Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Kebahagiaan Vera.


__ADS_3

Setelah makan, Davvien ingin kembali ke dalam kamarnya, dia memang tidak bisa berlama lama jauh dengan sang istri.


Davvien lebih memilih menaiki tangga, karna dia baru selesai makan, di tambah akhir akhir ini Davvien jarang berolah raga juga melakukan kegiatan ekstrim nya.


Saat hendak menaiki tangga, tiba tiba terdengar suara beberapa orang yang mengucapkan salam, dia pun membalikkan badannya sudah ada pelayan yang membuka pintu.


"Maaf tuan, ada temen nya Nona Vera di luar"


Ucap pelayan sambil membungkuk.


"Suruh masuk, aku akan membawa istri ku tutun"


"Baik tuan"


Pelayanan tersebut langsung menyuruh ketiga sahabat Vera untuk masuk.


Baru saja mereka duduk, tiba tiba masuk seorang lelaki yang terlihat dingin, tapi juga sangat cool.


Intan berusaha cuek, dia menduduki sofa tanpa melihat pada pria tersebut, sedangkan Rani dan Tania, mereka saling pandang, lalu pandangan mereka alihkan antara Intan dan pria tersebut.


Pria yang sedang berjalan yang tak lain adalah Fero berjalan acuh, dia sempat melirik Intan yang tidak melihat nya sedikit pun, namun dengan gaya angkuh nya dia langsung menaiki tangga.


Fero hendak memberikan obat yang di pesan kan Davvien, setelah Dokter Hana memberikan resep pada Davvien dia langsung menyuruh Fero untuk membeli nya.


Tak berselang lama hilang nya punggung Fero dari tangga, terlihat lah pintu lift yang terbuka memperlihatkan Davvien yang sedang menggendong Vera, di dampingi oleh Ny.Andin.


Mereka sudah seperti main petak umpet ya, Fero naik ke atas Davvien malah turun ke bawah, bisa ngebayangin deh babang Fero malu nggak tuh, sudah sombong eh harus turun lagi nanti nyariin tuan nya.


"Sayang turunin, aku malu"


Bisik Vera di telinga Davvien, sedangkan Davvien hanya cuek dia pun meletakkan Vera denan lembut di atas sofa.


Para sahabat merasa iri, kalau melihat Vera yang begitu romantis dengan suaminya mereka bertiga jadi ingin cepat cepat nikah.


"Kalian sudah lama Sampai?"


"Baru saja kok Ra"


Ny.Andin dan Davvien juga duduk di sana.


Melihat Ny.Andin mereka bertiga langsung menyalami tangan mertua Vera.


"Kalian duduk lah dulu, tante mau kebelakang dulu ya"


"Baik Tante"


Ucap mereka dengan senyuman di bibir mereka bertiga.


Ny.Andin melangkah saat bertepatan dengan tangga langkah Ny.Andin terhenti saat melihat Fero begitu khawatir menanyakan Vera dan Davvien.


"Mommy,,, Mommy"


Fero berteriak, tanpa menghiraukan orang yang duduk di sofa, dia tidak melihat ke sana karna tadi hanya ada para wanita, pikir Fero.


"Ada apa nak"


"Huh,,huh,,,Davvien sama istrinya kemana Mom, tadi Davvien menyuruh ku membelikan obat untuk istrinya"


Dengan wajah begitu serius dan sedikit ngos-ngosan Fero bertanya, sedangkan orang yang di sofa menatap nya dengan heran.


"Davvien,, i itu"


Ny.Andin menunjuk ke arah sofa.


"Mommy di sana hanya ada para wanita shabat dari Vera, mereka sama sekali tidak penting yang aku cari Davvien, aku melihat kamarnya kosong ruangan kerja juga kosong"


Fero tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya pada sofa, dia tidak ingin di anggap curi curi pandang.


"Ya itu.."


