Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Kesedihan dan kebahagiaan Davvien


__ADS_3

Lima hari sudah berlalu, selama lima hari itu juga Davvien tidak pernah beranjak dari ruangan istri nya, dia terus menemani dan menunggu sang istri bosan dengan tidur panjang nya dan akhirnya membuka mata.


Para keluarga mereka bergantian datang, rasanya air mata para keluarga sudah kering melihat tubuh lemah Vera di atas ranjang rumah sakit, bahkan sang kakek dari luar negeri juga sudah pulang saat mengetahui jika cucu menantu nya koma, apalagi ada dua cicit yang sedang di kandung Vera.


Davvien begitu sabar menjaga dan merawat Vera, setiap pagi dan sore Davvien akan mengelap tubuh Vera, dia bahkan tidak membiarkan suster yang melakukan nya.


Para sahabat Vera juga masih sering menjenguk dirinya, terutama Intan karna memang dia yang paling dekat dengan Vera.


Di saat semua orang bolak balik ke rumah sakit, hanya Fero yang sibuk bolak balik ke kantor, selama Davvien di rumah sakit, Fero lah yang menghandle segalanya.


Mlam ini malam ke-6 Vera koma... seperti biasa, jika malam Davvien tidak ingin orang lain berada di sini, dia hanya ingin dirinya seorang yang menjaga sang istri.


Davvien tidak bisa berpura-pura kuat melihat keadaan Vera, dia hanya tidak ingin orang lain melihat nya begitu rapuh, maka dari itu dia hanya ingin dia sendiri karna dia akan melepaskan rasa sesak di hatinya dengan air mata yang mengalir.


Dia memandang tubuh yang sudah sedikit kurus, meski selalu di beri asupan melalui selang makanan, namun tubuh Vera semakin melemah dan kurus.


Davvien tidak sadar jika dirinya lebih terlihat menyedihkan, wajahnya juga sedikit kurus, bulu di sekitar rahang dan mulut nya sudah mulai panjang, begitu juga dengan rambut nya.


Davvien sudah tidak pernah memperhatikan penampilan nya, dia bahkan lupa kapan terakhir bercermin.


Davvien memegang tangan istrinya, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 02:00 pagi, Davvien masih setia terjaga dengan air mata yang selalu tumpah, apa lagi dia mengingat perkataan dokter tadi sore.


"Keadaan Nona Vera masih seperti itu saja, tidak ada peningkatan dan juga tidak ada penurunan, tapi...." Dokter Hana menjeda ucapan nya.


"Tapi kenapa, katakan dengan jelas"


"Salah satu baby dalam kandungan nona semakin melemah, saya tidak bisa pastikan dia akan bertahan jika Nona Vera belum sadar"


Itu lah yang selalu terngiang di telinga Davvien, sekarang selain rasa sakit melihat keadaan Vera, dia juga takut... takut jika salah satu atau ke dua anaknya tidak akan bertahan.


"Sayang, bangun lah... apa dunia bawah sadar mu lebih menyenangkan, setidaknya jika kamu tidak perduli pada ku ingatlah anak mu, mereka sudah lemah sayang karna ibunya juga tidak memperdulikan mereka"


Davvien begitu rindu akan kekasih halalnya itu, ingin bermanja pada Vera, sifat cerwet Vera, yang jelas saat ini dia benar-benar rindu akan sosok istrinya itu.


"Sayang, aku mohon sadar lah, apa kamu senag melihat suami rapuh mu ini menangis setiap malam"


Davvien beralih memegang perut Vera dan mengusap nya secara lembut.


"Anak-anak papa, kalian sehat-sehat di sana, papa mohon kalian bertahan lah, bantu mama nak biar mama cepat sadar"

__ADS_1


Cup...


Cup...


Cup....


"Ya Tuhan,,, sadarkan lah istri hamba, san selamat kan lah anak hamba"


Hanya itu doa yang selalu Davvien panjatkan, dia sudah mulai menjalankan kewajiban nya sebagai muslim.


Davvien memandang wajah istrinya yang sudah sangat pucat, ntah kapan dia pun terlelap, ya seperti itu setiap malam Davvien tertidur dengan cara duduk di kursi dekat ranjang Vera.


...----------------...


Dan selama lima hari juga selalu terdengar teriakan histeris di sebuah mansion mewah yang tersembunyi di dalam hutan.


Setiap harinya Elsa menjerit kesakitan, karna setiap harinya para anak buah Irfan mencabut kuku jari dan kakinya, belum lagi jarinya juga di patahkan.


