Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Bertemu kembali


__ADS_3

Di pagi hari.. cuaca yang cerah, udara yang sejuk suara kicauan burung terdengar begitu nyaring menyambut dan menghiasi pagi yang begitu indah.


Vera sudah siap untuk berangkat ke kampus, setelah melalui perdebatan kecil dengan suami yang menurut nya sedang kerasukan iblis baik hati.


Vera sudah selesai bersiap-siap begitupun dengan Davvien, Vera sudah menyiapkan segalanya dari sarapan hingga pakaian Davvien, seperti biasa dia bangun awal untuk menunaikan ibadah pagi harinya.


Sekarang mereka keluar dari kamar menuruni tangga dengan Davvien terus menggandeng Vera, meski merasa sedikit risih namun Vera tidak ingin merusak mood Davvien.


Saat mereka berjalan tampak sangat serasi, dengan tubuh kekar Davvien di baluti jas berwarna dongker melekat pas di badan nya yang mempunyai roti sobek, sedangkan Vera juga memakai dress berwarna dongker sampai di bawah lutut berlengan panjang, polesan tipis di wajahnya di tambah jepitan yang selalu menghiasi rambut panjang nya, dua kata untuk mereka tampan dan cantik, sangat cocok kan bila di padukan.


Saat mereka sampai di bawah tangga, Vera merasa aneh karna pelayan berdiri di sana dengan membungkuk kan badan, dan aneh nya bukan hanya Bi Ainun dan Bi Rahmi, tapi mereka ada lima.


"Siapa mereka"


Tanya Vera yang merasa bingung karna saat dia masak bersama Bi Ainun dan Bi Rahmi mereka tidak ada.


"Mereka pelayan baru"


"Loh, kenapa harus menambah pelayan lagi"


"Karna aku tidak ingin kau melakukan apapun"


"Tapi...."


"Selain memasak"


Davvien langsung memotong omongan Vera karna tau apa yang akan di ucapkan Vera.


"Perkenalkan diri kalian"


Ucap Davvien tegas dan juga dingin, tanpa melihat ke arah pelayan tersebut.


"Saya Maria nona"


"Perkenalkan saya Risma"


"Dan saya Nisa tuan"


Jawab Nisa mencoba tersenyum dengan genit, seperti nya dia tertarik pada Davvien, ya siapa yang tidak tertarik pada pesona sang pengusaha terkaya di tambah dengan ketampanan nya yang tak tertandingi pria mana pun.


"Lalu kapan mereka sampai, saat aku masak mereka belum ada"


"Mereka datang bersama Fero.


"Kak Fero sudah sampai, kemana dia biar kita sarapan bersama"


Mendengar itu Davvien langsung menatap tajam pada Vera karna berani mencari pria lain meski itu sahabat nya sekalipun.


Melihat tatapan tajam Davvien, Vera baru sadar dia pun mencoba mencari alasan.


"Eh bukan, maksud ku kita bisa sarapan bersama supaya nanti setelah sarapan kak Fero bisa langsung berangkat bersama tuan"


Orang yang di bicarakan pun muncul, pelayan masih menunduk di sana kecuali Nisa, dia sesekali menatap Davvien, diantara pelayan di sana cuman Nisa dan Risma yang masih muda.


"Ada apa Vera kau mencari ku"


"Eh kakak, ayo kita sarapan.


"Heumm"


Fero tersenyum pada Vera, dan itu membuat sang atasan langsung tersulut emosi.


"Jangan tersenyum pada istriku Fero, kalau tidak ingin wajah jelek mu itu terkena bogem dari ku lagi"


Setelah berujar demikian, Davvien langsung menarik tangan Vera, sedangkan Fero. dia baru sadar kenapa kemaren Davvien memukulnya tiba tiba rupanya karna Vera, sungguh Fero merasa resah kalau tuan nya sudah jatuh cinta.


...----------------...


Sarapan pagi mereka telah selesai dengan sedikit drama, dimana Davvien yang sangat posesif pada Vera, dia bahkan tidak membiarkan Fero melihat ke arah Vera sedikit pun, karena menurut Davvien Vera semakin cantik, dia tidak ingin nanti Fero juga menyukai istrinya.


Mereka sekarang berjalan keluar dari rumah dengan Davvien memeluk pinggang Vera di ikuti Fero di belakang.


Vera kembali tercengang melihat perubahan rumah itu, yang dulunya sepi bagaikan rumah hantu sekarang malah penuh dengan orang yang berpakaian hitam dan bertubuh kekar semuanya, mereka berjejer rapi mulai dari depan pintu sampai di gerbang.


"Siapa lagi mereka tuan"


"Mereka anak buah ku"


"Tapi untuk apa mereka di sini tuan"


"Menjual bubur ayam, jualan cilok, bakso sama cendol"

__ADS_1


Jawab Davvien dengan wajah serius, tidak ada raut bercanda sedikit pun di wajah nya, meski dia sedang mengolok pertanyaan Vera.


