
Kini Fero dan Ny.Andin sudah mengambil cincin pernikahan Fero, ukuran nya tentu pas karna Davvien mengambil ukuran jari sang istri untuk Intan, karna ukuran cincin Vera dan Intan tidak jauh berbeda.
"Mommy, boleh kah kita mampir ke rumah Intan sebentar?" tanya Fero saat mereka di dalam mobil.
Ny.Andin tersenyum dia tau bagaimana rasa yang di alami Fero saat ini.
"Apa kamu sudah tidak sabar?" Ny.Andin pun balik bertanya.
"Hehe Hanya ingin melihat Mom!" Fero hanya terkekeh.
"Boleh, tapi kita ke butik sebentar, Mommy ingin memesan baju keluar untuk kita!" jawab Ny.Andin yang membuat Fero merasa begitu senang.
"No problem Mom!" Fero langsung menancap pedal gas mobil nya menuju tempat yang di maksud sang Mommy sebelum akhirnya mereka akan pergi ke rumah pujaan hatinya.
Kini mereka berhenti di sebuah butik yang menjadi langganan keluarga mereka, Lena butik, itulah tempat yang menjadi kepercayaan Ny.Andin, selain bersahabat dengan Ny.Lena, kemampuan nya dalam merancang sebuah jas ataupun gaun sudah tidak di ragukan lagi.
Ny.Andin dan Fero mendorong pintu butik tersebut, mereka sudah di sambut oleh Ny.Lena, karna Mom Andin sudah memberitahu sahabat nya itu.
"Hai... Apa kabar?" tanya Ny.Lena langsung memeluk mom Andin lalu mencium kedua pipi nya.
"Aku baik... Bagaimana dengan dirimu?" Ny.Andin pun balik bertanya.
"Aku juga baik!" Ny.Lena langsung mengajak mereka berdua untuk duduk.
"Hai... Si ganteng Fero, oh ya si anak mu yang dingin itu kemana?" tanya Ny.Lena.
"Dia baru pulang dari london pergi hanymoon, dan sekarang lagi ke rumah mertua nya, semalam mereka menginap di rumah ku!"
"Oh... begitu ya! Fero ayo duduk, katakan apa benar kata Mommy mu kau akan menikah?"
Fero duduk di sebelah sang mommy, lalu sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Anak mu sudah besar ya! dan sebentar lagi kamu akan mendapatkan cucu!" ujar Ny.Lena yang merasa terharu akan kebahagiaan sahabat sejati nya itu.
"Alhamdulillah, aku di berikan anak dan menantu yang sangat baik, meski Davvien dulu sempat jadi anak pembangkang, keras kepala dan dingin, tapi semenjak menikah dengan Vera, kepribadian dan sifatnya berubah!" celetuk Ny.Andin yang mengingat sikap Davvien sebelum menikah, yang tidak mau mendengarkan omongan suami maupun dirinya.
__ADS_1
"Sudah lupakan yang telah berlalu! Fero, siapa nama calon istri mu?" Ny.Lena mengalihkan pembicaraan mereka.
"Intan Tante!" jawab Fero dengan penuh bangga.
"Apa dia cantik?" lanjut nya lagi.
"Bagi Fero dia sangat cantik Tan, meski tanpa dia berdandan!" sadar nggak nya, Fero sudah sangat memuji sang kekasih, yang membuat kedua wanita di sebelah dan di depan nya ini terkekeh.
Akhirnya Ny.Lena mempersilahkan Ny.Andin untuk memilih kain dan juga model baju, mereka sudah tidak perlu mengukur ukuran mereka, karna semua ukuran anggota keluarga Wilmar sudah ada di sana.
Selesai memilih model dan motif nya, mereka langsung berangkat ke rumah Intan, Fero sudah sangat tidak sabar ingin melihat Intan yang sedang fokus merancang baju pengantin mereka.
Ny.Andin dapat melihat senyuman yang selalu terbit dari bibir Fero.
"Hati-hati kalau selalu tersenyum nanti giginya kering loh!" ujar Ny.Andin yang langsung membuat Feri menutup mulut nya.
"Mommy!! kan Fero jadi malu!" kesal Fero karna tertangkap basah oleh sang Mommy.
Ny.Andin tertawa lepas melihat wajah kesal dari putra nya itu.
"Semoga kedua putra ku selalu di beri kebahagiaan Ya Allah" batin Ny.Andin, dia merasa sangat bersyukur karna kedua putra nya yang kaku dan dingin mendapatkan pasangan yang baik dan bisa menghancurkan gunung es di hati mereka.
Sampai di depan rumah Intan, mereka berdua langsung turun dan mengetuk pintu utama rumah Intan.
"Assalamualaikum!" ucap Ny.Andin saat pintu terbuka dan terlihat lah besan nya yang langsung tersenyum menyambut kedatangan mereka.
"Waalaikum salam! mari silahkan masuk!"
Keduanya pun masuk, Fero langsung celingak-celinguk mencari keberadaan sang kekasih.
"Apa kamu mencari Intan nak?" tanya Ratna yang melihat calon menantu nya seperti mencari sesuatu.
Fero hanya tersenyum, lagi-lagi dia kepergok sedang mencari Intan.
"Dia ada di dalam kamar nya sedang menjahit baju, temui saja dia!"
__ADS_1
"Memangnya boleh Tan?"
"Boleh, asal jangan apa-apakan anak Tante!"
Mendapatkan izin dari Mama Intan, Fero langsung melangkahi kakinya menaiki tangga.
Fero mendorong daun pintu kamar Intan, di balik pintu, terlihat lah wanita yang di cintai nya sedang begitu fokus melakukan kegiatan nya.
Greppp
Fero memeluk Intan dari belakang membuat Intan yang sedang fokus tersentak kaget.
"Astaghfirullah!!" Intan memegang dadanya, setelah mencium aroma parfum, barulah dirinya tenang, dia tau yang datang adalah sang kekasih.
"Kakak, kapan kakak datang?" tanya Intan yang mencoba melepaskan diri.
"Sudah sedari tadi, jangan di lepaskan dulu, aku sangat merindukan mu" Fero langsung meletakkan dagunya di pundak Intan.
"Mendengar itu, Intan pun pasrah, dia merasakan hembusan nafas Fero yang tersisa hangat menusuk ke dalam kulit nya.
"Kak, sudah... Kapan aku siap menjahit baju ini jika kakak terus memeluk ku!" Intan mencoba untuk lepas dari pelukan Fero karna merasa jika jantung nya sudah maraton.
"Heum... Baiklah! tapi izinkan aku menemani mu untuk menjahit ya!" Fero langsung duduk di pinggir tempat tidur Intan, memperhatikan sang kekasih yang kembali berkutat dengan alat jahitnya.
Sedangkan Intan yang merasa di perhatikan, sebenarnya sangat risih, dia jadi tidak fokus, tapi dia juga tidak mungkin mengusir Fero.
Intan tidak tau jika di bawah ada calon mertua nya, Fero sengaja tidak memberitahu Intan agar calon istri nya itu tidak terganggu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
~Bersambung.