
...Setelah penantian panjang, akhirnya aku menemukan kebahagiaan ku... setelah sekian lama bersabar, akhirnya semua harapan tersampaikan....
...Ku pernah ber-angan, bahwa dirimu lah yang akan menjadi tempat ku berlabuh untuk pertama dan yang terakhir......
...Tapi... angan itu perlahan mulai hilang, saat sikap dan perkataan mu seolah tidak ingin diri ini berada di sisi mu....
...Perlahan aku mulai sadar, bahkan yang ku angankan adalah hal yang mustahil ku dapatkan, aku pun menjauh karna takut jika diri ini semakin terjerat dan terikat dengan cinta yang sepihak....
...Tapi......
...Saat diri ini ingin menjauh, dirimu malah kembali hadir, seolah menyiram hati yang hampir kering, memberi pupuk pada hati yang hampir layu, hingga menumbuhkan kembali cinta yang memang masih bersemayam untuk dirimu....
...Dan......
...Hari ini semua angan ku telah tercapai, aku bahagia, karna dirimu... pangeran yang ku harapkan kini telah menjadikan ku sebagai ratu dalam hidupmu....
...(Intan puspita)...
...----------------...
Suasana bahagia masih bisa di rasakan, meski jam telah berputar, namun kebahagiaan itu tidak akan hilang meski dengan pergantian beribu-ribu tahun.
Intan yang masih merasakan kebahagiaan karna sang pujaan hati telah melamar dirinya pada hari kelulusan nya.
Setelah Intan menerima lamaran Fero, akhirnya mereka sepakat untuk merayakan kebhagiaan mereka dengan acara makan siang di sebuah restoran.
Baru saja ketiga keluarga itu selesai menyantap makan siang mereka, Intan beserta keluarga pun pamit pulang, Intan pulang bersama kedua orang tuanya, sedangkan Fero pulang bersama keluarga Davvien.
Mereka berpisah di depan restoran, Davvien tampak sedang mengatakan sesuatu pada sang istri setelah mobil yang di tumpangi Intan beserta keluarga berlalu.
"Sayang, kamu pulang sama Daddy dan Mama dulu ya... aku mau jemput Kakek dulu, dia pulang hari ini dan sebentar lagi Kakek sudah sampai di bandara" Davvien memegang kedua bahu Vera, sambil menyuruh sang istri pulang dengan mertua Davvien.
"Loh, Kakek pulang... kenapa aku tidak boleh ikut, kan aku juga kangen sama Kakek, aku ikut ya. Kakek pasti senang kalau aku juga ikut menjemput dirinya" Vera meminta dengan begitu kegirangan.
Davvien tau jika sang istrinya sedikit keras kepala, eh bukan sedikit, tepatnya memang keras kepala, namun Davvien harus mengakalinya karna dia tidak ingin sang istri merasa kelelahan.
"Sayang, kamu pulang dulu istirahat. Aku tidak ingin kamu kelelahan... kamu pasti capek banget kan" jelas Davvien lagi.
"Iya Nak, kamu ikut Mama pulang dulu... nanti suami mu pasti akan menjemput mu di rumah!!" belum sempat Vera menjawab namun mama Rina sudah menyela.
"Betul sayang, suamimu tidak akan kemana-mana kok" imbun Ny.Andi, saat ini tidak ada satupun yang membela ibu yang sedang mengandung anak kembar ini.
"Hemmm baik lah, kamu hati-hati ya" Vera pun akhirnya mengalah.
Davvien mencium puncak kepala sang istri, dia bernafas lega karna Vera tidak memaksa lagi untuk ikut, karna dia tidak akan bisa menolak permintaan sang istri.
"Masuk lah ke dalam mobil sayang, aku akan berangkat sekarang karna tidak ingin membuat Kakek menunggu" ucap Davvien lagi. Dia pun menuntun Vera untuk masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu mobil tersebut.
"Aku pergi dulu ya Ma, Mom, Dad" Davvien mencium tangan orang tua dan mertua nya, membuat ke empat orang itu tercengang. mereka merasa tersentuh terutama mommy Davvien, karna sekian lama Davvien tidak pernah melakukan hal tersebut.
"Kamu hati-hati ya Nak" kata Ny.Andin, Davvien mengangguk lalu masuk ke dalam mobilnya.
