
Suasana di pagi hari begitu menyejukkan dan menenangkan bagi siapapun yang menikmati nya, tapi di saat saat seperti ini tidak banyak orang yang berkesempatan merasakan alami nya udara di pagi hari, kebanyakan manusia lebih memilih bermain di alam mimpi, karna pada waktu yang sedemikian juga sangat nyaman untuk bermanja manja dengan tempat yang namanya kasur
Hati yang beku nan berkarat karna seseorang di masa lalu akan kah bisa tercairkan dengan kehadiran seorang di masa sekarang, akan kah kekosongan hatinya bisa dengan cepat seseorang masuk dan mengisi relung hati yang hampa, atau siap kah dia menerima kalau hatinya yang kosong sudah terisi dengan seseorang yang baru dia kenal
Bagaimana memulai kisah yang baru sedang kita masih terpaut kisah yang lama, kisah lalu yang masih belum lengkap akan kah bisa dengan cepat di alih kan dengan kisah mendatang, bisakah hati yang sudah terpikat cinta seseorang yang sudah lama menemani nya bisa berubah lalu mencintai seseorang yang baru beberapa saat mengganggu hari harinya, apakah akan rela melepaskan yang kita cintai lalu belajar mencintai yang belum tentu bisa kita lakukan
Itu semua hanya waktu yang bisa menjawab, cinta yang dulu tidak selamanya melekat di dalam hati, bila dua insan yang mau belajar untuk saling menghargai cinta pun akan turut andil dalam hati ke dua nya
Seperti yang di rasakan Davvien, dia terkadang bingung tentang semua ini, mungkin karna hati nya sudah lama kosong sehingga kehadiran Vera sedikit menyentuh hati nya, tapi dia tetap tidak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama, dia takut jatuh cinta dan membuat nya harus merasakan luka yang sudah mengering
Lain nya dengan Vera, dia bingung apa dia bisa mencintai suaminya sedang yang ada di dalam hatinya hanya lah sang kekasih yang belum sempat dia putuskan, tapi bagaimana pun Vera tidak ingin egois, secepat nya dia akan mengambil tindakan siapa yang akan dia pilih dan lepaskan meski akan mempunyai resiko yang berat
Tak terasa pernikahan Vera dan Davvien sudah terjalin seminggu lebih lama nya, rumah tangga yang masih sebiji jagung, Vera selalu berusaha menjadi istri yang baik meski hatinya menolak sedangkan Davvien tetap tidak perduli pada Vera meski hatinya menginginkan
Selama seminggu setiap harinya Vera melayani Davvien, menyiapkan air mandi, pakaian dan sarapan, namun tidak terucap satu kalimat terimakasih dari suami nya, tapi Vera tetap akan sabar, yang dia ingat dia hanya menjalankan tugas
Seperti pada pagi ini, Vera sudah menyiapkan segalanya, ya tetu saja dengan ocehan ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut nya, Vera yang terkesan cerewet memang susah untuk mengunci mulut nya, Davvien selalu mendengar ocehan yang tidak berfaedah dari mulut Vera tapi Davvien tetap lah Davvien, dia akan tetap cuek pada Vera
Setelah selesai semua nya, Vera berangkat duluan daripada Davvien karna hari ini ada tugas yang penting di kampus nya
