
...Sudah beberapa tahun berlalu, tapi dirimu tetap sama dengan lelaki yang ku kenal delapan tahun yang lalu. Selalu menjadi malaikat pelindung ku, menjadi penghibur ku di saat ku merasa sedih, menjadi penenang ku di saat ku resah....
...Kamu lah sosok yang sempurna yang selalu berada di sisiku apapun keadaan ku, aku sangat-sangat bersyukur karna berada dalam dekapan hangat yang selalu membuat ku tenang, berada di sisi lelaki hebat yang selalu sigap memegang di saat aku terjatuh. Kamu lah lelakiku ku, kamulah kebahagiaan ku, kamu lah suami ku, Davvien Wilmar....
...🌷HAPPY READING 🌷...
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 9 pagi, Vera keluar dari dalam kamar mandi sambil tangan nya terangkat untuk mengeringkan rambutnya.
Matanya tertuju kepada seorang anak manusia yang masih tengkurap di atas tempat tidur di dalam balutan selimut tebal berwarna putih, senyuman mengembang di kedua sisi bibir Vera, mengingat bagaimana mereka semalam bertempur tanpa henti.
Vera melangkah mendekati tempat tidur, kemudian dia mengulur rambut panjang nya, lalu meneteskan air rambut ke wajah sang suami yang masih terpejam.
Mata Davvien langsung mengerjap, tatkala merasakan sesuatu yang dingin terjatuh di atas pipi dan juga matanya.
Tanpa membuka mata, Davvien langsung menyambar tangan sang istri, lalu menarik Vera hingga terjatuh di atas dada nya yang masih polos.
"Kenapa kamu mengganggu ku, apa semalam kurang?" tanya Davvien dengan senyum jail di bibir nya.
Vera refleks memukul lengan Davvien "Dasar mesum, ini sudah jam sembilan pagi, ayo bangun dan kita pulang!" sarkas Vera, menyangkal ucapan sang suami.
Tapi Davvien malah mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri "Mesum dengan istri sendiri memang di harus kan, sayang!" bisik Davvien dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah, jangan macam-macam lagi, kita pulang sekarang!" protes Vera yang mencoba bangkit dari tempat favorit nya.
"Apa gitu cara kamu berbicara dengan suami?" tanya Davvien dengan nada ketus.
Vera memutar dua bole matanya jengah, lalu diapun menjawab "Suamiku yang tampan, yang baik, kita pulang sekarang, kasihan anak-anak!" rayu Vera, kemudian diapun langsung mencium seluruh wajah sang suami.
Cup...
Cup...
Cup...
"Ya sudah, aku mandi dulu, ya!" ucap Davvien. Vera tersenyum, kemudian diapun bangkit dari atas tubuh Davvien membiarkan suami manja nya masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
...----------------...
Saat ini, keduanya sudah berada di dalam mobil, setelah Davvien selesai mandi, mereka langsung bersiap-siap untuk segera pulang.
Eh, itu pikiran Vera. Karna Davvien tidak bermaksud membawa pulang sang istri, melainkan membawa Vera ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, Mas? Ini bukan jalan pulang ke rumah kita!" tanya Vera yang merasa heran.
"Diam lah, sayang! Aku akan menunjukkan sesuatu untuk mu!" timpal Davvien, meski fokus pada jalan, namun tangan nya tak pernah kendur menggenggam tangan sang istri.
Vera tidak tau arah tujuan sang suami membawa dirinya, dia hanya diam dan pasrah, saat dia sedang asik mengamati jalanan, tiba-tiba Davvien menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Vera, karna dia melihat sekeliling tidak ada bangunan atau restoran yang akan mereka singgah.
Davvien tidak menjawab, dia langsung mengambil kain sutra yang berbeda dari dalam saku celananya, tanpa bicara pun, Davvien langsung menutup mata Vera.
"Loh, kenapa mataku di tutup, Mas?" tanya Vera protes. Dia sama sekali tidak paham dengan apa yang di lakukan oleh sang suami.
"Kamu akan tau sebentar lagi!" jawab Davvien singkat, telunjuknya dengan genit mencolek hidup mungil Vera.
"Katakan, kita mau kemana?" tanya Vera yang tidak bisa diam, dia merasa jika Davvien kembali melajukan mobilnya, lalu setelah itu mereka kembali berhenti.
Davvien membuka pintu mobil, kemudian mengitari nya lalu membukakan pintu untuk Vera.
Langsung saja tangan nya dengan sigap memegang kedua lengan sang istri, menuntun Vera yang terus mengikuti langkahnya meski merasa bingung.
"Sayang! kita kemana sebenarnya?" tanya Vera yang tidak bisa menahan rasa penasaran nya.
"Yap, sampai!" tukas Davvien, mereka langsung berdiri di depan bangunan bertingkat.
__ADS_1
Perlahan Davvien membuka penutup mata Vera, hingga sang istri mampu melihat sebuah bangunan yang bertuliskan "Verania Wilmar" tepat di hadapannya.
