Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Lamaran.


__ADS_3

Dari pembukaan hingga pemberian ijazah wisuda. Mulai dari yang mendapatkan nilai terbaik, sampai penyerahan ijazah kepada seluruh siswa yang wisuda pada hari ini.


Acara di tutup dengan doa, sekarang kebanyakan dari mereka sedang melakukan sesi foto, baik itu bersama keluarga, suami, bahkan ada juga dari mereka foto bersama sang kekasih.


Davvien sudah menyewa seorang fotografer untuk mengabadikan momen tersebut, mereka foto secara bergantian, dari mulai keluarga hingga bersama sahabat Vera, bahkan foto sahabat nya bersama orang tua mereka Davvien juga yang menanggung nya.


Aldi dan Riki datang dengan membawa buket bunga dan juga boneka, keduanya memberikan boneka begitu besar kepada pasangan masing-masing.


Intan yang kala itu tidak melihat sosok yang dia cari hanya berusaha untuk bisa tegar.


Semua orang di sana tampak bahagia karna mereka di dampingi oleh orang-orang yang mereka cintai, berbeda dengan Intan.


Dia tampak menjauh dari mereka yang sedang berfoto-foto dengan keluarga, dia memilih duduk di salah satu bangku terlihat sepi.


Tes...


Air mata akhirnya jatuh, bagaimana tidak sedih... sedangkan semua orang lain di dampingi oleh orang terdekat, hanya Intan yang bernasib malang, mempunyai keluarga lengkap namun, tidak ada satu pun di antara mereka yang mendampingi dirinya.


"Kamu pergi saja dulu, Mama akan menyusul di belakang" Intan teringat akan kata-kata Mama nya sebelum dia berangkat ke kampus.


Intan menunduk kan kepala, ingin menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya, namun seseorang dengan sigap berjongkok di hadapan nya lalu mengusap dengan lembut kedua pipi Intan.


"Kenapa kamu sangat cengeng" kata orang yang sedang membingkai wajah Intan dengan kedua tangan nya.


Intan langsung terbelalak karna kaget melihat orang yang berada di hadapannya.


"Apa aku sedang berkhayal, tapi sentuhan nya begitu terasa nyata, Mama dan Papa juga ada di hadapan ku, mereka sedang tersenyum ke pada ku" Batin Intan yang belum mempercayai kedatangan orang-orang yang memang sedang dia tunggu-tunggu.


Fero yang melihat Intan bengong langsung mencubit pelan pipi Intan, hingga membuat sang empunya menjerit.


"Aw... kenapa di cubit sih Kak?" Kesal Intan.


"Biar kamu sadar kalau kamu tidak sedang berkhayal ataupun bermimpi" jawab Fero membuat Intan percaya dengan apa yang dia lihat.


Karna rasa bahagia, Intan langsung melompat ke dalam pelukan sang kekasih, membuat Fero harus bertumpu pada tanah dengan kedua tangan nya. Intan seolah lupa di sana juga ada mama dan papanya.


"Hekhem" papa Intan berdehem melihat tingkah sang putri.


Mendengar itu, Intan langsung menengadahkan kepalanya melihat dua orang yang juga sangat penting dalam hidup nya berdiri tepat di depan nya, refleks Intan bangun dan mendorong tubuh Fero, hingga sang kekasih terbaring di tanah.


"Mama... Papa" Intan pun memeluk mama dan papa nya dengan kembali menangis.


"Apa karna kekasih mu kamu tidak ingin kehadiran Mama dan Papa mu?" tanya papa Intan.

__ADS_1


"Aku marah sama kalian, jangan meledek ku.... kalian jahat" bukan nya menjawab Intan malah memasang wajah cemberut.


"Hey kenapa anak Mama ini cemberut, nanti cantik nya ilang loh" mama Intan mencoba membujuk putri kesayangannya itu.


"Kalian tidak datang saat penyerahan ijazah, apa kalian tidak tau kalau aku mendapatkan nilai terbaik?" Tanya Intan masih dengan memonyongkan bibirnya.


Fero bangun dan merapikan jas nya yang sedikit berantakan, keluarga Vera pun mendatangi mereka, mama dan mertua Vera bergantian berkenalan sambil berpelukan dengan mama Intan.


"Kata siapa kami tidak melihat?... kami melihat nya sayang!" jawab mama Intan.


"Bohong, Mama sama Papa tidak ada satupun yang menyaksikan hari kelulusan ku"


Fero yang melihat tingkah kekasih nya itu hanya tersenyum, lalu dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, lalu memberikan nya kepada Intan.


"Apa ini?" Tanya Intan.


"Lihat saja kau akan tau" jawab Fero dengan senyuman di bibir nya.


