Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Teman lama


__ADS_3

Masih di keadaan yang sama, meski sudah melakukan pertolongan pertama, badan Syakira masih panas. Walaupun saat ini anak bungsunya itu sudah tidak menangis lagi, tapi tetap saja membuat mereka khawatir, karna sampai sekarang, panas nya Syakira belum menurun.


"Nak Vera, lebih baik non Syakira di bawa ke rumah sakit saja!" ucap bi Aini mencoba memberi saran pada Vera.


"Iya, Ra! aku takut nanti dia kenapa-napa!" timpal Intan yang berdiri di dekat Vera.


"Baik, Tan! kamu bawa Syakir, ya!" Imbuh Vera yang di angguki oleh Intan.


"Bi, bisa tolong pegang Syakira sebentar. Vera mau menelpon Mama dan juga, Mommy lagi!" pinta Vera, tentu saja dengan senang hati bi Aini menerima Syakira.


Vera menyerahkan Syakira, lalu menelpon kedua orang tuanya, untuk memberi tahu jika dia akan membawa Syakira ke rumah sakit, agar nenek dan oma Syakira tidak jadi datang ke mansion mereka, akan tetapi langsung ke rumah sakit. Karna sebelum nya Vera sudah memberitahu kepada Rina dan Andin.


"Halo, Ma!" ucap Vera saat teleponnya tersambung.


"Iya, Nak!" jawab Rina di seberang.


"Aku akan bawa Syakira ke rumah sakit!" ujar Vera.


"Ya sudah kalau begitu, Mama langsung ke rumah sakit ya, Nak!" tukas Rina, nadanya terdengar begitu panik.


"Iya Ma! tolong kasih tau sama Mommy, supaya tidak lagi datang ke rumah!" imbuh Vera lagi.


"Baik, Nak! kamu hati-hati ya!"


"Iya, Ma! Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Setelah itupun, Vera kembali menggendong Syakira, Intan juga sudah berada di sana dengan menggendong Syakir.


"Bi, kami pergi dulu! nanti Bibi nyusul saja, sambil bawa kebutuhan Syakir dan Syakira di rumah sakit!" ujar Vera yang mendapat anggukan oleh pelayan rumah nya itu.


"Baik, Nak!"


Vera bersamaan dengan Intan keluar dari dalam rumah "Cepat, Pak! kita harus ke rumah sakit!" celetuk Vera pada seorang supir di sana.


Para pengawal yang lainnya hanya bisa melihat, tidak berani mengangkat bicara, walaupun hanya bertanya. Mobil melaju, Vera terus memeluk anak perempuan nya yang sudah diam itu.


"Tan, coba kamu lihat! sedari tadi Syakira diam, tidak bergerak, tidak juga menangis, sebenarnya ada apa Kenapa dengan anak ku, Tan!" lirih Vera, ibu dua anak ini semakin khawatir saat melihat bayi nya hanya memandang ke atas tanpa reaksi apapun.


"Sabar, Ra! kita sudah hampir sampai kok!" ujar Intan mencoba menenangkan sahabatnya itu, meski dia juga merasa takut.


...----------------...


Mobil yang membawa mereka kini terparkir di depan rumah sakit, Vera langsung bergegas keluar, masuk ke dalam rumah sakit dengan sedikit berlari.

__ADS_1


"Dokter Hana!" panggil Vera sedikit berteriak, tidak perduli orang-orang melihat padanya. Para suster yang mengenal Vera hanya menunduk, karna mereka tau jika orang di hadapan mereka adalah istri dari pemilik saham terbesar di rumah sakit tempat mereka bekerja.


"Dimana Dokter, Hana?" tanya Vera kepada seorang perawat.


"Ada apa Nona, Vera?" jawab Dokter Hana yang kini sudah berada di belakang punggungnya.


"Dok! lihat lah anak ku, badannya panas, dia juga diam sedari tadi, tidak menangis juga tidak mau aku susui!" tukas Vera dengan nada bergetar. Air matanya sudah tidak dapat dia bendung lagi.


Dokter Hana memegang dahi Syakira, dia pun ikutan panik "Sekarang bawakan ke dalam ruangan anak, biar saya periksa!" imbuh Dr.Hana.


Merekapun sama-sama masuk ke dalam ruangan anak, Intan hanya menunggu di luar, dia melihat Syakir juga tidak terlalu lincah hari ini, seperti nya dia merasakan apa yang di alami oleh sang adik. Meski bayi lelaki ini tidak rewel atau badannya panas.