Vera masih merasa bingung, dia belum sepenuhnya mengerti, terlebih dia shock melihat orang di sekelilingnya begitu banyak, kedua orangtuanya, mertua, anak-anak dan juga seluruh sahabat dan kerabat Vera juga berada di sana.
Bukan hanya itu, Vera melihat beberapa orang memegang kamera menghadap ke arahnya, yang sudah di yakini itu adalah reporter yang akan mengakses berita-berita supaya bisa di tonton di tv. Dia juga melihat beberapa orang yang tidak dia kenali yang mungkin rekan bisnis Davvien yang sengaja suami nya undang.
Tapi untuk apa semua itu, Vera masih tercengang. Hingga bisikan sang suami menumpahkan air matanya.
"Wujudkan lah cita-cita mu, sayang!" mendengar itu, Vera hanya terbata-bata.
"Mak-maksud nya apa, Mas?" tanya Vera dengan suara gemetaran.
Davvien menarik nafas dalam-dalam, kemudian di raihnya kedua tangan Vera "Dengar, sayang! bukan kah kamu pernah meminta pada ku untuk mewujudkan cita-cita mu sebagai desainer dan ingin memiliki butik sendiri! jadi, ini lah tempat nya! Wujudkan lah cita-cita mu! Dan maaf, kemaren aku sempat mengecewakan mu, aku hanya ingin memberikan hadiah ini tepat di hari ulangtahun pernikahan kita!" ucap Davvien panjang lebar, kemudian diapun langsung mencium tangan sang istri.
Sedangkan Vera tidak mampu lagi berkata-kata, rasanya suaranya tercekat di tenggorokan. Bagaimana suaminya ini selalu bisa membuat nya selalu merasa wanita paling beruntung di dunia ini.
Sekilas perkataan Davvien tentang takut waktu Vera akan terbagi terlintas di pikiran nya.
"Tapi, bukan nya kemaren Mas bilang, kalau Mas takut waktu ku sedikit untuk mengurus mu dan juga anak-anak! jika kamu keberatan, aku juga tidak apa-apa jika menguburkan cita-cita ku, bukan kah mematuhi mu adalah kewajiban seorang istri?" tukas Vera, dia tidak ingin jadi wanita egois, karna dia memang sudah berusaha ikhlas saat Davvien mengatakan tidak setuju.
"Aku percaya sama kamu, sayang! tangan ini!" ucap Davvien menggantung ucapan nya seraya juga menggantung tangan Vera di udara.
"Aku percaya, tangan ini mampu melakukan segalanya!" ujar Davvien.
Air mata Vera seketika tumpah, langsung saja dia berhamburan masuk ke dalam pelukan sang suami.
"Terimakasih, Mas! Kamu memang lelaki, suami, sekaligus ayah yang sangat baik. Aku sangat bersyukur karna telah di titipkan untuk berada di samping mu!" ungkap Vera dengan isakan tangis nya.
Davvien mengelus punggung Vera dengan begitu lembut, kemudian mendarat kan ciuman di atas kepala Vera.
Seketika, tempat itu langsung heboh dengan suara tepukan tangan dari orang yang sengaja Davvien undang.
Syakir dan Syakira langsung berlari memeluk kedua orangtuanya.
"Mama, Papa!" teriak Syakira.
Davvien ndan Vera langsung membuka tangan mereka membiarkan kedua anak nya masuk dalam dekapan keduanya.
"Siapa?" tanya Vera penasaran.
Davvien langsung mengarahkan telunjuknya kepada seseorang yang sedang tersenyum ke arah mereka.
Mata Vera kembali berbinar, meski air mata juga tidak berhenti keluar.
"Pak-Pak Toni!" ucap Vera kembali merasa sangat bahagia.
Ya, mantan supir Vera telah pulang dari pengobatan kakinya, dan kini dia sudah berdiri tegak lagi dengan kedua kakinya.
Vera perlahan mendekat, langsung saja dia menyentuh tangan dan juga wajah pak Toni, berharap ini semua memang bukan mimpi.
"Pak, Toni!" ulang Vera, dia benar-benar tidak tau lagi harus berkata apa.
"Nak, Vera!" ucap Pak Toni, lelaki paruh baya inipun juga sangat bahagia melihat majikan dan juga anak-anak nya selamat.
"Alhamdulillah, bapak sudah sehat! Maafkan Vera, Pak! gara-gara Vera bapak jadi koma, dan maafkan juga, Vera tidak mendengar ucapan Pak, Toni waktu itu!" pinta Vera, dia menjatuhkan kepalanya pada tangan lelaki yang sangat berjasa di hidupnya.
"Tidak apa-apa, Nak! yang penting kalian semua selamat!" jawab Pak Toni menimpali ucapan Vera, dia memang sama sekali tidak merasa dendam atau marah kepada majikan yang sudah di anggap anak oleh nya itu, karna dia tau, kalau itu musibah dan bisa terjadi kepada siapa dan kapan saja.
Suasana haru, kini berubah menjadi rasa bahagia yang tak terlukiskan bagi wanita dua anak ini, saat acara pemotongan pita di lakukan, menandakan bahwa butik itu resmi di buka.
