
Setelah mengantar makanan untuk sang suami, Vera dan Intan bergegas pulang, Vera takut kedua baby twins nya rewel, meski sudah meninggalkan ASI di rumah.
Davvien dan Fero melanjutkan pekerjaan mereka, keduanya kembali membahas masalah perusahaan Anggara yang sempat tertunda.
"Selidiki lebih lanjut Fero masalah ini, jika itu memang keluarga istriku, aku ingin tau, apa tujuan orang yang berencana mencelakai keluarga mertua ku, kenapa Dad Diwan tidak kembali memimpin perusahaan nya, malah berdiam diri di kota ini, dan mengapa bukan kakak nya Daddy yang memimpin perusahaan untuk sementara, ini malah asisten pribadi nya!" perintah Davvien.
"Baik tuan!" jawab Fero.
"Kenapa baru sekarang aku kepikiran ke sana, kenapa tidak sedari dulu menyelidiki apa yang menimpa keluarga istri ku!" gumam Davvien bertanya pada diri sendiri, namun Fero masih bisa mendengar dengan jelas.
"Karna kita tidak mengetahui tentang perusahaan ini, dan pun yang kita ketahui, itu murni kecelakaan!" tukas Fero agar Davvien tidak merasa dirinya tidak bertanggung jawab atau gagal menjadi suami dan menantu yang baik.
"Hemmm... benar juga!" jawab ayah dua anak ini lagi.
"Lalu, kapan kita akan mengirimkan permintaan kerja sama dengan perusahaan itu?" tanya Fero.
"Tunggu setelah aku adakan syukuran dan akikahan untuk ke dua anak ku dulu, hari ke tujuh kelahiran mereka aku akan mengadakan acara tersebut!" jelas Davvien, Fero pun mengangguk mengerti, calon ayah dari janin yang di kandung Intan pun pamit untuk kembali ke ruangan nya.
...----------------...
Malam tiba, mengganti kan langit cerah dengan gelap nya langit malam, seseorang sedang mengaduk kopi yang ada dalam cangkir berwarna putih, dia lah Rina yang sedang memikirkan ancaman yang di berikan oleh penelpon tadi pagi.
Rina sengaja belum menceritakan kepada sang suami, karna dia menunggu waktu yang tepat, setidaknya membiarkan ayah dari anak-anak nya beristirahat terlebih dahulu.
Tn.Diwan sedang duduk di sofa ruangan keluarga, Frans berada dalam kamarnya, Rina membawa cangkir yang berisi kopi yang dia buat untuk sang suami.
"Ini kopinya, Pa!" ujar Rina meletakkan tepat di hadapan suami.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan si kembar Ma? rasanya aku sangat ingin menggendong mereka!" ujar Tn.Diwan.
"Mereka sehat Pa, mereka bahkan tidak menangis saat tadi Vera pergi mengantarkan makan siang untuk Davvien!" jawab Rina, tangan nya ter ulur dan memegang kedua pundak lelaki yang sempat berpisah dengan nya bertahun-tahun, lalu memijitnya dengan begitu lembut.
"Terimakasih Ma!" ucap lelaki paruh baya itu.
"Pa, Mama boleh bertanya tidak?" tukas Rina memulai pembicaraan lagi.
"Mau tanya apa Ma?" tanya Tn.Diwan dengan mata terpejam karna ke enakan dari pijitan yang di berikan oleh istrinya.
"Kenapa perusahaan Papa tidak Papa serahkan saja sama Roy, biar kita bisa hidup bebas, tidak selalu merasa terancam dan tertekan!" Tn.Diwan langsung menoleh kepada sang istri, dia baru sadar jika Rina kelihatan khawatir dan ketakutan.
"Memang nya kenapa Ma?" alih-alih menjawab, Tn.Diwan malah balik bertanya.
Rina mengehentikan pijitan di pundak sang suami, lalu dia menggenggam ke dua tangan di atas pangkuan nya.
"Katakan Ma, apa ada seorang yang mengancam mu?" tanya Tn.Diwan, ayah dari Vera dan Frans ini sudah bisa menebak dengan keadaan sang istri.
"Ta-tadi pagi Roy menelpon ku, dia bilang akan mengambil apa yang menjadi hak nya, dan dia akan menghancurkan keluarga kita!" ucap Rina dengan ragu.
Diwan sedikit terkejut, namun dia memang sudah menduga ini akan terjadi.
"Berarti dia sudah tau kalau kita semua selamat!" gumam Tn.Diwan.
"Kenapa nggak kamu kasih saja perusahaan itu untuk nya!" tanya Rina dengan begitu serius.
"Dan jika dia meminta dirimu, maka aku juga harus memberikan nya?" pertanyaan sang suami tentu membuat Rina bungkam.
__ADS_1
Dia ingat saat Roy melamar dirinya, tapi dia sudah menjalin hubungan dengan Reyan waktu itu, hingga menimbulkan kecemburuan yang besar dalam diri Roy sehingga membuat kakak dari Reyan ini menjadi gelap mata, Roy bahkan pernah mencoba melecehkan Rina saat Rina sudah berstatus sebagai istri Reyan, untung nya Reyan datang pada waktu yang tepat, dan kemarahan Roy semakin bertambah saat sang ayah memberikan perusahaan utama kepada Rey, sedangkan dia hanya mengurus anak cabang perusahaan tersebut. Dia yang menjadi kakak, tapi malah sang adik yang mendapatkan nya.
"Aku tidak bisa memberikan perusahaan kepada nya, itu karna amanah Papa, jika perusahaan itu jatuh kepada nya, apa yang akan terjadi, karna dia adalah seorang penjudi dan sering mabuk, cabang perusahaan saja dari data yang Tomi kirim sudah beberapa kali mengalami kerugian!" jelas Tn.Diwan, dia merasa frustasi mengurus kakak lelakinya itu.
"Lalu kenapa dia tidak membunuh Tomi seperti yang dia lakukan pada kita?" tanya Rina lagi.
"Dia tidak bisa membunuh Tomi karna semua rahasia, kunci, dan surat penguasa harta Papa ada pada nya, dan pun aku sudah membuat surat wasiat, jika Tomi meninggal atau berhenti dari pekerjaan nya, maka kantor itu akan di serahkan pada hukum dan panti asuhan, tentu itu akan lebih membuat nya susah untuk menguasai semua nya, dia tidak bisa mengancam Tomi untuk mengubah isi wasiat ku, karna Tomi tidak bersangkutan apapun, sebab itu murni dari tangan dan tanda tangan ku!" jelas Tn.Diwan lagi membuat Rina mengerti.
"Terus kenapa dia malah membunuh kita, padahal dia tetap tidak akan mendapatkan apapun?"
"Karna dia...!
.
.
.
.
.
.
~Bersambung
...Jangan lupa like, komen dan Vote nya ya Reader ku tersayang....
__ADS_1
...Sehat selalu untuk kalian, salam sayang ku. Dibalas yaðŸ¤....