
...Jangan sampai harta dan wanita membuat mu serakah, hingga kau lupa diri, ingat lah.. mati tidak menunggu kita tua....
...----------------...
Mama Rina dan juga Ny.Andin saat ini sedang menggendong ke dua cucu mereka, tentu saja Rina tidak memberi tau tentang apa yang baru saja dia alami kepada sang putri, mengingat jika Vera sedang sangat lelah dengan kedua bayi nya.
Rina hanya berniat akan memberitahu suami dan anak sulungnya, tanpa ikuti membebani putri nya.
"Duh... cucu oma, gemes banget sih!!" Ny.Andin bertubi-tubi mencium Syakira, sedangkan Rina menggendong Syakir.
Selagi ke dua bayinya ada yang gendong, Vera dan Intan memilih untuk masak dan berencana mengantarkan makan siang untuk suami mereka.
"Eh Rin, kita bawa jalan-jalan mereka yuk!" ajak ny.Andub pada besan nya itu.
Rani langsung menggeleng "Aku tidak mau Din!" tukas Rina dengan cepat.
"Loh! memangnya kenapa?" tanya Ny.Andin yang melihat kekhawatiran Rina.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin keluar saja!" tukas nya lagi.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau ke taman belakang dulu ya, mau bawa Syakira!" ujar ibu dari Davvien yang di angguki oleh Rina.
Rina tidak berani untuk keluar rumah setelah mendapat teror dari orang yang berusaha mencelakai diri dan keluarganya.
...----------------...
Di perusahaan, Fero dan Davvien sedang duduk di dalam ruangan, mereka baru kembali setelah mengadakan rapat, kini keduanya sedang duduk sambil menyeruput kopi di tangan mereka.
"Fero, apa kamu pernah dengar perusahaan terbesar di kota XX perusahaan yang berjalan di bidang teknologi dan farmasi!" tanya Davvien kepada sang asisten.
"Kenapa kamu bertanya tentang perusahaan itu?" tanya Fero.
__ADS_1
"Aku hanya sempat mendengar dari rekan bisnis kalau itu perusahaan yang juga tidak kalah besar, kalau kita mengajukan kerja sama, ini pasti akan sangat menguntungkan untuk kita!" ujar Davvien membuat asisten nya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Cari tau sekarang Fero!" ujar Davvein lagi.
Dengan gerak-gerik jari jemari yang lincah, Fero membuka tablet miliknya dan mulai mencari tentang perusahaan yang akan mereka ajak kerja sama.
Hanya sekitar sepuluh menit, Fero sudah mendapatkan informasi nya.
"Perusahaan Anggara, yang dulu di pimpin oleh tuang Anggara sendiri, setelah beliau meninggal, perusahaan nya di wariskan kepada putra bungsu yang bernama Reyan Anggara, tapi sudah sejak satu tahun perusahaan di pimpin oleh Tn.Reyan, dia beserta keluarganya mengalami kecelakaan, tapi sampai saat ini belum ada kabar tentang mereka berempat, Tn.Reyan memiliki satu putra Frans Anggara dan satu anak perempuan Kia Anggara, kini perusahaan itu hanya di jalan kan oleh asisten pribadi dari Tn.Anggara, Sedangkan kakak dari Tn.Reyan bernama Roy Alfin Anggara hanya mengurus dari salah satu anak cabang perusahaan tersebut, ntah ada alasan apa hingga perusahaan pusat tidak di serahkan untuk kakak dari Tn.Reyan ini!" jelas Fero melihat isi dari tablet di tangan nya.
"Fero, bukan kah itu nama Dad Diwan, dan Kia, aku ingat waktu Mama pertama kali melihat Vera dia memanggil dengan nama Kia, dan yang aku ingat, istri dan ayah mertuaku saat itu berada di tepi jurang sedang menangis, dengan mobil yang sudah meledak di dalam jurang!" ujar Davvien, dia merasa ada yang aneh, Davvien tidak begitu tau, karna tidak ada yang menjelaskan kepada mereka, hanya waktu itu Tn.Diwan menceritakan kepada anak sulungnya, Frans.
"Apa jangan-jangan!" Ayah dari Syakir dan Syakira ini menduga, Fero pun memiliki pemikiran yang sama dengan Davvien.
"Aku juga memikirkan hal yang sama!" imbun Fero.
Saat sedang bergelut dengan pemikiran mereka, suara ketukan pintu ruangan terdengar.
"Sayang...!" ujar Davvien yang langsung bangun dan menghampiri sang istri.
"Kak, Intan juga sedang menunggu Kakak di ruangan kakak!" ucap Vera yang sudah berjalan pada sofa bersama sang suami.
"Benar kah, my wife ku datang ke sini?" tanya Fero yang kurang percaya.
"Iya Kak!" hanya jawaban singkat dari Vera.
"Oke kalau begitu, aku keruangan ku dulu!"ujar Fero langsung pergi menghilang di hadapan Davvien dan Vera.
"Sayang... kamu datang ke sini, terus Syakir sama Syakira sama siapa?" tanya suami bucin nya itu.
Davvien membimbing Vera untuk duduk di sofa.
__ADS_1
"Ada Mommy dan Mama di sana, jadi kami punya waktu memasak dan juga mengantar makanan untuk kalian!" jawab Vera langsung membuka kotak makanan yang dia bawa.
Davvien membuka jas berwarna navy yang sedari tadi membalut tubuh kekar nya, lalu dia melipat lengan kemeja dalam nya hingga sampa ke siku, kemudian suami dari Vera ini sedikit melonggarkan dasi yang bertengger di leher nya, terlihat sedikit acak-acakan, tapi itu membuat nya lebih tampan di mata Vera.
Vera melihat dengan begitu kagum, dia terpesona dengan ketampanan ayah dari anak-anak nya itu.
Davvien tersenyum melihat Vera yang terus menatap nya tanpa berkedip.
"Sayang, aku tau kalau aku ini tampan, dan kamu bisa menatapnya setiap hari dan malam, karna pria tampan ini adalah milikmu!" ujar Davvien.
Blus....
Wajah Vera langsung merah, merasa malu dengan ucapan dari sang suami, diapun menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidang suami, menghirup aroma parfum yang di gunakan Davvien yang selalu membuat nya nyaman berlama-lama dalam pelukan hangat pria itu.
Davvien mencium kepala Vera, dia juga sangat menyukai aroma tubuh ibu dari ke dua anaknya itu, yang selalu membuat dirinya merasa candu.
Ntah siapa yang mulai duluan, yang jelas keduanya sedang menyatu bertukar saliva, melepaskan sedikit rindu di dalam jiwa keduanya. Namun, mereka harus bersabar jika ingin melakukan yang lebih jauh lagi.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung
__ADS_1