"Itu mana Mom"


"Hey, kutu kupret dari tadi Mommy ingin bilang kalau kami di sini, kenapa kau selalu memotong ucapan Mommy"


Fero begitu kaget mendengar suara yang sangat di kenalinya, suara yang sering mengancam nya.


"Tu tuan anda di sini?"


"Makanya kalau Mommy tunjuk ke sana kamu lihat nya ke sana, jangan sok sok tidak ingin melirik ke sana lagi, jadi bingung sendiri kan"

__ADS_1


Cibir Ny.Andin dia pun langsung melangkah tanpa menghiraukan Fero.


Fero merasa sangat malu, dia terlihat bagaikan orang bodoh, namun dia bisa memposisikan dirinya dengan keadaan, dengan memamerkan gaya cool nya Fero angkat bicara.


"Tuan, bisa kita bicara sebentar"


Davvien pun melangkah, karna dia juga tidak mungkin duduk di tengah-tengah para cewek cewek.


Mereka bertiga hanya diam melihat drama yang di buat Fero.


"Dia selalu begitu, kelewat pandai mungkin"


Ujar Vera tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Eh Ra, loe sakit apa sih?"


Tanya Tania langsung pada intinya.


"Iya Ra, sampe di gendong sama pangeran nya"


Sambung Rani.


"Kita tu khawatir banget sama loe tau nggak, kenapa loe akhir akhir ini sering sakit?"


Intan pun tidak mau kalah, mereka bagaikan wartawan melontarkan pertanyaan pada Vera.


Vera tersenyum, belum sempat menjawab, pelayan sampai dengan membawa kan minuman.


"Kok loe malah senyum sih, kan loe sakit. Loe juga terlihat pucat Ra"


Kesal Intan karan Vera bukan nya menjawab, tapi dia malah tersenyum.


"Aku, ah kalian akan menjadi aunty"


"Ma maksud nya"


"Iya kalian akan jadi aunty dari calon anak gw"


"Loe hamil?"


Tanya mereka kompak, Vera mengangguk senang, langsung saja para sahabat nya itu berhamburan memeluk Vera, rasanya mereka juga ikut bahagia dengan kabar yang mereka dapatkan.


"Uhhh selamat, kamu akan jadi seorang ibu"


"Sehat selalu ponakan aunty"


Begitu lah kira kira kata yang mereka ucapkan pada bumil yang baru satu Minggu.


Sedangkan di ruangan kerja,,


"Mau mengatakan apa kutu kupret?


"Haduh aku bilang apa ya sama bos sinting ini"


Batin Fero yang sibuk memikirkan alasan.


"Hei kutu kupret kenapa hanya diam, apa kau sudah bisu hingga tidak menjawab pertanyaan ku"


"E itu, aku sudah membelikan obat untuk Nona Vera, sebenarnya dia sakit apa?"


Akhirnya Fero mendapatkan pertanyaan yang tepat agar terhindar dari bogem sang bos mafia.


Mendengar pertanyaan Fero, Davvien kembali tersenyum, rasa bangga nya kembali dia pamerkan.


"Benih ku sungguh unggul, sehingga dia dapat tumbuh dalam perut istri ku"


"Maksud tuan"


"Sebentar lagi aku akan jadi ayah"


Mendengar itu Fero pun merasa bahagia.


"Selamat Vien, akhirnya tuan muda akan segera hadir"


Davvien tidak menjawab, dia hanya tersenyum senyum sendiri.


...----------------...


Malam pun tiba,,,,

__ADS_1


Para sahabat Vera sudah pamit pulang, makanan tertata rapi di meja makan, Ny.Andin masak banyak tadi sore, dia sangat bersemangat membuat menu makanan bersama pelayan, Vera begitu kekeh ingin membantu, namun semua orang melarang nya.


Dia hanya duduk di sofa dengan perasaan dongkol, di temenin oleh suami manja nya.


Tiba tiba pintu terbuka, terlihat lah lelaki paruh baya yang ketampanan nya masih terlihat di wajah yang sedikit sudah mengendur.


