
Lanjut aja ya...
Pagi hari... seperti yang di ucapkan Fero saat di rumah Intan, dan pagi ini dia kembali ke rumah wanita yang kerap kali dia katai, untuk menjemput nya.
Intan yang baru keluar langsung terbelalak melihat pemandangan yang ada di depannya.
Sekejap Intan terpesona dengan karisma lelaki yang berdiri dengan bersandar di mobilnya, memasukkan tangannya ke dalam saku kelan, kacamata bertengger tepat di hidung nya.
Intan tidak mau perduli, dia ingin membuka pintu mobilnya, Fero yang melihat nya langsung berdiri tegap lalu membuka kaca matanya.
"Apa kau tidak ingin lulus kuliah tahun ini?" Tanya Fero dengan nada dingin.
Tangan Intan yang sudah menyentuh pintu mobil haris di tarik kembali.
"Mau anda apa tuan, saya tau anda adalah orang hebat, anda bisa melakukan apapun, tapi jangan menindas orang yang tidak berdaya seperti saya" Teriak Intan yang sudah merasa sangat kesal.
Memang benar, karna Fero menjadi tangan kanan Davvien, maka dia juga sangat di hormati, semua bisa di lakukan Fero, terkecuali melawan bos sinting nya.
"Coba kamu turuti perkataan saya, pasti kamu tidak merasa tertindas" Jawab Fero santai, dia pun langsung masuk ke dalam mobil.
Intan masih berdiri dengan tatapan marah dia berikan pada Fero.
Tiiiittt
Suara klakson mobil Fero karna Intan tidak bergeming, dengan menghentak kan kaki Intan melangkah masuk ke dalam mobil Fero.
"Kenapa anda seperti bunglon tuan?" Tanya Intan dengan nada kesal, Fero hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Bunglon?"
"Iya bunglon, selalu berubah-berubah kadang baik kadang ngeselin"
"Terus masalah nya dengan mu?" Tanya balik Fero dengan begitu santai.
Intan mengerutkan keningnya mendengar perkataan Fero.
"Ihhhhhhhhh".
Intan menggenggam kedua tangan nya mengangkat setinggi kepala sambil berteriak kecil meluap kan rasa kesal nya pada Fero.
Setelah mengantar Intan, Fero pun melajukan mobilnya menuju kantor, dia merasa sangat capek karna Davvien masih belum masuk kantor, Davvien hanya melakukan pekerjaan di rumah nya.
...----------------...
"Sayang, besok aku masuk kuliah lagi ya" Pinta Vera yang sedang berada di pangkuan Davvien.
"Tapi kamu baru sembuh"
"Aku udah nggak apa apa, lagian kamu juga harus masuk kerja, kan kasihan kak Fero ngurus kerjaan sendirian di kantor"
"Aku juga bekerja dari sini sayang"
"Iya kan tetap saja kak Fero yang lebih berperan"
"Aku membayar nya untuk bekerja" Nada suara Davvien sudah mulai ketus.
Vera yang tau pun langsung mencium pipi Davvien.
"Pokok nya aku besok mau masuk kuliah"
"Heummm baik lah, tapi mulai sekarang aku yang akan mengantar jemput mu" Davvien mengeratkan pelukannya.
"Ah sayang, kamu kok baik banget sih... kan aku jadi enak" Vera langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Davvien.
"Sayang, kamu bosan nggak?" Vera mendongak kepala nya menatap sang suami yang berjarak hanya beberapa senti.
"Aku tidak akan pernah bosan untuk selalu berada di samping mu"
__ADS_1
"Ih... udah pandai gombal ya Tuan Davvien yang kaku dan dingin ini" Vera merasa gemes, dia menarik-narik pipi Davvien.
"Sayang, sakit"
"Ya sudah, ikut aku yok... akan ku tunjukkan sesuatu" Vera bangun langsung menarik tangan Davvien.
"Sayang mau kemana sih"
"Udah diam aja kenapa"
Vera terus menarik tangan Davvien, hingga mereka sampai di sebuah ruangan.
Vera membuka ruangan tersebut, Davvien tampak tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Sayang, apa ini ruangan Daddy?" Tanya Davvien masih meneliti seluruh isi ruangan.
Vera menggeleng kan kepalanya.
"Ini Daddy buatkan untuk ku"
"Apa?"
"Sudah nggak usah kaget begitu, kan kamu tau aku ini bisa bela diri"
"Iya dan aku semakin yakin jika kamu juga sangat pandai dalam hal itu" Puji Davvien pada Vera.
"Tentu, Daddy melatih ku menjadi anak yang tangguh, dia bahkan menyewa guru-guru bela diri untuk ku"
Vera menjelaskan sambil membidik anak panah pada sasaran nya.
Mereka sekarang memang berada di dalam ruang latihan Vera, meskipun tidak sebesar ruangan latihan Davvien, namun di sana juga nggak kalah hebatnya, hampir semua jenis senjata terdapat dalam ruangan tersebut.