Davvien selesai bersiap dia menuruni tangga dan berjalan pada meja makan, dilihat nya meja makan sudah penuh dengan beragam masakan lezat, tapi dia tidak melihat Vera biasa nya istrinya itu sudah menyambutnya dengan senyuman terkadang manis terkadang terpaksa
Davvien duduk, dia menemukan kertas di samping piring nya
"Aku berangkat duluan tuan, karna hari ini aku tidak boleh terlambat"
Setelah membaca pesan Vera Davvien berfikir
"Apa dia sering terlambat"
Memang benar Vera sering terlambat ke kampus karna faktor kendaraan terkadang cepat menemukan taksi tak jarang juga dia harus jalan kaki baru bisa menemukan tumpangan
Ya seperti pagi ini, Vera masih tetap berjalan kaki mungkin karena terlalu awal jadi belum satu pun taksi yang lewat
"Kok belum ada taksi ya, rasanya aku sudah berjalan sangat jauh" keluh Vera melihat ke arah belakang berharap akan ada taksi yang lewat, tapi tetap tidak ada dia pun melanjutkan perjalanan nya tiba tiba
Tint,,
Vera kaget mendengar bunyi klakson mobil di belakang nya, dia pun melihat
"Nona ayo masuk biar saya yang akan mengantarkan anda"
"Kak Fero"
"Sebaik nya cepat nona, karna akan susah mencari taksi''
Vera yang memang sudah lelah pun akhirnya msuk, saat membuka pintu mobil dia melihat Davvien dengan wajah datarnya, awalnya Vera ragu tapi Fero mencoba meyakinkan nya, Vera pun masuk
Flashback
Setelah membaca surat Vera Davvien memakan sarapan nya, tak berselang lama Fero pun datang dan langsung ikut makan bersama Davvien
"Nona kemana Vien" tanya Fero yang tidak melihat Vera
Davvien memberikan kertas yang di tulis Vera tanpa menjawab
"Oehhhhh mungkin dia memang sering telat karna aku sering melihat nya kadang jalan kaki kadang sudah naik taksi" jelas Fero sambil makan
Pernyataan Fero membuat Davvien tertegun dia teringat kembali kalau Vera tidak ada kendaraan
"Ayo pergi" Davvien bangun langsung melangkah
"Aku belum selesai, kau selalu saja seperti itu" kesal Fero dia pun ikut melangkah
__ADS_1
"Kalau kau mau kau bisa makan sepuasnya mulai hari ini tanpa bekerja lagi" kata kata Davvien santai tapi mengandung ancaman yang menyeramkan bagi Fero
"Heheh nggak bos"
Mereka pun berangkat, dan saat sampai di jalan yang sudah agak jauh dari rumah nya benar saja dia melihat Vera sedang berjalan kaki dan kebingungan melihat ke arah belakang
"Vien, itu dia apa kau tidak keberatan kalau aku ajak dia naik ke sini, aku kasihan padanya"
Davvien tidak menjawab dia pun juga merasa sedikit iba
Fero pun mengajak Vera untuk ikut bersama dan berencana mengantarkan Vera ke kampus nya
Flashback off
Mereka sudah sampai di kampus Vera, dia langsung turun
"Terimakasih kak Fero, terimakasih tuan"
Fero tersenyum sedangkan Davvien malah membuang mukanya, mobil pun berjalan meninggalkan Vera
Vera menggeleng kepala lalu dia pun berjalan masuk ke dalam kampus
...----------------...
Di kator..
