam kamar, dia pun mulai panik.
Davvien meletakkan Vera di atas tempat tidur dengan perlahan, lalu menggenggam tangan Vera.
"Hubungi Hendri CEPAT!!!!"
Perintah Davvien saat melihat Fero masuk ke dalam kamar nya, tanpa berfikir panjang Fero langsung hendak keluar menghubungi Hendri.
"Hey kau kau kemana, aku menyuruh mu menghubungi Hendri"
Teriak Davvien melihat Fero yang hendak keluar dari kamar.
"Aku mau mengambil ponsel ku di kamar"
Fero merasa takut melihat ekpresi wajah Davvien saat marah, namun Fero bisa melihat kekhawatiran Davvien dia pun berlari ke dalam kamar nya.
Tanpa menghiraukan Fero yang menurut nya sangat lama, Davvien merogoh saku celananya langsung mengambil benda pipih persegi empat.
"Ha..."
Hendri ingin menjawab saat menerima telpon dari Davvien, tapi sudah di potong oleh Davvien.
"Cepat kesini, dalam waktu 10 menit kau belum sampai ke sini, maka datang lah kerumah sakit untung mengemasi barang mu"
Glekk...
"Baik tu..."
Tut tut tut...
Ya selalu begitu Davvien langsung mematikan sambungan telpon dari sepihak.
Tanpa berfikir apa pun lagi dokter Hendri langsung berlari keluar rumah, kebetulan dokter Hendri memang sudah siap dan lagi sarapan.
Rasa nya dokter Hendri ingin terbang saja, bagaimana tidak dia di beri waktu cuma 10 menit, ntah siapa yang sakit dokter Hendri belum sempat bertanya.
"Tuan, Hendri tidak bisa di hubungi jurusan nya sibuk"
Jelas Fero yang telah kembali dan mengatakan dokter Hendri tidak bisa di hubungi saat Fero menelpon dokter Hendri tadi, bagaimana bisa di hubungi saat dokter Hendri sedang di hubungi oleh Davvien.
__ADS_1
"Kau memang tidak becus melakukan apapun"
Ucap Davvien dingin dengan menatap pada Vera yang masih setia memejamkan matanya, tangan Davvien masih setia menggenggam tangan Vera yang sudah terasa dingin itu.
Fero hendak bertanya apa yang terjadi dengan Vera, tapi saat melihat ekspresi wajah Davvien Fero mengurungkan niat nya.
Mungkin lebih baik penasaran dari pada kena bogem mentah di pagi hari, tapi Fero melihat raut wajah Davvien yang sangat terlihat khawatir baru Fero sadari kalau tuan nya ini sudah perhatian pada Vera itu artinya apa Davvien sudah mencintai istrinya, batin Fero.
Dia senang kalau Davvien bisa mencintai wanita lain sekarang, berarti Davvien sudah bisa keluar dari keterpurukan.
Tak lama pun dokter Hendri tiba, Fero kaget melihat nya.
"Hey kau bisa tau di sini orang sakit tanpa ada yang mengabari mu"
Dokter Hendri langsung mendekati pada Vera.
"Aku di beritahukan oleh tuan"
Jawab dokter Hendri saat sudah berdiri di dekat tempat tidur tempat Vera di baringakan.
"Apa, jadi karena itu ponsel Hendri tidak bisa di hubungi, kenapa dia menyuruh ku kalau dia juga menelpon Hendri, malah mengatakan aku tidak becus lagi"
Umpat Fero dalam hati saat tau kalau Davvien juga menghubungi dokter Hendri.
Davvien langsung bangun dari duduk nya masih belum melepas tangan Vera.
"Kau terlambat lima menit Hendri"
Ucap nya dingin dengan tatapan tajam.
Glekkkk....
Jelas dokter Hendri terbata bata.
"Tidak usah banyak alasan sekarang cepat periksa istriku"
Lagi lagi Fero tercengang dengan kata kata yang keluar dari mulut Davvien, baru kali ini Fero mendengar Davvien menyebut Vera dengan sebutan Istriku.
Dokter Hendri duduk di sebelah Vera, langsung di periksa keadaan Vera dengan Davvien yang masih setia berdiri di samping Vera dan dokter Hendri masih menggenggam tangan tangan Vera.
Sebenarnya dokter Hendri merasa risih karna Davvien berdiri di antara dia dan pasien nya, dokter Hendri tidak bisa bebas gerak memeriksa Vera, cuma dia tidak berani mengatakan apapun.
"Seperti nya Nona Vera kurang istirahat, untuk saat ini belum ada yang di khawatir kan"
Jelas dokter Hendri.