"Daddy"


Vera dan Davvien langsung bangkit menyambut kepulangan Tn.Andre.


Vera menyalami mertuanya, melihat itu Davvien pun ikut menyalami tangan sang Daddy, dan itu sukses membuat hati Tn.Andre menghangat, semenjak dewasa baru kali ini Davvien mencium tangan nya.


"Daddy pasti capek, ayo kita duduk dulu biar Vera buatkan kopi"


Vera membawa mertua duduk di sofa, dia hendak membuat kopi untuk Daddy mertua tapi di tahan oleh mereka.


"Sayang, kamu duduk saja"


"Tapi,,"


"Sudah, oh ya selamat buat kalian berdua Daddy sangat bahagia mendengar nya, dan kamu Vien harus sigap melayani istrimu, biasanya kalau istri sedang hamil akan banyak mau nya, bersiap siaplah di bangun kan tengah malam"


Davvien hanya tersenyum, muncul lah Mommy dan juga Fero bersamaan, mereka langsung ikut bergabung.


"Eh Daddy sudah pulang, mau Mommy buatkan kopi?"


"Boleh My"


"Tadi Vera mau buatin Daddy tidak mau"


Vera membuat wajah cemberut, mereka yang melihatnya langsung tertawa karna gemes melihat tingkah Vera.


Tak berselang lama pun pintu kembali terbuka, mata Vera langsung berbinar, dia langsung berlari ke dalam pelukan sang Daddy nya.


"Astaghfirullah Vera jangan lari lari kan kamu lagi hamil"


"Aku kangen sama Daddy, aku sebel Dad, mereka tidak membiarkan aku melakukan apapun"


Bagaikan anak berusia lima tahun Vera mengadu apa yang membuatnya dongkol pada sang Daddy.


"Mana mereka yang berani melarang putri Daddy, biar Daddy ucap kan terima kasih"


Vera membulatkan matanya, sedangkan yang lain kembali tertawa karna melihat Vera tambah kesal.


Tanpa membuang waktu pun mereka langsung menyantap makan malam mereka, dengan begitu haru bahagia, banyak pembahasan yang mereka bicarakan, sesekali mereka tertawa menggambarkan betapa bahagia nya mereka akan menyambut Wilmar junior.


"Ya Allah, terima kasih karna engkau telah membuka hati suami hamba, terima kasih karna engkau menghadirkan mertua yang begitu baik, terima kasih juga atas amanah yang telah kau titip kan dalam perut hamba, semoga dia akan selalu memberi kebahagiaan di keluarga kami kelak"


Batin Vera yang merasa terharu melihat kebahagiaan terpancar dari setiap wajah keluarga nya.


...----------------...


Sedangkan di balik kebahagiaan keluarga Wilmar,,,


Di sebuah kota, seseorang wanita yang terlihat hampir menua, namun terlihat sangat cantik, dia duduk di sofa sedang memandang foto gadis kecil sedang tersenyum.


Gadis kecil itu terlihat sangat cantik, di usap nya foto gadis kecil yang tersenyum bahagia itu, tetes demi tetes air mata wanita tersebut jatuh pada bingkai foto gadis kecil yang imut itu.


Tiba tiba, seorang pemuda tampan yang sedikit mirip dengan foto anak kecil yang ada di dalam bingkai tersebut memeluk wanita itu dari belakang.


"Mama kenapa heumm"


"Mama merindukan adek mu nak, ntah kenapa dari tadi pagi mama begitu merindukan nya"


"Tapi kan dia...."


"Mama yakin, dia masih hidup nak"


"Baik lah aku akan berusaha menemukan adek lagi ma"


"Makasih sayang"


"Iya, Mama jangan menangis lagi"


Cup


~Bersambung


Aku up dobel tiga loh, mohon nya dukungan nya, like, komen, vote.

__ADS_1


Jika di kasih bunga Alhamdulillah apa lagi jika di kasih kopi, syukur bangat dah🤭.


Sehat selalu para Reading, salam sayang dari author.


__ADS_2