Gadis Penakluk Mafia Karatan

Gadis Penakluk Mafia Karatan
Kekecewaan Fero


__ADS_3

Di sebuah rumah di suatu kota, seorang pria sekitaran 42 tahun duduk di kursi kebesaran nya yang ada di dalam ruangan nya.


Pria itu menghisap rokok yang di apit antara jari telunjuk dan jari tengah nya, sambil menghembuskan asap rokok ke atas.


Dia duduk dengan begitu santai, hingga seseorang mengetuk pintu ruangan nya tersebut.


"Masuk" Tanpa berdiri dari duduk nya pria itu menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk.


"Apa yang kamu dapatkan?" Tanya pria itu ketika orang yang mengetuk pintu telah masuk, dia bertanya tanpa melihat kepada orang yang berdiri dengan sedikit menunduk.


Dia terus menghisap dan menghembuskan asap rokok nya.


"Ternyata istri dengan anak laki-laki nya masih hidup, mereka terpisah karna mengira mereka telah meninggal, dan sekarang dia, istri dengan anak laki-laki nya sudah berkumpul lagi, mereka sudah kembali bersama" Jelas pria yang menunduk, mungkin anak buah dari pria paruh baya itu.


Mendengar itu, pria tersebut langsung memalingkan pandangannya kepada anak buah nya, pria itu nampak kaget mengetahui kabar ini.


"Darimana kamu tau, jangan asal kasih informasi kamu, jika itu tidak benar maka kepala mu akan melayang" Tukas lelaki itu,dia mematikan api rokok nya, lalu bangkit dari duduk nya, dengan begitu gagah berjalan ke dekat jendela.


"Itu informasi yang saya dapatkan tuan, mereka bertemu saat anak perempuan nya mengalami kecelakaan beberapa hari lalu"


"Apa, Kia mengalami kecelakaan?"


"Iya tuan, dan menurut yang saya ketahui dia sengaja di tabrak oleh orang suruhan"


"Wah ternyata ada juga yang menginginkan mereka mati selain aku... ada lagi?''


"Satu lagi tuan, suami dari Nona Kia sudah berhenti menjadi Mafia, tapi sampai sekarang saya belum tau apa kelompok mafia nya di bubarkan atau bagaimana, yang saya tau Tuan Davvien Wilmar telah berhenti menjadi Mafia"


"Ha ha ha ha ini kesempatan bagi kita, dulu kita diam karna lelaki itu masih sebagai bos mafia, tapi kekuatan mereka sudah hilang"


Pria itu tertawa karna merasa peluang semakin besar untuk menjalankan rencana nya.


"Lalu apa yang kita akan lakukan tuan, apa kita menjalankan rencana kita sekarang?" Tanya anak buahnya.


Pria itu menggeleng dia menggerakkan jari telunjuk nya ke kanan dan ke kiri.


"Biar kan mereka bersenang-senang dulu, beri merek sedikit waktu untuk menghabiskan untuk bersama-sama, sebelum kita merenggut waktu itu"


"Baik tuan"


"Kembali lah kesana, dan pantau terus gerak gerik mereka"


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu"


Selepas kepergian anak buah nya, pria itu kembali duduk.


"Sebentar lagi aku akan mengambil apa yang menjadi milik ku, dan akan ku buat kalian semua menderita"


Dia menyeringai licik, sambil memegang tagu dengan tangan nya.


...----------------...


Malam hari di kediaman Prasetyo, Tn.Diwan, Mama Rina dan Frans, mereka sedang duduk di ruang keluarga, nampak mereka sedang membahas sesuatu yang serius.


"Mah, Pah, lusa aku akan kembali kesana lagi"


"Kenapa begitu cepat nak?"


"Banyak pekerjaan di sana Pah, kasian Fino mengurus nya sendiri"


"Apa nggak sebaiknya kamu mengurus perusahaan papa yang ada di sini saja?"


"Iya Nak, dari pada kamu di sana harus bolak balik, biarkan perusahaan di sana di urus oleh Fino, kamu urus perusahaan papa yang ada di sini saja"


"Nanti aku pikirkan Pah, Mah, untuk beberapa hari aku memang harus kembali ke sana karna ada pekerjaan yang harus aku selesaikan"


"Baik lah Nak, Papa harap kamu bisa menerima nya"


Setelah itupun mereka memutuskan untuk beristirahat.


