Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Aku bukan suaminya.


__ADS_3

Di depan sebuah ruangan rumah sakit, terlihat seorang pria sedang duduk dengan menundukkan kepalanya, antara perasaan cemas dan juga bingung, dengan terus menatap lantai sambil menunggu dokter yang sedang memeriksa orang yang tadi pingsan tepat di depan mobil nya.


Dia adalah Riko, setelah kantor nya mengalami penurunan besar karna Davvien membatalkan kerja sama mereka, Riko harus ekstra bekerja untuk mengembalikan saham agar kembali seimbang.


Setiap hari Riko akan pulang malam, begitu pun dengan malam ini, dia pulang saat pekerjaan nya sudah siap, tanpa di duga dia akan bertemu dengan Lisa, bahkan dengan keadaan lIsa yang sangat menyedih kan.


Riko yang melihat darah yang mengalir di betis Lisa pun langsung membopong Lisa masuk ke dalam mobilnya, Riko langsung membawa Lisa ke rumah sakit terdekat, tetapi bukan di puskesmas tujuan Lisa.


Riko tampak berfikir, dia selalu pulang melewati jalan tersebut, tapi tidak pernah melihat keberadaan Lisa, tapi malam ini, dia hampir saja menabrak Lisa.


Tidak berapa lama, suara pintu ruangan pun terbuka, membuyarkan lamunan Riko.


"Keluarga dari Nona Lisa!" panggil dokter itu yang langsung mengalihkan pandangan lelaki tersebut.


"Iya saya Dok!" lelaki tersebut yang tak lain adalah Riko langsung bangkit dan mendekati sang dokter.


"Bagaimana keadaan nya Dok?" tanya Riko kepada dokter.


"Apa anda suami nya?" dokter tersebut balik bertanya kepada Riko.


"Bukan Dok, saya hanya teman nya!" jawab Riko.


"Heum baik lah, Nona Lisa hanya mengalami kontraksi, mungkin karna kelelahan, untung nya itu tidak bermasalah pada bayinya, usahakan supaya Nona Lisa istirahat yang cukup, dan jangan kecapean, apalagi ini adalah kehamilan pertama nya, jadi sangat rentan dengan keguguran!" jelas dokter dengan sangat detail kepada Riko.


"Apa itu akan berbahaya Dok?" tanya Riko lagi.


"Jika terus seperti ini, maka itu akan membahayakan bagi bayi dan juga Nona Lisa sendiri, saya harap anda bisa menjaga nya agar tidak kelelahan!" jawab dokter lagi, Riko hanya mengangguk, karna menurut nya yang berhak melakukan demikian adalah suami Lisa.


"Apa dia sudah sadar dok?" lanjut Riko bertanya.


"Saat ini Nona Lisa masih dalam keadaan pingsan, mungkin sebentar lagi dia akan sadar!"


"Boleh saya menemuinya?"


"Boleh silahkan, Kalau seperti itu saya permisi Tuan!" pamit dokter yang terlihat sudah lanjut usia.


"Baik Dok, terimakasih!" ucap Riko, dokter tersebut langsung melangkah meninggalkan Riko yang juga ingin melihat kondisi Lisa.


Riko membuka pintu ruangan tempat Lisa di rawat, terlihat lah wanita dengan perut yang membuncit terbaring tak sadarkan diri.


Riko mendekati ranjang pasien, dia pun menatap dengan intens wajah Lisa yang terlihat pucat.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Lisa, kenapa kamu jadi seperti ini!" lirih Riko yang kini sudah duduk di kursi samping Lisa.


"Jika kamu sudah mempunyai suami, lalu di mana dia, kenapa dia tidak mengantarmu ke rumah sakit, dia bahkan membiarkan mu jalan dengan kaki sendirian dalam keadaan sakit!" lanjut Riko yang merasa ganjal yang menyangkut dengan Lisa.


"Kamu dulu seorang yang ceria, tapi saat kita bertemu kemaren kamu menjadi pendiam!" Riko terus bergumam, dia menatap pakaian Lisa, dulu sekertaris nya itu seorang yang sangat menjaga fashion, tapi kini. Lisa hanya menggunakan daster dan juga sweater rajut.


Saat memandang wajah Lisa, tiba-tiba Riko melihat jari tangan Lisa bergerak, dan matanya mulai mengerjap.


Riko langsung tersenyum saat melihat Lisa membuka mata, dan itu sukses membuat Lisa terkejut.


"Ada apa dengan ku, kenapa aku berkhayal melihat tuan Riko!" batin Lisa yang langsung duduk saat melihat Riko di hadapan nya.


"Kenapa kamu bangun" ujar Riko yang juga bangun dari kursi dan memegang kedua pundak Lisa.