"Gawat tuan, saya baru mendapatkan kabar kalau proyek yang sedang kita bangun roboh" Jelas Fero pada Davvien saat sudah masuk dalam ruangan Davvien
"Apa, kenapa bisa roboh, semua bahan yang dipakai berkualitas tinggi kan"
"Saya juga heran, kenapa bisa roboh"
"Ini ada yang tidak beres kita kesana sekarang" mereka pun pergi
Karna pembangunan hotel memang tidak terlalu jauh dari kantor Davvien, tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai di TKP
Mandor tersebut menjawab terbata bata "Sa saya juga tidak tau pak"
"Apa ada korban"
"Ada tiga orang yang luka luka dan satunya meninggal pak"
"Fero telpon ambulance kesini, dan untuk yang meninggal kasih jaminan kelangsungan hidup untuk keluarga nya"
"Baik tuan"
Davvien berjalan melihat bangunan yang runtuh, dalam hatinya ada keganjalan Davvien ragu dengan bahan yang di gunakan
Saat kebingungan terjadi pun satu truk masuk pengantar bahan pembuat bangunan, Davvien langsung mengecek semua bahan tersebut, betapa kaget nya dia melihat kalau bahan yang di gunakan bahan murah
Davvien langsung menghampiri supir
"Rupanya kau sudah berani bermain main dengan ku ya" Davvien memegang baju supir
Supir yang terkejut pun langsung gelagapan, dia tidak di beritahu kan oleh mandor kalau bosnya datang ke tempat
"Ma maaf tuan, saya hanya dapat perintah" ucap supir lalu melihat ke arah mandor yang berdiri tidak jauh dari mereka dengan di jaga oleh Fero
Sedangkan mandor sudah gemetaran, rasanya kakinya sudah tidak mampu menopang berat badan nya saat melihat aura kemarahan sang bos
Davvien menghampiri mandor tersebut
Bugh,,
__ADS_1
Langsung mendarat bogem mentah di wajah mandor, dengan satu pukulan dia sudah terkapar di tanah
"Berani berani nya kau bermain curang"
Bugh
bugh
bugh
Davvien terus menghajar mandor yang wajah nya sudah sangat menyedih kan
"Katakan siapa lagi yang bersama kalian, katakan"
"Ampun tuan"
"Cepat katakan"
Davvien ingin melayang kan satu bogem nya lagi tapi sang mandor langsung angkat bicara
"Manager keuangan tuan"
"Kurang hajar, buakan kah dia perempuan besar juga nyali nya"
"Fero telpon irfan untuk membawa ke dua orang ini dan perintah juga untuk menangkap perempuan itu lalu bawa kemarkas" langsung pergi
Fero langsung menjalankan tugas nya
Setelah menunggu beberapa saat, Irfan dan beberapa anak buah nya datang, langsung membawa ke dua orang tersebut, dan yang lain nya bertugas menangkap manager keuangan
...----------------...
Sedangkan di tempat lain, jam masuk sudah selesai Vera pamit pada teman teman nya untuk pulang duluan, Intan mau mengantarkan Vera tapi Vera menolak karna tidak ingin terus terusan merepot kan Intan
Saat berjalan Vera belum melihat taksi lewat, dia pun duduk di halte bus
"Sekarang sudah banyak taksi online jadi susah cari taksi biasa" gumam Vera
Saat melihat sekeliling tak sengaja matanya menangkap sekelompok preman dengan satu nenek tua di tangah nya
kalau di lihat mereka sedang merebut tas nenek tua itu, tanpa berfikir dua kali Vera langsung bergegas lari dan menghajar salah satu dari mereka
"Hy jangan berani nya sama orang tua kalian" ucap Vera lantang
"Wah wah wah ada marmut manis ni, lebih baik menepi marmut kecil kau tunggu kami, nanti kita akan bersenang-senang" mereka pun tertawa setelah mendengar teman nya berbicara
"Kurang ajar" tanpa aba aba Vera langsung menghajar para preman tersebut
"Lumayan juga kau marmut kecil, serang dia"
Perkelahian antara satu lawan tiga pun di mulai, Vera sempat kewalahan melawan mereka, karna akhir akhir ini Vera sudah jarang latihan, tapi karna kemampuan nya cukup hebat dia berhasil menjatuhkan semua lawan nya, mereka pun pergi
"Nenek tidak apa apa?" tanya Vera menghampiri sang nenek
"Tidak cu, terima kasih banyak ya cu"
"Ya sudah kita kesana ya nek nunggu bus datang"
"Tidak cu, nenek mau pulang saja rumah nenek dekat kok" tolak nenek
"Tapi kalau nanti terjadi apa apa lagi bagaimana"
"Sudah tidak apa apa cu" nenek memberi beberapa lembar uang pada Vera, namun Vera menolak nya
__ADS_1
Nenek pun pergi, sebenarnya Vera merasa khawatir tapi karna nenek tetap ngotot pulang ya terpaksa Vera membiarkan nenek pulang, mau nganterin dia sendiri sedang buru buru
~Bersambung