Suara tepukan tangan lagi-lagi terdengar di lokasi tempat dekat jalan tersebut. Semua orang yang datang kesana tak lupa memberikan selamat untuk Davvien.
Tak tinggal juga Aldi, Tania, Riki, dan Rani. Masing-masing dari mereka membawakan buah hati mereka yang masih berumur lima tahun.
"Selamat ya, Ra. Akhirnya apa yang kamu cita-cita kan tercapai!" ucap Tania sambil memeluk sahabatnya itu.
"Terimakasih ya, Nia!" jawab Vera, bergantian dengan Aldi, Rani juga Riki.
__ADS_1
"Selamat ya, Nak! Doa mama yang terbaik pokok nya!" ucap Rina yang kini juga ikut merangkul Vera.
"Dan ingat, kamu tidak boleh melupakan kewajiban mu sebagai seorang istri dan juga seorang ibu. Jika itu terjadi, maka Mama yang akan menutup Butik mu ini!" lanjut Rina menegaskan.
"Iya, Ma! Vera paham! Terimakasih ya Mama ku sayang!" ujar Vera, diapun kembali memeluk sang Mama.
Kini gantian Tn.Diwan yang mengucapkan selamat kepada anak bungsunya itu.
"Selamat ya, Nak! Daddy sangat senang melihat nya, suamimu selalu bisa memberikan mu kebahagiaan!" tukas Tn.Diwan, setelah melepaskan pelukannya dengan Vera.
"Iya, Dad! Vera juga sangat bahagia. Dan Vera juga berterimakasih, karna Daddy telah menikah kan Vera dengan lelaki hebat yang sangat menyayangi ku!" timpal Vera, Davvien yang berada di samping nya hanya diam, mendengar pujian dari sang istri.
Kini giliran kedua mertuanya yang memberikan selamat, Ny.Andin langsung memeluk menantu nya itu, begitupun Vera, wanita itupun membalas pelukan sang mertua lalu kembali menangis dalam dekapan ibu dari suaminya itu.
"Selamat ya, Nak! Mommy sangat bahagia, dan Mommy juga berterima kasih, karna kamu telah mengubah hati anak Mommy yang sudah berkarat menjadi hangat dan mencair seperti sekarang ini!" ucap Ny.Andin, Vera hanya mengangguk. Sedangkan Davvien hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah di sebut juga, Mom!" protes Davvien di sela-sela isak tangis Mommy dan juga istri nya.
"Sama-sama, Mom! Vera juga berterimakasih karna telah memilih Vera sebagai pendamping Mafia karatan ini!" timpal Vera, keduanya sama sekali tidak menghiraukan ocehan Davvien.
"Sayang, jangan di katakan lagi!" ulang Davvien, namun Vera tidak menanggapi, dia hanya menyambut uluran tangan mertua lelaki nya yang juga mengucapkan selamat untuk dirinya.
"Selamat ya, Nak! Daddy senang, karna putra satu-satunya Daddy akhirnya bisa menjadi pria normal!" ujar Tn.Andre yang langsung membuat Davvien melotot.
"Maksud Daddy, Davvien tidak normal?" tanya Davvien nyolot.
Tn.Andre hanya acuh sembari mengangkat bahunya, kemudian diapun langsung berlalu di hadapan keduanya.
Hingga Fero dan Intan juga bergantian memberikan selamat.
"Uuu selamat ya, Ra! Aku ikut senang loh!" ujar Intan.
"Terimakasih, Tan! aku juga bahagia. Tapi aku harap kamu tidak berfikir untuk membuat tempat yang lain lagi, karna aku ingin mengurus tempat ini berdua! boleh kan sayang?" ucap Vera meminta pada sahabatnya, sambil meminta izin kepada Davvien.
"No problem, it's up to you, baby!" jawab Davvien.
Intan hanya tersenyum lalu mengangguk kecil, tanda menyetujui.
"Selamat ya Ra, kakak doakan kalian sukses bersama!" ujar Fero yang kini sudah terbiasa berbicara panjang lebar.
"Jangan pegang tangan istriku!" sarkas Davvien ketus.
"Ya ampun, meski sudah tua, kamu tetap masih posesif!" celetuk Fero, dia tidak ingat, jika dirinya pun tidak ada bedanya dengan bos sinting nya itu.
Davvien hanya acuh, diapun langsung merangkul pinggang sang istri untuk masuk ke dalam.
Sementara anak-anak nya sudah masuk ke dalam, mereka sibuk memakan beberapa cemilan yang sengaja di siapkan untuk para undangan.
Davvien menunjukkan ruangan dalam bangunan yang ternyata memiliki empat lantai. ya hanya empat, namun harganya begitu fantastis, yang tidak di hitung oleh Davvien.
Baginya, kebahagiaan keluarga adalah yang paling utama, tidak perduli berapapun dia harus membayarnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung.
Hah ... Nggak terasa sudah di paling ujung ya ceritanya, berat sih rasanya mau tamatin si Davvien.
Pendukung pun udah menurun, jadi memang sudah bisa di tamatkan.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan dan sport kalian selama ini.
Yang ini juga jangan lupa, like, komen dan juga vote ya temen-temen ku tersayang.