
Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian malam itu, Davvien kembali seperti dulu yang diam juga dingin, tapi kali ini berbeda karna Davvien selalu memperhatikan Vera, apapun yang di lakukan dan dimana pun Vera tidak pernah luput dari pantauan Davvien.
Tapi Davvien masih belum bicara pada Vera, meski sudah banyak upaya yang Vera lakukan, Vera yang memang terkesan banyak akal dan tidak gampang menyerah setiap harinya punya cara sendiri untuk membuat Davvien bicara pada nya, sungguh dia tersiksa bila Davvien bersikap diam padanya.
Banyak usaha Vera yang tidak di hiraukan oleh Davvien, seperti setiap pagi di mana mana selalu terdapat sepucuk kertas kecil yang bertuliskan kata yang berbeda di setiap kertas, seperti kata maaf, meminta Davvien bicara, tapi usaha nya galtot alias gagal total, Vera sudah merasa menyerah, bahkan Davvien beberapa hari ini pulang larut malam dan berangkat kantor begitu pagi, kadang juga tidak pulang.
Sedangkan Davvien sangat tersanjung dengan perlakuan Vera, dia sudah memaafkan Vera tapi Davvien berfikir tidak ingin egois dia ingin memberi kan ketenangan begi Vera, memberikan waktu untuk Vera berfikir dan menata hatinya kembali, supaya Vera bisa lebih mantap dalam memilih, Davvien ingin melihat apa Vera benar benar ingin hidup bersama nya.
Pagi ini Davvien mengambil kertas di samping piring makanan nya.
"Tuan pulang jam berapa, aku akan memasak banyak untuk makan malam nanti"
Davvien tersenyum membaca kata dari kertas itu, tak lupa dia menyimpan nya, semua kertas yang di tuliskan oleh Vera di simpan baik oleh Davvien.
Davvien melihat Vera datang ke meja makan, dia buru buru menghabiskan makanan nya, lalu bangkit dan berjalan tapi tiba-tiba Vera menarik tangan Davvien.
"Kapan tuan akan memaafkan aku dan berbicara pada ku, aku sungguh tidak bisa bila tuan mendiamkan aku begini"
Ucap Vera penuh harap, tapi Davvien sama sekali tidak menatap pada Vera.
"Lebih baik kau tanyakan pada hatimu kapan dia akan menerima ku, jangan ganggu aku, sekarang aku hanya ingin ketenangan bila tidak ada yang perlu jangan katakan apapun"
Davvien melepaskan tangan Vera, dia langsung melangkah pergi meninggalkan Vera dengan berbagai rasa, ya sakit tentunya, Vera mematung melihat kepergian Davvien, hatinya sungguh sangat terluka mendengar perkataan Davvien.
"Ya Allah kapan kah semua cobaan akan berakhir apa kah aku dengan nya memang tidak akan pernah bisa bersatu"
Vera sudah merasa jenuh, di awal pernikahan nya saja sudah begitu banyak cobaan.
Tanpa sarapan Vera langsung melangkah keluar rumah, dia pun langsung masuk ke dalam mobil yang sudah ada pak Toni di dalam nya.
__ADS_1
...----------------...
Di kantor...
"Irfan menghubungi ku, dia bilang tuan Fernando sudah ada di sana dan sekarang berada di markasnya"
Jelas Fero pada Davvien, sedangkan yang mendengar langsung bangun.
"Kita berangkat sekarang, dan melakukan penyerangan beritahu Irfan untuk menyiapkan segalanya, bawa sebagian anak buah nya dan yang lain tetap menjaga ke keamanan rumah.
"Baik"
Mereka pun melangkah keluar, Fero membukakan pintu mobil untuk Davvien, setelah nya mereka langsung meninggalkan kantor pencakar langit berlogo WILMAR GRUP yang di pimpin oleh Davvien.
Dalam mobil Davvien diam menatap ke depan, pikiran nya tertuju pada Vera, dia tidak tega saat melihat istrinya meminta maaf, ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Vera jadi Davvien tidak akan mendiamkan Vera lagi, sebenarnya dia juga tersiksa bila tidak bicara pada Vera tapi apa mau di kata bila ego sudah memimpin.
"Biarkan saja dia dulu, setelah pulang dari sini aku akan mengatakan kalau aku sudah memaafkan nya, dan aku akan mengungkapkan perasaan ku, padahal aku yang memberikan nya waktu untuk berfikir kenapa malah aku yang semakin yakin dan mencintainya"
Davvien sudah sampai di kota D dia sekarang berada di hotel, manager hotel dan semua pelayan di sana sangat tunduk pada Davvien, karna Davvien adalah pemegang saham terbesar di hotel tersebut.
"Fero, suruh Irfan bersiap siap kita akan menyerang mereka malam ini"
"Heummm iya"
Fero ingin melangkah keluar, tapi dia menghentikan langkah nya.
"Oh ya apa kau sudah memberitahu pada Vera kalau kau kesini, nanti dia khawatir"
"Tidak, lagian beberapa hari ini aku memang jarang pulang ke rumah, dia sudah memaklumi nya, lagi pula besok pagi kita akan kembali"
__ADS_1
"Heumm terserah lah, aku bingung dengan sikap mu yang mendiamkan nya, padahal kamu harus merebut hatinya sekarang bukan malah mengacuhkan nya seperti ini"
"Heum,,,,,,iya, pulang dari sini aku akan mengungkapkan semuanya, terserah dia mencintai ku apa tidak yang namun dia harus tetap bersama ku"
"Bagus lah, tapi kalau dia tidak memilih kalian berdua malah memilih ku, ya aku terpaksa akan menerima kau tau kan selama kau mengacuhkan nya aku yang selalu ada memberi kan perhatian, meski itu dari mu"
Goda Fero, sudah lama dia tidak lagi bercanda dengan Davvien pikir Fero.
"Fero"
Panggil Davvien santai, dia sudah berada di dekat Fero.
"Iya"
Bughhhh
Yap, satu bogem mentah mendarat tepat di wajah nya.
"jangan pernah bermain-main dengan sesuatu yang sudah menjadi milik ku Fero"
"Ya ampun Vien,,, aku hanya bercanda dan kamu malah beneran memukul wajah ku yang tampan ini, mana mungkin aku mengambil Vera dari mu"
Ucap Fero kesal sambil memegang wajah nya yang sedikit memar, salah nya juga berani memancing emosi Davvien.
Davvien hanya cuek, merebahkan dirinya di atas tempat tidur, dia mengambil handphone nya, melihat kontak Vera, tapi Davvien sengaja tidak menghubungi Vera karna besok dia akan mengungkapkan semuanya.
~Bersambung
Seperti biasa, maaf bila alurnya bertele-tele dan tidak sesuai dengan keinginan kalian.
__ADS_1
Like, komen dan Vote sangat aku butuhkan.