
Malam semakin larut, keadaan mulai sunyi, pertanda bahwa manusia sudah mengistirahatkan badan juga jiwa yang lelah.
Di dalam kamar di sebuah rumah mewah, seseorang terus menghancurkan semua barang yang terletak di dalam kamar tersebut, dia terus meluapkan rasa kekesalannya kepada benda apapun yang ada di hadapan nya.
Keadaan nya begitu menyedihkan, dia bahkan berteriak, menarik rambut nya dengan begitu frustasi, perasaan nya sungguh sangat kacau, kemarahan nya bahkan sudah tidak bisa di tahan.
Dia berdiri di depan cermin, kembali melihat pipinya yang terlihat masih memerah, dia menyentuh pipi yang meninggal kan bekas jari seseorang yang masih terasa nyeri, pikiran nya pun kembali saat seseorang dengan begitu kasar menampar wajah mulus nya itu.
🌷Flashback on
"Kau mengatakan ku pengkhianat ha?"
Elsa yang sudah tersulut emosi kini berdiri dengan menaikkan nada pada Vera, sedangkan Vera juga ikut berdiri, dengan santai dia menjawab perkataan Elsa.
"Menurut mu apa namanya jika bukan pengkhianat, bukan kah kalian berpisah karna dia melihat mu dengan lelaki lain?"
Plakkkk
"Ahhkkkk"
Vera terjatuh ke lantai, semua terkejut mendengar teriakan Vera, kalian tau kan kalau Vera berteriak suaranya pasti sangat besar.
"Vera"
"Sayang"
Ucap Davvien, Tania dan Rani bersamaan, Davvien bangun langsung berlari pada Vera, begitupun dengan Tani dan Rani, sesaat suasana menjadi tegang para tamu undangan langsung mendekati tempat kejadian.
Davvien mengangkat tubuh mungil istrinya untuk berdiri.
"Sayang kamu tidak kenapa-kenapa?"
Tanya Davvien begitu khawatir, Vera hanya menggeleng.
Tatapan Davvien kini tertuju pada wanita yang sudah di runding kegelisahan, dia sudah kalang kabut karna melihat semua mata melihat nya seolah mengisyaratkan kemarahan dan juga kebencian, apa lagi melihat Davvien yang begitu terlihat sangat marah, Elsa merasa heran padahal dia tidak terlalu kuat menampar Vera tapi kenapa Vera langsung terjatuh. Pikir Elsa.
"Vien, maaf kan aku. Aku benar-benar tidak sengaja, dia sudah merebut mu dari ku aku tidak rela Vien kamu hanya milik ku"
Plakkkkkkk
Elsa langsung terdiam saat satu tamparan begitu keras mendarat tepat di pipinya, dia memegang pipi yang terasa nyeri bercampur perih.
"Kamu bilang tidak sengaja, kamu bilang dia merebut aku dari mu"
Davvien menggantungkan ucapan nya.
"Cih, bahkan aku telah melupakan mu sebelum dia menjadi istri ku, aku bahkan merasa sangat sangat menyesal karna pernah mengenal wanita pengkhianat seperti mu"
Davvien benar-benar marah, hatinya merasa sakit saat melihat sang istri tersungkur ke lantai karna tamparan yang di berikan orang yang telah mengkhianati nya.
"Kau telah menyakiti istri ku, maka aku tidak akan mengampuni mu"
Davvien kembali mengangkat tangan nya hendak melayang kan kembali tamparan untuk Elsa, tapi Vera langsung memeluk nya dari belakang.
"Suamiku sudah cukup"
__ADS_1
Ucap Vera mencoba meredakan amarah suaminya.
"Sayang, lepaskan aku biar aku beri pelajaran wanita sial*n ini, dia sudah berani menyentuh mu"
"Tidak sayang, sudah cukup aku tidak membiarkan mu melakukan nya lagi"
Suasana semakin mencengkram, para tamu tak tinggal diam mengabadikan momen tersebut, tak sedikit dari mereka yang mencibir Elsa, apa lagi Tania dan juga Rani, ingin rasanya mereka juga ikut menampar pipi Elsa.
Fero yang baru masuk juga sangat terkejut dengan apa yang di lihat nya.
Sedangkan Elsa begitu sakit saat melihat orang yang dulu selalu melindungi dirinya sekarang malah menampar nya karna wanita lain, rasa sakit di pipi nya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya, di tambah rasa malu yang harua di tanggung nya, dia pun tidak dapat melarang saat semua orang men vidio ke arahnya, bahkan kebanyakan dari mereka melakukan siaran langsung.
Davvien menghembuskan nafasnya secara kasar, dia pun berbalik dan menatap istrinya, di elus nya pipi Vera lalu mencium pipi yang masih sedikit memerah itu tanpa perduli dengan orang yang menatap mereka, Davvien benar-benar tidak rela melihat pipi sang sang istri.
"Karna permintaan istri ku kau bisa bebas, ku harab jangan pernah bermain-main dengan ku apalagi menyentuh istri ku"
Ucap Davvien dingin, raut wajah Davvien menunjukkan kalau dirinya tidak main-main dengan apa yang dia ucapkan.
"Sayang ayo kita pulang"
Davvien langsung mengangkat dan menggendong tubuh sang istri, semua lagi dan lagi di buat baper dengan keromantisan pria tampan dan dingin itu, Elsa kembali merasakan sakit menyaksikan pemandangan di hadapan nya.
Sedangkan Vera dalam gendongan sang suami dia melihat kepada Elsa, lalu tersenyum simpul menandakan bahwa dirinya lah pemilik hati dan juga raga suaminya.