Akhirnya semua meninggalkan restoran dengan tujuan yang berbeda. Di dalam mobil Vera merasa heran dengan kepulangan sang Kakek, karna kakek Farhan tidak akan pulang jika tidak ada hal yang begitu penting.
__ADS_1
"Ah mungkin karna Kakek kangen dengan keluarga nya" Batin Vera, tidak ingin memikirkan.
"Kamu kenapa Nak, apa kamu tidak bisa jauh dengan suami mu sebentar saja?" tanya mama Rina.
"Bukan seperti itu Mah, Vera hanya penasaran saja kenapa Kakek pulang tiba-tiba, karna setau Vera Kakek tidak akan pulang jika tidak ada hal yang sangat penting" jawab Vera langsung memegang tangan sang mama yang duduk di samping nya.
"E mungkin beliau rindu dengan keluarga nya"
"Iya Ma, Vera juga mikirnya begitu" jawab Vera sambil tersenyum ke pada sang mama.
Setelah itu tidak ada lagi pembahasan, mereka hanya menikmati perjalanan dengan melihat keluar jendela.
...----------------...
Davvien dan Fero sudah sampai di bandara, mereka langsung turun dan mencari keberadaan sang kakek.
Setelah mengedarkan pandangannya, dari sekian banyak nya orang mereka melihat seorang yang sedang berjalan menggunakan tongkat dengan salah satu tangan, dan satu tangan nya lagi sedang menarik koper.
"Kakek, kenapa Kakek tidak duduk saja menunggu kami, kan kasihan Kakek harus menarik kopernya" ujar Davvien saat sudah sampai kepada sang kakek.
"Kamu menyuruh Kakek menunggu, apa kamu tidak tau, Kakek hampir berakar duduk di bangku itu, apa kamu tidak mengerti jika menunggu adalah yang paling membosankan" kakek langsung memarahi Davvien sambil memukul kaki sang cucu menggunakan tongkat nya.
"Hehe maaf Kek, tadi aku harus membujuk istri ku dulu agar tidak ikut... dia tadi bersikeras ingin menemui Kakek" ucapan Davvien langsung meredakan amarah Kakek Farhan.
"Cucu menantu ku juga merindukan aku... oke aku juga tidak sabar menunggu besok, ingin segera memeluk cucu menantu ku" kata-kata kakek membuat Davvien bermuka masam.
"Kakek sudah tua kenapa masih genit sih, dia itu istri cucu Kakek kenapa Kakek malah ingin memeluk nya" ujar Davvien dengan wajah tidak suka.
"Aw.... sakit kek, kenapa Kakek terus memukul ku, kalau besok aku pincang bagaimana?"
"Sudah-sudah ayo kita pulang, Fero bawa koper Kakek, aku pusing memikirkan cucu aneh ini. Kamu jangan seperti dia nanti ya! cemburu nya berlebihan" tanpa rasa bersalah sang kakek Farhan langsung melangkah meninggalkan mereka berdua.
"Aku tidak janji Kek, karna sekarang aku juga merasakan seperti yang Davvien rasakan, tidak rela jika yayang Intan dekat dengan lelaki lain, walaupun lelaki itu sudah tua" Batin Fero sambil tangan nya meraih koper dengan tatapan nya masih menatap sang kakek yang sudah sedikit menjauh.
Karna tidak fokus, al hasil bukan koper yang di pegang Fero melainkan tangan Davvien yang juga ingin meraih koper.
Davvien melirik pada tangan yang di genggam erat oleh Fero, namun Fero seperti nya belum menyadari, Davvien pun mengalihkan pandangannya pada wajah Fero yang masih diam dan menatap kedepan.
"Lepas atau aku tidak akan membuat pesta pernikahan untuk mu dan marmut mu itu kutu kupret" Davvien berteriak pada sang asisten.
Mendengar itu Fero langsung tersadar, dia pun melihat tangan nya yang begitu kuat menggenggam tangan Davvien. Fero langsung menarik tangan nya dari tangan Davvien.
"Maaf bos, saya ingin mengambil koper Kakek" Davvien tidak menghiraukan ucapan Fero, dia pun melangkah menyusul Kakek Farhan keluar dari bandara.
...----------------...
Malam tiba...