Intan perlahan melihat pada layar ponsel yang sudah di nyalakan, vidio yang tak lain adalah dirinya sendiri, mulai dari namanya di panggil hingga penyerahan ijazah wisuda tersebut.


"I-ini.." Intan merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Iya, kami menyaksikan semua nya" jawab mama Intan lagi.


"Kalian pasti bohong, dari tadi aku melihat ke setiap sudut tapi kalian tidak terlihat sama sekali" celetuk Intan yang belum percaya.


"Selamat ya nak, Papa sangat bangga padamu" lanjut papa Intan lagi.


"Huaaa Papa terimakasih" Intan kembali menangis dan masuk ke dalam pelukan sang papa.


"Tapi kenapa kalian telat?" tanya Intan lagi.


"Jawaban nya juga ada di ponsel yang kamu pegang" Fero langsung menjawab, membuat Intan kembali melihat pada layar ponsel di tangannya.


Di sana terlihat jika Fero mendatangi papa dan mama Intan yang sudah siap untuk berangkat ke acara wisuda putri mereka.


Namun melihat kedatangan Fero, keduanya malah menyuruh masuk Fero dan mengurung kan niatnya untuk ke kampus, saat di dalam rumah, Fero langsung pada tujuan nya.


"*Tante, kedatangan saya ke sini karna saya ingin melamar putri Tante dan Om, maaf jika saya hanya datang sendiri, Mama dan Papa saya sudah meninggal sedari saya kecil, hanya keluarga tuan Davvien yang menjadi keluarga saya, saya sudah meminta izin kepada Mommy, dan dia menyetujui nya, tapi mereka tidak bisa datang mendampingi saya karna Vera juga wisuda hari ini, jika Om dan Tante tidak keberatan, sedia kah kalian menerima lamaran saya ini, jika kalian keberatan, nanti saya akan mengajak Mommy dan Daddy ke sini"


"Tapi kenapa kamu melamar Intan saat dia tidak ada di sini nak, kenapa tidak langsung saja pada Intan nya sendiri"


"Saya hanya ingin mendapatkan restu Tante dan Om, saya juga ingin memberi kejutan untuk Intan, jika Om dan Tante menerima lamaran saya, maka Mommy dan Daddy akan mendatangi kalian untuk membicarakan pernikahan"

__ADS_1


"Alhamdulillah, tentu kami menerima nya Nak, kamu adalah lelaki baik dan juga bertanggung jawab, asal kamu tidak pernah menyakiti anak Tante"


"Saya tidak berjanji Tante, Om. tapi sebisa saya akan membuat putri kalian bahagia*"


Selesai Video tersebut di putar, Intan langsung melihat ke arah Fero yang sudah berjongkok dengan mengeluarkan kotak perhiasan berwarna merah.


Intan membekap mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat sebuah cincin permata biru di atas nya, di lingkaran cincin tersebut terdapat berlian yang membuat cincin itu sangat indah dan juga berkilau.


"Wil you marry me Intan...?"


Intan masih dengan rasa terkejut dan juga bahagia nya, dia merasa seperti memenangkan lotre bertubi-tubi, Intan sudah lulus dengan nilai terbaik, dan kini sang pangeran yang memang sejak dulu dia impikan bersimpuh di hadapan nya, mengharap ke sediaan dirinya untuk menerima lamaran dari pria tersebut.


Dengan air mata bahagia nya, Intan mengangguk kepalanya, pertanda bahwa dirinya mau menerima lamaran sang pangeran nya.


Fero langsung bangun dan memasangkan cincin di jari manis Intan, lalu membawa Intan ke dalam pelukan nya.


Semua merasa kan bahagia dengan apa yang mereka lihat, terutama kedua orang tua Intan dan juga mommy dan daddy Davvien yang sudah menganggap Fero seperti putra mereka juga.


"Jadi kamu sudah tau?" tanya Vera pada sang suami, karna dia mengingat jika Davvien tidak menjawab pertanyaan dirinya saat bertanya tentang Fero.


"Kamu sudah tau jawabannya sayang" jawab Davvien dengan tangan nya yang tidak pernah lepas dari pinggang Vera.


"So sweet banget sih mereka"


"Aku juga sudah membuat hadiah dan kejutan untuk mu sayang"


"Tapi apa?" sedari tadi Vera memang menanti kejutan yang sudah di janjikan Davvien, namun sampai sekarang tidak ada tanda-tanda jika suaminya itu akan memberikan dirinya hadiah atau kejutan.


"Nanti kamu juga akan tau..."


.


.


.


.


.


~BERSAMBUNG


Kira-kira apa ya hadiah dari babang Davvien untuk Vera, jadi penasaran nih...!!

__ADS_1


Terima kasih ya para Reader sudah setia menunggu cerita ini up.


Salam sayang ku untuk kalian.


__ADS_2