Vera langsung memalingkan wajah nya pada Davvien, tapi dia merasa bingung karna Davvien menjawab dengan sangat serius, Fero yang mendengar nya pun terkekeh.


Davvien langsung menarik tangan Vera menuju mobil, para anak buah Davvien membungkuk memberi hormat pada sang pimpinan mereka di dalam dunia gelap, ya mereka adalah anak buah Davvien, dia menyuruh Fero untuk menghubungi Irfan mengirimkan beberapa anak buah ke rumah nya.


Saat sampai pun dia membuka kan pintu mobil untuk Vera lalu menyuruh Vera masuk.


"Eh Tuan, kenapa pakai mobil ini".


"Aku akan mengantar mu".


"Tidak usah tuan, kan ada pak Toni aku di antar pak Toni saja nanti tuan terlambat kalau harus mengantar kan aku".


"Hey kenapa kau selalu membantah perkataan suami, apa kau tidak suka satu mobil dengan ku, apa kau lebih suka sama supir yang jelek itu".


"Bu- bukan begitu tuan, hais baik lah"


Vera pasrah karna percuma berdebat dengan Davvien bila sudah memerintah, dia pun masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju meninggalkan rumah dan anak buah yang masih setia berdiri rapi di tempat masing-masing.


Di dalam mobil, Vera hanya diam, dia sedang memikirkan apa yang di ucap kan Davvien.


"Masak iya mereka berpakaian begitu dan badan mereka kekar-kekar semuanya masak mereka jualan cilok, bubur ayam, dan cendol, tapi dia kok mengatakan nya serius banget ya, tapi kalau mereka jualan ngapain di rumah, apa karna kerasukan jin baik hati dia jadi dermawan ya"


Batin Vera, Davvien pun melihat Vera hanya diam seperti memikirkan sesuatu.


"Kamu kenapa diam, apa yang sedang kamu pikirkan?"


Tanya Davvien, sekarang dia duduk menghadap pada Vera.


"Itu tuan, aku masih bingung apa yang anda katakan semuanya benar?"


Davvien mengangkat alis nya sebelah mendengar perkataan Vera.


"Apa nya?"


"Itu mereka, apa benar orang di rumah jualan bubur ayam sama lain lain?"


"Hahahahahahahah"


Davvien dan Vera langsung mengalihkan pandangan mereka pada Fero yang tertawa lepas.


Davvien menatap tajam ke arah Fero.


"Siapa yang menyuruh mu tertawa kutu kupret?"


Ucap Davvien masih menatap tajam pada Fero, Fero melihat Davvien dari spion depan langsung mengehentikan tawa nya.


"Kenapa kamu tanya begitu?"


Tanya Davvien kembali lembut, setelah membentak Fero diam dia pun menatap Vera.


"Aku cuma penasaran, dulu yang bekerja sebagai penjaga di rumah ku juga berpakaian begitu, aku merasa tidak percaya kalau mereka jualan cilok, tapi melihat ekspresi wajah mu, tuan seperti nya tidak sedang bercanda"


Ujar Vera juga menatap Davvien, wajah Vera seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa.


"Hahahahahahahahah"


Kali ini bukan Fero yang tertawa , melainkan Davvien sungguh Davvien tidak sanggup menahan tawanya melihat wajah Vera yang kebingungan, Vera yang melihat Davvien tertawa lepas semakin merasa bingung, dia tercengang melihat pemandangan di depan nya, baru pertama kalinya dia melihat Davvien tertawa begitu lepas.


Fero semula nya kesal dengan Davvien karna melarangnya tertawa pun merasa bahagia melihat Davvien bisa tertawa begitu lepas, dia berfikir kalau Vera memang jodoh yang tepat buat Davvien.


"Kenapa tuan ketawa, apa nya yang lucu?"


"Hahaha aduh kamu tuh lucu banget sih, kamu anggap serius perkataan ku, aku pikir kamu seorang siswi dengan nilai baik bisa tau hal sepele itu, jelas mereka penjaga yang akan menjaga rumah dan juga menjaga mu saat aku tidak ada di rumah"


Davvien kembali tertawa, melihat itu Vera menjadi kesal, dia merasa dirinya sangat bodoh karna Davvien, padahal maksudnya bertanya mereka ngapain ke rumah karna dia merasa heran tiba tiba aja banyak orang, tapi Davvien malah menjawab yang lain dengan memasang wajah serius.


Melihat wajah Vera yang kesal Davvien menghentikan tawa nya.


"Kamu marah, aku minta maaf"


Ucap Davvien tulus dan juga sangat lembut sambil tangannya terangkat mengelus kepala Vera.


