Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Dua Minggu lagi.


__ADS_3

Malam yang sangat di nanti-nanti kan oleh Fero pun tiba, kini mereka sudah berdiri tepat di hadapan rumah Intan.


Fero terlihat sangat tampan dan juga cool dengan stelan jas berwarna biru dongker senada dengan celana yang melekat pas di tubuh atletis nya.


Setelah menekan bel yang berada di dekat pintu mansion Intan, tak berapa lama, daun pintu itupun di buka, dan keluar lah kedua orang tua Intan yang tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Assalamualaikum... selamat malam!" ujar Ny.Andin dengan senyuman merekah di bibirnya.


"Waalaikum salam.. mari silahkan masuk!" jawab mama Ratna dengan senyuman yang juga tidak kalah lebarnya menyambut kedatangan calon besan nya.


Tn.Andre, Ny.Andin, kakek dan Fero pun masuk ke dalam rumah, mereka berempat pun di persilahkan duduk.


Fero melonggarkan dasinya karna merasa tercekik, ntah karna gugup. Fero merasa seperti pertama kali mendatangi rumah Intan, sedari tadi dirinya hanya diam dengan mata yang sibuk melirik ke sana kemari, ntah apa yang dia cari.


"Silahkan di minum kopi sama tehnya!" dengan begitu ramah, mama nya Intan menyuruh mereka untuk menyicipi minuman dengan beberapa cemilan yang di bawakan pelayan.


"Terimakasih!" ujar Ny.Andin sambil mengambil cangkir teh di hadapan mereka dan meminum nya.


Tn.Andre dan papa Intan terlihat dekat, mereka sudah saling kenal setelah Fero melamar Intan saat mereka wisuda.


Mereka tampak bercengkrama membahas mulai dari pekerjaan, hingga pada maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Intan.


"Hekhem! sebelum saya mengatakan maksud kedatangan kami kesini, boleh kah kami melihat putri anda Intan?" tanya Tn.Andre sambil tersenyum.


Sambil tersenyum juga, Mama Intan menjawab "Boleh Tuan, sebentar ya saya panggilkan dulu!" Mama Intan langsung bangun dan melangkah menaiki tangga agar bisa sampai ke kamar putri tercinta nya.


Fero semakin gugup, jantung nya semakin berdetak dengan cepat, Ratna memanggil calon istri nya.


Tidak jauh beda dengan Fero, di dalam kamar Intan juga merasa sangat gugup, dia terus meremas jemarinya menyalurkan rasa gerogi pada dirinya.


Intan menggunakan dress di bawah lutut berlengan pendek berwarna moccha, gaya rambut curly, Intan di rias menjadi sangat cantik.


Intan terus saja mondar-mandir di dalam kamar, perasaan nya benar-benar sangat gugup, hingga suara ketukan pintu menghentikan nya, dia pun melangkah mendekati pintu.


Intan memutar handle pintu dan membuka kan daun pintu tersebut, terlihat lah sang Mama sedang menatap nya dengan begitu takjub.


"Anak Mama cantik banget!" puji Ratna kepada sang putri.


"Ah Mama, ngapain Mama kesini?" tanya Intan yang sudah gelagapan.

__ADS_1


"Mau jemput kamulah, kok nanyanya gitu sama orang tua!" Ratna langsung memukul lengan sang putri.


"Aduh Mama kok anak nya di pukul sih!" protes Intan.


"Sudah jangan manja, ayo turun! calon suami dan mertua mu sudah menunggu di bawah!"


Deg...!!!!!


"Intan harus keluar Mah?" tanya Intan lagi yang merasa jantung nya semakin berdegup saat sang mama mengatakan calon suami dan menantu.


"Ya iyalah, kamu kan tunangan nya Fero, emang siapa lagi!" Ratna merasa jengah dengan tingkah putri semata wayangnya itu.


"Tapi Ma! boleh nggak Intan tetap di sini?" tanya Intan.


"Ya nggak boleh dong Intan... mereka ingin melihat kamu! lagian untuk apa juga kamu berdandan jika kamu tidak keluar"


"Tapi Intan gugup Ma!" jujur Intan yang membuat Ratna tersebut.


"Itu memang hal biasa, sudah ayo! mereka sedang menunggu!" mama Intan langsung membawa sang putri menuruni tangga untuk bertemu dengan keluarga Fero.


