
Mobil mempelai pria sudah memasuki parkiran hotel tempat di siapkan untuk acara ijab qabul sekaligus resepsi acara, Fero turun dengan begitu gagah nya di susul oleh Aldi, Riki bahkan Frans jadi pendamping Fero.
Mereka berjalan di depan, sedangkan keluarga mengikuti nya dari belakang semua bergandengan tangan, hanya kakek yang menggandeng tongkat nya.
Vera yang melihat nya langsung memegang tangan sang kakek dan berjalan masuk bersama-sama, Vera berada di tengah-tengah sang kakek dan Davvien suaminya.
"Kamu memang cucu menantu yang perhatian!" ucap kakek yang di balas senyuman oleh Vera.
Sedangkan Davvien melirik ke pada sang istri dengan tatapan keberatan.
"Kakek, makanya Davvien bilang menikah lagi... jadi nggak perlu istri Davvien yang menggandeng Kakek!" protes Davvien, merasa tidak rela berbagi istri nya dengan sang kakek.
"Ya Allah... Apa salah ku hingga engkau memberikan aku cucu-cucu yang tidak berakhlak ini!" kakek langsung membuat mimik wajah sedih, Vera yang melihat nya pun langsung melepaskan tangan nya dari Davvien.
"Kamu apaan sih nyuruh Kakek nikah lagi, Kakek tu ingin setia sama almarhum Nenek, emang nya kamu, jika aku tiada dalam dua hari pasti nikah lagi!" Vera merasa kesal pun langsung berjalan dengan cepat dengan tangan nya masih menggandeng Kakek Farhan, meninggalkan Davvien yang mematung mendengar perkataan sang istri.
Kakek melihat ke arah Davvien dan tersenyum sinis.
"Rasain kamu cucu sial*n, beraninya sih sama Kakek, kan jadi di tinggal!" batin kakek yang merasa menang dari cucu nya itu.
"Apa aku salah bicara ya!" gumam Davvien, lalu dia pun mengejar sang istri dan juga kakek.
__ADS_1
...----------------...
Tempat dimana di langsungkan acara telah di hias sedemikian rupa, bunga-bunga gantung, meja dan kursi tertata dengan rapi, meja ijab qabul juga sudah siap berserta pelaminan untuk pasangan Intan dan Fero.
"Sayang...! maafkan aku, jangan ngambek lagi ya...!" Davvien terus membujuk sang istri.
Vera masih bersikap ketus, hingga pandangan nya teralihkan pada pintu masuk, Vera pun tertegun melihat orang yang dulu pernah hinggap di hatinya kini melangkah masuk dengan menggandeng seorang wanita hamil yang juga tidak asing lagi bagi nya.
Begitu pun dengan orang yang sedang berjalan masuk, dia yang tidak lain adalah Riko langsung tersentak melihat orang yang masih dia sayangi berada tepat di hadapannya meskipun jauh.
Riko mematung, langkahnya terasa berat, mulutnya pun terasa terbungkam, tatapan nya terhenti kepada seorang yang masih sangat terbayang dalam hidup nya.
Ingin rasanya Riko bernyanyi "Harusnya aku yang di sana dampingi mu bukan lah dirinya" tapi itu sangat lah sukar untuk terjadi.
Selama ini Riko memang belum bisa melupakan Vera, dia terus saja merindukan wanita yang sudah beberapa tahun memberi warna dalam hidupnya.
Sudah sangat lama Riko tidak melihat Vera, namun rasanya seakan bertambah saat kini melihat mantan kekasih nya tepat berada di depannya.
"Kenapa semakin aku mencoba melupakan semakin besar rasa cinta untuk nya, sadar Riko... dia sudah punya suami, bahkan dia sudah mengandung anak dari suaminya itu" batin Riko.
Lisa yang merasa langkah kaki Riko berhenti pun melihat pada Riko, lalu matanya pun mengikuti arah tatapan Riko.
__ADS_1
Lisa langsung menundukkan kepalanya saat tau apa yang di lihat Riko, antara rasa malu dan kecewa, Riko bahkan tidak menganggap dirinya ada saat melihat ke pada Vera.
"Aku tau cinta mu masih sangat besar untuk dia... andai dulu aku tidak egois, mungkin kalian sudah bersama!" batin Lisa dengan masih menundukkan kepala.
Di sisi lain Vera juga masih menatap Riko, bagaimana pun lelaki itu sudah hadir dan menghiasi harinya, hatinya memang sudah sepenuhnya untuk Davvien, tapi bukan berarti dia dengan cepat bisa melupakan kenangan yang telah dia rangkai bersama Riko.
Pandangan Vera beralih kepada Lisa, dia melihat perut Lisa yang juga sudah membesar, Vera paham, yang dia tau mantan nya itu juga sudah melupakan dirinya dan bisa meneruskan hidupnya bersama wanita lain, tidak ada rasa marah ataupun sakit, Vera merasa bahagia mengetahui orang yang dulu dia sayangi kini juga telah bahagia.
"Sayang, kenapa kamu diam?"
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1