
Siang ini di sebuah gedung bertingkat, tepatnya di Apartemen Tania, dia tengah di sibukkan dengan acara memasak, setelah tadi Aldi memintanya untuk di anterin pulang, sekarang Aldi malah meminta ongkos nya dengan makan masakan Tania
Tania yang tidak setuju sempat protes, dan merasa kesal karna tadi Aldi sendiri yang minta nganterin nya pulang, tapi ya namanya Aldi tidak pernah habis akal biar Tania mengizinkan nya makan bersama gadis kecil nya
Setelah melalui sedikit perdebatan dan sedikit ancaman dari Aldi, Tania akhirnya pasrah dia pun memasak meski dengan hati yang tidak rela
Aldi tersenyum melihat Tania yang sedang memasak dengan wajah cemberutnya
Masakan Tania sudah siap, meski Tania tidak suka memasak seperti Vera, Intan, dan Rani tapi karna dia selalu nemenin para sahabat nya masak dia pun cukup pandai memasak berbagai jenis makanan
Tania memanggil Aldi saat masakan nya sudah tersusun rapi di meja makan
Aldi pun melangkah pada meja makan dan mulai memakan masakan gadis yang sudah mencuri hatinya itu
"Aku tidak pandai memasak, maaf kalau tidak enak," ucap Tania saat di sela sela sarapan mereka
"Untuk apa pandai, kalau segini kemampuan kamu aja udah sangat enak, kalau kamu pandai memasak kamu sudah bisa buka restoran"
"Ish udah lanjutin makan nya jangan bercanda mulu"
"Hey beneran loe memang makanan ini sangat enak"
Tania hanya diam, tidak berniat menjawab lagi karna dia tau orang yang dia hadapi sekarang tidak akan kalah bila beradu mulut
...----------------...
Sedang di rumah Vera, dia duduk di pinggir kolam renang, tinggal sendiri di rumah sebesar itu tiada yang menghibur di saat perasaan nya kalut, di saat sendiri seperti ini hati nya yang sedih bertambah perih, Vera masih membayangkan bagaimana reaksi Riko saat tau dia sudah menikah, betapa kecewa nya Riko
Vera jelas melihat luka di dalam mata Riko, tapi semuanya sudah terlanjur dan ini bukan keinginan nya, dia juga sangat menyayangi Riko tapi saat takdir berbicara kita hanya bisa mengikuti nya
Setelah di rasa beban di hatinya sudah sedikit ringan, Vera bangun dia berencana untuk masak karna sebentar lagi Davvien akan pulang
...----------------...
Kembali pada Aldi dan Tania
"Aku pulang dulu" ucap Aldi yang sudah berdiri
"Kenapa nggak dari tadi" gumam Tania dengan suara sangat kecil namun masih di dengar oleh Aldi
"Apa kau mengatakan sesuatu nona kecil" Tanya Aldi sengaja dengan senyuman di bibirnya
"Ah tidak tuan,"
"Tapi aku mendengar kau bicara tadi, apa kau berencana mengundang ku ke sini lagi lain waktu" tanya Aldi yang tidak tau malu
Tania membulatkan matanya mendengar perkataan Aldi, seharian ini saja bersama lelaki ini sudah menjadi hari yang sangat buruk bagi Tania, mana mungkin dia mengundang lagi laki laki ini pikir Tania
"Baik lah nona kecil nanti aku akan datang lagi ke sini seperti nya aku sudah nyaman dengan masakan mu"
"Tidak usah" Tania refleks menjawab, dia pun langsung menutup mulut ny
__ADS_1
"Maksd ku, anda tidak perlu repot repot datang kesini"
"Sama sekali tidak merepot kan"
"Tapi kau merepot kan ku"batin Tania
"Tapi," Belum sempat menjawab Aldi sudah lebih dulu memptong nya
"Aku pulang nona kecil"
"Nama ku Tania tuan bukan nona kecil" protes Tania
"Tapi aku menyukai sebutan itu, kalau kau ingin aku memanggil namamu kamu harus memanggil namaku juga" ucap Aldi yang hendak melangkah
"Itu tidak perlu tuan"
"Heumm baiklah sesuai keinginan mu, aku pulang ya" saat melangkah Aldi menghentikan kembali langkah nya
"Ada apa lagi tuan, aku rasa tidak ada barang mu yang ketinggalan" tanya Tania yang melihat Aldi berbalik arah menghadap padanya lagi
"Aku lupa sesuatu" kembali mendekati Tania
"Mana ponsel mu"
"Untuk apa tuan''
"Sudah mana, oh ya pasti ini ya" melihat ponsel di atas meja sofa langsung mengambil dan mengotak atik nya
"Tunggu tuan mau apa?" tanya Tania yang panik, dia tidak mengaktifkan sandi pada ponselnya sehingga dengan mudah Aldi bisa membuka nya
"Aku hanya mencatat nomor mu supaya nanti kalau aku ingin makan di sini lagi aku bisa menghubungi mu dan kau bisa mempersiapkan nya, dan juga mencatat nomor ku supaya di saat aku menghubungi mu jadi nya kamu tidak bingung" ucap Aldi dengan PDnya
"Maaf tuan tapi disini bukan rumah makan" teriak Tania saat melihat Aldi sudah keluar
"Huhhh orang itu benar benar bikin aku emosi" gerutu Tania diapun melangkah ke dalam kamar
Sedangkan Aldi hanya tersenyum saat sudah di dalam lift
...----------------...