Suara langkah Intan dan Ratna mengalihkan pandangan ke lima orang yang sedang duduk di sofa, Ny.Andin tersenyum saat melihat Intan begitu terlihat cantik.


"Awas, nanti matanya keluar loh!" goda Ny.Andin yang melihat putranya itu menatap Intan dengan begitu lekat.


Seolah tuli, Fero masih terus menatap Intan dengan penuh kekaguman.


"Hekhem, Fero! bisa kita mulai?" ucap Tn.Andre.


Fero langsung tersadar, dia merasa sangat malu karna semua mata tertuju pada dirinya, termasuk kakek yang duduk di sebelah nya.


"Jaga matamu itu, dia masih belum sah untuk mu Fero!" lanjut Tn.Andre menggoda Fero, sedangkan yang di goda hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya.


"Tapi dia benar-benar cantik, bahkan Kakek pun tak ingin berhenti memandangi nya!" bisik sang kakek yang membuat Fero melihat marah kepada kakek Farhan.


"Dia calon istri Fero Kek, kenapa Kakek masih ganjen meski sudah tua!" celetuk Fero yang tidak rela sang kakek melihat calon istri nya.


"Dasar cucu tidak berakhlak, berani-beraninya kamu mengatakan Kakek tua dan ganjen ya!" suara kakek Farhan akhirnya di dengar oleh mereka semua.


Tn.Andre yang ingin memulai katanya harus terhenti karna suara sang papa yang begitu lantang, kakek Farhan baru sadar jika semua mata tertuju pada dirinya.

__ADS_1


"Maaf, maaf! silahkan dilanjutkan" ucapnya sambil tercingir. Fero hanya menertawakan sang kakek.


"Jadi, tujuan kami kesini adalah untuk membahas tentang hubungan anak-anak kita!" ucap Tn.Andre, meski ada Kakek yang lebih tua, tapi kakek Farhan menyerahkan kepada anak dan menantunya.


"Seperti yang kita tau, bahwa putra dan putri kita sudah saling mencintai, dan mereka juga sudah bertunangan, jadi menurut kami, alangkah baiknya hubungan mereka kita resmikan dengan hubungan yang halah, karna lebih cepat lebih baik" lanjut Tn.Andre.


"Ya kalau saya setuju-setuju saja, mau di kata apa jika mereka sudah saling mencintai, lagian untuk apa juga bertunangan lama-lama, nanti malah timbul fitnah jika mereka sering pergi bersama!" jawab papa Intan yang sepakat dengan usulan Tn.Andre.


"Iya benar, bagaimana kalau pernikahan nya di langsungkan dua Minggu lagi?" kali ini kakek yang menjawab, dan itu sukses membuat Intan dan Fero terkejut.


Fero terkejut karna menurut nya menunggu dua Minggu lagi sangatlah lama, sedangkan Intan terkejut karna merasa begitu cepat.


"Kek, apa tidak bisa di percepat lagi?" tanya Fero tanpa rasa malu. Intan langsung terbelalak mendengar pertanyaan Fero.


"Dua Minggu saja sudah sangat cepat bagiku, dan dia malah ingin mempercepat nya lagi, dasar!" batin Intan menjerit.


"Ini cucu tidak sabaran, kamu pikir tidak membutuhkan waktu untuk menyiapkan segalanya! lagian kita juga menunggu Davvien sama Vera pulang!" ujar sang kakek, yang lain hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Berarti sudah di putuskan, pernikahan mereka akan di langsung kan dua Minggu lagi" imbun Tn.Andre yang di angguki oleh semua orang.


"Intan, kamu setuju kan nak?" tanya Ny.Andin kepada calon menantu nya itu.


Intan hanya tersenyum dan mengangguk kecil, Fero sangat senang melihat Intan yang begitu malu-malu.


"Masalah baju pengantin bagaimana nak?" lanjut Ny.Andin karna dia tau Intan juga sama dengan menantu nya Vera yang kuliah di jurusan desainer.


"Intan akan usaha kan membuatnya sendiri Tante!" jawab Intan.


"Jangan panggil Tante lagi dong, panggil saja sama seperti Fero" lanjut Ny.Andin semakin membuat Intan malu.


"Iya saya akan membuat sendiri Mom" mereka semua nya tertawa karna Intan terdengar begitu kaku saat memanggil Ny.Andin dengan sebutan Mommy.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung.


__ADS_2