
Semuanya sudah kembali normal seperti biasa, si kembar juga sudah di bawa pulang dari rumah sakit. Setelah kejadian ini, Davvien berjanji tidak akan meninggalkan mereka, kemanapun dia akan pergi, maka anak dan istrinya akan dia bawa.
Sekarang ini mereka sedang bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan Riki dan juga Rani, tampak mereka semuanya sudah siap untuk berangkat.
Davvien keluar dengan menggendong Syakir, tangan kanan nya juga tidak pernah lepas dari pinggang sang istri. Vera menggendong Syakira, merek tampak begitu serasi, dengan baju yang sama.
"Sayang! seperti nya kamu semakin berisi ya sekarang!" ujar Davvien pada sang istri, membuat Vera menatap nya begitu tajam.
"Jangan pernah bilang seperti itu, atau aku tidak mau makan lagi!" protes Vera menatap horor pada sang suami.
Davvien langsung tertawa mendengar perkataan Vera "Memang kamu sanggup, hem!" tanya Davvien dengan nada mengejek.
"Aku begini itu juga karna harus makan banyak, agar ASI ku cukup untuk si kembar!" elak Vera, sungguh dia tidak terima jika di bilang berisi apalagi gemuk.
"Iya kan aku tidak masalah, sayang! mau kamu segemuk apapun, aku tetap mencintaimu kok!" goda Davvien dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Sudah, jangan menggoda ku lagi, atau aku benar-benar tidak mau makan lagi, dan kamu yang harus menyusui si kembar!" ujar Vera langsung membungkam mulut Davvien.
Dia langsung membayangkan betapa susah nya memberi susu untuk anak nya, seketika ayah dari dua anak ini langsung bergidik geli, Vera yang melihat nya pun akhirnya tertawa lepas.
"Ha ha ha! kenapa, kamu tidak akan sanggup kan!" ejek Vera.
"Iya jelas, sayang! itu memang tugasnya wanita!" sergah Davvien langsung.
Kedua bayi mereka hanya diam, seperti nya mereka mendengar apa yang di bicarakan oleh orang tua mereka.
"Selamat pagi, Vien, Vera, dan juga kalian boy and girl!" celetuk Fero dengan begitu semangat.
"Hem .... Marmut, apa kamu memberikan nya jatah lebih semalam? sehingga pagi ini tampak semangat, biasanya aku hanya melihat ekspresi masam dari wajah pas-pasan nya itu!"tanya Davvien mengarah kepada Intan, membuat yang di tanya menjadi malu.
Fero tampak kesal "Bukan kah kau juga sama, bahkan aku juga muak melihat wajah tanpa ekspresi mu jika tidak bersama istri dan anak ku!" tukas Fero telak, dia tentu saja tidak mau mengalah.
"Apa! berani kau mengatakan itu pada ku, kutu kupret!" Pekik Davvien langsung melangkah mendekati Fero. Tanpa memperdulikan anak dalam gendongan nya.
"Jika kalian mau bertengkar, serahkan kunci mobil pada kami, biar kami saja yang pergi!" ucap Vera menengahi, Davvien dan Fero langsung melihat kepada istri mereka.
"Kalian berdua itu tidak ada bedanya, keduanya masih sama-sama seperti anak kecil!" hardik Vera lagi.
"Iya, padahal tuan Davvien sudah menjadi ayah, dan kau juga akan menjadi ayah!" timpal Intan juga ikut protes.
"Jika tidak ingin telat, ayo berangkat sekarang!" imbuh istri dari Davvien lagi.
Kedua suami mereka hanya bisa pasrah, mereka masuk dengan wajah yang sama-sama ketus.
Vera dan Intan menahan tawa dalam hati mereka, kadang suami mereka memang seperti anak berumur lima tahun jika sudah bersama, juga akan menjadi pria kejam jika menyangkut keluarga mereka.
Mobil melaju membelah jalan raya yang sudah di padati oleh kendaraan lainnya.
__ADS_1
...----------------...
Di hotel bintang lima, terlihat di sebuah ruangan sudah di dekor sedemikian rupa, bunga-bunga terpasang, kursi dan meja di tata dengan begitu rapi.
Satu persatu para undangan berdatangan, hingga memenuhi ruangan yang cukup luas tersebut.
Pernikahan Riki dan Rani akan di langsungkan di hotel yang paling terkenal dan juga besar di kota tersebut, yang pemilik nya tidak lain adalah Perusahaan Wilmar Grup.
Davvien memberikan tempat pernikahan untuk sahabat nya itu sebagai bentuk hadiah pernikahan Riki dan Rani, semua fasilitas di dalam hotel tersebut bisa di gunakan dengan secara percuma pada hari itu.
Rani sudah siap, sebuah mobil sudah menunggu nya di luar, dengan balutan gaun pengantin, wanita 23 tahun ini keluar yang di dampingi oleh sahabat nya, Tania dan juga kedua orang tuanya.