Waktu magrib pun telah tiba, terlihat seorang hamba Allah sedang duduk di atas sajadah dengan kedua tangan di angkat sedada, bibirnya yang kelu hanya air mata yang mengalir, kesekian kalinya meluapkan semua rasa sakit yang selalu hadir di benaknya, mulut nya terdiam namun hatinya dengan khusyuk memanjatkan doa kepada sang khalik, yang telah menggaris semua yang di hadapi nya saat ini
Dia adalah Vera, tanpa pernah berhenti meminta kepada sang pencipta supaya di beri ketabahan, karna Vera tau Allah menguji nya berarti dia mampu, selama ini hidupnya selalu bahagia, sungguh egois jika dia marah di saat pertama kali Allah kasih ujian buat dirinya
Setelah selesai seperti biasa dia membereskan mukena dan sajadah nya, kemudian dia pun turun
Saat sampai di bawah tangga, Vera melihat Davvien yang baru masuk ke dalam rumah
Vera ingat, dia belum menyiapkan air mandi untuk Davvien, dia pun dengan cepat memutar badan nya dan menaiki tangga kembali
Davvien mengerutkan keningnya melihat tingkah Vera, dia pun ikut menaiki tangga
__ADS_1
Saat sampai dalam kamar, Davvien mendengar suara dalam kamar mandi yang dia yakini adalah Vera tanpa sadar Davvien tersungging kan semuanya di bibirnya mengingat tingkah Vera yang langsung lari saat melihat nya, rupanya karna belum menyiapkan air untuk nya mandi
Setelah menyiapkan semua nya, Vera keluar dan sudah ada Davvien yang sedang duduk di sofa, dengan dasi sudah di longgar kan dan bajunya terbuka beberapa kancing, di tambah rambut nya yang acak acakan, sungguh membuat ketampanan Davvien bertambah
"Tuan, air nya sudah siap" ucap Vera sambil tersenyum sebaik mungkin
Dug dug dug dug
jantung Davvien kembali terpompa dengan cepat saat melihat Vera tersenyum seperti itu
"Kenapa lagi dengan jantung ku, selalu berolah raga saat melihat wanita gila ini tersenyum" batin Davvien
Tidak mau berlama lama, dia pun bangkit langsung masuk ke dalam kamar mandi, Vera sudah tidak menghiraukan sikap cuek Davvien lagi.
Dia pun melangkah pada ruangan ganti, dan memilih pakaian buat Davvien, setelah meletakkan pakaian Davvien di atas kasur, Vera keluar dari dalam kamar.
Saat berjalan, dia lupa memberitahu Davvien kalau makan malam nya sudah siap.
"Gimana ya, kalau nanti aku panggil lagi terlalu merepotkan ku harus bolak balik, tapi kalau aku ketuk kamar mandinya lebih tidak mungkin lagi" saat memikirkan caranya Vera melihat kertas dan pulpen, akhirnya dia pun menulis di secarik kertas.
"Kalau sudah siap turun lah, makan malam nya sudah siap"
Vera meletakkan kertas itu di meja rias, dan dia pun keluar.
Vera sudah menyiapkan semua nya, dia duduk di meja makan dengan kedua tangan nya di tumpukan pada meja tersebut.
"Kenapa lama sekali ya, apa dia tidak melihat surat ku" gumam Vera melihat Davvien belum juga datang.
"Hey sabar, jangan pada demo kalian pasti akan dapat jatah, tapi tunggu dulu" ucap Vera lagi saat mendengar suara perut nya sudah berisik.
Pada saat itu pun Davvien tiba, dia langsung duduk di meja makan dengan wajah tanpa ekspresi
"Apa pria ini mendengar perdebatan antara aku dan isi perut ku ya" batin Vera.
"Apa wanita gila ini menahan laparnya untuk menunggu ku" batin Davvien, dia mendengar saat Vera memarahi cacing di perut nya yang sedang meminta jatah.
Makan malam pun berlalu dengan keadaan hening, biasa nya ada Fero yang berusaha memecah keheningan, ini adalah kali pertama Davvien dan Vera makan malam bersama.
Setelah makan malam yang hening selesai, sekarang mereka berdua sudah berada di dalam kamar masing masing.
Vera langsung tertidur pulas, setelah melewati hari yang berat, dia ingin melupakan semua kejadian hari ini, meski tidak akan bisa dengan mudah setidak nya saat tidur Vera melupakan beban di hatinya untuk beberapa jam.
Lain hal nya dengan Davvien,dia berbaring dengan memegang dan membolak-balikkan kertas yang di tulis Vera, ntah apa yang dia pikirkan yang jelas saat ini Davvien tidak merasa marah pada Vera
Beberapa saat kemudian pun dia ikut tertidur, menyusul Vera dalam lembah mimpi meski tidak akan bertemu
~Bersambung
Jangan lupa like komen, vote nya juga dong 🤭😁😁
Mohon maaf jika tidak memuaskan, untuk saat ini hubungan Davvien sama Vera ya begitu begitu saja dulu, mungkin sekitar dua bab lagi akan ada perubahan, ya ntah itu makin buruk atau semakin membaik, atau bisa jadi berpisah.😲😱😱
__ADS_1
Ikutin terus ya
babay😘😘