
Selesai mengambil darah Tn.Andre yang tak lain adalah ayah dari Davvien sendiri, kini ayah Syakir dan Syakira sudah di pindahkan ke dalam ruang rawat inap, dengan kualitas VIP yang di khususkan untuk pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut.
Aneh memang, mantan ketua mafia dan juga lelaki yang di juluki macan asia kini terbaring lemah dengan mata terpejam, tapi bagaimana pun Davvien tetaplah manusia, dan setiap manusia pasti memiliki titik kelemahan nya masing-masing, karna peran manusia hanya berusaha sedangkan yang menentukan tentu saja yang maha kuasa.
Vera yang sudah di tangani oleh dokter juga di pindahkan dalam ruangan rawat inap, wajah nya terlihat pucat, selang infus juga terpasang di tangan ibu dua anak ini, karna sedari tadi Vera belum makan sama sekali.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Vera menggeliat, saat pertama kali membuka matanya, pemandangan yang pertama dia lihat adalah kedua belahan jiwanya.
"Sayang, mana yang sakit?" tanya Mom Andin langsung heboh perihal keadaan menantu nya.
Vera hanya menggeleng, lalu dia menatap Syakir dan Syakira yang berada dalam gendongan Intan dan juga Mom Andin yang juga menatap pada Vera, dan kedua anaknya pun langsung menangis, seolah tau apa yang di rasakan kedua orang tuanya.
Vera meraih Syakir untuk menyusui dan bergantian dengan Syakira. Vera mencium pipi gembul ke dua anak nya tersebut.
"Doakan Papa Nak, agar Papa cepat sembuh!" batin Vera lagi-lagi meneteskan air mata mengingat keadaan suami tercinta nya itu yang belum diketahui tentang keadaan nya itu.
Selesai menenangkan kedua anaknya, Vera memberikan kepada Intan dan juga bi Aini, agar ke dua anak nya di tidurkan di rumah.
"Mom! dimana mas Davvien, bagaimana kabar nya?" tanya Vera, sungguh hati nya belum merasa tenang.
"Dia sudah melewati masa kritisnya Nak, tapi Dokter juga tidak bisa memprediksi kapan dia akan sadar!" jelas Ny.Andin pada menantu kesayangan nya itu.
"Aku mau lihat keadaan Mas Davvien Mom!" pinta Vera, namun sang mertua langsung menghalangi dirinya.
"Lebih baik kamu makan dulu sayang, dari tadi siang kamu belum makan apa-apa, Dokter bilang kamu terlalu banyak membuang tenaga!" ucap Ny.Andin.
"Tapi Mom!"
"Jika kamu sakit, siapa yang akan merawat Davvien!" timpal Ny.Andin memotong ucapan Vera.
Mendengar itu, Vera akhirnya menurut, Ny.Andin langsung menyuapi Vera, dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Oh ya Mom, bagaimana keadaan Mama dan Daddy?" tanya Vera yang juga belum tau kabar kedua orang tuanya.
"Mama dan Papa mu masih di rawat nak, mereka juga sangat lemah, ada luka yang harus di sembuhkan di wajah mereka!" terang Ny.Andin tanpa ada yang dia tutup-tutupi.
Vera merasa bersyukur, setidaknya kedua orangtuanya selamat dan tidak ada luka yang serius.
"Mom, Vera sudah kenyang, sekarang Vera mau menemui Mas Davvien Mom!" pinta Vera, tampa menunggu mertua nya menjawab, Vera langsung menarik selain infus dari tangan nya.
"Sayang, kenapa kamu lepaskan infusnya Nak!" tegur Ny.Andin.
"Vera tidak apa-apa lagi Mom, sekarang Vera mohon, antar Vera ke ruangan mas Davvien!" ujar Vera dengan wajah memohon.
Ny.Andin tidak bisa melarang nya lagi, dia pun membantu Vera turun dan berjalan ke dalam ruangan anak lelakinya itu.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka, terlihat Fero dan juga Tn.Andre yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Kak, sebaiknya Kakak pulang dulu, kasian Intan. Dia pasti sedang memikirkan Kakak!" ucap Vera pada lelaki yang sudah dia anggap kakak sedari dulu.
Fero sempat berfikir, lalu diapun mengangguk setuju.
"Kabari aku jika ada apa-apa!" tukas Fero yang mendapat anggukan dari Vera.
Setelah itupun, Fero langsung keluar dari ruangan tempat Davvien di rawat, Vera melihat ke arah mertuanya yang juga melihat ke arah nya.
"Daddy!" panggil Vera.
Tn.Andre berjalan mendekati menantu nya yang sudah kembali menangis.
"Maafkan Vera Dad, gara-gara Vera mas Davvien jadi seperti ini!" ungkap Vera.
__ADS_1
Tn.Andre langsung memeluk Vera " Ini bukan salah mu Nak, sudah seharusnya dia bertanggung jawab dan melindungi mu!" jawab Tn.Andre.
Setelah melepaskan pelukan nya, kedua mertuanya pun pamit keluar untuk melihat kondisi kedua orang tua Vera.
Kini hanya tinggal Vera dan juga suami yang sangat dicintainya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Perlahan ibu dari bayi kembar ini berjalan mendekati ranjang pasien, air mata nya seolah lolos begitu saja.
Dengan tangan gemetar Vera memegang tangan Davvien yang terlihat tidak berdaya, tangan yang selalu memanjakan dirinya, yang selalu memberi kehangatan, diapun mendaratkan kecupan begitu lama di kening sang suami.
"Mas...," panggil Vera yang mungkin tidak di dengar oleh Davvien.
"Bangun mas, kamu menyuruh ku berjanji agar aku tidak terluka dan tidak meninggalkan dirimu, tapi lihat kamu sekarang. Aku juga tidak mau kamu meninggalkan diriku Mas!" ujar Vera dengan suara bergetar.
"Aku, Syakir dan Syakira masih sangat membutuhkan kamu sayang!" lanjut nya lagi terus bergumam sendiri.
"Aku mohon Mas, bangun lah...!" Vera merebahkan kepala nya di atas ranjang dekat dengan tangan kekar sang suami.
Wajah nya masih terlihat pucat, tenaga nya memang belum pulih beneran, tanpa terasa pun Vera memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Jangan lupa dukungan nya para Reader ku ter❤️, dengan cara kalian kasih Like, Komen dan Vote ya!!!
__ADS_1