"Bagaimana kamu bisa bilang tidak mengkhawatirkan dia pingsan dari tadi belum bangun sampai sekarang, aku melihat dia pingsan di bawah tangga aku takut dia jatuh dari tangga, kau sebenarnya bisa memeriksa pasien mu atau tidak hah"
Bentak Davvien langsung menatap tajam pada dokter Hendri.
Ya Davvien mengira Vera jatuh dari tangga, padahal Vera pingsan saat sudah sampai di bawah.
Tanpa menjawab, dokter Hendri langsung memeriksa kepala Vera, tapi yang di rasa juga aman.
"Tidak ada luka tuan, mungkin tidak ada benturan, kita tunggu saat Nona Vera sadar karna kalau melihat nadi nya yang lemah dia hanya kurang istirahat dan terlalu banyak menguras emosi"
Davvien melepaskan tangan Vera langsung memegang kerah baju dokter Hendri.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa bekerja hah, kalau cuman kurang istirahat mana mungkin bisa pingsan begitu lihat wajah nya sudah pucat dia juga sangat lemah"
Davvien membentak dokter Hendri dia masih belum puas jika Hendri bilang Vera hanya kurang istirahat karna dia juga tidak tidur semalam tapi dia baik baik saja hari ini.
Fero yang melihat tidak berani melerai kan nya, takut nanti dia yang akan jadi sasaran berikutnya.
"Di sini yang dokter nya siapa"
Teriak dokter Hendri, dia benar benar kesal dengan Davvien, sudah menyuruh nya datang dalam 10 menit saat dia memeriksa istrinya malah tidak percaya.
"Kau berani berteriak pada ku Hendri"
Davvien hendak menonjok wajah dokter Hendri, tapi tangan nya terhenti saat mendengar Vera bergumam.
"Mama...jangan tinggalkan Vera ma, kakak aku ikut kalian....Daddy aku takut hiks..hiks.."
Saat sadar Vera langsung duduk dan berbicara dengan lirih masih seperti semalam memanggil nama yang di sayangi nya.
Davvien yang melihat langsung menghampiri Vera menggenggam tangan Vera.
"Sayang kamu sudah sadar, kamu kenapa katakan pada ku apa yang terjadi mana yang sakit"
Davvien langsung bertanya pada Vera, sedangkan Vera terus mengulangi kalimat tersebut dengan tatapan nya yang masih kosong.
Melihat keadaan Vera seperti itu tanpa rasa canggung atau gengsi di hadapan Fero dan Dokter Hendri Davvien langsung membawa Vera dalam dekapan nya, Davvien sungguh merasa kasian pada Vera, hatinya bagikan tercubit melihat wanitanya seperti itu.
"Mama.....kakak, Daddy aku takut hiks...hiks..."
Vera masih menangis dalam dekapan Davvien.
"Vera hey, coba lihat aku ada di sini bersama mu jangan takut lagi ya"
Davvien mencium puncak kepala berusaha menenangkan Vera, dia benar benar khawatir dengan keadaan istrinya sekarang.
Ntah karna khawatir Davvien tidak merasa canggung memperlakukan Vera seperti itu, padahal ini kali pertama dia berdekatan dengan Vera.
Saat di rasa perlakuan hangat dari suaminya Vera mendongakkan kepala melihat orang yang sedang memeluk nya.
Bukan nya melepaskan Vera malah memeluk erat Davvien lalu menangis di dada suaminya yang bidang itu.
"hiks..hiks...jangan tinggalkan aku tuan jangan tinggalkan aku sendiri aku takut hiks.....mama Daddy kakak"
Meski Vera sadar yang memeluk nya sekarang adalah suami nya tapi nama keluarga nya masih keluar dari bibir yang masih pucat itu.
"Tidak akan, aku tidak akan meninggalkan mu, aku janji"
Davvien kembali mengecup kepala Vera.
"Kamu di periksa dokter dulu ya"
"Tapi jangan tinggalkan aku, tetap di samping ku"
"Iya aku akan tatap di samping mu"
Sesuai keinginan Vera Davvien duduk di samping Vera, mengelus lembut kepala Vera yang sudah terbaring, tangan satunya lagi menggenggam tangan Vera dokter Hendri kembali memeriksa keadaan Vera.
Saat hendak menjelaskan tentang keadaan Vera, Davvien memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk nya di bibirnya sendiri karna melihat Vera sudah memejamkan mata nya, dokter Hendri paham kalau Davvien berusaha bilang jangan berisik nanti saja katakan nya, kira kira begitu lah pemahaman dokter Hendri.
__ADS_1
Dan dia pun mengangguk lalu keluar dari kamar Davvien di ikuti oleh Fero.
~Bersambung