Terdengar suara langkah kaki begitu cepat menghampiri Intan yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruangan Syakira di rawat.


"Nak, bagaimana keadaan, Syakira?" tanya Rina yang terlihat sangat panik.


"Mereka masih di dalam, Tante!" jawab Intan, dia dapat menangkap raut kekhawatiran dari wajah dua wanita paruh baya di hadapannya saat ini.


Ny.Andin langsung mengambil Syakir dalam gendongan Intan "Memang sejak kapan badan nya Syakira panas, Nak?" timpal Ny.Andin.


"Baru tadi, Mom! cuma dari tadi pagi dia memang agak rewel!" jelas Intan lagi.


"Ya Allah ... semoga cucu kita tidak apa-apa!" imbuh Rina lagi.


Ny.Andin mengangguk "Apa jangan-jangan Syakira merindukan, Papanya!" sergah Ny.Andin menduga-duga.


"Kita tunggu mereka keluar saja, Mom, Tante!" timpal Intan, dia tetap mencoba untuk menenangkan keduanya.


...----------------...


Sedangkan di luar kota, tepat nya di mana saat saat ini Davvien dan Fero berada. Mereka baru selesai rapat dengan pemilik saham di kota tersebut, kakinya melangkah keluar dari sebuah restoran ternama dan terkenal di kota tersebut.


Perasaan nya semakin gelisah, Davvien mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, ingin menelpon sang istri.


Tapi, karna terlalu fokus dengan ponsel di tangannya, tanpa sengaja Davvien menabrak seseorang.


Brrukkk...


"Maaf saya tidak sengaja" ucap Davvien, kemudian dia mengangkat wajahnya menatap orang yang barusan dia tabrak.


Orang itupun juga turut meminta maaf "Tidak apa, saya juga minta ma...!" ucapan orang tersebut pun terhenti saat melihat wajah Davvien.


"Davvien!" sambung orang itu.


"Taksa!" pekik Davvien yang tersentak melihat sahabat lamanya.

__ADS_1


"Wih ... tidak menyangka saya bertemu dengan teman lama di sini, Tuan Muda Taksa WU!" lanjut Davvien sambil menepuk lengan teman masa sekolah nya dulu.


"Saya juga tidak menyangka akan bertemu dengan mu di sini!" ungkap Taksa.


"Saya dengar kamu sudah menikah ya, kenapa tidak mengundang ku?" tanya Davvien mengintimidasi.


Fero dan asisten tuan muda Taksa hanya diam, mereka tidak terlalu saling kenal.


"Waktu itu saya menikah dadakan!" jawab Taksa, memberi alasan pada Davvien.


"Kenapa dadakan, apa karna sudah kamu bolongin dulu?" tanya Davvien penasaran.


"Sembarang, cerita nya panjang! yanga jelas kisah nya sangat unik, saya tidak akan melupakan malam itu, mengingat begitu besar perjuangan saya untuk mendapatkan dirinya!" ucap Taksa menyangkal ucapan Davvien.


Taksa dan Davvien memang pernah berteman saat mereka masih sekolah, tapi keduanya pisah karna mereka melanjutkan pendidikan selanjutnya di tempat yang berbeda.


Oh ya, jika para Reader ingin tau cerita Tuan Muda Taksa WU memperjuangkan cinta nya kepada Qiana, kalian bisa baca cerita nya di novel yang berjudul "Kehidupan ke dua sang putri". Atau kalian bisa cari nama author nya, Liana keizia.


Sorang putri kerajaan bernama Qian yang meninggal karna pengkhianat, lalu, arwahnya masuk ke dalam jasad wanita yang bernama Qiana yang meninggal karna ke kekejaman sang suami, hingga datanglah Tuan muda Taksa WU orang terkaya ingin menjadikan nya seorang istri. Kalian bisa mengikuti cerita nya yang tak kalah seru loh.


"Aku dengar kamu juga sudah menikah, ya?" ujar Taksa balik bertanya.


"Ah, iya! bahkan saya sudah mempunyai anak kembar!" jawab Davvien, dia merasa sangat bangga mengatakan hal demikian.


"Wah, selamat kalau begitu! bagaimana kalau kita mengobrol sebentar di dalam!" ajak Tuan muda Taksa untuk kembali masuk ke dalam restoran.


Belum sempat menjawab, tapi ponsel Davvien sudah berdering.


"Tunggu sebentar, istri saya menelpon!" ujar Davvien.


Dia sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan telepon dari Vera.


"Halo, sayang!" ucap Davvien.


"Apa!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


~Bersambung.


__ADS_2