"Apa, dia bisa minta maaf juga. sungguh hanya orang yang tertentu mendapat permintaan maaf dari bos aneh ini"


Batin Fero, karna melihat Davvien sangat tulus meminta maaf pada Vera hanya karna hal kecil seperti itu.


Vera yang mendengar nya pun langsung menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Kapan tuan mencari kan anak buah segitu banyak?


"Udah sampai, turun lah nanti kamu terlambat"


"Oh udah sampai aja, kok aku nggak ngerasa ya"


"Bagaimana bisa ngerasa yang bawa mobil kan kutu kupret bukan dirimu sayang"


"Dia lagi lagi memanggil aku kutu kupret😭"


Fero kembali membatin, namun tidak berani menyahut.


"Ya sudah aku turun dulu"


"Belajar lah yang rajin"


Cup


Kembali mengelus kepala Vera dan mendaratkan satu kecupan di sana.


Vera mengambil tangan Davvien, langsung di cium tangan suaminya sama seperti yang dia lakukan pertama kali saat Davvien menghalalkan nya, dengan menahan rasa malu nya.


"Aku pamit tuan suami"


Vera membuka pintu mobil langsung keluar dari mobil dan berlari masuk, Davvien yang mendapat perlakuan seperti itu merasa sangat senang, hati nya terasa menghangat saat Vera menyalami nya.


Mereka pun meninggalkan kampus tempat istrinya menimba ilmu saat Vera sudah hilang dari pandangan matanya.


...----------------...


Jam pulang kuliah pun tiba, Vera berjalan menuju parkiran bersama geng nya, dia melihat sudah ada pak Toni sedang menunggu nya.


"Eh kalian, gw duluan ya"


"Oke Ra, hati hati ya"


Vera hanya tersenyum dan mengangguk, dia pun mendekati pak Toni.


"Saya di suruh tuan jemput nona"


"Iya pak Vera tau, kan nggak mungkin pak Toni di sini mau berkebun"


Pak Toni tertawa mendengar perkataan Vera, dia pun membuka pintu untuk majikan nya.


"Vera"


Ucap seseorang dari belakang Vera, dia yang hendak masuk dalam mobil pun menoleh pada asal suara.


"Riko"


Gumam Vera melihat yang memanggil nya ternyata mantan kekasih nya yang sangat dia cintai, yang saat ini dia masih ragu apa sudah melupakan nya dan menerima suaminya atau dia masih sangat mencintai Riko, Vera bingung dengan perasaan nya, saat melihat Riko rasa sakit dan penyesalan kembali hadir, tapi dia juga merasa senang dan nyaman dengan sikap Davvien beberapa hari ini.


Riko berjalan menghampiri Vera, sedangkan Vera masih diam menatap Riko yang berjalan terus mendekati nya.


"Apa kabar Ra, aku sangat merindukan mu"


Riko hendak memeluk Vera, tapi Vera menghindar, dia benar-benar sangat merindukan Vera, setelah tau dari Intan kalau Vera menikah dengan Davvien pengusaha tersukses di dunia dia mencoba merelakan Vera dan melupakan nya, tapi hasil nya nihil rasa nya semakin besar pada Vera, semakin di paksa melupakan nya semakin berakar cinta di hati nya.


"Aku benar-benar sangat merindukan mu Ra"


Ucap nya kembali, Vera masih diam ntah mengapa dia tidak ingin mengkhianati Davvien dengan berpelukan bersama pria lain meski pun dia belum tau apa kedudukan Davvien di hatinya.


"Aku, aku minta maaf Ko, aku harus pulang"


"Vera kenapa kamu menghindari aku, apa kamu sudah melupakan ku, apa kamu sudah jatuh cinta sama suami mu itu"


Tanya Riko, Vera bingung harus menjawab apa, karna dia sendiri bingung dengan perasaan nya.


"Tolong Ra, kasih aku kejelasan"


"Aku harus pulang Ko"


"Aku mohon Ra"


Vera kembali diam, dia juga merasa kasihan melihat Riko memohon padanya.


"Oke, aku akan kasih kamu waktu untuk berfikir ra mantap kan hati mu, tanya kan padanya apa kah masih ada aku di sana, besok kamu temui aku di taman yang sering kita kunjungi, aku menunggu jawaban mu Ra, jika kamu masih mencintai aku dan kamu tidak bahagia bersama suami mu itu aku akan membantu mu terlepas dari nya dan kita akan hidup bersama, tapi jika kamu tidak mencintai aku lagi aku akan merelakan mu Ra"


Vera masih diam, Riko pergi meninggalkan nya setelah mengatakan semua nya, padahal dia ingin hari ini juga Vera menjawab pertanyaan nya, tapi dia juga tidak ingin memaksa Vera.


Pak Toni pun memanggil Vera untuk masuk ke dalam mobil, dan mereka kembali ke rumah.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2