"Aku yakin, Daddy punya maksud tertentu menjadi kan dirimu kuat seperti ini"
Ucap Davvien sambil memegang AK-47 singkatan dari (Avtomat kalashnikova 1947).
"Kau tau sayang, kamu sangat sempurna untuk ku... jika melihat mu dari luar, dirimu hanya seorang wanita lemah yang tidak mengerti apapun, tapi ternyata kau adalah wanita tangguh, wanita yang sangat hebat, kamu bisa segalanya, memasak, belajar, bisa bela diri, kamu juga sangat pandai memberikan goyangan hot kepada suami mu di atas ranjang" Itu lah akhir dari Kalimat Davvien.
"Dasar, pikiran sama mulut emang nggak pernah jauh dari kata mesum"
"Mesum sama istri sendiri nggak apa apa lah"
"Ya sudah, kamu cobalah... aku tau kamu sudah lama tidak berlatih"
Vera duduk di kursi yang ada di sana, Davvien pun sudah ancang-ancang membidik kan peluru pada tempat sasaran nya.
Dorrr
Davvien tersenyum melihat sasaran nya tidak meleset sedikit pun.
"Masih sama seperti dulu" Gumam Davvien yang melihat ke arah Vera.
Namun siapa sangka, latihan mereka mengundang kegaduhan Mama Rina dan juga Frans.
Mereka sangat kaget saat mendengar suara tembakan begitu dekat dengan mereka.
Frans yang sudah membuka semua pakaian nya karna ingin mandi, kini hanya tinggal bokser langsung keluar dari dalam kamar, dia menuruni tangga saat melihat sang mama sudah berdiri di tengah ruangan tamu, Tn.Diwan sudah berangkat kerja.
"Ma, mama tidak apa apa?" Tanya Frans begitu khawatir, dia tidak menyadari dengan penampilan nya saat ini.
"Tidak nak, mama tidak kenapa-kenapa, adik kamu kemana Frans"
Mendengar kata adik, Frans kembali menaiki tangga, dia berlari ke kamar Vera dan Davvien, tapi dia lihat nya kamar itu kosong.
"Mereka tidak ada di kamar nya Mah" Kata Frans saat dia kembali pada mama nya.
__ADS_1
"Ya Allah... ada apa lagi ini"
Para pelayan juga sudah ada di sana melihat kepanikan majikan merek, mereka bertambah panik saat melihat penampilan Frans, pelayan di sana pun langsung menunduk kan kepalanya.
Mereka tentu tau yang terdengar adalah suara dari tembakan ruangan nona muda mereka belajar, Namun mereka tidak berani angkat bicara.
Dor....
Saat mendengar itu, Mama dan Frans langsung berlari mendekati arah suara.
Saat sudah dekat mama Rina langsung bergetar, pikiran negatif mulai hinggap di kepalanya, dia takut kembali kehilangan putrinya.
Brak...
Pintu ruangan di buka oleh Frans, dan melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka, dimana Vera duduk dengan santai sambil melihat Davvien menembak.
"Sayang" Panggil Mama Rina.
"Eh Mama"
"Kamu tidak apa apa nak?"
"Tidak ma, mas Davvien hanya mencoba senjata nya"
Frans yang baru masuk kepalanya di putar melihat isi ruangan yang tidak pernah dia masuk.
"Jadi ini tempat latihan?"
"Iya kak"
Frans hanya mengangguk-angguk kepala, sambil tangan berada di dagu nya.
Vera menganga melihat penampilan sang kakak.
"Apa kau tidak punya baju dan celana?" Tanya Davvien melihat jijik ke arah Frans.
Sedangkan Frans langsung mengalihkan pandangannya pada tubuh nya.
Dia pun menutup mulut menggunakan tangan nya, dengan mata membulat sempurna.
Frans hanya cengengesan, dia pun langsung berlari dari dalam ruangan tersebut.
"Sayang kamu jangan capek-capek ya, Mama mau masal dulu"
Mama Rina merasa tenang karna putri nya baik-baik saja.
"Vera ikut Ma...'
Akhirnya mereka pun pergi keluar dari ruangan tersebut meninggal kan Davvien yang sepertinya masih tertarik dengan kegiatan nya.
...----------------...
Satu jam sudah lewat, Vera dan Mama Rina selesai dengan acara memasak nya, mereka juga sudah menata semua makanan di atas meja.
Bersamaan dengan Davvien yang sedang menuju mendekati sang istri.
Frans juga baru keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Ayo kita makan dulu"
Ajak Mama Rina, dia sudah menyuruh supir di sana untuk mengirimkan bekal makan siang untuk sang suami nya di kantor.
Mereka langsung duduk, bertepatan dengan e
dua manusia yang masuk setelah bibi menyuruh mereka untuk melangkah masuk.
Semua pandangan orang yang ada di meja makan pun beralih pada tamu yabg baru masuk.
__ADS_1
"Baby"
~Bersambung