Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Pemakaman Roy.


__ADS_3

Mobil terparkir tepat di depan rumah mewah dalam hutan, kalian pasti tau itu apa.


Yap, Fero dengan buru-buru turun dari mobil lalu membuka pintu untuk Davvien dan Vera.


Mereka bertiga langsung melangkah masuk ke dalam markas untuk sampai ke ruangan tempat jasad Roy masih tergeletak di sana.


Tidak ada yang berbicara, baik Vera ataupun Fero sama-sama diam, mereka bisa menebak dengan melihat wajah Davvien yang dingin dan rahang nya yang tampak mengeras Menandakan jika macan asia ini sedang menahan amarah.


Brakkkkk


Dengan begitu kasar Davvien membuka pintu ruangan yang lumayan luas, juga penuh dengan senjata.


Davvien masuk, di susul oleh istri dan juga asisten nya. Mata elang nya langsung menangkap jasad Roy di lantai, lalu beralih menatap tajam pada tersangka yaitu, Muli.


Sedangkan Vera langsung berlari menghampiri jenazah, Roy.


"Paman, kenapa jadi seperti ini!" hanya itu yang Vera ucapkan, namun terlihat raut kesedihan di wajah ibu dua anak ini, meskipun tidak ada air mata yang menetes.


"Bagaimanapun, Paman juga bagian dari keluarga kami. Aku, Daddy, dan juga Mama sudah memaafkan, Paman. Istirahat lah yang tenang!" lanjut Vera lagi.


Sedangkan Davvien, kakinya melangkah lalu mendekati Muli yang kembali di ikat oleh anak buah Roy.


Buggghhhh


"Akkkhhhh!"


Davvien langsung melayangkan satu tinjauan pada wajah Muli yang sudah tidak berbentuk lagi, karna sedari tadi dia sudah di pukuli oleh anak buah Irfan.


Bughhhh


Bughhhh


Bughhhh


Tanpa mengucapkan sepatah katapun ayah dari anak kembar ini terus saja memukul Muli, meski empunya sudah merintis.


"Irfan, angkat jenazah nya dan bawa ke ruangan depan!" perintah Davvien.


"Baik Tuan!" Irfan bangkit, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengangkat tubuh yang sudah tidak bernyawa, Roy sesuai yang di perintahkan Davvien.


"Sayang, aku akan menghubungi Papa dan Mama untuk datang ke sini, terlalu lama jika harus membawa pulang jenazah nya, Paman!" ucap Davvien kepada sang istri.

__ADS_1


Vera mengangguk, dia pun mengikuti kemana jasad pamannya di bawa. Davvien menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menelpon sang mertua.


"Halo Nak, ada apa?" tanya Tn.Diwan di seberang.


Davvien diam, dia masih mencari kata agar tidak membuat mertuanya terkejut.


"Nak, kenapa kamu diam? apa kamu sudah bertemu dengan, Roy?" tanya Tn.Diwan lagi, karna Davvien belum menjawab.


"E, sebenarnya ada Kabar buruk, Pa!" tukas Davvien.


"Kabar buruk apa Nak?" tanya sang mertua lagi.


"Paman Roy sudah meninggal!" imbun Davvien.


Tentu saja Tn.Diwan sangat terkejut, begitu pun dengan Rina yang berdiri di dekat sang suami, dia dapat mendengar pembicaraan antara menantu dan juga suaminya itu. Wanita paruh baya ini langsung menutup mulut dengan tangan kanannya.


"Kenapa bisa seperti itu, Nak?" tanya Tn.Diwan begitu lirih.


"Sekarang dimana jenazah nya?" Lanjut nya lagi.


"Masih di sini Pa, lebih baik Papa kesini biar aku ceritakan semuanya, terlalu lama juga jika harus membawa jenazah nya pulang ke sana!" ujar Davvien yang langsung di setujui oleh sang mertua.


...----------------...


Tanpa banyak bertanya, Tn.Diwan langsung duduk di dekat jenazah kakak angkat nya itu, begitu pun dengan Rina.


Tn.Diwan menatap nanar jenazah sang kakak yang kini sudah tertutup kain, dia membayangkan semua kenangan antara dia dan sang kakak sedari mereka kecil, keduanya selalu bersama dan melindungi satu sama lain, tapi setelah papa mereka, Anggara meninggal. Roy menjadi serakah dan iri hati.


Rina hanya mengusap lengan sang suami, dia tau bagaimana pun suaminya itu tetap menyayangi, Roy. Meski kakak angkat nya itu sudah jahat pada mereka.


Sedangkan anak buah Irfan sebagian menggali kuburan untuk jasad, Roy. Ustadz yang tadi di jemput oleh Irfan, langsung memberi arahan untuk jenazah Roy segera di mandikan.


Davvien langsung menyuruh beberapa anak buahnya mengikuti instruksi yang di berikan, ustadz tersebut.


Selesai semuanya, jenaza, Roy juga sudah di makamkan sedikit jauh dari markas. Kini mereka semuanya kembali ke dalam rumah besar tersebut.


Davvien, Vera, Tn.Diwan dan juga Rina duduk di sebuah ruangan yang layak di katakan ruangan tamu.


Frans tidak turut andil di sana, karna dia pergi bersama Tomi untuk melihat perusahaan yang selama ini di urus oleh asisten ayah nya, Tomi sendiri.


Pak ustadz langsung meminta undur diri, karna dia harus segera pulang, Davvien langsung menyuruh anak buah Irfan untuk mengantar nya kembali. Tak lupa mengucapkan terimakasih dan juga satu amplop coklat di berikan kepada ustadz tersebut.

__ADS_1


"Coba jelaskan pada Papa Nak, apa yang terjadi?" desak Tn.Diwan tanpa sabar.


Lagi-lagi Davvien menghela nafas panjang, kemudian diapun menceritakan semuanya, membuat Tn.Diwan menunduk dan mengusap kepalanya saat mendengar nya.


"Aku sudah mengikhlaskan dan memaafkan mu Kak, istirahat lah dengan tenang!" batin Tn.Diwan.


Vera dan Rina memutuskan untuk memasak, karna mereka akan makan siang di sana sebelum mereka pulang.


...----------------...


Kurang lebih satu jam, ibu dan anak ini sudah selesai menyajikan makanan yang lezat, keduanya memasak banyak, agar cukup untuk mereka dan juga semua anak buah Irfan.


"Ayo kita makan siang dulu!" ajak Rina kepada suami, menantu, Fero dan juga Irfan.


Mereka semua mengangguk, lalu melangkah kemeja makan. Sedangkan anak buah Irfan, makan di ruangan lain.


Tidak ada pembicaraan saat makan siang berlangsung, hanya sesekali suara garpu dan sendok yang berdenting pada piring.


Selesai makan siang, Tn.Diwan dan Rina kembali dengan di antar oleh anak buah Irfan.


"Irfan, kami akan pulang! aku serahkan manusia itu padamu, terserah mau kamu apakan!" ucap Davvien yang hendak melangkah keluar dari markas tersebut.


"Baik Tuan!" jawab Irfan dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Fero langsung membukakan pintu mobil untuk Davvien dan Vera, kemudian diapun ikut masuk, lalu melajukan mobilnya melewati rimbun nya hutan yang terdapat jalan di dalam nya.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung.


Maaf para Reader, authornya lagi drop, badan meriang, demam lagi, nggak sanggup untuk up.

__ADS_1


Jika berkenan mohon dukungan nya, Like, komen dan juga vote sebanyak-banyaknya.


__ADS_2