Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Vera pingsan


__ADS_3

Vera langsung diam tanpa bergeming setelah kaget akan suara petir yang begitu keras, dia taku benar benar takut, Vera terduduk di tempat tidur sambil memeluk lutut nya, bersandar pada sandaran tempat tidur, dia tidak berani bahkan hanya untuk mengambil ponselnya yang ada di meja dalam kamarnya.


Tatapan nya kosong, menatap ke depan hanya air mata yang terus keluar, kejadian 15 tahun lalu kembali melintas di ingatan Vera saat mobil yang di tumpangi nya meledak di hadapan nya dengan suara yang begitu memecahkan indra pendengaran, dengan Mommy dan kakak nya berada di dalam mobil tersebut.


"Mama jangan tinggalkan aku..."


"Kakak jangan tinggalkan aku"


Ucap Vera lirih, dia bahkan tidak mampu berteriak, suaranya terasa tertahan, Vera menangis bayangan itu sekarang berputar di ingatan nya, suara itu seakan terus terdengar di telinga Vera.


"Daddy, Vera Takut"


Ucap nya lirih, itu lah alasan Vera takut pada suara petir, karna selalu mengingat kan nya pada kejadian yang merenggut orang terkasih nya, biasanya Daddy nya selalu datang ke kamar Vera dan memeluknya pada saat hujan dan petir, tapi saat ini dia hanya sendiri, pak Toni yang berada di dalam kamar khusus sopir, sangat jauh dari kamar Vera.


Duarrrr,,,,


Kali ini Vera tidak lagi berteriak dia masih mematung dengan tatapan kosong, detak jantung Vera dua kali lebih cepat, air mata terus menerobos keluar.


----------------


Jam menunjukkan pukul 04:00 pagi, hujan sudah mereda sejak satu jam yang lalu, Vera tersadar saat mendengar azan berkumandang untuk membangun kan para manusia untuk menyembah sang khaliq.


Dia turun dan berjalan ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah itupun dia keluar langsung di raihnya mukena dan sajadah.


Di luar, sebuah mobil sport warna hitam memasuki pekarangan rumah, turun lah dua manusia dari kalangan kaum adam, mereka berjalan masuk ke dalam rumah.


Davvien sedari semalam juga tidak bisa tidur karna pikiran nya terus tertuju pada Vera, dia khawatir karna Vera hanya seorang diri di rumah nya, ingi menelpon tapi karna sikap ego dan gengsi nya Davvien mengurungkan niatnya, maka dari itu Davvien mengajak Fero pulang saat hujan sudah mereda.

__ADS_1


Bisa di bayangkan bagaimana kesal nya Fero, karna dia sedang asik bermain di dalam dunia mimpinya, kalian tau sendiri bagaimana nyenyak nya tidur pada saat hujan, tapi kenikmatan itu pupus karna sang tuan membangun kan nya dan mengajak nya pulang, dengan mata masih terasa berat Fero mengendarai mobil, untung tidak terjadi apa apa karna supir mengantuk.


Dia bergegas menuju tangga di susul Fero, karna hampir pagi Fero memilih untuk bersiap di rumah saja.


Davvien tidak langsung masuk kedalam kamar nya, tapi dia terlebih melangkah pada kamar Vera, Davvien membuka sedikit pintu kamar Vera yang ternyata tidak di kunci, saat berhasil menemukan yang dia cari, Davvien tertegun mendengar suara inda namun terdengar serak sedang mengaji.


Melihat Vera aman, Davvien menutup kembali pintu kamar Vera lalu dia pun melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Davvien merebahkan tubuhnya, rasanya matanya baru terasa mengantuk karna hatinya sudah tidak gelisah lagi.


----------------


Sedangkan Vera, setelah mengaji hatinya terasa sedikit tenang tapi tatapan nya masih kosong, dia keluar kamar berjalan sempoyong bagai orang kehilangan jiwa nya, semalam menangis dan menahan rasa takut.


Vera mencoba sekuat tenaga untuk turun lalu berjalan ke dapur, Vera pun mulai membuat kan sarapan pagi.


Vera merasa pusing juga lemas, namun dia tetap menyelesaikan pekerjaan nya.


Setelah selesai, Vera kembali menaiki tangga, dia ingin melihat apa Davvien sudah pulang.


Saat di buka kamar Davvien Vera melihat pemilik kamar sedang tertidur.


Vera masuk, dia menyiapkan segalanya, lalu membangun kan Davvien.


Kali ini Vera langsung membangun kan Davvien tanpa berfikir fikir lagi, dengan masih tatapan kosong nya dan badan yang lemas juga kepala semakin terasa sakit.


Davvien yang baru beberapa saat tertidur harus membuka matanya kembali saat Vera membangun kan nya, Davvien tidak marah tapi dia sengaja berpura pura marah agar bisa bicara dengan Vera.

__ADS_1


"Hey gadis gila, kenapa kau mengganggu ku, kau tau aku baru saja ti..."


Davvien menghentikan kalimat nya saat melihat keadaan Vera. terlihat lemas, lingkaran hitam di matanya menandakan bahwa dia tidak tidur semalam, tatapan nya pagi ini tidak seperti tatapan sebelum nya, mungkin dia ketakutan hingga tidak bisa tidur semalam, pikir Davvien.


Sungguh Davvien merasa bersalah juga kasihan melihat keadaan Vera pagi ini.


Tanpa berkata apa apa Vera langsung keluar kamar, dia kembali turun dengan kepala semakin berdenyut Vera menuruni satu persatu anak tangga, sebenarnya dia ingin kembali ke kamar lagi saat di rasa badan nya semakin lemah tapi dia sudah terlanjur turun setengah tangga, dengan memaksakan diri Vera terus berjalan, ketika sampai pada anak tangga yang terakhir Vera sudah tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya tubuhnya terasa oleng, dengan perlahan pun semua menjadi gelap.


Bhukkk


Vera jatuh pingsan di kaki tangga.


Setelah selesai mandi dan bersiap Davvien keluar, perasaan nya tidak enak sikap Vera sungguh beda pagi ini, biasa Vera akan berceloteh panjang lebar tapi hari ini dia hanya diam dengan tatapan kosong nya.


Davvien melangkah menuju kamar Vera tapi dia tidak menemukan apapun, dia pun berjalan ke arah tangga.


Setelah menuruni tiga anak tangga Davvien langsung melebarkan matanya melihat Vera yang tergeletak di atas lantai.


"Ya ampun Vera"


~Bersambung


Maaf bila alur nya tidak sesuai keinginan kalian.


Perlu saya ingatkan ini adalah cerita pertama saya, jadi bila terdapat kesalahan mohon di maklumi dan juga kritikan nya.


Author.membutuhkan dukungan kalian, terima kasih😘😘

__ADS_1


__ADS_2