"Bahkan suaranya begitu nyata, dan sentuhan ini... apa ini beneran nyata, tapi dimana aku!" Lisa tidak mengindahkan perkataan Riko, dia melihat seisi ruangan saat matanya menangkap selang infus di tangan nya, Lisa baru sadar bahwa saat ini dia berada di rumah sakit.


Merasa belum percaya dengan apa yang dia lihat, Lisa menepuk-nepuk pipi menggunakan tangan nya.


Riko yang melihat itupun tersenyum, dan membuka suaranya kembali.


"Hei, kamu di rumah sakit saat ini... tadi kamu pingsan makanya aku bawa kamu kesini!" ujar Riko yang membuat Lisa semakin terkejut.


"Kenapa anda bisa membawa saya ke sini? bukan kah saya tadi..." tanya Lisa, yang dia ingat terakhir dirinya pingsan di tengah jalan.


"Kamu pingsan tepat di depan mobil saya, karna itu saya bawa kamu ke rumah sakit!" lanjut Riko.


"Terima kasih Tuan, dan maaf merepotkan anda!" ucap Lisa yang merasa tidak enak.


"Jangan pikirkan itu! oh iya, kenapa kamu bisa berada di sana sendirian?" Riko yang sedari tadi penasaran langsung bertanya kepada Lisa.


"Saya ingin pergi ke rumah sakit Tuan, tiba-tiba perut saya merasa keram!" jawab Lisa.


"Kenapa kamu sendiri.... di mana suami mu? dan dokter mengatakan jika kamu terlalu memaksakan diri untuk beraktivitas, memang nya suamimu tidak memperhatikan kesehatan mu?" tanya Riko beruntun kepada Lisa.


Sedangkan yang di tanya sudah merasa terpojok, pertanyaan Riko membuat hatinya tercubit, Lisa diam memikirkan jawaban yang tepat di berikan untuk Riko.


"Kenapa kamu diam?" celetuk Riko karna tidak mendapatkan jawaban.


"Suami saya sedang kerja Tuan, dia tidak ada di rumah!" jawab Lisa memberikan alasan.


"Bukan kah dia harus menjaga istri nya, apalagi saat kamu hamil muda, seharusnya dia lebih memprioritaskan kamu di saat kamu membutuhkan sesuatu, ya seperti malam ini!" Riko terus mengintimidasi Lisa, merasa tidak puas dengan jawaban yang di berikan mantan sekretaris nya itu.

__ADS_1


"Stop! anda tidak berhak mencampuri kehidupan rumah tangga saya, tolong tinggal kan saya Tuan, dan terima kasih sudah menolong dan membawa saya ke rumah sakit!" teriak Lisa yang begitu lantang.


Sedari tadi Lisa menahan rasa sakit, karna Riko membahas tentang suaminya, menurutnya Riko terlalu mencampuri urusan pribadi nya, tanpa Riko tau yang di bicarakan nya adalah dirinya sendiri.


Keluar sudah cairan bening dari sudut mata Lisa, dia memegang dadanya dan menyuruh Riko pergi.


"Kenapa kamu malah mengusir ku Lisa, memang ini yang aku mau lihat dari kamu, Kenapa kamu marah saat aku menanyakan suami mu, kenapa kamu mengelak jika aku membahas nya?" Riko pun sedikit berteriak membuat Lisa semakin tersudut kan.


"Saya mohon Tuan, tinggalkan saya sendiri!" dengan air mata yang berlinang, Lisa mengatupkan tangan nya di depan dada, dia memohon kepada Riko agar pergi dari hadapannya saat ini juga.


"Oke! saya akan pergi, tapi aku tetap menuntut jawaban dari mu tentang bayi ini!" tukas Riko dengan menekan kata di akhir kalimat.


Ntah mengapa Riko merasa jika Lisa menyembunyikan tentang kebenaran anak yang sedang dia kandung.


Setelah mengatakan itu, Riko langsung keluar dari ruangan Lisa.


Sedangkan Lisa sudah sangat gemetar, dia tidak akan pernah memberitahu kepada Riko tntang ayah dari bayi yang dia kandung, Lisa takut jika Riko akan mengambil anak itu dari nya, mengingat jika Riko tidak mencintai nya.


Lisa tidak akan membiarkan itu terjadi, dia harus mencari cara agar Riko tidak menemukan nya lagi.


Sedangkan Riko sudah sampai di parkiran, saat hendak membuka pintu mobil. Tiba-tiba ponselnya berdering.


Setelah melihat nama si penelpon, tanpa menunggu lama, Riko langsung menjawab panggilan tersebut.


"Katakan!" ucap nya dengan suara ketus.


Penelpon: "......"


"Apa!!!?"


Tut.......


.


.


.


.


.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2