Semua anggota keluarga nya juga ada di sana, setelah semuanya siap, merekapun masuk ke dalam mobil dan berangkat ke tempat mereka melangsungkan pernikahan.
Mobil yang membawa mempelai wanita dengan kecepatan normal, hanya sekitar 40 menit, mereka sudah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi, yang sering di sebut kan hotel oleh orang-orang.
Bertepatan dengan mobil mempelai pria juga baru saja berhenti di sana, Riki turun begitupun dengan Rani. Setelah itupun Riki melangkah dan mengulurkan tangannya pada Rani dengan cara berjongkok di hadapan wanita nya itu.
Tapi belum sempat Rani meraih tangan Riki, tiba-tiba pundak Riki sudah di tepuk oleh papa nya.
"Jangan sekarang, kalian belum sah! sabar sebentar lagi!" ujar papa Riki memperingati.
Dengan wajah dongkol Riki bangun dan melangkah masuk bersama anggota keluarga nya, begitupun Rani, dia hanya terkekeh melihat calon suaminya yang seperti merasa kesal.
Mobil yang membawa keluarga Wilmar pun tiba, tanpa menunggu mereka juga ikut masuk ke dalam, guna untuk menyaksikan sahabat mereka merayakan hari bahagia keduanya.
Semua merasa syukur dan bahagia saat kata sah menggema dalam ruangan tersebut, doa pun langsung di panjatkan setelah akad nikah selesai.
"Sayang, Minggu depan kita ya!" bisik Aldi di telinga Tania, membuat kekasih nya terbelalak kaget.
"Mana bisa seperti itu, kita butuh persiapan!" tolak Tania, yang benar saja, waktu satu Minggu sangat lah sempit untuk menyiapkan semuanya.
"Ya terus kapan dong!" tanya Aldi dengan raut wajah cemberut.
Tania yang gemes langsung mencubit pipi pacarnya itu "Bulan depan ya sayang!" tukas Tania.
"Hem baiklah, asal dengan mu kapan pun boleh!" jawab Aldi lagi.
Sekarang ini semua tamu undangan sedang memberikan selamat untuk pengantin baru, Davvien, Vera, Intan dan Fero pun turut memberikan selamat.
"Selamat ya, Rani! semoga kalian selalu bahagia, dan rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan!" ujar Vera sambil memeluk Rani.
"Uuu makasih ya, Ra! jadi terharu!" jawab Rani juga membalas pelukan Intan.
"Selamat ya kak, Riki! jagain Rani. Jangan sakiti dia!" lanjut Vera lagi.
"Tentu, kamu tenang saja. Aku akan membuat sahabat mu ini selalu menangis bahagia!" jawab Riki yang membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Selamat ya, Rani!" Kini gantian Intan yang memberikan selamat untuk Rani dan juga suaminya, Riki.
"Makasih ya, Tan! semoga dedek bayi dalam sana sehat selalu!" tukas Rani tangan nya terulur memegang perut Intan.
"Terimakasih, kamu juga harus cepat-cepat nyusul ya!" sambung Intan, Rani hanya terkekeh kecil.
Kini giliran para lelaki yang menjabat tangan sang pengantin, mulai dari Fero, hingga bergantian dengan Davvien.
"Selamat ya!" hanya itu yang du katakan Fero, itupun hanya pada Riki.
"Terimakasih, masih cuek aja sikap mu, Fero!" goda Riki yang hanya mendapatkan senyuman kecil dari Fero.
Davvien dengan begitu malas juga menjabat tangan sahabat nya itu, belum sempat dia berbicara, Riki sudah dulu bersuara.
"Dimana hadiah ku?" tanya Riki.
"Apa tempat dan acara gratis ini tidak cukup sebagai hadiah mu?" tanya balik Davvien.
"Hai, ini belum seberapa! kau tidak akan miskin jika memberikan hadiah lain untuk ku!" timpal Riki tak mau kalah.
"Bukan kah juga memiliki uang yang banyak, dasar pelit!" Cemooh Davvien pada Riki.
"Aku tidak sekaya dirimu, pokok nya aku mau hadiahku!" imbuh Riki lagi.
"Minta hadiah kok maksa! dalam kamar mu sudah aku siapkan hadiah untuk kalian berdua! tukas Davvien dengan raut wajah memalas.
"Wah ... terimakasih Tuan Wilmar, anda memang baik dan juga dermawan!" ucap Riki, memuji kebaikan Davvien.
"Cih, dasar penjilat!" setelah mengatakan itupun Davvein langsung menyambar pinggang Vera dan kembali pada tempat duduk mereka.
.
.
.
.
~Bersambung.
Maaf ya, hanya bisa up satu bab. Keadaan kembali drop, nggak bisa lihat layar hp, harap maklumi ya temen-temen.
Jangan lupa berikan dukungan kalian ya temen-temen dengan cara
Like
Komen dan
__ADS_1
Vote sebanyak-banyaknya.