...----------------...


Keesokan paginya, di sebuah apartemen, seorang pria tampan sedang duduk di kursi dengan menatap tablet di tangan nya, di temenin secangkir kopi hangat.


Dia mengecek beberapa data sambil menyeruput kopi tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai, lelaki itu yang tak lain adalah Fero meletakkan tablet nya lalu bangkit, berhubung ini hari Sabtu, jadi Fero berencana mengajak Intan keluar bersama.


Fero bertekad, mulai hari ini dia akan berusaha untuk mengejar Intan lebih keras lagi dia pun berniat akan mencoba untuk mengubah sikap kaku nya itu.


Fero masuk ke dalam kamar mandi, hanya butuh waktu 15 menit, dia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya.


Fero melirik jam sudah pukul 09:00 pagi, dia pun bergegas memakai pakaiannya, kali ini Fero hanya menggunakan pakaian biasa, kaos oblong putih di dalam namun di lapisi jaket berwarna maroon bergaris putih, di padu dengan celana jeans warna hitam, sangat cocok di tubuh atletis dengan berkulit putih.


Fero selesai bersiap-siap, rambutnya pun sudah rapi, siap dengan parfum yang sudah dia semprot kan di seluruh tubuhnya.


Dia pun keluar menuruni tangga sambil memasang jam di tangan nya.


Fero meraih kunci mobil di atas meja sofa lalu bergegas keluar dari Apartemen nya.


Beberapa menit, Fero sudah berada di dalam mobilnya, dengan penuh harapan Fero terus melajukan mobilnya.


Bibirnya yang dulu kaku kini selalu menampilkan senyuman yang begitu manis, sesekali Fero melihat dirinya pada kaca spion dalam mobilnya, sambil merapikan rambutnya yang memang sudah sangat rapi.


Sekitar 30 menit, Fero sampai di rumah Intan, dia kembali melihat pantulan dirinya di cermin Fero ingin terlihat sempurna di depan Intan.


Setelah di rasanya semua nya sempurna, Fero keluar berjalan mendekati pintu.


Tok,,,tok,,,tok,,,


Tok,,,tok,,,tok,,,


Ceklek...


"Eh Nak Fero, ayo silahkan masuk" Bibi yang melihat Fero dengan pakaian yang berbeda langsung terpana, pesona Fero memang sangat menggoda iman.


"Intan nya ada Bi?"


Fero bertanya pada pelayan tersebut, namun pelayan itu masih menatap Fero dengan mulut menganga.


"Bi... halo, apa kau mendengar ku?"


Fero melambai-lambai tangan di depan wajah pelayanan, hingga pelayan itu tersadar.


"Eh iya ada apa Nak Fero?"


"Lah... Nona Intan baru saja keluar"


"Apa Bi, keluar?" Tanya Fero.


"Iya, baru saja di jemput teman nya"


"Bibi tau dia kemana?"


"Ya sudah Bi kalau begitu, saya permisi dulu ya bi"


"I-iya"


Fero sedikit berlari masuk ke dalam mobilnya, dia tidak bertanya Intan pergi dengan siapa, yang dia fikirkan jika bukan Tania pasti Rani, karna cuma mereka yang dekat dengan Intan selain Vera.


Sedangkan Bibi masih menatap Fero dengan rasa takjub.


"Andai aku masih muda, pasti akan ku pepet itu pangeran, tampan banget wangi lagi" Ujar Bibi yang tersapona pada tampang babang Fero.


Di dalam mobil Fero menghubungi Intan, namun tak kunjung di jawab oleh Intan.


Fero tetap akan menemui Intan, dia akan mengungkapkan perasaan nya sekali lagi meski di hadapan temen-temen Intan.


Bingung dengan kemana Intan pergi, akhirnya Fero melacak ponsel Intan, dia pun melihat jika Intan sekrang sedang menuju suatu taman.


"Untuk apa mereka ke taman?" Fero bergumam sendiri melihat posisi Intan saat ini.


