
...Menyimpan kesalahan di masa lalu hanya akan membuatmu semakin terluka, ikhlaskan lah, lupakan, demi kehidupan yang lebih baik lagi ke depan....
...----------------...
Vera membaringkan Syakir dan Syakira di dalam box mereka masing-masing, dia melihat ke arah pintu, karna suami tercintanya belum kembali ke dalam kamar, wanita dua anak ini pun melangkah mendekati pintu, tapi belum juga sampai, Ponsel nya berdering nyaring di atas nakas.
Buru-buru dia mengambil benda pipih yang berbunyi beruntun itu, takut akan membangunkan ke dua anaknya lagi.
Dia melihat nama si penelpon yang tertera di layar ponselnya adalah sang kakak, Frans. Tanpa ragu istri dari Davvien ini langsung menjawab panggilannya.
"Halo Assalamualaikum Kak!" ucap Vera dengan lembut.
"Waalaikum salam dek, apa Mama dan Papa kembali lagi ke sana?" tanya Frans dengan nada setenang mungkin.
"Loh! bukan nya Mama dan Papa sudah pulang tadi siang Kak?" ujar Vera balik bertanya kepada sang kakak.
"Iya, tadi Mama dan Papa sudah izin pulang, dan Kakak tidak ikut pulang karna ada sesuatu tugas, dan Kakak baru saja pulang ke rumah, tapi mereka tidak ada di sini Ra, Kakak mencoba menghubungi Papa tidak tersambung, sedangkan Mama tidak menjawab panggilan Kakak, makanya Kakak tanya, apa mereka kembali ke sana lagi!" jelas Frans, masih mencoba tenang, meski rasa khawatir sudah menyeruak di dalam relung hatinya.
Vera menutup mulutnya, rasa khawatir juga sudah hinggap di dalam hati ibu dari bayi kembar ini.
"Coba Vera yang hubungi Mama dulu ya Kak!" ucap Vera, dia langsung menghubungi nomor kontak sang Mama, dengan masih terhubung dengan sang kakak.
Sudah beberapa kali Vera mencoba menghubungi sang mama. Namu, Rina tak kunjung menjawab panggilan dari dirinya.
"Bagaimana dek, apa Mama menjawab panggilan dari mu?" tanya Frans yang setia menunggu kabar.
"Tidak Kak, Papa juga tidak bisa di hubungi!" jawab Vera.
"Ya sudah kalau begitu Kakak cari mereka dulu!" ujar Frans.
"Iya Kak, aku juga mau kasih tau mas Davvien dulu!" Vera langsung keluar setelah sambungan telepon nya terputus.
__ADS_1
Dan saat ini dia sedang berada tepat dalam dekapan sang suami, setelah tadi dia menceritakan tentang kedua orang tuanya yang belum pulang ke rumah.
"Bagaimana ini, kemana Mama dan Papa, tidak biasanya mereka seperti ini!" gumam Vera, dia sudah merasa sangat tidak tenang.
Davvien mengusap punggung sang istri dan mencium puncak kepala nya.
"Sabar sayang! Fero, coba kamu lacak posisi mereka dari ponsel milik Mama!" Davvien langsung memberikan ponsel milik sang istri kepada asisten pribadi nya itu.
Tanpa menunggu lama, Fero langsung mengerjakan nya, Intan sudah di minta Vera untuk menemani si kembar di dalam kamar pribadi nya dan juga sang suami.
...----------------...
Sedangkan di tempat lain...
Tn.Diwan perlahan membuka matanya, seketika dia langsung mengerutkan dahinya karna merasa silau dari lampu yang tepat berada di atas kepalanya, keadaan nya saat ini di ikat pada sebuah kursi dengan cara di rantai di seluruh badan, hingga tidak sedikit pun dia bisa menggerakkan badannya.
Tn.Diwan mencoba menggerakkan tangan nya, meski tau itu tetapi tidak akan bisa, tak lama, matanya menangkap sosok yang sangat di cintai nya yang masih terkulai lemah dengan mata terpejam.
"Ma bangun, Ma!" ulang nya lagi mencoba menyadarkan wanita yang sangat di cintai nya.
Sayup-sayup Rina seperti mendengar seorang memanggil nya, perlahan diapun membuka matanya.
Rina menggeliat, merasakan sakit di belakang punggungnya. Dan tanpa sengaja matanya pun menangkap sosok yang juga sangat dia cintai berada di sebelah nya.
"Pa...!" panggil nya memastikan jika yang dia lihat itu benar-benar suaminya.
"Iya Ma! apa ada yang sakit, Ma?" tanya Tn.Diwan yang sedari tadi merasa begitu cemas akan keadaan wanita nya itu.
"Iya Pa, Mama tidak apa-apa!" jawab nya dengan suara lemah.
"Kita di mana Pa, kenapa orang itu menangkap kita, apa salah kita Pa!" lanjut Rina lagi memberikan pertanyaan beruntun kepada lelaki paruh baya yang berada di sebelah nya.
__ADS_1
"Papa juga tidak tau, Ma!" jawab Tn.Diwan mencoba menyembunyikan dugaan dalam hatinya.
"Ya Allah... lindungi lah kami!" pinta Rina memanjatkan doa nya.
"Aku tau, ini pasti ada kaitannya dengan peneror yang tempo hari menelpon mu, Ma! batin Tn.Diwan, dia tidak ingin membuat Rina ketakutan.
Keduanya kini saling mencoba bergerak, berharap bisa terlepas dari rantai yang melilit di tubuh mereka.
Tapi, pandangan keduanya teralihkan saat suara sepatu yang beradu denganĀ lantai terdengar begitu jelas, merekapun langsung melihat ke asal suara.
Namun, keduanya tidak bisa mengenali karna selain lampu di atas mereka, seluruh isi ruangan tersebut terlihat gelap tanpa cahaya yang masuk sedikit pun.
"Sungguh pasangan yang sangat romantis dan setia!" ujar orang yang baru datang di ikut beberapa pengawalnya.
Tn.Diwan dan Rina tercekat tatkala mendengar suara orang tersebut.
"Suara itu...!"
.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
__ADS_1
Kasih semangat nya dong Kakak, boleh like, komen atau vote ya Reader ku.