Vera berserta keluarga baru selesai menyantap makan malam mereka, ternyata sang kakak juga sudah kembali lagi ke sana.
Sepulang Vera, dia sudah melihat Frans yang baru juga tiba, Frans meminta maaf karna tidak dapat hadir saat sang adik wisuda dengan memberikan hadiah berupa boneka besar.
Vera protes karna semua orang menganggap dirinya seperti anak kecil, mulai dari mertua, mama dan juga kakaknya selalu memperlakukan Vera bak anak kelas 5 SD.
__ADS_1
Kini mereka sedang duduk di sofa, Vera duduk dengan bersandar pada dada sang kakak, ini kesempatan untuk mereka menghabiskan waktu bersama, karna jika suami Vera ada di sana. Maka jangan harap keduanya bisa sedekat itu.
Mama Rina dan Tn.Diwan sangat senang melihat adik kakak yang begitu akur, mereka pun pamit ke pada ke dua anaknya untuk istirahat, karna hari ini begitu menguras tenaga.
Mama juga menyuruh Vera untuk istirahat awal supaya besok dia lebih fresh, namun Vera masih menunggu sang suami menjemput dirinya.
Karna sudah terbiasa dengan sentuhan sang suami, Vera menjadi susah tidur jika tidak di pelukan sang Davvien.
"Kak, kenapa mas Davvien belum pulang ya... dia juga tidak menelpon ku kak, tidak biasanya seperti ini, biasanya dia tidak bisa jauh dengan ku walaupun hanya satu jam kak" Vera bertanya kepada Frans dengan memakan cemilan nya.
"Mungkin dia sedang berkumpul dengan keluarga nya" elak Frans yang tidak tau mau menjawab apa.
"Tapi kan Vera juga keluarga mereka Kak, masak mereka melupakan Vera" Frans semakin di buat gelagapan oleh Vera, ternyata perkataan Frans malah membuat Vera semakin merasa sedih.
"Mungkin sebentar lagi suamimu akan pulang"
ucap Frans dengan tangan nya mengelus kepala sang adik.
Vera hanya mengangguk, mereka pun akhirnya memilih untuk menonton. tanpa terasa jam berputar hingga pukul 11 malam, namun belum ada tanda-tanda Davvien akan datang.
Vera semakin gelisah juga tidak tenang, sudah berulang kali Vera mencoba menghubungi sang suami namun tidak di jawab, Vera menghubungi mertua nya juga tidak ada jawaban.
"Kak, kemana mas Davvien... dia bahkan tidak menjawab telpon dari Vera, aku takut dia kenapa-kenapa" Vera terus merengek pada sang kakak.
"Dia sudah besar tau cara menjaga diri, kamu tidur saja dulu... kalau dia datang Kakak akan bangunin kamu" Frans terus menenangkan sang adik, dia tau bagaimana posisi Vera saat ini.
"Bagaimana aku bisa tenang kak, jika mas Davvien kenapa-kenapa bagaimana, lebih baik kita ke sana kak" Vera ingin kepastian, namun Frans mencoba untuk memberikan penjelasan lagi kepada Vera.
"Tunggu sebentar lagi, mungkin dia sedang di perjalanan, jangan terlalu membebankan pikiran mu, kasian anak-anak mu"
Mendengar itu akhirnya Vera mengalah, dia mencoba tenang demi keselamatan kedua bayi nya.
Jam berjalan, Vera pun sudah merasa mengantuk, akhirnya jam 12:40 Vera tertidur masih di dada sang kakak.
Frans masih setia meniduri sang adik agar tidak merasa cemas lagi, setelah di rasa Vera sudah terlelap, Frans mengangkat Vera untuk tidur di dalam kamarnya.
"Tidur lah princess kecil ku, kakak harap besok suami mu sudah menyelesaikan segalanya" Frans mencium kepala Vera, dia pun memilih tidur di sofa karna tidak ingin meninggalkan Vera sendirian, takut jika sang adik terjaga tengah malam.
.
.
.
.
~Bersambung.
Kira-kira kemana ya babang Davvien, kasian kan bumil jadi kepikiran.
Maaf kan aku ya para Reader baru up, semoga kalian masih mau mendukung karya ku yang lemot ini,
Sehat selalu, aku sayang kalian.
__ADS_1