Tanpa mau memikirkan nya lagi, Fero terus melajukan mobilnya mengikuti Intan melalui ponsel.


Hingga sekitar 20 menit, Fero menghentikan mobilnya, dia melihat jika Intan sudah berhenti tidak jauh di tempat nya berhenti.


Fero mengehentikan mobilnya tepat di depan toko bunga, dia pun turun lalu masuk ke dalam toko bunga tersebut.


Sampai di sana, Fero merasa bingung... tidak tau harus membeli yang mana, karna sudah sangat lama tidak membelikan bunga.


"Selamat datang di toko bunga kami tuan, anda mau membeli bunga apa pak?"

__ADS_1


"Ini... e saya juga bingung mau membelikan bunga apa!"


"Maaf jika boleh tau untuk siapa tuan?"


"Untuk perempuan" Jawab Fero polos.


Wanita yang menghampiri Fero tercengang, dia bingung melihat Fero yang tampak seperti orang bod*h.


"Maaf tuan, saya tau jika beli bunga pasti untuk wanita... maksud saya wanita itu siapa anda, pacar atau Istri anda?"


"Bukan keduanya, saya baru ingin menjadi kan nya istri saya"


"Oh.. gebetan ya tuan, mau nembak sekarang ya?" Tanya wanita itu dengan tersenyum, Fero hanya menganggukkan kepalanya.


"Sebentar ya tuan"


Fero kembali mengangguk, dan setelah menunggu beberapa saat, wanita itu kembali dengan sebuket bunga mawar putih.


"Ini tuan"


Tanpa bertanya Fero langsung mengambil bunga tersebut dan membayarnya.


"Ambil saja kembalian nya, karna kamu telah membantu saya"


Fero langsung keluar dari dalam toko bunga tersebut, dia kembali masuk ke dalam mobil untuk segera menemui Intan.


"Terima kasih ya tuan" Ucap wanita penjual bunga.


"Duh... sungguh beruntung wanita yang akan di tembak oleh tuan itu, sudah tampan, baik, cuek sama perempuan lain lagi" Wanita itu begitu salut dengan sikap dan tampang yang di miliki Fero.


...----------------...


Fero sudah sampai di sebuah taman, dia kembali melihat ponsel nya yang masih melacak keberadaan Intan.


Dengan degup jantung yang begitu kencang, Fero terus berjalan, senyuman tidak pernah pudar di bibir indah nya.


Semakin mendekat jantung nya pun semakin meronta, kalian tau kan bagaimana perasaan babang Fero, karna dia akan menembak wanita yang di cintai nya sekarang juga.


(Author saja sampai deg degan loh, padahal kan yang di tembak Intan).


Fero mengedarkan pandangannya, karna posisi nya dengan Intan sudah sangat dekat.


Saat melihat seluruh taman yang ada di depannya, Fero menangkap dua orang duduk di sebuah bangku.


Senyuman nya mulai memudar saat melihat wanita nya bukan dengan teman perempuan nya.


Namun Fero berjalan lebih dekat untuk memastikan jika wanita itu benar-benar Intan.


Degggggg...


Saat Fero tepat berdiri di belakang kedua orang tersebut, bagaikan tersambar petir di siang hari, hati yang mulai bahagia, kembali tergores luka, harapan yang dia bawa semua nya sia-sia, tekat yang sudah bulat kini kembali dia urungkan.


Fero melihat jika Intan bersama seorang laki-laki sedang memegang tangan Intan, jarak antar Fero dengan bangku yang di duduki Intan sangat lah dekat, tapi mungkin Intan tidak menyadarinya.


Bunga di tangan Fero pun terjatuh, hatinya begitu sakit dan terluka melihat pemandangan tersebut.


Tidak mau berlama-lama, Fero langsung membalikkan tubuhnya lalu berjalan menjauh.


Tapi Fero saat dia sedikit jauh dengan Intan, tiba-tiba suara seseorang mengehentikan langkah nya.


"Tunggu"


.


.


.


.


.


.~Bersambung


Jangan lupa ya Like, komen sama Vote, dukungan kalian membuat ku lebih bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2