Siapa sangka Vera yang terlihat begitu tak berdaya saat Elsa menamparnya ternyata memiliki maksud tersendiri, dia sengaja berteriak dan menjatuhkan tubuh nya ke lantai, sebenarnya Vera bisa saja menangkap tamparan Elsa, tapi dia sengaja menerima tamparan tersebut karna Vera ingin membuktikan bahwa suaminya saat ini hanya mencintai nya, dia ingin Elsa sadar kalau Davvien sudah melupakan masa lalunya, dengan begitu Elsa tidak akan mengganggu rumah tangga mereka.
Elsa melotot saat melihat senyuman yang di bibir Vera, berarti Vera hanya berakting.
🌷 Flashback off
"Dasar kamu wanita licik, kamu telah mempermalukan ku, dan gara gara kamu Davvien menampar ku, aku tidak akan memaafkan mu, lihat saja kamu sudah memulai perang dengan ku, kita lihat saja siapa yang akan menang, aku akan membalas semua yang telah kamu lakukan untuk ku, aku akan merebut Davvien dari mu. Itu janji ku"
Elsa menggenggam tangan nya, rasanya dia ingin menghancurkan Vera sekarang juga.
...----------------...
Sedangkan di rumah Davvien dan Vera sudah di dalam kamar, Davvien memeluk sang istri, tangannya tak henti mengelus pipi istri nya.
"Tidur lah sayang, maafkan aku yang telah lalai menjaga mu"
Vera menenggelamkan wajahnya di dada bidang Davvien.
"Kamu tidak salah sayang, mungkin karna Elsa sangat terobsesi akan dirimu"
"Jangan kau sebut nama itu lagi, sekarang tidur lah"
Davvien mengecup kepala istrinya penuh sayang, Vera pun memejamkan matanya, kini tidak ada yang perlu di khawatir kan karna Davvien tidak akan meninggalkan nya.
Saat di rasa sang istri sudah terlelap, Davvien berusaha melepaskan Vera, dengan sangat hati-hati Davvien meletakkan kepalanya Vera di atas bantal, kemudian diapun turun dari atas tempat tidur lalu mengambil ponsel dan berjalan pada balkon kamar.
Setelah sampai di sana Davvien menghubungi seseorang, tatapan nya begitu tajam menatap ke depan.
"Cepat habisi wanita yang bernama Elsa, kau akan mendapatkan gambar nya"
Perintah Davvien pada seseorang di balik sambungan telepon.
__ADS_1
"Baik"
Orang itu ternyata Irfan, tanpa bertanya lebih dia langsung mengiyakan perintah dari Davvien.
Setelah menelpon Irfan, Davvien membalikkan badan nya, ingin menyusul sang istri yang sudah di alam mimpi.
Tapi saat Davvien membalikkan badannya betapa kagetnya dia melihat Vera sudah berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan tak dapat Davvien artikan.
"Sayang, kenapa bangun ayo tidur lagi"
Vera yang terbangun saat Davvien memindahkan kepalanya pada bantal merasa curiga pasalnya belum pernah Davvien bangun secara sembunyi sembunyi seperti itu, dia pun mengikuti Davvien, Vera membelalakkan matanya saat mendengar Davvien menyuruh orang untuk membunuh Elsa.
"Kenapa kau menatapku seperti itu sayang, ayo kita tidur lagi"
"Sebelum kamu menelpon orang itu kembali dan menarik kembali perintah mu, aku tidak akan tidur"
Vera menjawab dengan yakin, wajah nya begitu serius.
"Maksud mu apa sayang"
"Aku mendengar semuanya"
"Jangan pikirkan itu sayang sekarang ayo kita tidur"
"Tidak sebelum kau menelpon orang suruhan mu itu"
Davvien merasa bingung dengan jalan pikiran istrinya, sudah jelas-jelas Elsa telah menyakiti nya.
"Sayang, dia telah menyakiti mu aku tidak akan mengampuni nya"
"Bukan kah dia sudah mendapatkan gantinya, kau sudah menamparnya jadi kami sudah impas, aku tidak mau mempunyai suami seorang pembunuh apalagi saat aku sedang mengandung"
Deggggg
Davvien baru sadar kalau Vera belum mengetahui kalau pekerjaan di dunia gelap adalah menghabisi, bahkan dia seperti sudah terbiasa dengan darah.
Rasa takut menyeruak relung hatinya, dia takut jika Vera akan meninggalkan nya setelah mengetahui kalau selain CEO dirinya juga sering bermain dara di dunia gelap nya.
"Kenapa malah diam, cepat telpon orang suruhan mu dan batal kan perintah mu"
Davvien sadar, dia pun kembali menelpon Irfan dan menarik semua perintah nya.
"Sudah sekarang ayo kita tidur"
"Heum awas saja kalau aku dengar tentang kematian Elsa"
"Kenapa begitu, mungkin dia memang di ditakdirkan mati besok pagi dan kau akan menyalah kan ku, meski bukan aku penyebab nya"
"Jika aku tau Elsa mati karna pembunuhan"
"Iya sayang, sekarang ayo kita tidur"
"Heummm"
Davvien pun kembali membawa sang istri ke atas tempat tidur, lalu memeluk istrinya dengan begitu erat, dalam hati nya berjanji akan jujur dan mengatakan tentang pekerjaan nya selama ini kepada Vera, dia berharap jika Vera akan bisa memaafkan nya.
__ADS_1
~Bersambung