Kini penyesalan hinggap di diri Elsa, andai dia tidak lebih mengikuti obsesi untuk mendapatkan Davvien kembali, mungkin hidupnya masih sejahtera dan bahagia.


Ya begitu lah penyesalan selalu datang di akhir, kalau datang nya permulaan namanya pendaftaran ya.


Dia masih sangat syok dengan apa yang dia lihat, ruangan penuh senjata, orang semua patuh pada Davvien, dia tidak menyangka jika Davvien berubah menjadi pria kejam.


Dia hanya bisa meratapi nasibnya yang sebentar lagi ntah akan selamat atau sebaliknya.


...----------------...


Di pagi hari...


Davvien masih terlelap begitu nyenyak, masih dengan cara kepalanya di jatuhkan di atas tangan sang istri.


Vera yang juga masih memejamkan mata, tiba tiba dia mengerjap saat sinar matahari menyilaukan matanya.


Vera membuka perlahan matanya, dia merasakan jika kepala nya terasa berat juga sakit, Vera ingin mengangkat tangan nya yang terasa berat.


Dia pun melihat ke arah tangan yang sedang di tindih dengan pipi seseorang.


Vera mengernyitkan dahi melihat orang tersebut, dia seperti tidak mengenali lelaki di hadapannya, penampilan yang sangat berantakan seperti bukan Davvien suaminya.

__ADS_1


Namun Vera tau jika itu adalah cintanya, belahan jiwanya, Vera yakin jika orang yang tertidur di atas tangan nya adalah imamnya.


Lelaki yang sangat sempurna, lelaki yang begitu mencintai nya dan juga sebaliknya, lelaki yang selalu melindungi nya, selalu melakukan apapun untuk kebahagiaan nya.


Dia lelaki yang sangat hebat, juga sangat tampan, Vera tersenyum dengan wajah pucat nya.


Ntah berapa hari dia tertidur yang jelas dia tau selama itu lelaki hebatnya menjaga dirinya dengan baik, melihat penampilan Davvien saja Vera bisa menebak jika selama dirinya sakit Davvien tidak mengurus dirinya sendiri.


Tangan di pasangkan selang infus terangkat lalu mengusap kepala Davvein dengan begitu sayang, dari kepala menyisir rambut Davvien dengan jemari nya, hingga turun pada rahang tegas Davvien yang sudah terlihat kurus.


"Maaf kan aku sayang, karna aku tidak mendengar ucapan mu, tapi kenapa kamu menghukum dirimu sendiri, aku jiga sakit melihat keadaan mu seperti ini, maafkan aku juga karna telah membuat mu susah, membuat mu repot"


Vera membatin, begitu terharu melihat suami yang sangat setia menunggu nya.


"Terima kasih sayang, terimakasih karna telah menjadi lelaki hebat untuk ku, lelaki pelindung ku, terimakasih karna telah memberi cinta yang begitu besar untuk ku"


Vera masih mengusap lembut wajah Davvien, dia tidak perduli dengan tangan satunya lagi merasa kebas karna Davvien menindih nya dengan kepala.


Davvien yang merasa sesuatu yang menyentuh wajahnya pun tersadar, persis seperti sentuhan yang selalu istrinya lakukan di setiap pagi.


Davvien mengira jika dirinya bermimpi, dia tidak ingin kehilangan momen seperti ini, dia pun enggan membuka matanya menikmati mimpi yang begitu terasa nyata.


Tapi sentuhan itu seperti sangat nyata, terlebih saat Vera memegang hidung Davvien, dia merasa jika tangan Vera menowoel-nowel hidung nya, dia pun langsung membuka matanya.


Dan tatapan nya itu langsung mengarah pada wajah pucat dengan bibir tersenyum meski terhambat oleh selang.


Mata Davvien kembali berembun, dia menampar pipinya sendiri, takut jika dirinya masih bermimpi.


Vera langsung mengusap wajah Davvien yang di tampar oleh Davvien sendiri, Vera menggeleng dia ingin mengatakan jangan sakiti dirimu karna ini bukan mimpi, namun terhalang dengan selang yang ada di dalam mulutnya.


Saat tangan lembut itu menyentuh kulit wajahnya, Davvien memejamkan matanya merasakan sentuhan yang selama ini dia rindukan.


"Sayang"


~Bersambung


Para Reading, mampir juga yuk di cerita kakak ku, cerita nya keren banget, bikin greget gitu


__ADS_1


__ADS_2